MANAGED BY:
SENIN
28 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Selasa, 08 Mei 2018 14:35
Kisah Hidup Mahmud Ropi, Ayah Dua Anak Penyandang Disabilitas

Jualan Tahu Gembos, Bersyukur Dibantu Bupati

MELAKUKAN PENGEPRESAN: Mahmud Ropi (50) melakukan pengepresan ampas tahu untuk dijadikan tempe gembos. | Foto: Karyono/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Mahmud Ropi banyak bersyukur dalam hidupnya. Meski mengalami berbagai kesulitan hidup, dia bangkit dan terus mencari nafkah untuk keluarganya dengan berjualan tahu gembos.

Karyono, Batulicin

JARUM jam menunjukkan pukul 07.00 Wita. Mahmud Ropi (50), memulai pekerjaannya membuat tempe gembos. Ampas tahu di dalam karung dia peras airnya dengan menggunakan mesin pengepresan. Itu dilakukannya dua kali agar airnya benar-benar kering. Proses selanjutnya mengayak dan dikukus. Terus ampasnya dikeringkan, dan dicampur dengan ragi, baru dibungkus.

Setelahnya, dikemas dan didiamkan selama dua hari, baru bisa dijual. Proses pembuatan tempe gembos dimulai pukul 15.00 Wita sampai jam 22.00 Wita, kemudian dilanjutkan besok paginya pukul 07.00 Wita sampai pukul 10.00 Wita.

Itulah gambaran proses pembuatan tempe gembos yang dilakukan Mahmud Ropi, warga Kompleks Bumi Datarlaga RT 12 Blok U No 18 Desa Sarigadung Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu. Pekerjaan itu dia lakukan setiap hari. Lantas, berapa pendapatan yang dia peroleh dari usahanya itu. Ternyata tidak begitu banyak. Sekali produksi, Mahmud Ropi kadang membuat satu sampai dua karung ampas tahu.

“Ampas tahu itu saya peroleh dari gudang tahu yang ada di Jalan Karang Jawa Desa Barokah Kecamatan Simpang Empat. Saya ganti rokok,” cerita Mahmud Ropi kepada Radar Banjarmasin di kediaman pribadinya, kemarin.

Setiap 1 karung menghasilkan 150 bungkus tempe gembos, sementara 2 karung 300 bungkus dengan ukuran 12 mm x 10 mm. Tempe gembos itu dia jual kepada pelanggan tetapnya seharga Rp600 perbungkus.

“Alhamdulillah, setiap jualan tidak pernah tersisa,” terangnya.

Dari hasil Rp600 tersebut, Mahmud Ropi hanya menerima bersih Rp200, sisanya habis dipotong untuk biaya produksi, seperti membeli bensin, plastik membungkus tempe gembos, ragi dan kayu.

Artinya jika dikalikan 150 bungkus saja, Mahmud Ropi hanya mendapatkan Rp30 ribu, sementara kalau 300 bungkus Rp60 ribu. Dengan penghasilan sekecil itu, Mahmud Ropi merasa cukup untuk memenuhi kebutuhan istri dan kedua anaknya.

“Alhamdulillah, cukup untuk makan sehari-hari,” katanya.

Dijelaskannya, usaha pembuatan tempe gembos sudah dimulai sejak tahun 2011. Dulu, dia masih mendiami rumah kontrakan di Jalan Karang Jawa Desa Barokah Kecamatan Simpang Empat hingga tahun 2014. Setahun kemudian, Mahmud Ropi dan keluarganya menempati rumah baru di kompleks tersebut. Itupun dia mendapat rumah gratis dari Program Rumah Gratis yang ada di salah satu TV swasta, tahun 2015 yang lalu.

Di rumah tersebut, Mahmud Ropi tinggal bersama istrinya Umi Kalsel (44) dan dua anaknya, Siti munawarah (23) dan Nurul hafidoh (16). Keduanya anaknya adalah penyandang disabilitas, karena buta. Kedua anaknya bersekolah di SLB Batulicin. Anak pertama duduk dibangkus kelas 3, sedangkan anak kedua kelas 4.

Mahmud mengantar anaknya tiga kali dalam seminggu ke sekolah tersebut menggunakan sepeda motor bututnya. Sepeda motor itu juga yang dia pakai untuk menjual tempe gembosnya. Dia menceritakan, sejatinya anak pertama lahir normal. Tapi ketika berumur 7 bulan tidak bisa bergerak, tapi masih mau nangis.

“Saya beri mainan tidak mau bereaksi. Kemudian saya bawa ke dokter spesialis mata, kata dokternya tidak apa-apa. Sempat dioperasi, tapi matanya tetap tidak bisa melihat,” ujar Mahmud seraya mengatakan ketika itu dia masih bermukim di Surabaya.

Anak kedua lahir normal juga. Matanya juga bisa melihat, namun beberapa bulan kemudian mata kanannya mulai tertutup, dan bulan berikutnya mata kirinya tertutup juga. Bedanya, anak kedua masih bisa bicara, sementara anak pertama tidak bisa sama sekali, namun masih bisa mendengar.

“Saya harus sabar merawat mereka, karena sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai seorang ayah. Saya ikhlas menjalaninya,” ujar Mahmud Ropi.

Istrinyapun pernah menderita penyakit kelenjar betah bening, bahkan sudah 6 kali menjalani kemotherapi di RSUD Ulin Banjarmasin, dan alhamdulillah sekarang sudah sembuh.

“Tapi setelah terakhir di kemoterapi, saya mengalami keluhan di kedua tangan saya, setelah bangun tidur kaku. Tapi alhamdulillah, tenggorokan saya sudah tidak sakit lagi,” ujarnya.

Mahmud Ropi menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada Bupati Tanbu Mardani H Maming melalui program kesehatan gratisnya, sehingga istrinya bisa menjalani kemoterapi sampai sembuh.

“Bayangkan saja berapa juta duit yang harus saya keluarkan andai saja tidak ada program kesehatan gratis di Tanah Bumbu. Mungkin rumah dan sepeda motor saya sudah tergadaikan,” ucapnya. (kry/ay/ran)


BACA JUGA

Rabu, 23 Mei 2018 14:59

Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye…

Minggu, 13 Mei 2018 05:50

Surat Terakhir Erik Petersen Pria Keturunan Bangsa Viking di Banua Anyar

Erik Petersen adalah keturunan Bangsa Viking. Yang memilih meninggal dunia di Banua Anyar. Warisan Erik,…

Kamis, 10 Mei 2018 18:57

Kisah Nelayan Pulau Laut yang Menolak Keras Pertambangan

Sama seperti hari cerah lainnya, Ari si pemancing ikan gabus, beberapa hari lalu dapat puluhan kilogram…

Rabu, 09 Mei 2018 16:15

Ini Nih Relawan Ojek Gratis di SBMPTN ULM

Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) selalu merepotkan karena digelar di tempat berbeda.…

Selasa, 08 Mei 2018 13:36

Bukan Sibuk Main Mobile Legends, Bocah ini Malah Asik Koleksi Perangko

Kecil-kecil, berani tampil beda. Itulah Muhammad Fahriza. Hobinya tak biasa. Jika anak seusianya sibuk…

Senin, 07 Mei 2018 14:17

Mengunjungi Pasar Kajut Edisi ke-IV, Menjual Apa Saja yang Penting Keren

Orang Indonesia mengenal Pasar Kaget. Anak muda Banjarmasin mengenal Pasar Kajut. Inilah wadah banyak…

Sabtu, 05 Mei 2018 19:41

Curahan Lirih dari Pulau Laut: "Mau Tinggal di Mana Kami"

Aksi menolak penambangan batubara di Pulau Laut, Kotabaru, terus dilancarkan. Beragam cara dilakukan…

Sabtu, 05 Mei 2018 12:39

Kisah Mereka yang Ditolak Pulang dari Rumah Singgah Baiman

Rumah Singgah Baiman didirikan untuk menampung ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa), pengemis, gelandangan,…

Jumat, 04 Mei 2018 14:17

Mengintip Aktifitas Pelatih Karate Cantik di Banjarmasin

Helda Wahdini punya paras cantik. Tapi di balik kecantikannya orang tidak menduga kalau dia ternyata…

Kamis, 03 Mei 2018 12:27

Eter Nabiring, Penjaga Adat dan Tradisi Suku Dayak Halong

Gelisah akan kemajuan zaman yang menggerus kearifan lokal dan budaya warisan nenek moyang, Eter Nabiring,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .