MANAGED BY:
MINGGU
17 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Senin, 14 Mei 2018 15:06
Wajah Muram Pendidikan di Selatan Banjarmasin, Bertahun-tahun Diberi Janji
BUTUH PERHATIAN : Berdiri sejak tahun 1978, SDN Basirih 10 Banjarmasin masih saja tak punya jalan darat. Para murid dan guru tetap harus mengandalkan kelotok dan mengayuh jukung (sampan).

PROKAL.CO, Andai ada predikat kepala sekolah paling tabah, Yuseri pantas meraihnya. Bertahun-tahun diberi janji oleh Pemko Banjarmasin, Kepala SDN Basirih 10 ini masih bisa lapang dada. Meski melulu berujung kecele.

=========================

Berdiri sejak tahun 1978, SDN Basirih 10 Banjarmasin masih saja tak punya jalan darat. Para murid dan guru tetap harus mengandalkan kelotok dan mengayuh jukung (sampan). Butuh waktu setengah hingga satu jam untuk sampai ke sekolah.

Masalahnya klasik. Terhambatnya pembangunan akses darat di sana lantaran tak ada anggaran untuk membuat jalan dan jembatan. Paling mentok, budget-nya tersedia tapi dipangkas untuk keperluan lain.

"Itu selalu alasannya," kata Yuseri. Dia menjabat kepsek mulai tahun 2015. Sejak itu pula, dirinya dijanjikan pembangunan jalan darat untuk sekolah yang ia pimpin. "Tetapi, ujung-ujungnya muncul alasan begitu," timpalnya.

Akses darat menuju sekolah yang berlokasi di Jalan Sungai Jelai, Banjarmasin Selatan ini sebenarnya sudah dibangun tahun 2016 silam. Berbarengan dengan pembangunan Jalan Simpang Jelai, Kelurahan Mantuil. Panjangnya 1500 meter.

Sesuai janji, jalan ini terhubung sampai menuju SDN Basirih 10. Hingga akhir tahun, pengembangan jalan terhenti. Problemnya, anggaran tak cukup. Jalan cor semen tuntas kurang lebih 650 meter saja.

Tahun berikutnya, pembangunan akses dilanjutkan Pemprov Kalsel. Namun, bantuan tak menuntaskan masalah akses darat menuju sekolah. Provinsi cuma membangun jembatan dan jalan dengan panjang 250 meter. Artinya, masih kurang 600 meter lagi.

Yuseri heran melihat tertatihnya pembangunan akses darat menuju SDN yang dia pimpin. "Pembangunan jalan lain mulus-mulus saja. Kenapa tidak untuk kami?" tukasnya.

Seandainya pemko cepat tanggap menuntaskan problem akses jalan ke sekolah itu, Yuseri yakin nama sekolahnya tak dianggap remeh dan asing lagi. "Saya agak malu juga ketika bertemu dengan kepala-kepala sekolah atau guru lain. Padahal, kualitas pendikan kami tetap sama saja. Tinggal akses darat saja," kata dia.

Kalau para guru dan murid terus-terusan berharap pada transportasi sungai, pihak sekolah juga mesti mengeluarkan anggaran yang sebenarnya tak perlu-perlu amat. "Kami memakai Dana BOS Daerah (Bosda) untuk bensin kelotok," ungkapnya.

Belum lagi kalau tiba-tiba mesin atau roda kelotok hancur. Yuseri dan para guru lainnya mengaku mesti mengeluarkan dana sendiri. Untuk biaya perbaikan transportasi yang tak terduga.

Jika sungai surut dan kelotok terlanjur berada di tengah perjalanan sungai, kerusakan mesin atau baling-baling bisa saja terjadi. "Makanya kami harus benar-benar berangkat dan pulang sebelum sungai benar-benar surut. Atau memilih libur sama sekali. Kalau tidak kelotok bermasalah," kata dia.

Lantaran aktivitas sekolah tergantung pasang surut sungai, kegiatan belajar dan mengajar SDN Basirih 10 dimulai pukul 08.00 hingga 11.00 WITA saja. Lebih dari itu, siap-siap menunggu air sungai pasang kembali.

Kalau pembangunan jalan darat tak bisa dilakukan dalam waktu cepat, Yuseri berharap setidaknya pemko melakukan normalisasi sungai. Dan mempercantik kawasan Sungai Jelai. "Ini sementara. Agar banyak orang-orang luar tertarik datang ke sini," harapnya.

Apakah Yuseri tak ingin minta bantu pihak swasta? Dia menggelengkan kepala. "Ini tugas pemko. Jangan sampai pemerintah dibuat malu karena tak bisa mengatasinya," pungkasnya.

Sekarang, SDN Basirih 10 Banjarmasin sedang menampung 75 siswa. Dengan tenaga pendidik sebanyak 7 orang. Meski berada di pinggiran kota, sekolah ini sudah berkonstruksi beton. Tak serba kekurangan.

Sementara itu, siswa kelas IV SDN Basirih 10, Ridho mengatakan dibangun atau tidaknya akses darat menuju sekolah, tak begitu masalah. Wajahnya tetap riang meski harus menumpang kelotok tiap hari. "Asal tetap bisa sekolah saja," tandasnya. (dom/nur/ema)


BACA JUGA

Minggu, 17 Februari 2019 16:26

Ombudsman DesakAudit Umur Pipa PDAM

BANJARMASIN - Bocornya pipa PDAM di kawasan Jalan Gubernur Syarkawi,…

Minggu, 17 Februari 2019 14:38

Mohon Bersabar, Perbaikan Pipa PDAM Bandarmasih Terhambat

BANJARMASIN -- - Perbaikan pipa milik PDAM Bandarmasih di Jalan…

Sabtu, 16 Februari 2019 20:51

Dishub Bakal Sulap Murjani Menjadi Lahan Parkir Haul Sekumpul

BANJARBARU - Pelaksanaan Haul Guru Sekumpul ke-14 paa 10 Maret…

Sabtu, 16 Februari 2019 15:41

Imbau Parkir di Murjani, Dishub Siagakan Lima Bus untuk Antar-Jemput Jamaah Haul ke Martapura 

BANJARBARU --  Lapangan Murjani Banjarbaru akan jadi alternatif pilihan lahan…

Sabtu, 16 Februari 2019 10:36

Kebocoran Pipa PDAM Bandarmasih Berdampak ke 100 Ribu Pelanggan

BANJARMASIN - Warga Jalan Gubernur Syarkawi disuguhi tontonan luar biasa,…

Sabtu, 16 Februari 2019 10:32

Paman Birin Berbagi Ilmu Baris-berbaris

BANJARBARU - Ada suasana berbeda usai senam bersama Aparatur Sipil…

Sabtu, 16 Februari 2019 10:27

Darurat DBD, RS Sampai Kehabisan Kamar dan Stok Darah

BANJARBARU - Melonjaknya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Banjarbaru,…

Sabtu, 16 Februari 2019 10:19

BPJS: Kami Sudah Habis Digoreng

BANJARMASIN - Tunggakan BPJS Kesehatan di rumah sakit terus bermunculan…

Sabtu, 16 Februari 2019 09:52

Orang Tua Murid Tidak Terima Anaknya Dijambak Oknum Guru Olahraga

BANJARBARU - Dugaan sikap kasar seorang oknum guru kepada muridnya…

Sabtu, 16 Februari 2019 09:27

Kesal Jalan Belum Diperbaiki, Warga Tanam Pohon Pisang

MARTAPURA – Mungkin karena kecewa dan keburu kesal, warga Jalan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*