MANAGED BY:
MINGGU
24 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 23 Mei 2018 14:59
Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

Razia Kaus Kuning, Kliping 433 Halaman dan Munir Muda

KOLEKSI BERHARGA: Tajuddin menunjukkan tumpukan kliping koran dan majalah tentang Jumat Kelabu di teras rumahnya di bilangan Jalan Sutoyo S. | Foto: Syarafuddin/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, 23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye Golkar. Begitu mendongak, langit kota sudah tertutup asap hitam.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

TEPAT hari ini, 21 tahun silam. Kerusuhan politik paling brutal menjelang kejatuhan Orde Baru meletus di Banjarmasin. Tim Pencari Fakta mencatat 123 tewas, 179 hilang, dan 118 orang menderita luka-luka.

Itu belum termasuk gereja, kantor pemerintahan, bioskop, pusat perbelanjaan, rumah warga, sepeda motor dan mobil yang lantak dibakar. Minimal dijarah dan dirusak. Warga Banua kemudian menyebutnya tragedi Jumat Kelabu.

Kerusuhan terjadi seusai salat Jumat. Pada hari kampanye putaran terakhir yang dijatah untuk Golkar. Dimana konvoi massa akan dipusatkan di Lapangan Kamboja. Awal dan akhir dari cerita tragis ini pasti sudah diketahui pembaca.

Maka tulisan ini lebih mengulas koleksi kliping surat kabar dan majalah milik Tajuddin Noor Ganie. Dia memiliki antologi kliping Jumat Kelabu setebal 433 halaman. Mendokumentasikan berita dan foto dari media cetak lokal dan nasional. Dari Dinamika Berita sampai Jawa Pos.

Kliping ini amat berharga. Lantaran merekam hari-hari yang panas seusai kerusuhan. Merentang dari 24 Mei 1997 sampai kliping terakhir dari 23 Mei 2012. Saat Tajuddin membuka koleksinya, kliping itu sudah menguning dan apek. Tapi masih terbaca jelas.

Antologi ini pernah dia perbanyak untuk dijual pada kalangan terbatas. Dikopi seukuran buku, dibundel, dan diberi sampul berupa foto bangunan Mitra Plaza yang hangus. Plus tambahan daftar isi untuk memudahkan penelusuran pembaca.

Lahir di Banjarmasin pada tahun 1958, Tajuddin menghabiskan masa kecilnya di Banjarbaru. Setelah bekerja, barulah kembali ke Banjarmasin. Kala Jumat Kelabu meletus, Tajuddin berusia 39 tahun. Bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Kepaniteraan P4 Naker di Jalan Hasan Basry.

Sekarang, Tajuddin berusia 60 tahun. Menikmati masa pensiun dengan membaca dan menulis. Dia penulis Kamus Peribahasa Banjar. Dan sedang sibuk menggarap Kamus Banjar-Indonesia. Sebelumnya, dia juga mengampu mata kuliah sastra di sebuah kampus swasta.

Kini dia tinggal di Gang Sepakat Jalan Sutoyo S. Pada tahun 1997, dia tinggal di samping Lapangan Kamboja, Jalan Anang Adenansi. Sebagai PNS, Tajuddin punya kewajiban memajukan Golongan Karya. Ikut konvoi, kampanye, dan mencoblos partai berlambang pohon beringin tersebut.

Semua itu demi mengalahkan dua pesaingnya, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia. Sebagai masyarakat yang terkenal religius, PPP merupakan rival terberat Golkar di Kalsel. Gesekan antar kedua massa ini pula yang awalnya memicu kerusuhan.

Pengerahan secara masif ini dimulai sejak Pemilu 1971. Empat tahun setelah Soekarno turun. Atau delapan tahun sebelum Tajuddin diterima sebagai PNS.

"Karena berdekatan dengan rumah, saya santai-santai saja. Pas mau berangkat, tampak dari jauh asap hitam membumbung. Kata tetangga ada kerusuhan. Yang berkaus kuning dicegat dan ditelanjangi. Saya langsung balik badan," kenangnya, Senin (21/5).

Malamnya, listrik padam. Suasana gelap dan mencekam. Para pemuda meronda di depan gang untuk berjaga-jaga. Keesokan pagi, barulah Tajuddin berani keluar rumah. Membaur bersama orang ramai.

"Kebanyakan cuma mau menonton sisa-sisa kerusuhan. Tapi tujuan saya berbeda, saya mencari koran," imbuhnya. Yang dituju adalah pasar koran dekat Bundaran Hasanuddin HM, depan Jalan Bank Rakyat. Mengkliping koran dan majalah memang hobinya sejak muda.

Masyarakat rupanya penasaran dengan kerusuhan itu. Pembeli berebut, koran lokal dan nasional ludes terjual. Kesempatan ini dimanfaatkan peloper dengan sebaik-baiknya. Harga koran melambung tinggi. "Beli koran seharga Rp10 ribu," ujarnya tergelak. Sebagai perbandingan, pada era itu harga satu liter bensin Rp700.

Setelah membaca berita, Tajuddin tersadar. Skala kerusuhan ini bukan main. Bukan hanya menyedot perhatian nasional, tapi juga dunia internasional. Reporter asing yang ingin meliput dicekal. Indonesia pada masa Orba memang amat rapat menutup-nutupi informasi.

Semangatnya untuk mengkliping kian membesar. Ambisinya, menjadikan Jumat Kelabu sebagai latar belakang novelnya. "Ternyata, dua dekade berlalu, novel itu tak kunjung rampung. Saya terlampau sibuk menulis yang lain-lain," ujarnya tertawa geli.

Sebagai itikad untuk membayar utang novel tersebut, meski cuma separuhnya, tahun 2013 dia menulis puisi berjudul "Sampai Kini Kami Tak Tahu Siapa Kalian Semua Hai Manusia Durjana." Diungkit soal puisi ini, Tajuddin tampak terganggu. "Belakangan saya menyadari, diksinya terlampau keras. Pendengar banyak yang tersinggung," akunya.

Dalam halaman-halaman awal kliping ini, terekam dengan jelas kekalutan dan kesumiran informasi yang menyelimuti kota ini. Sebuah headline menulis "Kota Sepi, Aparat Bersiaga". Koran lain memajang judul "Korban Tewas Sudah 142 Orang". Beberapa hari kemudian ditulis "Wartawan Asing Berdatangan".

Dilanjutkan dengan berita-berita seperti belasan perusuh ditangkap, lalu kemudian dibebaskan. Hingga kutipan-kutipan dari pernyataan resmi pemerintah yang ingin meredam keresahan masyarakat.

Selain kliping, dia juga pernah memiliki buku "Amuk Banjarmasin." Ini kumpulan laporan investigasi terbitan YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia). Yang menarik, salah seorang yang terlibat dalam investigasi ini adalah Munir Said Thalib. Aktivis HAM yang mati diracun pada tahun 2014. Saat itu, Munir belum terkenal.

Disebut pernah memiliki, karena bukunya sudah berpindah tangan. Seorang teman kepincut berat dengan buku itu. Tajuddin bersedia menjualnya. Saat ke toko buku untuk mencari gantinya, buku itu sudah keburu ditarik dari peredaran. Gara-gara si penerbit tersandung kasus hukum terkait hak cipta foto yang dipakai dalam buku ini. "Saya menyesal sejadi-jadinya," ujarnya.

Menyoal dampak kerusuhan, setelah itu tak pernah lagi ada upaya pengerahan PNS. Berkebalikan dengan masa sekarang. Dimana PNS diwajibkan bersikap netral. Menjaga jarak dari partai politik dan pemilu. Ketahuan berpolitik bakal dikasuskan.

"Dulu, kalau Anda PNS dan berani tidak mendukung partai pemerintah, Anda bakal ditandai teman sekantor. Dinyatakan sudah keluar dari kroni," ujarnya. Setahun kemudian, Soeharto lengser dan menandai dimulainya era Reformasi.

Sampai sekarang, Tajuddin yakin, Banjarmasin tak pernah benar-benar pulih dari luka yang ditorehkan Jumat Kelabu. Dari kehilangan aset, pekerjaan, hingga nyawa. "Contoh, bioskop-bioskop yang dibakar itu tak pernah lagi bangkit," sebutnya.

Bukti lain, kondisi pemakaman massal korban Jumat Kelabu di Liang Anggang, Banjarbaru, yang terbengkalai. "Aparat cuma menangkap penjarah dan perusak kelas teri yang terbawa-bawa suasana kerusuhan. Bukan dalangnya," tegasnya.

Di Jakarta, orang mengenal Aksi Kamisan. Aksi diam membawa payung hitam di depan Istana Merdeka. Dari keluarga korban Tragedi Semanggi dan Trisakti. Aksi itu sudah berlangsung selama 11 tahun terakhir. Rutin digelar setiap Kamis sore.

Dengan jumlah korban lebih banyak, mengapa di Banjarmasin tak tampak hal serupa? Tajuddin menduga akibat faktor budaya. Orang Banjar mungkin lebih mudah untuk "mengikhlaskan" tragedi. Istilah kerennya, move on too easily. "Menuntut keadilan atas tragedi ini dinilai sesuatu yang tak terjangkau. Dianggap perbuatan sia-sia," ujarnya lirih. (fud/at/nur)


BACA JUGA

Sabtu, 23 Juni 2018 13:06

Kisah Haru Pedagang BBM Eceran Tunanetra di Banjarmasin

Kebutaan tak menghalangi ayah satu anak ini mencari nafkah. Nistam Juhansyah (66) mengais rejeki dengan…

Sabtu, 23 Juni 2018 12:12

Kiprah Youtuber Banua Meraih Silver Play Button dan Sukses dari Youtube

Di era digital sekarang, dunia maya tidak hanya menjadi tempat memanjakan mata, melainkan juga bisa…

Rabu, 20 Juni 2018 11:57

Kisah Petugas Posko Mudik di Simpang Empat Banjarbaru

Bertugas sebagai anggota piket di posko mudik, para petugas di Pos Pengamanan Simpang Empat Banjarbaru…

Selasa, 19 Juni 2018 14:16

Masjid-Masjid ini Tetap Sediakan Buka Puasa Pasca Ramadan

Ramadan 1439 Hijriyah telah berlalu. Bagi umat muslim, dianjurkan berpuasa enam hari di bulan Syawal.…

Selasa, 19 Juni 2018 14:08

Mengenal Dokter Fairuz yang Setia Mengawal Kaum Pemudik

Bagi kebanyakan orang, lebaran bersinonim dengan liburan. Tapi untuk segelintir orang, lebaran artinya…

Rabu, 13 Juni 2018 13:18

Gerakan Literasi dari Balik Jeruji Penjara

Lapas Teluk Dalam punya perpustakaan, tapi isinya buku hukum melulu. Mobil perpustakaan keliling Dinas…

Minggu, 10 Juni 2018 13:21

Tempat Cukur Legendaris Banjarmasin: Layani Bayi Sehari Hingga Manula

Beralamat di Jalan Hassanudin HM, no 23. Ada sebuah ruang berbidang segi tiga. Pangkas Rambut Nasional,…

Jumat, 08 Juni 2018 11:15

Kisah Nanang, Penjual Burung Jalak Keliling di Banjarmasin

Dengan mengayuh ontel tua, Nanang (70) berkeliling Kota Banjarmasin. Menjajakan burung jalak, dikurung…

Rabu, 06 Juni 2018 12:53

Geliat Kerajinan Tanggui Pesisir Utara di Banjarmasin

Di balik sumpeknya kehidupan perkotaan. Tepian Utara Kota Banjarmasin ternyata masih menyimpan kearifan…

Selasa, 05 Juni 2018 14:41

Mengintip Kampung Permainan Tradisonal Pendamai di Teluk Tiram Darat

Bulan Ramadan ini Kampung Permainan Tradisional Pendamai bukannya sepi. Tapi makin ramai dikunjungi.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .