MANAGED BY:
MINGGU
18 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 23 Mei 2018 14:59
Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

Razia Kaus Kuning, Kliping 433 Halaman dan Munir Muda

KOLEKSI BERHARGA: Tajuddin menunjukkan tumpukan kliping koran dan majalah tentang Jumat Kelabu di teras rumahnya di bilangan Jalan Sutoyo S. | Foto: Syarafuddin/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, 23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye Golkar. Begitu mendongak, langit kota sudah tertutup asap hitam.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

TEPAT hari ini, 21 tahun silam. Kerusuhan politik paling brutal menjelang kejatuhan Orde Baru meletus di Banjarmasin. Tim Pencari Fakta mencatat 123 tewas, 179 hilang, dan 118 orang menderita luka-luka.

Itu belum termasuk gereja, kantor pemerintahan, bioskop, pusat perbelanjaan, rumah warga, sepeda motor dan mobil yang lantak dibakar. Minimal dijarah dan dirusak. Warga Banua kemudian menyebutnya tragedi Jumat Kelabu.

Kerusuhan terjadi seusai salat Jumat. Pada hari kampanye putaran terakhir yang dijatah untuk Golkar. Dimana konvoi massa akan dipusatkan di Lapangan Kamboja. Awal dan akhir dari cerita tragis ini pasti sudah diketahui pembaca.

Maka tulisan ini lebih mengulas koleksi kliping surat kabar dan majalah milik Tajuddin Noor Ganie. Dia memiliki antologi kliping Jumat Kelabu setebal 433 halaman. Mendokumentasikan berita dan foto dari media cetak lokal dan nasional. Dari Dinamika Berita sampai Jawa Pos.

Kliping ini amat berharga. Lantaran merekam hari-hari yang panas seusai kerusuhan. Merentang dari 24 Mei 1997 sampai kliping terakhir dari 23 Mei 2012. Saat Tajuddin membuka koleksinya, kliping itu sudah menguning dan apek. Tapi masih terbaca jelas.

Antologi ini pernah dia perbanyak untuk dijual pada kalangan terbatas. Dikopi seukuran buku, dibundel, dan diberi sampul berupa foto bangunan Mitra Plaza yang hangus. Plus tambahan daftar isi untuk memudahkan penelusuran pembaca.

Lahir di Banjarmasin pada tahun 1958, Tajuddin menghabiskan masa kecilnya di Banjarbaru. Setelah bekerja, barulah kembali ke Banjarmasin. Kala Jumat Kelabu meletus, Tajuddin berusia 39 tahun. Bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Kepaniteraan P4 Naker di Jalan Hasan Basry.

Sekarang, Tajuddin berusia 60 tahun. Menikmati masa pensiun dengan membaca dan menulis. Dia penulis Kamus Peribahasa Banjar. Dan sedang sibuk menggarap Kamus Banjar-Indonesia. Sebelumnya, dia juga mengampu mata kuliah sastra di sebuah kampus swasta.

Kini dia tinggal di Gang Sepakat Jalan Sutoyo S. Pada tahun 1997, dia tinggal di samping Lapangan Kamboja, Jalan Anang Adenansi. Sebagai PNS, Tajuddin punya kewajiban memajukan Golongan Karya. Ikut konvoi, kampanye, dan mencoblos partai berlambang pohon beringin tersebut.

Semua itu demi mengalahkan dua pesaingnya, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia. Sebagai masyarakat yang terkenal religius, PPP merupakan rival terberat Golkar di Kalsel. Gesekan antar kedua massa ini pula yang awalnya memicu kerusuhan.

Pengerahan secara masif ini dimulai sejak Pemilu 1971. Empat tahun setelah Soekarno turun. Atau delapan tahun sebelum Tajuddin diterima sebagai PNS.

"Karena berdekatan dengan rumah, saya santai-santai saja. Pas mau berangkat, tampak dari jauh asap hitam membumbung. Kata tetangga ada kerusuhan. Yang berkaus kuning dicegat dan ditelanjangi. Saya langsung balik badan," kenangnya, Senin (21/5).

Malamnya, listrik padam. Suasana gelap dan mencekam. Para pemuda meronda di depan gang untuk berjaga-jaga. Keesokan pagi, barulah Tajuddin berani keluar rumah. Membaur bersama orang ramai.

"Kebanyakan cuma mau menonton sisa-sisa kerusuhan. Tapi tujuan saya berbeda, saya mencari koran," imbuhnya. Yang dituju adalah pasar koran dekat Bundaran Hasanuddin HM, depan Jalan Bank Rakyat. Mengkliping koran dan majalah memang hobinya sejak muda.

Masyarakat rupanya penasaran dengan kerusuhan itu. Pembeli berebut, koran lokal dan nasional ludes terjual. Kesempatan ini dimanfaatkan peloper dengan sebaik-baiknya. Harga koran melambung tinggi. "Beli koran seharga Rp10 ribu," ujarnya tergelak. Sebagai perbandingan, pada era itu harga satu liter bensin Rp700.

Setelah membaca berita, Tajuddin tersadar. Skala kerusuhan ini bukan main. Bukan hanya menyedot perhatian nasional, tapi juga dunia internasional. Reporter asing yang ingin meliput dicekal. Indonesia pada masa Orba memang amat rapat menutup-nutupi informasi.

Semangatnya untuk mengkliping kian membesar. Ambisinya, menjadikan Jumat Kelabu sebagai latar belakang novelnya. "Ternyata, dua dekade berlalu, novel itu tak kunjung rampung. Saya terlampau sibuk menulis yang lain-lain," ujarnya tertawa geli.

Sebagai itikad untuk membayar utang novel tersebut, meski cuma separuhnya, tahun 2013 dia menulis puisi berjudul "Sampai Kini Kami Tak Tahu Siapa Kalian Semua Hai Manusia Durjana." Diungkit soal puisi ini, Tajuddin tampak terganggu. "Belakangan saya menyadari, diksinya terlampau keras. Pendengar banyak yang tersinggung," akunya.

Dalam halaman-halaman awal kliping ini, terekam dengan jelas kekalutan dan kesumiran informasi yang menyelimuti kota ini. Sebuah headline menulis "Kota Sepi, Aparat Bersiaga". Koran lain memajang judul "Korban Tewas Sudah 142 Orang". Beberapa hari kemudian ditulis "Wartawan Asing Berdatangan".

Dilanjutkan dengan berita-berita seperti belasan perusuh ditangkap, lalu kemudian dibebaskan. Hingga kutipan-kutipan dari pernyataan resmi pemerintah yang ingin meredam keresahan masyarakat.

Selain kliping, dia juga pernah memiliki buku "Amuk Banjarmasin." Ini kumpulan laporan investigasi terbitan YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia). Yang menarik, salah seorang yang terlibat dalam investigasi ini adalah Munir Said Thalib. Aktivis HAM yang mati diracun pada tahun 2014. Saat itu, Munir belum terkenal.

Disebut pernah memiliki, karena bukunya sudah berpindah tangan. Seorang teman kepincut berat dengan buku itu. Tajuddin bersedia menjualnya. Saat ke toko buku untuk mencari gantinya, buku itu sudah keburu ditarik dari peredaran. Gara-gara si penerbit tersandung kasus hukum terkait hak cipta foto yang dipakai dalam buku ini. "Saya menyesal sejadi-jadinya," ujarnya.

Menyoal dampak kerusuhan, setelah itu tak pernah lagi ada upaya pengerahan PNS. Berkebalikan dengan masa sekarang. Dimana PNS diwajibkan bersikap netral. Menjaga jarak dari partai politik dan pemilu. Ketahuan berpolitik bakal dikasuskan.

"Dulu, kalau Anda PNS dan berani tidak mendukung partai pemerintah, Anda bakal ditandai teman sekantor. Dinyatakan sudah keluar dari kroni," ujarnya. Setahun kemudian, Soeharto lengser dan menandai dimulainya era Reformasi.

Sampai sekarang, Tajuddin yakin, Banjarmasin tak pernah benar-benar pulih dari luka yang ditorehkan Jumat Kelabu. Dari kehilangan aset, pekerjaan, hingga nyawa. "Contoh, bioskop-bioskop yang dibakar itu tak pernah lagi bangkit," sebutnya.

Bukti lain, kondisi pemakaman massal korban Jumat Kelabu di Liang Anggang, Banjarbaru, yang terbengkalai. "Aparat cuma menangkap penjarah dan perusak kelas teri yang terbawa-bawa suasana kerusuhan. Bukan dalangnya," tegasnya.

Di Jakarta, orang mengenal Aksi Kamisan. Aksi diam membawa payung hitam di depan Istana Merdeka. Dari keluarga korban Tragedi Semanggi dan Trisakti. Aksi itu sudah berlangsung selama 11 tahun terakhir. Rutin digelar setiap Kamis sore.

Dengan jumlah korban lebih banyak, mengapa di Banjarmasin tak tampak hal serupa? Tajuddin menduga akibat faktor budaya. Orang Banjar mungkin lebih mudah untuk "mengikhlaskan" tragedi. Istilah kerennya, move on too easily. "Menuntut keadilan atas tragedi ini dinilai sesuatu yang tak terjangkau. Dianggap perbuatan sia-sia," ujarnya lirih. (fud/at/nur)


BACA JUGA

Kamis, 15 November 2018 12:03

Jalan Untuk Kaum Difabel di DPRD Jatim

Hak penyandang disabilitas sekarang ini masih kurang, baik sarana maupun prasarana publik maupun pekerjaan.…

Selasa, 13 November 2018 15:04

Event Gowes Untukmu Pahlawanku Meriah dan Banyak Hadiah

WALAU Sempat diguyur hujan, Fun Gowes Untukmu Pahlawanku "Semangat Pahlawan di Dadaku" gelaran Dewan…

Selasa, 13 November 2018 14:47

Unik, Samsat Bergerak Sapu Jagad

BANJARMASIN - Untuk meningkatkan pendapatan di sektor pajak, Badan Keuangan Daerah (Bakeuda) Kalsel…

Senin, 12 November 2018 12:52
Berita Tenaga Kerja Indonesia

Hongkong Paling Banyak, Baru Arab Saudi

September tadi, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banjarmasin bersama BP3TKI Banjarbaru mencegat keberangkatan…

Jumat, 09 November 2018 08:35

Kisah Pengrajin Arang Asal Banjarbaru Ciptakan Alat Musik dari Arang

Lima tahun bergelut sebagai pengrajin dan wirausaha arang, Narwanto berpikir harus ada yang baru dan…

Kamis, 08 November 2018 13:07

Kala Dua Penyandang Tunanetra Raih Juara Literasi Tingkat Nasional

Memiliki keterbatasan, tak menghentikan dua penyandang tunanetra: Ikhsanul Sodikin, 17, dan Muhammad,…

Selasa, 06 November 2018 14:50

Sungai Baru Larut dalam Nostalgia Layar Tancap

Layar tancap adalah hiburan rakyat. Orang juga menyebutnya dengan misbar alias gerimis bubar. Di Banjarmasin,…

Jumat, 02 November 2018 10:50

Ada yang Jadi Mata Pilot, Ada yang Penjaga Cuaca

BANJARBARU - Bandara adalah sebuah dunia sendiri. Dengan ribuan orang yang bergegas, jadwal yang…

Jumat, 26 Oktober 2018 15:28

Menanti Hujan Turun di Pulau Laut, PDAM Andalkan Empang...Eh Waduk

Doa PDAM minta hujan rupanya masih tertahan di langit. Pulau Laut panas, walau siang kemarin sempat…

Rabu, 24 Oktober 2018 12:32

Lagu "Insya Allah" Fadly Padi Sejukkan Ribuan Napi

Lapangan besar Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Banjarbaru memutih. Ribuan Warga Binaan Pemasyarakatan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .