MANAGED BY:
SENIN
28 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Sabtu, 05 Mei 2018 19:41
Curahan Lirih dari Pulau Laut: "Mau Tinggal di Mana Kami"
SENYUM: Aksi penolakan terhadap upaya penambangan di Pulau Laut terus bergulir. Datang dari berbagai kalangan dengan bermacam cara. Salah satunya berbagi bunga. Seperti yang dilakukan perempuan-perempuan cantik ini di Banjarmasin, Kamis tadi.

PROKAL.CO, Aksi menolak penambangan batubara di Pulau Laut, Kotabaru, terus dilancarkan. Beragam cara dilakukan warga Kalsel untuk menjaga pulau kecil itu. Termasuk dengan memviralkan tanda pagar #SAVEPULAULAUT.

Kamis (3/5) siang, para pengendara di perempatan Kantor Pos, Jalan Lambung Mangkurat-Pangeran Samudera di Banjarmasin dibuat kaget. Ada gadis-gadis cantik berkaus hitam dan merah bertuliskan #SAVEPULAULAUT. Mereka tersenyum ramah sembari memberikan bunga.

Itu bukan aksi satu-satunya. Di beberapa titik juga digelar gerakan serupa. Di perempatan Jembatan Merdeka, Belitung dan pertigaan Jalan Cemara, Bundaran Kayu Tangi. Termasuk di bundaran simpang empat Banjarbaru.

Gadis-gadis itu rela turun ke jalan karena merasa peduli. Terhadap Pulau Laut yang terancam dieksploitasi penambang batubara. “Hadapi tambang, katakan dengan kembang”, begitulah tag line mereka.

Mereka ingin menunjukkan aksi perlawanan tak melulu harus berteriak lantang. “Kami turun ke jalan sebagai bentuk dukungan atas keputusan Gubernur Kalsel tentang pencabutan izin tambang di Pulau Laut. Bisa dibayangkan, andai pulau kecil itu ditambang, maka pasti akan hancur,” tutur Venna Martha Yuniza, Koordinator aksi #SAVEPULAULAUT.

Menurut Venna, keputusan Pemprov Kalsel menutup aktivitas pertambangan di Pulau Laut sudah tepat. Baik dari aspek sosial masyarakat, lingkungan, maupun kepentingan umum.

"Kalau bukan kita masyarakat Kalsel sendir, siapa lagi yang bisa menyelamatkan Pulau Laut dari aktivitas pertambangan," tegas staf RSJ Sambang Lihum itu.

Aktivis lainnya, Dwi Rosalinda dan Meyla Aldina Anisafitri mengaku rela datang jauh-jauh dari Kabupaten Banjar. Tujuannya demi menyuarakan penolakan mereka. “Jangan ada penambangan baru lagi. Jangan sampai daerah kita dikeruk terus dan rusak,” seru Dwi.

Selain memberi bunga mawar kepada pengguna jalan, aktivis peduli lingkungan itu juga membagikan kain hitam bertuliskan #SAVEPULAULAUT.


Pulau Laut sendiri merupakan pulau dengan garis pantai yang indah. Sebagian besar masyarakatnya yang hidup bercocok tanam dan nelayan sekarang ini merasa terancam dengan adanya rencana pertambangan batubara dan bijih besi.

Pada awal Mei ini, petani Desa Selino, Kecamatan Pulau Laut Tengah, sudah menyambut masa panen. Sebuah kegembiraan yang semestinya disambut sukacita. Tapi sayang, justru dibayang-bayangi kecemasan oleh pertambangan.

Para petani itu khawatir jika tambang batubara jalan, maka akan berdampak pada sawah mereka. "Jangan ada tambang lah. Apalagi sampai ada limbah lagi," ujar Aleng, salah satu petani.

Pria bersuku Bugis itu menceritakan, mereka sudah pernah merasakan pedihnya dampak limbah. Tepatnya tahun 2015 lalu. Ketika maraknya aktivitas pendulangan emas manual di bantaran sungai. Limbahnya masuk ke dalam saluran irigasi. “Hasil padi pun menjadi kurus,” kenangnya.

Hal serupa juga disampaikan Amirudin, Pude, Ridwan dan para petani lainnya. Skenario terburuk, mereka bakal meninggalkan pulau kecil itu apabila pertambangan tetap dijalankan.

"Kami akan minta ganti rugi. Biar kami bisa pergi dari pulau ini cari usaha di tempat lain," lirih Amirudin seolah putus asa.

Sementara Saifullah, tokoh masyarakat di Desa Selino menyebut, warga sudah lama menolak rencana penambangan batubara. “Mereka khawatir. Mayoritas warga di sini petani dan nelayan. Sementara keuntungan penambangan hanya akan dinikmati segelintir orang. Sementara dampaknya dirasakan orang satu pulau. Lubang menganga. Banjir, debu, semua merasakan. Sudah ada contohnya di Pulau Sebuku," beber guru SD ini.

Selino dan sekitarnya, kata Saifullah, termasuk penghasil beras terbesar kedua di Pulau Laut. Posisi pertama ada di Desa Berangas, Kecamatan Pulau Laut Timur. Di sanalah kawasan yang rencananya pertama kali akan ditambang.

Sedikitnya ada seratus hektare lahan pertanian Desa Selino yang berada di kaki Gunung Jambangan. Satu hektar sekali panen jika pupuk bagus bisa dapat gabah tujuh ton. Kalau perawatan seadanya, di kisaran empat ton gabah.

“Jadi, Pulau Laut tidak layak ditambang. Tambang itu tidak lama, kalau habis lantas apa?" katanya.

Salino berjarak sekitar lima kilometer dari lokasi rencana pelabuhan tambang batubara di Tanjung Serdang. Berhadapan langsung dengan Gunung Jambangan.

Kecemasan petani juga serupa dengan para nelayan. Di RT 1 Desa Selino ada puluhan kepala keluarga yang tinggal di daerah pesisir. Mayoritas pencari ikan laut.

Rumah-rumah mereka di bibir pantai. Sangat dekat dengan rencana pelabuhan tambang. Jaraknya cuma sekitar satu kilometer. "Kalau tambang itu buka nanti, kami pasti kena dampaknya," ujar salah satu warga. Dia tak ingin namnya disebut.

Para nelayan Selino biasa mencari udang ke laut menggunakan perahu mesin kecil. Jika limbah tambang nanti mencemari pesisir, maka sudah pasti mata pencaharian mereka akan hilang. "Pelabuhan bongkar muat batubara itu dekat sekali dari sini," katanya.

Di depan rumah warga, arah ke bukit ada puluhan hektare lahan kebun. Tanamannya beragam. Diantaranya, durian dan langsat. Lahan tersebut takkan pernah mereka jual kepada pengusaha kelapa sawit apalagi tambang. "Mau tinggal di mana kami. Cuma ini saja yang kami punya," katanya.

Sementara itu, dari pantauan wartawan, meski izin sudah dicabut, aktivitas karyawan Sebuku (SILO) Group masih berjalan. Hanya saja tak seintens akhir 2017 tadi.

Gencarnya penolakan penambangan Pulau Laut karena berkaca pada Pulau Sebuku. Yang rusak akibat penambangan. Masyarakat Kalsel tak ingin hal itu terulang.

Apalagi dulu warga yang pernah minta ganti rugi lahan di Pulau Sebuku, sekarang banyak yang gamang. Perusahaan batubara tutup, tinggal lubang menganga dan kampung menjadi sepi. Sedangkan alamnya terlanjur rusak akibat eksploitasi.

Dari sisi pertanian, bisnis tambang sangat merugikan. Karena tak berjangka panjang. Setidaknya itu yang dirasakan Syahril. "Lain cerita mungkin kalau tambang untuk listrik kita. Tapi kan katanya ekspor. Masa kita ekspor terus," keluhnya.

Iya, dia setuju dengan jika tambang disebut memberikan pendapatan bagi negara. "Tapi coba lihat, berapa pemasukan, terus berapa kerugian warga di pulau. Kalau mau jujur, ketemu jawabannya kalau tambang di pulau banyak kerugiannya," sindirnya.

Syahril mengatakan, masih ada pengangguran yang butuh lapangan kerja. Namun jika tambang dijadikan alasan kata dia malah jadi lucu. "Menyerap tenaga kerja, tapi menyulitkan pencarian nelayan dan petani. Jadi bagaimana?," tanyanya.

Azmi, warga Pulau Laut yang beberapa tahun silam aktif bekerja di bisnis tambang batubara di Banua, memahami ketakutan warga. "Kita ini sistem tambang terbuka, jadi memang dampaknya itu besar sekali," ujarnya, akhir pekan tadi.

Dia mengungkapkan, tambang terbuka membuat perubahan besar pada penampang muka bumi. Terlebih jika batubara berada di kedalaman puluhan atau lebih seratus meter. "Karena biasanya akan memotong aliran mata air di bawah tanah, makanya tambang biasanya berdampak sulitnya air bersih kalau kemarau," terangnya.

Jika hujan deras turun, lubang-lubang tambang akan menjadi ancaman serius bagi warga. "Banjir itu pasti sudah. Makanya berbahaya menambang di pulau kecil. Harus hati-hati betul," tuturnya.

Dirinya mengaku mengalami sendiri sulitnya mengatasi dampak negatif bekas tambang. "Reklamasi, tanahnya dari mana? Menutupinya terpaksa menggali lagi. Susah sebenarnya kalau tambang terbuka. Beda sama terowongan," paparnya.

Jauh lebih buruk, debu batubara pasti akan menjadi makanan sehari-hari penduduk yang tinggal di dekat tambang. "Apalagi Pulau Laut. Itu pulau kan penuh manusia. Di pesisirnya justru jadi pusat-pusat peradabannya. Saya pikir, mungkin akan sulit sekali menghindari konflik nantinya jika tambang jalan," ucap Azmi.

Saparudin juga mantan pekerja pertambangan. Dia bekerja di jasa bongkar muat batubara. Dia sependapat dengan Azmi. "Nelayan sama petani biasanya yang paling terdampak. Bongkar muat batubara di pelabuhan, kapal yang hilir mudik angkut batubara itu, sedikit banyaknya menimbulkan limbah di laut," tuturnya.

Dia mengaku sudah pernah melihat spot-spot tambang di Kalsel. Termasuk Pulau Sebuku. Bahkan hingga Kaltim. Dampaknya tak cuma berpengaruh terhadap lingkungan, tapi juga kehidupan sosial. Yang paling nyata adalah prostitusi. "Ini bukan rahasia lagi," ucapnya.

Ketua Dewan Adat Dayak Kotabaru, Sugian Noor, yang tinggal di kaki Gunung Sebatung Pulau Laut mengatakan, jika mau menyerap tenaga kerja maka pemerintah mesti memaksimalkan pariwisata. Pulau Laut sebutnya sudah terkenal keindahannya. "Perbaiki semua jalan yang rusak. Perjuangkan jembatan Pulau Laut ke Pulau Kalimantan. Pulau Laut pasti maju. Kita ini kaya mesti tanpa tambang. Tambang yang batunya untuk negara lain, buat apa?," ujarnya.

Mantan kepala dinas perhubungan itu menegaskan, bahkan bangsa Belanda pun waktu menjajah Pulau Laut tidak menambang terbuka. Tapi pakai terowongan. "Karena kalau Pulau Laut ini rusak, ancaman kerusakan ekosistem juga berdampak ke Pulau Kalimantan. Pulau Laut ini penyangga Borneo," sebutnya.

Lulusan UII Jogyakarta dan FISIP Unmer ini menambahkan, menyelamatkan Pulau Laut dari tambang terbuka, juga sama artinya menyelamatkan generasi mendatang. "Coba pikirkan bagaimana anak-cucu kita nanti. Mau tinggal di mana mereka. Alam sudah menderita, cukup lah sudah, tidak ada tambang kita tidak mati kelaparan juga," pungkasnya. (zal/ma/nur)


BACA JUGA

Kamis, 24 Mei 2018 12:57

Kisah Andra Fathur Rahman, Desainer Spesialis Gaun di Banjarmasin

Gaun menjuntai. Dengan sematan payet dan beberapa ornamen khas kain tile. Pemakainya sudah pasti memesona.…

Rabu, 23 Mei 2018 14:59

Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye…

Senin, 21 Mei 2018 12:56

Ini Dia Sosok Dibalik Bubur Sabilal yang Melegenda

Bubur ayam sudah menjadi ciri khas Ramadan di Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Ribuan porsi disiapkan bagi…

Sabtu, 19 Mei 2018 10:38

Menengok Kelahiran Kampung Mural di Jalan Tunjung Maya

Seusai salat tarawih hingga tibanya waktu sahur, warga dan pelukis berkumpul. Membawa teko kopi dan…

Senin, 14 Mei 2018 15:15

Cerita Ketua MUI Tanbu KH Fadli Muis Mendirikan Pondok Pesantren Zaadul Muttaqiin

Saat ini, pondok pesantren mulai digandrungi anak muda putra dan putri. Pondok pesantren (ponpes) mulai…

Minggu, 13 Mei 2018 05:50

Surat Terakhir Erik Petersen Pria Keturunan Bangsa Viking di Banua Anyar

Erik Petersen adalah keturunan Bangsa Viking. Yang memilih meninggal dunia di Banua Anyar. Warisan Erik,…

Sabtu, 12 Mei 2018 14:14

Menengok Kehidupan di Ponpes Dalam Pagar Kandangan

Santri; terpisah dari keluarga, belajar agama atau menghafal ayat-ayat suci Alquran. Kalau dibayangan…

Jumat, 11 Mei 2018 16:00

Kala Petani Keluhkan Sawah Mereka yang Mengering karena Irigasi Berubah Fungsi

Kejadian yang cukup langka  terjadi di Kampung Handil Buluan, Desa Gudang Hirang Kecamatan Sungai…

Jumat, 11 Mei 2018 15:56

Kisah Purnawirawan TNI yang Menjadi Relawan Penyeberangan Pejalan Kaki

Kopral Effendie sedang menyeberangkan pejalan kaki. Truk tentara melintas. Sejenak dia terdiam. Tangan…

Kamis, 10 Mei 2018 18:57

Kisah Nelayan Pulau Laut yang Menolak Keras Pertambangan

Sama seperti hari cerah lainnya, Ari si pemancing ikan gabus, beberapa hari lalu dapat puluhan kilogram…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .