MANAGED BY:
SENIN
21 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Sabtu, 21 April 2018 11:41
Ternyata Sering Berbohong Bisa Menimbulkan Penyakit Serius
Foto ilustrasi (Shutterstock)

PROKAL.CO, BANJARMASIN - Hampir setiap orang pernah merasa dibohongi atau berkata bohong. Ada beragam alasan seseorang berbohong, mulai dari menghindari perasaan tidak enak, merasa lebih dihargai, atau membuat orang lain merasa kagum.

Meski ada pula jenis bohong yang sering kali disebut sebagai bohong untuk kebaikan. Namun, secara umum, semua jenis kebohongan memiliki konsekuensi yang tidak baik. Menurut penelitian, seseorang yang berbohong bisa dikenali melalui ekspresi pada wajah yang tidak disadari. Ekspresi tersebut digerakkan oleh otot-otot yang berada di sekitar alis, dahi, dan bibir. Ketika berbohong bersifat sesuatu yang emosional, maka tanda-tanda tersebut akan semakin jelas.

Berbeda halnya dengan orang yang berkata jujur. Saat seseorang berkata jujur, maka lebih banyak kontraksi otot di sekitar mata dan mulut. Sementara itu, pembohong tampak lebih banyak mengalami kontraksi otot di sekitar dahi dan pipi. Dahi yang tampak jelas berkerut saat seseorang berbicara, merupakan salah satu tanda kejujurannya dipertanyakan.

Meski demikian, ada sebagian wajah yang tampak polos. Wajah ini bisa saja mengecoh orang lain yang menyangkanya selalu berkata jujur, walaupun sebenarnya tidak begitu. Wajah-wajah tak berdosa ini umumnya terlihat simetris antara sisi kanan dan kiri, tampak menarik dengan mata yang besar, memiliki kulit halus dan dahi lebar yang sesuai dengan bentuk dagunya, atau sering dikategorikan memiliki wajah bayi atau baby face.

Terlepas dari hal tersebut, psikolog di Banjarmasin, Irawan Rudi memaparkan, bahwa berbohong tidak hanya memiliki akibat sosial. Namun, juga memengaruhi kondisi kesehatan dan usia. Hal itu mengacu pada penelitian yang menurut para ahli, kebiasaan berbohong dapat meningkatkan risiko kecemasan, depresi, kecanduan judi, dan juga risiko kanker serta obesitas. Selain itu, berbohong juga dapat menurunkan kualitas hubungan dan kepuasan kerja.

"Saat seseorang berbohong, stres pun meningkat. Ada beban emosional dan fisik yang dirasakan seorang pembohong. Apalagi, berbohong seringkali harus diikuti dengan kebohongan berikutnya," ujarnya.

Sebaliknya, bila seseorang berusaha berkata jujur, memiliki hubungan yang lebih baik dan semakin sedikit mengalami gangguan kesehatan. Perbaikan dalam hubungan dapat meningkatkan kondisi kesehatan.

"Yang seringkali dikhawatirkan, kebiasaan berbohong terbawa sampai ke anak. Sebab, tak jarang anak-anak meniru beragam kebiasaan yang dilakukan oleh orang tuanya. Ketika anak mendengar orang tua berbohong, maka ia akan menganggap hal itu diperbolehkan. Jadi sebaiknya waspadai jika berbohong semakin menjadi kebiasaan yang berbahaya," tuntasnya. (war)


BACA JUGA

Kamis, 24 September 2015 23:03

Ada Presiden, Pengamanan Ketat, Antre Panjang, Ratusan Jemaah Tak Bisa Salat

<p><strong>LANTARAN</strong> dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia pengamanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*