MANAGED BY:
KAMIS
18 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 08 Mei 2018 14:35
Kisah Hidup Mahmud Ropi, Ayah Dua Anak Penyandang Disabilitas

Jualan Tahu Gembos, Bersyukur Dibantu Bupati

MELAKUKAN PENGEPRESAN: Mahmud Ropi (50) melakukan pengepresan ampas tahu untuk dijadikan tempe gembos. | Foto: Karyono/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Mahmud Ropi banyak bersyukur dalam hidupnya. Meski mengalami berbagai kesulitan hidup, dia bangkit dan terus mencari nafkah untuk keluarganya dengan berjualan tahu gembos.

Karyono, Batulicin

JARUM jam menunjukkan pukul 07.00 Wita. Mahmud Ropi (50), memulai pekerjaannya membuat tempe gembos. Ampas tahu di dalam karung dia peras airnya dengan menggunakan mesin pengepresan. Itu dilakukannya dua kali agar airnya benar-benar kering. Proses selanjutnya mengayak dan dikukus. Terus ampasnya dikeringkan, dan dicampur dengan ragi, baru dibungkus.

Setelahnya, dikemas dan didiamkan selama dua hari, baru bisa dijual. Proses pembuatan tempe gembos dimulai pukul 15.00 Wita sampai jam 22.00 Wita, kemudian dilanjutkan besok paginya pukul 07.00 Wita sampai pukul 10.00 Wita.

Itulah gambaran proses pembuatan tempe gembos yang dilakukan Mahmud Ropi, warga Kompleks Bumi Datarlaga RT 12 Blok U No 18 Desa Sarigadung Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu. Pekerjaan itu dia lakukan setiap hari. Lantas, berapa pendapatan yang dia peroleh dari usahanya itu. Ternyata tidak begitu banyak. Sekali produksi, Mahmud Ropi kadang membuat satu sampai dua karung ampas tahu.

“Ampas tahu itu saya peroleh dari gudang tahu yang ada di Jalan Karang Jawa Desa Barokah Kecamatan Simpang Empat. Saya ganti rokok,” cerita Mahmud Ropi kepada Radar Banjarmasin di kediaman pribadinya, kemarin.

Setiap 1 karung menghasilkan 150 bungkus tempe gembos, sementara 2 karung 300 bungkus dengan ukuran 12 mm x 10 mm. Tempe gembos itu dia jual kepada pelanggan tetapnya seharga Rp600 perbungkus.

“Alhamdulillah, setiap jualan tidak pernah tersisa,” terangnya.

Dari hasil Rp600 tersebut, Mahmud Ropi hanya menerima bersih Rp200, sisanya habis dipotong untuk biaya produksi, seperti membeli bensin, plastik membungkus tempe gembos, ragi dan kayu.

Artinya jika dikalikan 150 bungkus saja, Mahmud Ropi hanya mendapatkan Rp30 ribu, sementara kalau 300 bungkus Rp60 ribu. Dengan penghasilan sekecil itu, Mahmud Ropi merasa cukup untuk memenuhi kebutuhan istri dan kedua anaknya.

“Alhamdulillah, cukup untuk makan sehari-hari,” katanya.

Dijelaskannya, usaha pembuatan tempe gembos sudah dimulai sejak tahun 2011. Dulu, dia masih mendiami rumah kontrakan di Jalan Karang Jawa Desa Barokah Kecamatan Simpang Empat hingga tahun 2014. Setahun kemudian, Mahmud Ropi dan keluarganya menempati rumah baru di kompleks tersebut. Itupun dia mendapat rumah gratis dari Program Rumah Gratis yang ada di salah satu TV swasta, tahun 2015 yang lalu.

Di rumah tersebut, Mahmud Ropi tinggal bersama istrinya Umi Kalsel (44) dan dua anaknya, Siti munawarah (23) dan Nurul hafidoh (16). Keduanya anaknya adalah penyandang disabilitas, karena buta. Kedua anaknya bersekolah di SLB Batulicin. Anak pertama duduk dibangkus kelas 3, sedangkan anak kedua kelas 4.

Mahmud mengantar anaknya tiga kali dalam seminggu ke sekolah tersebut menggunakan sepeda motor bututnya. Sepeda motor itu juga yang dia pakai untuk menjual tempe gembosnya. Dia menceritakan, sejatinya anak pertama lahir normal. Tapi ketika berumur 7 bulan tidak bisa bergerak, tapi masih mau nangis.

“Saya beri mainan tidak mau bereaksi. Kemudian saya bawa ke dokter spesialis mata, kata dokternya tidak apa-apa. Sempat dioperasi, tapi matanya tetap tidak bisa melihat,” ujar Mahmud seraya mengatakan ketika itu dia masih bermukim di Surabaya.

Anak kedua lahir normal juga. Matanya juga bisa melihat, namun beberapa bulan kemudian mata kanannya mulai tertutup, dan bulan berikutnya mata kirinya tertutup juga. Bedanya, anak kedua masih bisa bicara, sementara anak pertama tidak bisa sama sekali, namun masih bisa mendengar.

“Saya harus sabar merawat mereka, karena sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai seorang ayah. Saya ikhlas menjalaninya,” ujar Mahmud Ropi.

Istrinyapun pernah menderita penyakit kelenjar betah bening, bahkan sudah 6 kali menjalani kemotherapi di RSUD Ulin Banjarmasin, dan alhamdulillah sekarang sudah sembuh.

“Tapi setelah terakhir di kemoterapi, saya mengalami keluhan di kedua tangan saya, setelah bangun tidur kaku. Tapi alhamdulillah, tenggorokan saya sudah tidak sakit lagi,” ujarnya.

Mahmud Ropi menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada Bupati Tanbu Mardani H Maming melalui program kesehatan gratisnya, sehingga istrinya bisa menjalani kemoterapi sampai sembuh.

“Bayangkan saja berapa juta duit yang harus saya keluarkan andai saja tidak ada program kesehatan gratis di Tanah Bumbu. Mungkin rumah dan sepeda motor saya sudah tergadaikan,” ucapnya. (kry/ay/ran)


BACA JUGA

Jumat, 12 Oktober 2018 09:39

Sembilan Pengungsi Palu "Terdampar" di Banjarmasin, Begini Nasibnya

Empat hari bertahan hidup tanpa bantuan. Melihat penjarahan di mana-mana. Sembilan pengungsi berlayar…

Senin, 01 Oktober 2018 11:17

Nobar Film G30S/PKI, Memahami Sejarah Lewat Film

BANJARMASIN - Mengenang dan memahami sejarah. Itulah misi dari nonton bareng film G30S/PKI yang digelar…

Minggu, 30 September 2018 11:18

Perkantoran Pemprov Kalsel Dijadikan Wisata Edukasi

Menjelang Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38, kawasan Perkantoran Setdaprov Kalsel di Banjarbaru, disulap…

Jumat, 21 September 2018 09:15

Kisah Mengharukan Perjuangan Para Honorer di Desa-Desa Terpencil

Benar kata mereka: Tak habis kisah jika menceritakan para guru honorer. Dengan perjuangan itu, layak…

Kamis, 20 September 2018 09:47

Sebelum Kuliah, Para Tersangka Perusakan Gedung Dewan Lapor Kantor Polisi Dulu

Empat dari tujuh mahasiswa yang menyandang status tersangka mencerutakan pengalaman mereka selepas unjuk…

Kamis, 13 September 2018 12:05

YS Agus Suseno, Penyair Banjar Yang Berani Menohok Rezim

Meminjam istilah sastrawan Seno Gumira Ajidarma: ketika jurnalisme dibungkam, maka mestinya sastra harus…

Rabu, 12 September 2018 15:23

Kisah Perajin Miniatur Kapal Pinisi dari Sungai Alalak

Salman tak bisa jauh-jauh dari perahu dan sungai. Semasa bujangan, dia menjadi perajin perahu di Pulau…

Sabtu, 08 September 2018 12:51

Menengok Festival Anggrek 2018 di Taman Kamboja

Apa yang dicari-cari dunia jika melancong ke Kalsel? Jawabannya; anggrek. Bukan tanpa alasan, tanaman…

Sabtu, 08 September 2018 12:48

Memanen Kelapa Sawit, Pekebun Malah Menjerit

Memanen kelapa sawit tidak terlalu menggembirakan bagi pekebun di Kotabaru. Bekerja di bawah terik mentari,…

Rabu, 05 September 2018 11:13

Jean, Siswi SMAN 2 Banjarmasin Menang Lomba Monolog di Aceh

Kamera dokumentasi sudah dimatikan. Sebagian penonton juga telah beranjak pulang. Juri pun tampak capek.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .