MANAGED BY:
SENIN
28 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Minggu, 13 Mei 2018 05:50
Surat Terakhir Erik Petersen Pria Keturunan Bangsa Viking di Banua Anyar
PAMERAN: Warisan Erik, berupa hasil penelitian atas Jukung Banjar diangkat dalam Festival Nyawa Sungai. Termasuk juga surat terakhirnya yang belum pernah dipublikasikan.

PROKAL.CO, Erik Petersen adalah keturunan Bangsa Viking. Yang memilih meninggal dunia di Banua Anyar. Warisan Erik, berupa hasil penelitian atas Jukung Banjar diangkat dalam Festival Nyawa Sungai. Termasuk juga surat terakhirnya yang belum pernah dipublikasikan. 

 

*** 

LAHIR tahun 1930 di Denmark, Erik mengabdikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan. Dengan spesialisasi kajian sejarah maritim. Bukan pilihan yang aneh, mengingat dirinya adalah orang Skandinavia. 

 

Yang tersohor dengan sejarah Abad Viking. Merentang dari tahun 800 sampai 1066, Viking disegani sebagai bangsa pelaut, pedagang, perompak dan penyerbu yang andal. Laut, sungai dan pulau di Benua Eropa mereka jelajahi. 

 

Tahun 1992, Erik pensiun dari panggung akademik formal. Dan memutuskan untuk menetap di pelosok Banjarmasin Timur, Banua Anyar. Dia jatuh cinta dengan Banjarmasin setelah melihat pembuatan Jukung tradisional. 

 

Salah satu tempat penelitian favoritnya adalah Pulau Sewangi di Alalak, sentra pembuatan Jukung. Riset mendalamnya kemudian diterbitkan dalam buku berjudul Jukung Boats from the Barito Basin pada tahun 2000. Ini menjadi salah satu buku babon dalam penelitian budaya lokal di Tanah Banjar. 

 

Kehidupan pribadinya juga menarik. Lama tinggal di Banjarmasin, Erik memutuskan untuk masuk Islam. Dengan nama muslim Haji Arif Fathurrahman. Oleh masyarakat sekitar, dia akrab disapa dengan julukan Kai Asing (kakek bule). 

 

Erik sendiri sudah menikah dengan seorang perempuan Denmark. Memperoleh tiga anak dan kemudian bercerai. Dia lalu jatuh hati pada perempuan asal Kalteng. Namanya Mastun Kasran. Pernikahan ini hanya berumur tiga tahun. Karena Erik meninggal pada tahun 2005 akibat penyakit ginjal. 

 

Nama Kai Asing kembali disebut-sebut di Banjarmasin. Setelah karya-karyanya diangkat dalam Festival Nyawa Sungai. Festival ini dibuka kemarin (12/5) di Menara Pandang, Siring Pierre Tendean. 

 

Festival ini digagas Komunitas Kaki Kota, Rujak Center for Urban Studies, Kedutaan Besar Denmark dan Pemko Banjarmasin. Di halaman Menara Pandang, Erik mendapat satu bilik khusus untuk dipamerkan. 

 

Di sini, pengunjung bisa menikmati foto-foto Erik semasa bermukim di Banjarmasin. Plus, menyimak 11 jenis Jukung yang merupakan kompilasi hasil penelitian Erik. Lengkap dengan nama, ulasan dan sketsa. Untuk menyebut beberapa seperti Jukung Hawaian, Rangkan, Nalayan, dan Tiung. 

 

"Dengan seizin istrinya, kami membongkar barang-barang peninggalan Kai Asing. Kami mendapatkan harta karun," kata Strategy Advisor Kaki Kota, Syahreza dengan wajah berseri-seri. 

 

Yang dimaksud harta karun bukan sebuah draf buku, makalah, atau kumpulan sketsa. Memuat temuan baru yang wah dan belum dipublikasikan. Melainkan surat terakhir yang ditulis Erik menjelang kematian. 

 

Tertanggal 14 Desember 2003, tampak surat pendek itu ditulis dengan sisa-sisa tenaga yang Erik miliki. Digurat dengan tangan yang gemetaran dalam bahasa Denmark. Dalam nada yang intim, muram dan sekaligus penuh rasa syukur. 

 

Terjemahannya begini, "Halo semua. Kekuatan saya surut pada perawatan medis, obat-obatan dan gadis yang penuh kasih. Aku menyesal untuk mati, dialog ini tidak cukup. Saya memiliki kehidupan menyenangkan yang saya banggakan. Terima kasih kepada semua. Tanpa bantuan Anda, saya takkan memiliki kehidupan yang baik seperti ini. Damai di bumi dan damai dengan kalian semua. Erik." 

 

Surat itu menarik karena sebagian besar orang hanya mengenal penelitian Erik, bukan sisi pribadinya. Dilengkapi sketsa potret wajah Erik, surat ini dicetak ulang dengan figura besar. 

 

Bahkan, panitia juga memboyong kursi tua dari anyaman rotan yang biasa dipakai Erik saat menulis dan mengolah sketsa. "Fakta yang menarik, kursi ini dianyam sendiri oleh Kai Asing. Dia bahkan sudah rajin mengimpor keluar negeri kursi rotan sejak era 90-an," imbuh Syahreza. 

 

Festival akan berlangsung selama tiga hari. Dengan tajuk 'Sampah, Sungai dan Kota'. Sejumlah pembicara menterang didatangkan. Misalkan, dalam sesi diskusi pertama kemarin pagi, hadir pejabat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

 

Syahreza menekankan, misi festival ini cukup sederhana. Yakni membeberkan hasil penelitian termutakhir kepada pengunjung. Dari sejarah kota, sungai, Sasirangan, hingga Jukung. "Kami meyakini, pengetahuan bukan cuma untuk kalangan kampus. Warga kota berhak tahu," tegasnya. 

 

Dan salah satunya adalah karya Erik. "Kai Asing menjelaskan 11 jenis Jukung dengan gamblang. Siapa yang tahu ternyata ada 11? Ini pengetahuan langka. Yang sangat jarang dieksplor oleh warga Banjarmasin," pungkasnya. (fud)


BACA JUGA

Kamis, 24 Mei 2018 12:57

Kisah Andra Fathur Rahman, Desainer Spesialis Gaun di Banjarmasin

Gaun menjuntai. Dengan sematan payet dan beberapa ornamen khas kain tile. Pemakainya sudah pasti memesona.…

Senin, 21 Mei 2018 12:56

Ini Dia Sosok Dibalik Bubur Sabilal yang Melegenda

Bubur ayam sudah menjadi ciri khas Ramadan di Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Ribuan porsi disiapkan bagi…

Sabtu, 19 Mei 2018 10:38

Menengok Kelahiran Kampung Mural di Jalan Tunjung Maya

Seusai salat tarawih hingga tibanya waktu sahur, warga dan pelukis berkumpul. Membawa teko kopi dan…

Senin, 14 Mei 2018 15:15

Cerita Ketua MUI Tanbu KH Fadli Muis Mendirikan Pondok Pesantren Zaadul Muttaqiin

Saat ini, pondok pesantren mulai digandrungi anak muda putra dan putri. Pondok pesantren (ponpes) mulai…

Sabtu, 12 Mei 2018 14:14

Menengok Kehidupan di Ponpes Dalam Pagar Kandangan

Santri; terpisah dari keluarga, belajar agama atau menghafal ayat-ayat suci Alquran. Kalau dibayangan…

Jumat, 11 Mei 2018 16:00

Kala Petani Keluhkan Sawah Mereka yang Mengering karena Irigasi Berubah Fungsi

Kejadian yang cukup langka  terjadi di Kampung Handil Buluan, Desa Gudang Hirang Kecamatan Sungai…

Jumat, 11 Mei 2018 15:56

Kisah Purnawirawan TNI yang Menjadi Relawan Penyeberangan Pejalan Kaki

Kopral Effendie sedang menyeberangkan pejalan kaki. Truk tentara melintas. Sejenak dia terdiam. Tangan…

Kamis, 10 Mei 2018 18:57

Kisah Nelayan Pulau Laut yang Menolak Keras Pertambangan

Sama seperti hari cerah lainnya, Ari si pemancing ikan gabus, beberapa hari lalu dapat puluhan kilogram…

Rabu, 09 Mei 2018 16:15

Ini Nih Relawan Ojek Gratis di SBMPTN ULM

Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) selalu merepotkan karena digelar di tempat berbeda.…

Selasa, 08 Mei 2018 14:35

Kisah Hidup Mahmud Ropi, Ayah Dua Anak Penyandang Disabilitas

Mahmud Ropi banyak bersyukur dalam hidupnya. Meski mengalami berbagai kesulitan hidup, dia bangkit dan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .