MANAGED BY:
SENIN
21 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 14 Mei 2018 15:15
Cerita Ketua MUI Tanbu KH Fadli Muis Mendirikan Pondok Pesantren Zaadul Muttaqiin
KH Fadli Muis

PROKAL.CO, Saat ini, pondok pesantren mulai digandrungi anak muda putra dan putri. Pondok pesantren (ponpes) mulai menjamur dimana-mana. Di Kabupaten Tanah Bumbu sendiri, jumlah ponpes mencapai belasan. Salah satunya, Ponpes Zaadul Muttaqiin di Desa Sarigadung, Kecamatan Simpang Empat.

 

PONPES Zaadul Muttaqiin ini mulai didirikan tahun 2004 oleh Ketua MUI Tanbu KH Fadli Muis.

“Tahun 2004 peletakan batu pertama,” ujar KH Fadli Muis menceritakan sejarah berdirinya ponpes itu, kepada Radar Banjarmasin, Sabtu (12/5).  

Ponpes dibangun diatas lahan seluas 3.5 hektare yang dihibahkan oleh H Tambarani. Saat itu, kondisi tanah berupa hutan, bahkan belum ada satupun rumah yang berdiri di sekitar lahan tersebut.

“Memang sejak kecil saya bercita-cita mendirikan pondok pesantren,” kata lulusan Ponpes Darussalam Martapura tahun 1993 ini.

Dijelaskannya, awalnya membangun ponpes tersebut tidak semudah membalik telapak tangan, mengingat butuh dana yang cukup besar. Butuh perjuangan dan kerja keras. Ketua MUI Tanbu untuk periode ketiganya ini lantas mengajak jemaah majelis taklim Zaadul Muttaqiin untuk bergotong royong membangun ponpes. Saat itu, KH Fadli Muis memang memimpin pengajian majelis taklim Zaadul Muttaqiin yang berada di Lapangan 5 Oktober Kelurahan Tungkaran Pangeran Kecamatan Simpang Empat. Jumlah jemaahnya sekitar 200-250 orang.

“Saya ajak mereka untuk membeli tanah kaplingan di luar lingkungan ponpes. Luasnya sekitar 3 hektare. Saya Kisahkan kepada mereka tentang amalan sedekah dan amal jariyah,” terangnya.

Hasil dari berjualan tanah itulah kemudian digunakan untuk membangun ponpes dan kekurangan dananya berasal dari sumbangan swadaya majelis taklim dan masyarakat.

“Pertama di bangun musala dan lokal 3 buah yang diperuntukan hanya untuk santri laki-laki saja,” ucapnya.

Tahun 2005, Ponpes Zaadul Muttaqiin mulai membuka pendaftaran santri baru. Namun karena yang mendaftar hanya 7 orang, tidak jadi dibuka. Setahun kemudian (tahun 2006), pendaftaran kembali dibuka dan jumlah santri baru sebanyak 11 orang. “Tahun 2006 mulai aktif dengan pengajar hanya 2 ustaz,” tutur KH Fadli Muis. 

Tahun 2016, Ponpes Zaadul Muttaqiin baru membuka pendaftaran untuk santri putri. Saat ini, jumlah santri putra 220 orang dan santri putri 80 orang.

“Setiap tahun, kami selalu membuka pendaftaran untuk santri baru. Tahun 2018 ini, kami akan terima santri putra 60 orang dan santri putri 70,” katanya seraya mengatakan di Ponpes Zaadul Muttaqiin mengadopsi pelajaran dari Ponpes Darussalam Martapura.

Persyaratan bagi santri dan santriwati yang akan mandaftar di ponpes ini, harus bisa baca Alquran dan menulis Alquran, harus tamat SD dan mandiri.

“Untuk tahun-tahun ini, masyarakat sudah mengidolakan ponpes, terutama putri. Kebanyakan ibu-ibu rumah tangga menganggap ponpes sudah aman karena ada asramanya,” paparnya.

Ponpes Zaadul Muttaqiin juga punya aturan yang ketat. Santri tidak boleh membawa HP, bahkan TV-pun tidak ada di asrama. Tamu tidak bisa sembarangan masuk, karena harus lapor dulu. “Penjagaan 24 jam non stop,” tegas KH Fadli Muis.

Di ponpes ini, setiap santri wajib melaksanakan salat lima waktu berjamaah. Pelajaran dimulai dari jam 8 pagi. Di ponpes ini juga menyediakan kantin dan jasa laundry yang dikelola oleh ponpes sendiri.

 

“Jika ada santri yang ketahuan belanja di luar akan didenda Rp50 ribu,” tegasnya lagi.

Hingga sekarang, Ponpes Zaadul Muttaqiin sudah banyak meluluskan santri dan santriwati dari 6 angkatan. Mereka yang lulus sudah ada yang melanjutkan sekolah ke Hadral Maut Yaman, kerja sama dengan MUI dan juga merupakan program pemerintah. Selain itu, mengajar di ponpes. Bahkan ada puluhan santri putra yang kembali mengajar di ponpes ini. Mereka dididik oleh 15 ustaz dan 4 ustazah.

Ke depan, pihaknya berencana akan membangun pendopo dan mess untuk tamu serta menambah perumahan guru. Perumahan guru saat ini belum mampu menampung jumlah guru yang ada. Asrama untuk putra dan putri juga masih kurang.

“Tahun ini kami butuh dana sekitar Rp500 juta sampai Rp600 juta untuk menambah asrama, sarana ibadah dan lokal. Satu asrama diisi 18 santri. Jumlah itu sudah ideal untuk sebuah ponpes,” pungkasnya. (kry)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*