MANAGED BY:
SENIN
20 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 21 April 2018 11:48
Norsinah, Kartini dari Pasar Harum Manis

Selama Masih Sanggup, Takkan Pensiun

MENGABDI: Norsinah menemani muridnya belajar menulis di depan kelas. Sekolah Bawang memiliki kelas khusus untuk SD dan SMP. Bagi anak jalanan, pengamen, loper koran, dan pengupas bawang. | FOTO: SYARAFUDDIN/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Tahun 1987, Norsinah mengikuti tes PNS dan gagal. Toh, semangatnya mengajar tak pernah surut. Dengan gaji yang tak seberapa, kini dia mengabdikan diri di Sekolah Bawang.

Penulis SYARAFUDDIN

NORSINAH tampak gugup ketika menyapa penulis, kemarin (19/4) pagi. Mengenakan kerudung warna merah darah, tangannya memegang gawai jadul berwarna hitam dari merek Blackberry.

"Tak pernah mengerti dengan cara kerja ponsel layar sentuh," ujarnya tertawa. Perempuan 52 tahun ini adalah satu dari tiga guru perempuan yang mengajar di SD dan SMP Bawang.

Kami ngobrol santai di bangku panjang yang ada di depan kelas. Di belakang kami, dua kuli panggul sedang tertidur lelap di lorong pasar. Hingga Norsinah memaksa masuk. Terganggu oleh bermacam-macam bau. Seperti bau pesing urin, kotoran anjing, dan tumpukan kardus yang apek.

Maklum, sekolah non formal ini menempati bekas kios yang diubah menjadi kelas. Persisnya di lantai dua Pasar Lima di Jalan Pasar Baru, Banjarmasin Tengah. Disebut sekolah bawang karena kebanyakan pelajarnya adalah para pekerja pengupas bawang yang biasa mangkal di Pasar Harum Manis.

Jangan tertipu oleh namanya. Harum Manis tak sewangi namanya. Pada malam hari, kawasan perdagangan ini berubah gelap, rawan dan ramai oleh kupu-kupu malam.

Karena terlampau sibuk membantu orang tua di pasar, sekolah dikesampingkan. Banyak dari anak-anak ini yang tak pernah sekolah sama sekali. Sekurang-kurangnya bisa membaca dan menulis, kemudian putus sekolah.

Maka jangan heran. Jika anak-anak di sini bersekolah hanya dengan sendal jepit. Mengenakan celana jins robek, kaus hitam bergambar band metal, hingga rambut gondrong bersemir. Adapula yang mengenakan baju koko dan peci putih.

"Jangan lihat penampilannya. Betul, kehidupan di pasar memang keras dan liar. Tapi kalau sudah masuk sekolah, mereka duduk manis. Tak ada yang teler apalagi berkelahi di kelas. Pada dasarnya, mereka semua anak baik," ujarnya.

Murid yang terdaftar berjumlah 70 orang. Usianya dari tujuh sampai 20 tahun. Tapi hanya 15 orang yang masuk. Tujuh untuk SD dan delapan untuk SMP. Kedua kelas untuk jenjang sekolah ini hanya dipisahkan oleh sekat dari triplek. "Kalau Jumat memang sepi, banyak yang membantu orang tuanya di pasar," jelasnya.

Norsinah bisa saja ngomel-ngomel karena banyak yang bolos. Tapi di sekolah ini, absensi dan kedisiplinan ala sekolah formal mustahil diterapkan. "Jika kita marah-marah, sudah pasti mereka kapok dan tak mau lagi sekolah," imbuhnya.

Para guru baru bersikap tegas memasuki masa Ujian Paket A dan B. Norsinah dan kawan-kawan akan bergerilya dari kios ke kios. Menjemput murid mereka yang wajib mengikuti ujian. Sembari membujuk orang tuanya agar mau membebaskan anaknya sementara waktu dari rutinitas pekerjaan.

Hari ini, dia tampak sibuk karena harus menangani kelas SD dan SMP sekaligus. Lantaran guru lainnya, Hesti, terpaksa mengambil jatah izin. Karena harus merawat anaknya yang jatuh sakit.

Syukur, ada dua mahasiswi magang yang datang untuk membantu mengajar. Di kelas bagian SD, mereka sedang belajar sejarah. Perjalanan Indonesia dari Orde Lama milik Soekarno, Orde Baru, dan Orde Reformasi yang ditandai dengan runtuhnya rezim Soeharto.

Norsinah mulai mengajar di Sekolah Bawang pada tahun 2015. Bermula dari pertemuan dengan kenalan lama, Muhammad Zaini. Yang tak lain Kepala Sekolah Bawang. Zaini mengajaknya bergabung, Norsinah pun menyanggupi.

Sebelumnya, dia mengajar di Tanjung, Kabupaten Tabalong, sekitar 230 kilometer dari Banjarmasin. Di sebuah sekolah milik organisasi Muhammadiyah. "Dulu guru mata pelajaran IPS. Sekarang tak boleh pilih-pilih. Harus siap mengajar untuk semua mata pelajaran dari SD sampai SMP," ujarnya tergelak.

Padahal, gaji yang ditawarkan tak seberapa. Ketika ditanya gaji, dia tersipu malu. Nominalnya tak sampai Rp1 juta. Tapi motivasi Norsinah memang bukan perkara uang. "Inilah amal saya," tegasnya.

Lagipula, sebagai guru honorer, Norsinah sudah terbiasa bekerja dengan gaji dibawah UMR (Upah Minimum Regional). "Seumur hidup saya menjadi guru honorer. Pernah mencoba ikut seleksi PNS pada tahun 1987, tapi tak lulus," ujarnya tersenyum.

Norsinah tinggal di Jalan Belitung Darat, Banjarmasin Barat. Dia punya tiga anak, dua sudah berkeluarga dan si bungsu sedang kuliah. Rumahnya kian sepi karena sang suami juga jarang di rumah untuk pekerjaan. "Ketimbang bengong di rumah, mending mengajar di sini. Keluarga juga bangga tahu saya mengajar di sini," tambahnya.

Ditanya impian, Norsinah tak mau muluk-muluk. "Di Sekolah Bawang, tak ada istilah pensiun. Selama badan masih sanggup, saya akan tetap mengajar," pungkasnya. Norsinah, selamat Hari Kartini! (fud/at/fud)


BACA JUGA

Senin, 20 Agustus 2018 12:10

Serunya Lomba Bakisah Bahasa Banjar di Siring Pierre Tendean

Lomba Bakisah Bahasa Banjar dari Ombudsman Kalsel mengundang gelak tawa sekaligus ironi. Memperlihatkan…

Minggu, 19 Agustus 2018 18:24

Di Belakang Layar Seorang Dalang: Hidupnya Tak Sekocak Wayangnya

Orang Kalimantan hanya mengenal satu Wayang Kulit. Namanya Wayang Kulit Banjar. Di pedesaan Hulu Sungai,…

Senin, 13 Agustus 2018 14:15

Berbincang dengan Komunitas Cosplay Kandangan, Pamerkan Cosplay sambil Silaturrahmi

Tidak semua hobi yang disalurkan berakhir negatif, ada juga yang berakhir dengan kegiatan positif. Seperti…

Rabu, 08 Agustus 2018 12:52

Dari Salat Hajat Sambut HUT Kemerdekaan Bersama Guru Zuhdi

Pembacaan Surah Yasin dan Selawat Nabi Muhammad SAW, terdengar teduh di ruang utama Mahligai Pancasila,…

Senin, 06 Agustus 2018 13:14

Pameran Seni Rupa Metamorfosis: Hargai Proses, Jangan Minta Murah

Pameran Metamorfosis menyentil pelaku dan penikmat seni rupa. Membuktikan bahwa proses kerja karya seni…

Senin, 30 Juli 2018 18:30

Penderitaan Bayi Adilla Nafisah Akibat Terkena Virus Rubella

Sepekan lagi, Adilla Nafisah genap berusia delapan bulan. Namun, suara tawa belum pernah terdengar dari…

Senin, 30 Juli 2018 18:11

Buku Djadoel, Melawan Arus Lewat Jual-Beli Buku Murah

Kios "Buku Djadoel" mencoba melawan arus. Lewat usaha jual beli buku dan majalah bekas dengan harga…

Senin, 30 Juli 2018 18:00

Antusias Warga Menyambut Salat Gerhana Bulan di Masjid Istiqomah

Warga Kota Banjarbaru turut menyambut peristiwa astronomi langka, gerhana bulan terlama abad ini, dengan…

Minggu, 29 Juli 2018 16:25

Berkenalan dengan Pratiwi Juliani, Penulis asal Lokpaikat yang Terpilih dalam Festival Literasi Internasional di Bali

Namanya masuk sebagai salah satu dari lima penulis Emerging Ubud Writer & Reader Festival (UWRF)…

Sabtu, 28 Juli 2018 15:25

Belajar Mengaji Kilat dengan Metode Nursyifa Temuan Muslim Aridho

Bertekad ingin sebanyak-banyaknya mengentaskan umat Muslim dari buta huruf arab, Ustaz Muslim Aridho…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .