MANAGED BY:
SABTU
23 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 06 Juni 2018 12:53
Geliat Kerajinan Tanggui Pesisir Utara di Banjarmasin

Beralih Fungsi Menjadi Hiasan

MERANGKAI: Salah satu perajin tanggui di Alalak Selatan, Arbainah sedang sibuk membuat rangka tanggui miliknya. Dalam sehari, dia bisa membuat hingga 25 buah. | Foto: Tia Lalita Novitri/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Di balik sumpeknya kehidupan perkotaan. Tepian Utara Kota Banjarmasin ternyata masih menyimpan kearifan lokal. Di Kelurahan Alalak Selatan, ada ratusan tanggui (topi caping) yang diproduksi setiap harinya.

TIA LALITA NOVITRI, Banjarmasin

Duduk di tepian Dermaga Pasar Terapung Kuin, Alalak Selatan. Arbainah (64) terlihat sibuk menggelar daun nipah dibawah terik matahari. Suhu kala itu memang sangat panas. Mencapai hingga 34 derajat celsius.

Menyerupai daun kelapa, namun sedikit lebih lebar. Dipetik dari pohon nipah di Pulau Kembang. Daun nipah inilah yang akan disulap menjadi tanggui. Penutup kepala berbentuk bundar. Dipakai masyarakat banjar untuk bertani.

Mengenakan daster kuning, berkerudung hijau. Nini Bainah -panggilan Arbainah, mendekat. Ia nampak tidak fit. Pandangannya seakan kosong. Penglihatannya ternyata kabur lantaran katarak yang diidapnya.

Kami berbincang di sana. Dermaga itu sudah menjadi rumah kedua Bainah. Sejak pukul 5.30 Wita, ia berangkat dari rumahnya di Gang Barokah, Alalak Selatan.

Di situ Bainah bekerja, hingga pukul 16.00 Wita. Ia menyemat lidi rumbia menjadi serangkai topi. Dengan helaian daun nipah berukuran 50 centimeter. Disemat menyilang, dalam waktu singkat selesailah rangka tanggui.

Rangka itu kemudian dilapis lagi. Dengan pola membujur dan disemat berkeliling. Ia menyebutnya mengasau. Kemudian dijahit menggunakan benang karung. Langkah terakhirnya membuat bingkai pinggiran tanggui. "Menggunakan kayu alatung dan diikat dengan tali biar kuat," jelas Bainah. Tanggui utuh pun terbentuk.

Pekerjaan ini dilakoninya sejak usia belasan tahun. Dimulai sekitar tahun 1975 silam. Kala itu tanggui hanya dihargai Rp35 perbuah.

42 tahun berselang, tak ada perubahan nasib bagi Bainah. Masih membuat tanggui, dengan harga yang sedikit berbeda. "Sekarang rangka tanggui dihargai Rp1700 perbuah. Sedangkan tanggui utuh rata-rata Rp15 ribu," jelasnya.

Perubahan harga itu tetap tak membantu bagi ibu 2 orang anak ini. Tinggal menumpang dengan saudara, ia harus tetap mencari nilai rupiah di masa tuanya.

"Suami meninggal dan anak saya orang tidak mampu juga. Untuk bertahan hidup, tidak ada pekerjaan lain selain membuat tanggui untuk bisa membeli makan sehari-hari," ujar Bainah.

Karena keterbatasan penglihatan. Saat ini Bainah hanya memproduksi rangkai tanggui. Alias tanggui setengah jadi, yang dibuat tanpa rangka kayu alatung.

Dalam sehari ia sanggup membuat 25 buah rangka. Pelanggannya adalah sesama pengrajin. Yang merangkai tanggui utuh dan siap dipakai.

"Ngerjakannya dengan meraba-raba. Soalnya mata saya tidak begitu melihat lagi," ucapnya.

Beruntung usahanya tak sepi pembeli. Tidak hanya dari Banjarmasin, pembelinya datang dari Barabai, Amuntai, Samarinda, Balikpapan hingga Pontianak.

Sekali dalam sepekan, setidaknya 200 rangka tanggui terjual. Kelihatannya memang tidak susah, nyatanya butuh kelihaian tangan.

Sejak zaman nenek moyang, tanggui dikenakan sebagai atribut ke ladang. Lebih-lebih saat musim bercocok tanam. Untuk melindungi kepala dari teriknya matahari.

Zaman berkembang. Masyarakat perkotaan memandang tanggui sebagai kerajinan tangan. Tidak semata untuk penutup kepala. Tanggui justru menjadi hiasan.

Tak jarang warga datang kepada Bainah. Meminta agar dibuatkan tanggui mini. Mereka kemudian mengolahnya menjadi pajangan.

"Pembeli yang datang dari Banjarmasin atau Banjarbaru biasanya beli untuk hiasan. Ukurannya lebih kecil," tutur Bainah.

Tanggui yang mereka pesan berdiameter 30-40 cm. Sedangkan ukuran normal tanggui 70-80 cm.

Dikreasikan dengan cat warna-warni. Ada pula yang melapisnya dengan beledru dan payet. "Namanya juga dihias, tampilannya akan jauh lebih cantik dan nilai ekonomi meningkat," ujar Bainah.

Bainah berharap pemko adakan promosi gencar seputar tanggui. Selain untuk meningkatkan pemasukan, ia tak ingin keberadaan tanggui tergerus oleh perkembangan zaman.

"Ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kita dulu. Fungsinya mungkin boleh berubah, tapi jangan sampai tanggui hilang dan tidak dikenal oleh masyarakatnya sendiri," tegas Bainah.

Manager Showroom Dewan Kerajinan Tangan Daerah Kota Banjarmasin, Melly Meliawati membenarkan adanya perubahan fungsi tersebut.

Tanggui kreasi bahkan sudah masuk dalam kategori produksi ekonomi kreatif. Ini bahkan menarik perhatian nasional hingga internasional. Meski tak banyak, Banjarmasin sudah punya beberapa perajin tanggui kreasi.

"Tanggui kreasi memang sudah ada pasarnya. Sehingga ada beberapa pelaku ekonomi kreatif bikin tanggui yang di cat atau dikreasikan dengan hiasan-hiasan lainnya," jelas Melly. (mr-150/at/nur)


BACA JUGA

Rabu, 20 Juni 2018 11:57

Kisah Petugas Posko Mudik di Simpang Empat Banjarbaru

Bertugas sebagai anggota piket di posko mudik, para petugas di Pos Pengamanan Simpang Empat Banjarbaru…

Senin, 04 Juni 2018 12:54

Melacak Jejak Musyawaratutthalibin, Pergerakan Islam Asli Kalsel

Mempersatukan kaum terpelajar Muslim Kalsel, pergerakan Islam bernama Moesjawaratoetthalibin pernah…

Rabu, 30 Mei 2018 15:00
Perayaan Waisak di Banjarmasin

Pesan Jaga Keharmonisan, Panjatkan Doa Untuk Negeri

Winda terlihat penuh hati-hati meletakkan dana makan ke mangkok yang dibawa oleh para Bikhu di Vihara…

Selasa, 29 Mei 2018 15:35

Seniman Clay Dari Banjarmasin

Menyerupai tanah liat, namun kaya warna. Adonan khusus itu kalis dan bisa dibentuk. Itulah clay. Dian…

Kamis, 24 Mei 2018 12:57

Kisah Andra Fathur Rahman, Desainer Spesialis Gaun di Banjarmasin

Gaun menjuntai. Dengan sematan payet dan beberapa ornamen khas kain tile. Pemakainya sudah pasti memesona.…

Rabu, 23 Mei 2018 14:59

Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye…

Senin, 21 Mei 2018 12:56

Ini Dia Sosok Dibalik Bubur Sabilal yang Melegenda

Bubur ayam sudah menjadi ciri khas Ramadan di Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Ribuan porsi disiapkan bagi…

Sabtu, 19 Mei 2018 10:38

Menengok Kelahiran Kampung Mural di Jalan Tunjung Maya

Seusai salat tarawih hingga tibanya waktu sahur, warga dan pelukis berkumpul. Membawa teko kopi dan…

Senin, 14 Mei 2018 15:15

Cerita Ketua MUI Tanbu KH Fadli Muis Mendirikan Pondok Pesantren Zaadul Muttaqiin

Saat ini, pondok pesantren mulai digandrungi anak muda putra dan putri. Pondok pesantren (ponpes) mulai…

Minggu, 13 Mei 2018 05:50

Surat Terakhir Erik Petersen Pria Keturunan Bangsa Viking di Banua Anyar

Erik Petersen adalah keturunan Bangsa Viking. Yang memilih meninggal dunia di Banua Anyar. Warisan Erik,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .