MANAGED BY:
JUMAT
21 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Senin, 21 Mei 2018 13:42
Serap Tenaga Kerja Lokal, Bukti MSAM Berkontribusi untuk Pulau Laut
INDAH: Pemandangan hamparan sawit di desa Sungai Pasir, Pulau Laut Tengah. Tampak para pekerja sedang bersiap bekerja menanam bibit. | Foto: Zalyan S Abdi/Radar Banjarmasin.

PROKAL.CO, Kusdi Sastro Kidjan tidak menyangka jika kemudian beberapa warga menuding perusahaannya menyerobot lahan masyarakat di Pulau Laut. Selama ini, perusahaan telah aktif melakukan sosialisasi dan menjalin komunikasi yang aktif dan simpatik dengan warga.

"Karena kami itu di lapangan atas seizin yang punya tanaman," ujar Dirut PT Multi Sarana Agro Mandiri ini kepada Radar Banjarmasin, Jumat (18/5) pagi tadi.

Kusdi demikian dia akrab disapa, bercerita banyak masuknya Multi Sarana Agro Mandiri (MSAM) ke Pulau Laut Tengah. Di pertengahan 2017, perusahaan kelapa sawit itu menargetkan untuk segera melakukan penanaman kelapa sawit.

Penanaman tidak bisa ditunda-tunda. Karena izin pengelolaan lahan untuk perkebunan yang mereka dapatkan dari pemerintah bisa dikaji ulang. Jika perusahaan dinilai tidak mampu menggarap lahan, izin yang diberikan bisa dianulir. "Makanya kami segera kerjakan ke lapangan," ujarnya.

Di lapangan kata Kusdi, humas atau manajer perusahaan MSAM aktif berkomunikasi dengan warga dan kepala desa. Perusahaan menjelaskan, mereka akan menggarap lahan yang masuk konsesi perusahaan. Ada sekitar sebelas ribu hektare lahan yang akan digarap. "Tapi kami tidak ujuk-ujuk garap langsung. Kami juga minta izin kepada warga yang punya tanaman di atasnya," jelas Kusdi.

Jika kata Kusdi ada lahan perusahaan diklaim milik warga, maka negosiasi dengan warga langsung dilakukan. Setelah sebelumnya, perusahaan mendapat kepastian legalitas warga dari kepala desa dan tokoh masyarakat. "Ketika harga ganti tanam tumbuh deal, maka kami garap lahannya. Jadi tidak ada kami gusur. Hanya memang pembayaran tidak bisa cepat," akunya.
Apa itu ganti tanam tumbuh? Itu adalah istilah kompensasi tanaman warga yang ditanam di atas lahan milik PT Inhutani II. "Lahan itu kan milik Inhutani II, jadi memang tidak ada kepemilikan warga secara legalitas. Karena memang tidak boleh ada kepemilikan lahan di atas konsesi Inhutani II. Juga tidak boleh kita melakukan jual beli tanah negara," paparnya.

MSAM sendiri sudah menjalin MoU dengan Inhutani II terkait pengelolaan lahan di sana. Selain kerja sama itu, perusahaan juga sudah mendapat izin lokasi dari pemerintah daerah.

Sekarang kata Kusdi, perusahaan sudah keluarkan Rp53,5 miliar untuk pembayaran kompensasi tanam tumbuh. Jumlah warga yang menerima sudah sebanyak 618 orang. "Kami salurkan uangnya melalui Bank BRI. Jadi jelas, bisa dibuktikan. Tidak ada kami gusur. Kami justru kaget sekali, kenapa ada isu itu muncul," ujar General Manajer MSAM, Yonai S Gultom.

Memang ada sedikit polemik kata dia. Tapi di internal warga sendiri. Seperti saling klaim lahan, ahli waris yang protes dan lainnya.

Sampai sekarang mereka mengaku tidak mengerti mengapa ada tudingan penggusuran. "Padahal kami sosialisasi. Pemilik lahan juga sudah kasih izin. Kami sayangnya memang tidak undang media waktu itu. Tidak tahu malah kemudian ada yang bilang kami menggusur, kami tidak menyangka sama sekali," keluh Gultom.

Dan mereka pun mengaku bertambah kaget, ketika mengetahui tudingan itu justru disuarakan salah satunya oleh Ratman warga Desa Selino Kecamatan Pulau Laut Tengah. "Ratman itu malah termasuk yang awal negosiasinya. Pertama deal Rp60 juta, sudah diterima uangnya. Ke dua juga ada, deal Rp20,5 juta," ungkap Gultom.

MSAM kemudian membuka data. Dalam sebuah berkas berjudul Berita Acara Kesepakatan Pembayaran Kompensasi Tanam Tumbuh tertanggal 16 Agustus 2017, Ratman bertanda tangan setuju menerima kompensasi Rp60 juta atas tanamannya di lahan seluas 1,9 hektare. Kemudian di 11 November kembali disepakati dalam berkas acara, Ratman setuju kompensasi Rp20,5 juta atas tanamannya di lahan seluas 1,6 hektare. Kompensasi pertama diterima Ratman pada 25 Oktober 2017, yang ke dua pada 31 Januari 2018.

Gultom memperlihatkan foto Ratman menerima kompensasi itu. Ratman berfoto memegang kartu ATM BRI dan sebuah kertas keterangan atas nama dirinya sudah menerima uang tali asih tanam tumbuh Rp60 juta.

Karena itulah, saat Ratman memimpin aksi demo di Banjarmasin menuduh perusahaan menggusur lahan, MSAM mengaku kaget. Aksi Ratman di depan kantor DPRD Kalsel pada tanggal 15 Maret 2018. "Kami tidak mengerti. Kan dia sudah nego dan deal. Uangnya juga sudah dia terima. Kami tidak mengerti ada apa sebenarnya," kata Kusdi.

Di sisi lain, aku Kusdi, dukungan masyarakat sekitar justru semakin bertambah. "Karena di tempat kami serapan tenaga kerja tinggi. Tidak perlu skill tertentu jika mau kerja di lapangan," tambah Kusdi.
Sekarang ini ungkapnya, tiap bulan MSAM mengeluarkan dana sekitar Rp4 miliar untuk menggaji para pekerja termasuk staf. Di posisi bulan Maret tadi jumlah pekerja sebanyak 915 orang, di bulan April naik jadi 935 orang. "Semua itu orang lokal. Perkebunan kelapa sawit kan padat karya. Apalagi kalau nanti kami selesai garap semua lahan. Dua ribuan lebih tenaga kerja akan diserap."

Jumlah tenaga kerja itu sebutnya belum termasuk pekerja pabrik. Rencananya di akhir 2018 atau awal 2019, MSAM akan membangun pabrik crude palm oil (CPO) dengan kapasitas produksi 65 ton per jam. Pabrik diperkirakan akan menyerap tenaga kerja terampil sekitar 200 orang.

Sejak masuknya MSAM ke Pulau Laut Tengah tambah Kusdi ekonomi warga sekitar meningkat. "Kami tidak usah bicara banyak. Lihat saja ke lapangan. Di sana sudah ada diler motor. Tanya saja, yang beli atau kredit motor itu siapa? Mereka warga di sana yang sekarang kerja di MSAM."

Pasar malam di desa kata Kusdi, tumbuh menggeliat seiring meningkatnya perputaran uang di sana. "Perlu disadari juga, sawit itu usaha terus-menerus. Apa coba dalam sehari yang tidak pakai minyak? Sabun juga bahan bakunya dari sawit, sampo, banyak turunannya."

Kepala Desa Sungai Pasir, Kaspul Anwar dihubungi mengatakan, sebanyak 70 persen warganya bekerja di MSAM. Kaspul mengungkapkan, sejak MSAM masuk warganya yang dulu kerja serabutan tidak punya penghasilan tetap, sekarang sudah berani kredit kendaraan. "Cek saja di diler atau bank. Makanya kami dukung MSAM. Saya di sini bicara fakta lapangan saja," akunya.

Ditanya soal tudingan Ratman jika perusahaan telah menggusur, kepala desa itu menampiknya. "Tidak ada perusahaan menggusur. Kalau kami melihat, isu itu memang sengaja dibuat karena ada kepentingan saja," ujarnya.

Masih kata Kades, dulu katanya sempat disuarakan jika lahan transmigrasi di Sembega digusur. Kenyataannya kata Kaspul tidak ada lahan transmigrasi di Sembega (kawasan transmigran di Desa Sungai Pasir) yang digusur. "Logikanya juga tidak mungkin. Lahan transmigrasi itu sertifikat negara untuk warga," ujarnya.

Guru SD di Desa Selino, Saifullah membenarkan. Sejak MSAM masuk dan warga bekerja di sana, pasar malam semakin ramai. "Pasar malam sudah ada dulu. Cuma baru ramai pas MSAM masuk," ujarnya.

Sekadar diketahui, ada tiga desa di areal kerja MSAM sekarang ini. Desa Sungai Pasir, Selino dan Mekarpura. Semua desa berada di Kecamatan Pulau Laut Tengah.

Pimpinan Tahfiz Quran Ahsanu Amala As'adiyah Desa Selino, Amrullah, di depan publik mengatakan masuknya MSAM membawa dampak positif. Seperti bekerjanya warga sekitar. Juga pemanfaatan lahan yang selama ini tidak produktif.
Amrullah mengatakan, beberapa isu yang ditudingkan kepada MSAM tidak terbukti. Seperti tudingan penggusuran makam. Setelah diperiksa kata dia, ternyata makamnya masih ada, tidak tampak ada aktivitas perusahaan di sekitar makam. "Kalau ada yang gusur makam, saya yang pertama maju," ujarnya di hadapan anggota DPRD Kotabaru belum lama tadi.

Dia juga mengatakan, warga lebih mendukung perkebunan kelapa sawit. Tambang batubara kata dia, yang bekerja hanya mereka yang punya skil. Dan juga tidak lama. Usaha habis ketika batu habis. Sementara dampak tambang terhadap sosial budaya juga tinggi, seperti munculnya prostitusi jalanan dan lainnya. Warga kata Amrullah, akan terus mendukung MSAM selama perusahaan dapat memberikan yang terbaik buat masyarakat.

Seperti apa usaha kelapa sawit ke depan? MSAM menjelaskan, per hektare sawit dalam satu siklus tanam menghasilkan 550 ton. Atau sekitar 20 ton dalam sebulan. Luas lahan MSAM sekitar 11.000 hektare, maka perusahaan bisa menghasilkan 220.000 ton buah sawit dalam sebulan. Sementara itu, setiap ton sawit unggul menghasilkan 24 persen minyak CPO. Artinya 220.000 ton sawit akan menghasilkan 52.800 ton CPO. Harga CPO sekarang di pasaran sekitar Rp7,6 juta per ton.

"Sekarang kan devisa terbesar Indonesia itu dari sawit. Sekitar Rp300 Triliun dalam setahun. Dan itu sawit bisa dibilang semuanya punya asing. Ini kita punya orang lokal sendiri," ungkap Kusdi.

Dia kemudian mengimbau agar masyarakat realistis melihat bisnisnya. "Dari total lahan kami, nanti akan kami kasih ke warga lahan plasma 1.800 hektare," janjinya.

Pabrik CPO MSAM di Pulau Laut ujarnya tidak hanya menyerap hasil kebun mereka sendiri. Tapi juga hasil kebun warga lainnya. Dari pantauan wartawan, di pelabuhan feri Tanjung Serdang beberapa truk biasa terlihat membawa kelapa sawit, dari Pulau Laut ke pabrik-pabrik di Pulau Kalimantan. "Ini usaha yang jelas hitungannya. Dan kami itu bayar pajak di sini nanti. Jadi uangnya bisa untuk pembangunan di sini."

Ke depan, MSAM akan terus mengembangkan kawasan Pulau Laut Tengah. Membangun tempat pendidikan bagi anak-anak pekerja. Layanan kesehatan, pesantren dan kebun buah durian yang akan dikelola warga. "Pulau Laut ini indah sekali. Nanti kami tanami lahan kami 7,1 hektare bibit durian unggul. Warga silakan kelola."

Sayangnya hingga berita ini diturunkan nomor Ratman belum bisa dihubungi. Terdengar pesan operator nomor tidak aktif. Kuasa hukumnya, Nawawi juga belum mengangkat telepon dan membalas pesan singkat wartawan. (zal/ay/ran)


BACA JUGA

Jumat, 21 September 2018 09:09

Raih Predikat Kota Pintar Tapi Masih Banyak yang Buta Huruf

BANJARMASIN - Menyandang predikat kota pintar, penduduk Kota Banjarmasin masih ada yang buta huruf.…

Jumat, 21 September 2018 09:05

Anang: Pemko Memancing Kami Memasuki Zona Perang

BANJARMASIN - Sidang sengketa informasi publik antara Pemko Banjarmasin versus warga berlanjut. Komisi…

Jumat, 21 September 2018 09:01

Baru Dibangun 2017, Siring dan Jalan Beton di Desa Dalam Pagar Ulu Ambruk

MARTAPURA – Jalan cor beton dan siring di Desa Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten…

Jumat, 21 September 2018 08:36
Pemko Banjarbaru

Gelar Pawai Budaya Islami Menyambut Tahun Baru Islam

BANJARBARU – Masih dalam momen menyambut tahun baru Islam 1 Muharam 1440 H, Pemerintah Kota Banjarbaru…

Jumat, 21 September 2018 08:34
Pemko Banjarbaru

Gelar Deklarasi Damai Pemilu 2019

BANJARBARU - Walikota Banjarbaru Nadjmi Adhani bersama Ketua DPRD Banjarbaru AR Iwansyah, Kapolres Banjarbaru…

Jumat, 21 September 2018 08:33
Parlementaria

Proyek Trotoar Tematik Harus Diselaraskan

BANJARBARU - Proyek trotoar hias atau tematik di depan Taman Van Der Pijl Banjarbaru memang menarik.…

Jumat, 21 September 2018 08:27
Pemkab Tanah Bumbu

Gandeng Pengusaha Cegah Anak Stunting

BATULICIN - Dalam rangka pencegahan anak stunting, Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu menjalin kerja sama…

Jumat, 21 September 2018 08:26
Pemkab Tanah Bumbu

Tanbu Peringati Harhubnas

BATULICIN - Pemkab Tanbu memperingati Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas)  dengan menggelar upacara…

Jumat, 21 September 2018 08:24
Pemkab Tanah Bumbu

Ratusan Jemaah Hadiri Haul Dato Lattako

BATULICIN - Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Tanbu H Ambo Sakka menghadiri Haul Akbar Dato Latakko…

Kamis, 20 September 2018 15:14
Pemkab Balangan

Jemaah Haji Balangan Tiba di Banua

PARINGIN – Penyambutan jemaah haji Balangan Rabu (19/9) kemarin  berlangsung haru. Ratusan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .