MANAGED BY:
SENIN
28 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Kamis, 10 Mei 2018 18:57
Kisah Nelayan Pulau Laut yang Menolak Keras Pertambangan
KAYA IKAN: Ari, warga Desa Bekambit Kecamatan Pulau Laut Timur rata-rata sehari dapat ikan gabus 20 kilogram. Dia ketakutan tambang akan mengancam penghasilannya.

PROKAL.CO, Sama seperti hari cerah lainnya, Ari si pemancing ikan gabus, beberapa hari lalu dapat puluhan kilogram ikan. Sehari dia bisa mengantongi rata-rata ratusan ribu. Tapi kini dia gamang, rencana tambang batubara mengancam usahanya.

Sama dengan warga Bekambit Asri lainnya, Ari mengaku takut dengan rencana tambang. Dia khawatir tambang batubara yang rencananya akan dilakukan di Pulau Laut Timur membunuh pekerjaannya.

Bono petani di Bekambit Asri membenarkan. Ikan gabus melimpah di sana. "Mancing saja itu. Umpannya cuma ikan hidup. Banyak di sini kalau ikan," ujarnya.

Dia pun mengaku resah dengan rencana tambang batubara. "Kalau jadi ditambang bagaimana kami? Cuma ini lahan," keluhnya.

Bono mengaku tidak tahu harus berbuat apa. Meski jarak desanya ke pusat kota dekat saja, sekitar 39 kilometer, tapi akunya masyarakat di sana seolah sendiri menghadapi rencana tambang batubara.

Bekambit Asri adalah kawasan transmigrasi. Ada ratusan kepala keluarga di sana. Mereka hidup dari sawah dan kebun. Sawah mereka berada dekat dengan laut. Datarannya rendah. Rencana tambang tidak jauh dari sawah mereka.

Camat Pulau Laut Timur Ernawati membenarkan, timur Pulau Laut itu penghasil beras terbesar di Pulau Laut. Ikan sungainya juga melimpah, utamanya ikan gabus. Hampir tiap hari terlihat warga memancing di sana. Jika libur warga pusat kota biasa ke Pulau Laut Timur memancing.

Julak Antung dan suaminya Abdul Wahab salah satu warga Bekambit Asri yang menolak keras tambang batubara. "Ganti rugi puluhan juta cukup apa? Tanah hilang, kami terpaksa pindah," kata Julak Antung.

Iming-iming kalau tambang akan membuka ekonomi di sana dia tepis. "Mana ada. Kami sudah keliling. Catering makanan, emang semua penjual bisa dapat? Warung, yang ramai warung remang-remang. Jadi kami usaha apa?"

Dia mengaku ingin membuka usaha sarang burung walet di sana. "Tapi kalau ditambang bagaimana?" Dari pantauan wartawan memang banyak burung walet terbang di atas sawah sore hari di Desa Bekambit Asri.

Prayoto transmigran di sana juga mengaku gamang. "Kalau ini ditambang, banjir masuk ke sawah otomatis kami harus pindah. Dimana kami cari uang beli lahan, bangun rumah dan buka usaha lagi," katanya.

Muhammad dan Marawiah adalah suami istri yang tinggal di Pulau Laut Timur. Suami mencari ikan, istri jual ke pasar. Muhammad juga mengaku khawatir. Dia katanya sudah melihat apa yang terjadi pada nelayan di Pulau Sebuku.

Nelayan di Pulau Sebuku kata dia, sekarang mencari ikan jauh dari pulau. Masuk ke areal Pulau Laut. Dampaknya biasa terjadi cekcok nelayan Pulau Laut dan Pulau Sebuku karena mencari ikan di areal yang sama.

Pulau Laut Timur sendiri memiliki panorama alam yang menawan. Rangkaian pegunungan Sebatung seperti dinding hijau, hamparan sawah di bawahnya bak hamparan permadani. Suasana di sana tenang.

Tokoh yang getol menyuarakan penolakan tambang Sugian Noor mengatakan, rencana tambang di pesisir timur Pulau Laut mengancam kerusakan pesisir. "Ke dalaman batubara di sana ada yang sampai dua ratus meter infonya. Itu persis di tepi laut. Bisa dibayangkan," keluhnya.

Ketua Dewan Adat Dayak Kotabaru itu meminta semua pihak memandang jernih masalah tambang Pulau Laut. "Ini harga diri Banua kita. Kalau Pulau Laut juga dikeruk untuk energi luar negeri, bagaimana lagi kita?" (zal/ay/ran)


BACA JUGA

Kamis, 24 Mei 2018 12:57

Kisah Andra Fathur Rahman, Desainer Spesialis Gaun di Banjarmasin

Gaun menjuntai. Dengan sematan payet dan beberapa ornamen khas kain tile. Pemakainya sudah pasti memesona.…

Rabu, 23 Mei 2018 14:59

Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye…

Senin, 21 Mei 2018 12:56

Ini Dia Sosok Dibalik Bubur Sabilal yang Melegenda

Bubur ayam sudah menjadi ciri khas Ramadan di Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Ribuan porsi disiapkan bagi…

Sabtu, 19 Mei 2018 10:38

Menengok Kelahiran Kampung Mural di Jalan Tunjung Maya

Seusai salat tarawih hingga tibanya waktu sahur, warga dan pelukis berkumpul. Membawa teko kopi dan…

Senin, 14 Mei 2018 15:15

Cerita Ketua MUI Tanbu KH Fadli Muis Mendirikan Pondok Pesantren Zaadul Muttaqiin

Saat ini, pondok pesantren mulai digandrungi anak muda putra dan putri. Pondok pesantren (ponpes) mulai…

Minggu, 13 Mei 2018 05:50

Surat Terakhir Erik Petersen Pria Keturunan Bangsa Viking di Banua Anyar

Erik Petersen adalah keturunan Bangsa Viking. Yang memilih meninggal dunia di Banua Anyar. Warisan Erik,…

Sabtu, 12 Mei 2018 14:14

Menengok Kehidupan di Ponpes Dalam Pagar Kandangan

Santri; terpisah dari keluarga, belajar agama atau menghafal ayat-ayat suci Alquran. Kalau dibayangan…

Jumat, 11 Mei 2018 16:00

Kala Petani Keluhkan Sawah Mereka yang Mengering karena Irigasi Berubah Fungsi

Kejadian yang cukup langka  terjadi di Kampung Handil Buluan, Desa Gudang Hirang Kecamatan Sungai…

Jumat, 11 Mei 2018 15:56

Kisah Purnawirawan TNI yang Menjadi Relawan Penyeberangan Pejalan Kaki

Kopral Effendie sedang menyeberangkan pejalan kaki. Truk tentara melintas. Sejenak dia terdiam. Tangan…

Rabu, 09 Mei 2018 16:15

Ini Nih Relawan Ojek Gratis di SBMPTN ULM

Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) selalu merepotkan karena digelar di tempat berbeda.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .