MANAGED BY:
SENIN
28 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Jumat, 11 Mei 2018 16:00
Kala Petani Keluhkan Sawah Mereka yang Mengering karena Irigasi Berubah Fungsi

Dulu untuk Pengairan, kini untuk Perikanan

TAK DAPAT AIR: Seorang petani di Kampung Handil Buluan, Desa Gudang Hirang Kecamatan Sungai Tabuk menanam padi di sawahnya. | Foto: Muhammad Amin/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Kejadian yang cukup langka  terjadi di Kampung Handil Buluan, Desa Gudang Hirang Kecamatan Sungai Tabuk. Lahan pertanian milik warga desa mengalami kekeringan cukup parah.

M AMIN, Martapura

Selama dua bulan terakhir, petani setempat tidak pernah lagi menikmati air irigasi. Kekeringan ini merupakan kejadian perdana di desa  yang berjarak sekitar 5 km dari Banjarmasin ini.

Air irigasi  ditengarai bocor atau digembosi di tengah jalan karena disedot oleh sektor perikanan dan untuk pasokan air bersih. Para petani gundah berat. Musim kemarau yang tiba lebih awal memperparah keadaan.  

Tanah-tanah untuk menanam hampir kering, sebagian lagi malah persawahan dibiarkan kosong. Petani yang berada di Kecamatan Sungai Tabuk memang berada paling hilir, mereka adalah korban akibat fungsi irigasi Riam Kanan berubah.

Dulunya untuk mengairi ribuan hektar sawah kini bertambah untuk sektor perikanan dan bahan baku air bersih PDAM.

“Tahun 2018 paling parah. Belum pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya, lahan kami kering selama dua bulan terakhir. Aliran irigasi ditutup jadi kami tidak bisa mendapat air,” kata salah seorang warga Handil Buluan yang tinggal di RT 3 namun enggan menyebut namanya, kemarin (10/5) petang.

Ia berkesimpulan, air Irigasi Riam Kanan memang sudah terganggu dari hulunya. Dirinya yakin,  diberdayakannya sektor perikanan penyumbang paling besar penderitaan petani Handil Buluan dan sekitarnya. Sangat banyak tambak-tambak ikan di sisi kanan dan kiri irigasi yang mengambil lebih banyak curahan air irigasi. Itu pangkal  masalah terbesar distribusi air irigasi.

“Kalau tidak diatasi oleh para pejabat yang mengerti, bisa saja kami gagal panen karena bibit lokal khas lebak sangat membutuhkan air,” tuturnya.

Junai, petani yang memulai masa tanam di areal sawah seluas 30 borongan di Handil Buluan terlihat lebih sabar kendati bayangan kerugian akibat kekeringan ada di depan mata.

“Tanah kami bangkang (kering dan retak, red) sekitar 2 bulanan ini. Gimana mau mendapat air, saluran irigasi dekat sawah kami juga kering,” tuturnya.

Fenomen kekeringan di lahan pertanian lebak diakui Pambakal Gudang Hirang Syahrani. Potensi pertanian di desanya sangat besar dan seingatnya, areal persawahan kurang lebih seribu hektar lebih. Warga desanya adalah petani murni sehingga antusias menanam sangat tinggi.

Kendala saat ini justru di sistem pengairan akibat manajemen air yang tidak merata. Ia pun telah berkoordinasi dengan warga desa, seperti membuat surat permohonan agar aliran irigasi kembali dibuka.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura HM Fachry menegaskan, aspirasi untuk mendapat air irigasi sudah ada disampaikan. Ia mendapat laporan dari para penyuluh tentang kondisi lahan pertanian yang kering tersebut.

Ia pun sepakat jika suplai air irigasi yang sejak awal dibangun untuk pertanian tersebut bertambah fungsi untuk sektor lain sehingga petani mengalami kesulitan mendapatkan air.

“Kami memang memohon agar aliran air dari saluran sekunder dan tersier kembali lancar. Mereka bercita-cita menanam dua kali setahun,” ungkapnya.

Kepala Dinas PUPR Banjar M Hilman akan berkoordinasi dengan PU Provinsi untuk menangani kondisi kekeringan tersebut. Menurutnya, kewenangan irigasi ada di provinsi baik penataan atau pembersihan.

Keadaan tersebut harus dicarikan solusi agar tidak bertambah buruk yang memicu sektor pertanian mengalami kesulitan air.(mam)

 


BACA JUGA

Rabu, 23 Mei 2018 14:59

Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye…

Minggu, 13 Mei 2018 05:50

Surat Terakhir Erik Petersen Pria Keturunan Bangsa Viking di Banua Anyar

Erik Petersen adalah keturunan Bangsa Viking. Yang memilih meninggal dunia di Banua Anyar. Warisan Erik,…

Kamis, 10 Mei 2018 18:57

Kisah Nelayan Pulau Laut yang Menolak Keras Pertambangan

Sama seperti hari cerah lainnya, Ari si pemancing ikan gabus, beberapa hari lalu dapat puluhan kilogram…

Senin, 07 Mei 2018 14:17

Mengunjungi Pasar Kajut Edisi ke-IV, Menjual Apa Saja yang Penting Keren

Orang Indonesia mengenal Pasar Kaget. Anak muda Banjarmasin mengenal Pasar Kajut. Inilah wadah banyak…

Sabtu, 05 Mei 2018 19:41

Curahan Lirih dari Pulau Laut: "Mau Tinggal di Mana Kami"

Aksi menolak penambangan batubara di Pulau Laut, Kotabaru, terus dilancarkan. Beragam cara dilakukan…

Sabtu, 05 Mei 2018 12:39

Kisah Mereka yang Ditolak Pulang dari Rumah Singgah Baiman

Rumah Singgah Baiman didirikan untuk menampung ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa), pengemis, gelandangan,…

Jumat, 04 Mei 2018 14:17

Mengintip Aktifitas Pelatih Karate Cantik di Banjarmasin

Helda Wahdini punya paras cantik. Tapi di balik kecantikannya orang tidak menduga kalau dia ternyata…

Kamis, 03 Mei 2018 12:27

Eter Nabiring, Penjaga Adat dan Tradisi Suku Dayak Halong

Gelisah akan kemajuan zaman yang menggerus kearifan lokal dan budaya warisan nenek moyang, Eter Nabiring,…

Kamis, 03 Mei 2018 12:03

Hardiknas Berbarengan dengan USBN SLB

Ricky Joevani begitu pendiam. Saat diwawancara, dia lebih banyak mengangguk dan tersenyum. Sesekali…

Rabu, 02 Mei 2018 15:24

Permasalahan Lansia yang Mulai Hantui Kalsel

Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Sejahtera milik Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan cuma…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .