MANAGED BY:
SENIN
20 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 19 Mei 2018 10:38
Menengok Kelahiran Kampung Mural di Jalan Tunjung Maya

Tak Cakap Menulis Proposal, Andalkan Tekad

ANGKAT TRADISI: Seniman asal Taman Budaya Kalsel ikut melukis tembok di tembok Jalan Tunjung Maya.

PROKAL.CO, Seusai salat tarawih hingga tibanya waktu sahur, warga dan pelukis berkumpul. Membawa teko kopi dan berkaleng-kaleng cat akrilik. Demi mewujudkan Kampung Budaya di Jalan Tunjung Maya.

TIA TALITA NOOR, Banjarmasin

SUDAH lima hari terakhir warga Jalan Tunjung Maya kurang tidur. Mereka begadang bukan untuk perkara sia-sia yang dilarang Rhoma Irama. Mereka begadang untuk melukis mural di sepanjang tembok jalan.

"Semua demi maangkat batang nang tarandam (mengangkat batang kayu yang tenggelam)," kata Raudatul Ali, Jumat (18/5) dini hari. Perumpaan itu untuk menggambarkan kesenian dan kebudayaan Kalsel yang mulai tergerus.

Semasa muda, lelaki 55 tahun ini gemar melukis. Bakatnya kembali muncul. Ali kebagian tugas melukis Tarian Baksa Kambang, Mamanda dan Balamut.

Dalam lukisan Balamut, Ali melukis lelaki berpeci yang sedang memukul gendang. Balamut kerap menyisipkan pesan moral. Tradisi lisan ini tumbuh di lingkungan Kesultanan Banjar.

Seiring waktu, banyak yang tak mengenal apa itu Balamut. Apalagi dari kalangan anak muda. Yang mengetahuinya bisa dihitung dengan jari. "Pas keburu diklaim milik negara tetangga, baru kita ribut-ribut," imbuhnya.

Berawal dari keprihatinan itu, sekitar enam bulan lalu, warga bermusyawarah. Semua sepakat memanfaatkan tembok kusam di depan jalan untuk mural. Istilah kerennya Banjarese Folk Art.

Direncanakan, bakal ada 25 lukisan yang mejeng di sini. Setiap lukisan mendapat ruang 3x2 meter. Setelah mengantongi izin dari pemilik ruko sebagai empunya tembok, warga mulai patungan. Uang yang terkumpul dibelikan cat dasar warna putih.

"Ternyata mahal juga. Baru merampungkan cat dasar, sudah kehabisan dana. Akhirnya mandek. Baru kembali mulai setelah ada bantuan donatur," kata Ketua RT 03 Kelurahan Karang Mekar Kecamatan Banjarmasin Timur, Abdus Samad.

Donatur ini seorang perempuan paruh baya. Dermawan ini enggan namanya dipublikasikan. Sedari awal, warga memang mengandalkan tekad semata. Mereka tak cakap dalam menulis proposal. Tak lihai dalam melancarkan lobi-lobi.

"Kami tidak ingin meminta-minta pada pemerintah. Tapi kalau mau membantu, silakan datang," tegasnya.

Lukisan yang dipamerkan di sini meliputi tari-tarian, alat musik, permainan rakyat, dan beragam kesenian. Seperti Baayun Maulid, Bakuntau, Kuda Gipang, Madihin, Mamanda, Tandik Balian, dan Musik Panting.

Setiap lukisan, diberi narasi singkat. Berupa nama, deskripsi, penyebaran dan sejarahnya. Agar yang melihatnya tak sibuk menerka-nerka. Belum rampung, sudah banyak pengendara yang singgah untuk ber-selfie di sini.

Ramai bermunculan di media sosial, lima pelukis dari Taman Budaya Kalsel berkunjung. Mereka bersedia melukis tanpa diupah. Ini kian membesarkan hati warga untuk merampungkan pekerjaan tersebut.

"Kalau maraton, dua pekan kami pikir cukup. Tapi melihat tenaga kawan-kawan, kadang kecapekan juga, bisa sampai sebulan," imbuhnya.

Perkara teknis, mereka menggunakan cat akrilik. Ini pekerjaan menantang. Sebab, cat jenis ini lekas kering. Sebagian yang masih amatir juga belum pernah mencoba tembok jalan. Biasanya mereka melukis di atas kanvas.

Untuk harga cat, per kalengnya Rp110 ribu. Asalkan irit, lima kaleng cukup untuk membuat 10 buah lukisan. Mereka hanya membutuhkan cat warna putih, hitam, biru, merah dan kuning. Untuk memperoleh warna lain, warna-warna dasar itu dioplos.

Salah seorang perupa dari Taman Budaya yang terlibat adalah Fathurrahman, 23 tahun. Warga Alalak Berangas ini mulai serius melukis setelah kuliah di Sendratasik Universitas Lambung Mangkurat.

Fathur memilih untuk melukis Kuriding. "Saya anggap ini ajang latihan. Sekalian dalam misi pelestarian. Saya memilih Kuriding, karena tidak banyak yang mengenalnya," ujarnya bersemangat.

Pada bagian tengah tembok, dilukis kaligrafi sederhana dalam aksara Arab Melayu berbunyi, "Kampung Budaya Banjar." Kaligrafi inilah yang menjadi idam-idaman warga Tunjung Maya.

Kembali pada Samad, jika semua lukisan sudah rampung, dia bermaksud menggelar acara syukuran kecil-kecilan bersama lurah setempat. Sekaligus untuk peresmian. "Syukur kalau misalnya pemko tertarik membantu. Tapi intinya, agar gaungnya kian meluas, semakin banyak yang tahu di sini ada Kampung Budaya," pungkas lelaki 50 tahun itu. (at/fud)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*