MANAGED BY:
MINGGU
19 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Minggu, 03 Juni 2018 12:18
Rela Kas Terkuras Habis Demi Rombong Jukung Sasirangan
SWADAYA: Rombong Jukung Sasirangan hasil swadaya warga setempat.

PROKAL.CO, SYEKH Muhammad Hanafi adalah Ketua Pokdarwis Ceria. Salah satu sosok penting di balik lahirnya Rombong Jukung Sasirangan dan Gembok Cinta di kolong Jembatan Banua Anyar.

Kolong jembatan ini mulai mereka sentuh sejak akhir Maret lalu. Mulanya hanya pengecatan tiang jembatan. Dengan cat warna-warni yang mengambil motif Sasirangan. Konsep awal masih amat sederhana.

"Dulunya kumuh sekali. Kontras sekali dengan taman ramah anak di seberangnya. Malu juga melihatnya. Jadi kawan-kawan bertekad untuk menatanya," ujarnya.

Dari hasil patungan warga, terkumpul dana Rp12 juta. Belum apa-apa, uang itu sudah keburu habis. "Kas Pokdarwis kami terkuras habis. Tak ada lagi yang tersisa," ujarnya seraya tertawa.

Hanafi kemudian coba menulis proposal permohonan bantuan. Tak ditanggapi pemerintah, warga tak patah semangat. "Semakin bersemangat setelah melihat foto hasil pekerjaan kami menjadi viral di media sosial. Like-nya sampai 20 ribu. Luar biasa," imbuhnya.

Dia sadar, anggaran kota juga terbatas. Ia pun mulai memahami, pemerintah terbiasa menuntut bukti. "Jika hasilnya sudah terlihat, baru mereka datang membantu. Kalau cuma bermodal proposal dan omongan, saya kira sulit," tukasnya.

Semangat mereka rupanya memantik bantuan. Warga sekitar ikut bantu menolong. Termasuk seorang pejabat pemko yang memberi dana pinjaman. "Kawan-kawan di Pokdarwis juga sampai rela merogoh kantong pribadi," tukasnya.

Ide baru pun bermunculan. Seperti lapak berbentuk jukung, panggung lesehan dari sisa tiang jembatan, dan miniatur yang meniru Gembok Cinta seperti yang ada di Eropa.

Ditanya apa selanjutnya, Hanafi ingin memasang fasilitas WiFi. Sengaja, mereka memang mengincar anak muda sebagai konsumen utama.

Selain internet gratis, mereka juga harus memikirkan menu makanan dan minuman. Sebab, tak mungkin melulu berdagang kue khas takjil. "Soal menu, kami masih meraba-raba apa yang pas dengan selera pengunjung," tambahnya.

Namun, Hanafi mengaku belum puas. Dia merasa kawasan ini sudah bisa diserahkan kepada pihak ketiga. Yang tak lain masyarakat Banua Anyar itu sendiri. Sebab, mereka ingin berpindah fokus untuk menata kawasan lain.

"Ada satu rukun tetangga di Banua Anyar yang masih kumuh sekali. Tangan kami sudah gatal untuk membenahinya. Syukur-syukur jika pemko mau membantu," pungkasnya. (fud/at/nur)


BACA JUGA

Kamis, 24 September 2015 23:03

Ada Presiden, Pengamanan Ketat, Antre Panjang, Ratusan Jemaah Tak Bisa Salat

<p><strong>LANTARAN</strong> dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia pengamanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*