MANAGED BY:
SABTU
16 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 05 Mei 2018 12:39
Kisah Mereka yang Ditolak Pulang dari Rumah Singgah Baiman

Anak Pulang ke Rumah, Ibu Diam-diam Pindah

MENUNGGU DIJEMPUT: Meski sudah sembuh dari gangguan jiwa, sebagian penghuni rumah singgah masih tertahan di sini karena ditolak oleh keluarga.

PROKAL.CO, Rumah Singgah Baiman didirikan untuk menampung ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa), pengemis, gelandangan, dan anak jalanan di Banjarmasin. Mereka datang dengan beragam cara: diangkut Satpol PP, laporan masyarakat setempat, bahkan kiriman keluarga sendiri.

DONNY MUSLIM, Banjarmasin

RAHMADI, 38 tahun, terheran-heran. Pria asal Teluk Dalam ini tak mengira keluarganya bisa sampai hati membawanya ke fasilitas di Jalan Gubernur Subarjo tersebut. Pangkal masalahnya sepele, menyepak hingga hancur tembok rumah yang terbuat dari tripleks.

Peristiwa absurd itu terjadi dua tahun silam. Waktu itu, Rahmadi sedang berada di rumah bersama ibunya. Menjelang malam, dia berhalusinasi melihat sosok perempuan menakutkan. "Sangat mirip Suzanna. Saya takut. Langsung tendang-tendang dinding rumah sampai hancur," tukasnya.

Perasaan dihantui tak hanya terjadi sekali saja. Setelah pertemuan dengan Suzanna versi KW itu, dia terus mendapatkan gangguan. Utamanya bisikan-bisikan aneh. Siang dan malam. "Isinya tidak jelas. Mengganggu sekali," ceritanya.

Melihat keanehan putranya, sang ibu memutuskan membawa anaknya ke Rumah Singgah di Banjarmasin Selatan. Dititipkan keluarga agar Dinas Sosial Banjarmasin bisa membawanya ke Panti Sosial Budi Luhur di Banjarbaru. Untuk memperoleh pelayanan kesehatan jiwa dan pelatihan keterampilan selama enam bulan.

Setelah sembuh, dia tak bisa pulang menuju rumahnya di Simpang Jagung, Banjarmasin Barat. Ibunya sudah pindah rumah. Tak ada yang tahu ke mana. Rahmadi akhirnya kembali ke Rumah Singgah. Bergumul dengan pengidap gangguan jiwa lainnya.

Padahal, jika diamati penampilan Rahmadi sekarang sudah tak layak disebut orang dengan gangguan kejiwaan. Tatapan matanya tak kosong. Bicaranya nyambung. Penampilannya terawat.

"Saya pengin balik, tapi tidak ada yang menampung. Ibu saya sudah pergi entah ke mana. Kerabat yang lain memang ada di Pelaihari. Pasti ditolak karena tahu saya pernah di sini. Lebih baik tetap tinggal saja," tandasnya lirih.

Cerita penolakan lainnya datang dari Nurani. Nasib perempuan 38 tahun ini sama seperti Rahmadi. Dikirim keluarga ke Rumah Singgah. Namun, tak kunjung dijemput sanak famili.

"Saya dari Jalan Kelayan A. Sudah tiga tahun berada di sini karena sering ngamuk-ngamuk. Tapi sekarang sudah hampir sembuh," cerita Inur, sapaannya.

Inur adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya laki-laki. Adiknya perempuan. Dua-duanya sudah berkeluarga. Namun, tak ada yang bisa menerimanya untuk ditampung.

"Saya pernah balik ke tempat acil (bibi). Tapi, baru beberapa hari saya diantar lagi kemari. Saya tidak bisa apa-apa. Kerja tidak bisa, memasak juga susah. Makanya diantar ke sini saja," kata dia.

Meski demikian, Inur mengaku senang bisa tinggal di Rumah Singgah. Sebab, di rumah ia seringkali hanya diberi makan jatah sekali dalam sehari. Di Rumah Singgah, dia dilayani makan tiga kali sehari. "Bahkan boleh menambah nasi," selorohnya. (at/fud)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*