MANAGED BY:
SENIN
28 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Sabtu, 21 April 2018 11:48
Norsinah, Kartini dari Pasar Harum Manis

Selama Masih Sanggup, Takkan Pensiun

MENGABDI: Norsinah menemani muridnya belajar menulis di depan kelas. Sekolah Bawang memiliki kelas khusus untuk SD dan SMP. Bagi anak jalanan, pengamen, loper koran, dan pengupas bawang. | FOTO: SYARAFUDDIN/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Tahun 1987, Norsinah mengikuti tes PNS dan gagal. Toh, semangatnya mengajar tak pernah surut. Dengan gaji yang tak seberapa, kini dia mengabdikan diri di Sekolah Bawang.

Penulis SYARAFUDDIN

NORSINAH tampak gugup ketika menyapa penulis, kemarin (19/4) pagi. Mengenakan kerudung warna merah darah, tangannya memegang gawai jadul berwarna hitam dari merek Blackberry.

"Tak pernah mengerti dengan cara kerja ponsel layar sentuh," ujarnya tertawa. Perempuan 52 tahun ini adalah satu dari tiga guru perempuan yang mengajar di SD dan SMP Bawang.

Kami ngobrol santai di bangku panjang yang ada di depan kelas. Di belakang kami, dua kuli panggul sedang tertidur lelap di lorong pasar. Hingga Norsinah memaksa masuk. Terganggu oleh bermacam-macam bau. Seperti bau pesing urin, kotoran anjing, dan tumpukan kardus yang apek.

Maklum, sekolah non formal ini menempati bekas kios yang diubah menjadi kelas. Persisnya di lantai dua Pasar Lima di Jalan Pasar Baru, Banjarmasin Tengah. Disebut sekolah bawang karena kebanyakan pelajarnya adalah para pekerja pengupas bawang yang biasa mangkal di Pasar Harum Manis.

Jangan tertipu oleh namanya. Harum Manis tak sewangi namanya. Pada malam hari, kawasan perdagangan ini berubah gelap, rawan dan ramai oleh kupu-kupu malam.

Karena terlampau sibuk membantu orang tua di pasar, sekolah dikesampingkan. Banyak dari anak-anak ini yang tak pernah sekolah sama sekali. Sekurang-kurangnya bisa membaca dan menulis, kemudian putus sekolah.

Maka jangan heran. Jika anak-anak di sini bersekolah hanya dengan sendal jepit. Mengenakan celana jins robek, kaus hitam bergambar band metal, hingga rambut gondrong bersemir. Adapula yang mengenakan baju koko dan peci putih.

"Jangan lihat penampilannya. Betul, kehidupan di pasar memang keras dan liar. Tapi kalau sudah masuk sekolah, mereka duduk manis. Tak ada yang teler apalagi berkelahi di kelas. Pada dasarnya, mereka semua anak baik," ujarnya.

Murid yang terdaftar berjumlah 70 orang. Usianya dari tujuh sampai 20 tahun. Tapi hanya 15 orang yang masuk. Tujuh untuk SD dan delapan untuk SMP. Kedua kelas untuk jenjang sekolah ini hanya dipisahkan oleh sekat dari triplek. "Kalau Jumat memang sepi, banyak yang membantu orang tuanya di pasar," jelasnya.

Norsinah bisa saja ngomel-ngomel karena banyak yang bolos. Tapi di sekolah ini, absensi dan kedisiplinan ala sekolah formal mustahil diterapkan. "Jika kita marah-marah, sudah pasti mereka kapok dan tak mau lagi sekolah," imbuhnya.

Para guru baru bersikap tegas memasuki masa Ujian Paket A dan B. Norsinah dan kawan-kawan akan bergerilya dari kios ke kios. Menjemput murid mereka yang wajib mengikuti ujian. Sembari membujuk orang tuanya agar mau membebaskan anaknya sementara waktu dari rutinitas pekerjaan.

Hari ini, dia tampak sibuk karena harus menangani kelas SD dan SMP sekaligus. Lantaran guru lainnya, Hesti, terpaksa mengambil jatah izin. Karena harus merawat anaknya yang jatuh sakit.

Syukur, ada dua mahasiswi magang yang datang untuk membantu mengajar. Di kelas bagian SD, mereka sedang belajar sejarah. Perjalanan Indonesia dari Orde Lama milik Soekarno, Orde Baru, dan Orde Reformasi yang ditandai dengan runtuhnya rezim Soeharto.

Norsinah mulai mengajar di Sekolah Bawang pada tahun 2015. Bermula dari pertemuan dengan kenalan lama, Muhammad Zaini. Yang tak lain Kepala Sekolah Bawang. Zaini mengajaknya bergabung, Norsinah pun menyanggupi.

Sebelumnya, dia mengajar di Tanjung, Kabupaten Tabalong, sekitar 230 kilometer dari Banjarmasin. Di sebuah sekolah milik organisasi Muhammadiyah. "Dulu guru mata pelajaran IPS. Sekarang tak boleh pilih-pilih. Harus siap mengajar untuk semua mata pelajaran dari SD sampai SMP," ujarnya tergelak.

Padahal, gaji yang ditawarkan tak seberapa. Ketika ditanya gaji, dia tersipu malu. Nominalnya tak sampai Rp1 juta. Tapi motivasi Norsinah memang bukan perkara uang. "Inilah amal saya," tegasnya.

Lagipula, sebagai guru honorer, Norsinah sudah terbiasa bekerja dengan gaji dibawah UMR (Upah Minimum Regional). "Seumur hidup saya menjadi guru honorer. Pernah mencoba ikut seleksi PNS pada tahun 1987, tapi tak lulus," ujarnya tersenyum.

Norsinah tinggal di Jalan Belitung Darat, Banjarmasin Barat. Dia punya tiga anak, dua sudah berkeluarga dan si bungsu sedang kuliah. Rumahnya kian sepi karena sang suami juga jarang di rumah untuk pekerjaan. "Ketimbang bengong di rumah, mending mengajar di sini. Keluarga juga bangga tahu saya mengajar di sini," tambahnya.

Ditanya impian, Norsinah tak mau muluk-muluk. "Di Sekolah Bawang, tak ada istilah pensiun. Selama badan masih sanggup, saya akan tetap mengajar," pungkasnya. Norsinah, selamat Hari Kartini! (fud/at/fud)


BACA JUGA

Rabu, 23 Mei 2018 14:59

Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye…

Minggu, 13 Mei 2018 05:50

Surat Terakhir Erik Petersen Pria Keturunan Bangsa Viking di Banua Anyar

Erik Petersen adalah keturunan Bangsa Viking. Yang memilih meninggal dunia di Banua Anyar. Warisan Erik,…

Kamis, 10 Mei 2018 18:57

Kisah Nelayan Pulau Laut yang Menolak Keras Pertambangan

Sama seperti hari cerah lainnya, Ari si pemancing ikan gabus, beberapa hari lalu dapat puluhan kilogram…

Selasa, 08 Mei 2018 13:36

Bukan Sibuk Main Mobile Legends, Bocah ini Malah Asik Koleksi Perangko

Kecil-kecil, berani tampil beda. Itulah Muhammad Fahriza. Hobinya tak biasa. Jika anak seusianya sibuk…

Senin, 07 Mei 2018 14:17

Mengunjungi Pasar Kajut Edisi ke-IV, Menjual Apa Saja yang Penting Keren

Orang Indonesia mengenal Pasar Kaget. Anak muda Banjarmasin mengenal Pasar Kajut. Inilah wadah banyak…

Sabtu, 05 Mei 2018 19:41

Curahan Lirih dari Pulau Laut: "Mau Tinggal di Mana Kami"

Aksi menolak penambangan batubara di Pulau Laut, Kotabaru, terus dilancarkan. Beragam cara dilakukan…

Sabtu, 05 Mei 2018 12:39

Kisah Mereka yang Ditolak Pulang dari Rumah Singgah Baiman

Rumah Singgah Baiman didirikan untuk menampung ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa), pengemis, gelandangan,…

Jumat, 04 Mei 2018 14:17

Mengintip Aktifitas Pelatih Karate Cantik di Banjarmasin

Helda Wahdini punya paras cantik. Tapi di balik kecantikannya orang tidak menduga kalau dia ternyata…

Kamis, 03 Mei 2018 12:27

Eter Nabiring, Penjaga Adat dan Tradisi Suku Dayak Halong

Gelisah akan kemajuan zaman yang menggerus kearifan lokal dan budaya warisan nenek moyang, Eter Nabiring,…

Kamis, 03 Mei 2018 12:03

Hardiknas Berbarengan dengan USBN SLB

Ricky Joevani begitu pendiam. Saat diwawancara, dia lebih banyak mengangguk dan tersenyum. Sesekali…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .