MANAGED BY:
SENIN
18 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 08 Juni 2018 11:15
Kisah Nanang, Penjual Burung Jalak Keliling di Banjarmasin

Obat Lemah Syahwat, Dirawat dari Merah

BERKELILING: Nanang menjajakan burung jalak dengan mengitari jalanan Banjarmasin setiap hari. | Foto: Tia Lalita Novitri/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Dengan mengayuh ontel tua, Nanang (70) berkeliling Kota Banjarmasin. Menjajakan burung jalak, dikurung dalam sangkar berukuran 50x70 cm persegi. 

TIA LALITA NOVITRI, Banjarmasin

Nanang melintas di Jalan Sultan Adam, Kamis (7/6) siang. Perawakannya mulai ringkih. Rambut memutih, kerut-kerut di wajahnya. 

Mengenakan kemeja putih dan topi purun, ia melintasi jalanan kota. Panas terik itu sudah jadi makanan sehari-hari. 

Sesekali Nanang singgah di depan pertokoan yang tutup. Singkat saja, hanya untuk membetulkan persendian tangan. Yang memang sedari pagi menggenggam setang ontelnya. Ia pun kembali mengayuh pedal. 

Di tikungan tajam Jalan Adiyaksa, seorang pria paruh baya menyapanya. Pria itu adalah penyuka unggas. Mereka melakukan tawar menawar. Hasilnya, seekor burung jalak pun terjual. 

Nanang datang jauh dari Desa Pajambuan, Sungai Tabuk. Bolak-balik kota Banjarmasin sejak 20 tahun silam. Tak ada pilihan lain, masa tuanya harus tetap mengais rupiah. Sebab tubuhnya tak sanggup lagi melakoni pekerjaan lamanya, bertani. "Beruntung masih bisa mengayuh sepeda. Ini saja jalan saya (mencari nafkah, Red) biar dapat rejeki buat makan sehari-hari," ucap Nanang. 

Usaha ini tak selalu meraih keuntungan. Tak jarang kakek 3 cucu itu pulang dengan tangan kosong. Ia mengakui adanya penurunan minat beli terhadap burung jalak. Menurutnya, banyak orang beralih memelihara kolibri dan tekukur. "Kalau dulu itu pernah laku 5-6 ekor perhari. Sekarang sering pulang tidak bawa duit sama sekali. Saya makan pakai apa yang ada di rumah saja," ucapnya. 

Ia juga menyayangkan banyak warga kota yang tak tahu khasiat burung jalak. Menurut penuturannya, empedu burung jalak berkhasiat mengatasi lemah syahwat. Dagingnya pun bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan penderita sesak napas. 

Pukul 06.00 pagi, Nanang berangkat dari rumahnya. Berjarak 30 km dari kota Banjarmasin. Untuk tiba di muara Jalan Veteran, ia butuh waktu 1,5 jam.

Nanang kemudian berkeliling. Mengitari jalanan Kota Banjarmasin hingga pukul 16.00 Wita. "Seperti itu tiap hari. Sampai hafal saya seluk-beluk jalanan Banjarmasin," ujarnya. 

Seekor jalak dijualnya dengan harga Rp150 ribu. Berjenis jalak hitam. Burung itu didapatkan dengan mencari di hutan dan persawahan. 

Nanang menaiki pepohonan, memastikan telur jalak di sarang sudah menetas. Jika iya, anak jalak itu dibawanya ke rumah. Dirawat hingga dua bulan lamanya. "Dari warnanya kemerahan sampai sudah bisa mengepakkan sayap dan berkicau. Baru bisa dijual," jelasnya. 

Harganya memang cukup tinggi, untuk seekor burung dengan panjang 15-20 cm. Namun itu tak seberapa jika dibandingkan dengan harga yang dipatok di luar pulau. "Ada yang sampai Rp500 ribu," bebernya. 

Setidaknya ada 29 peliharaan burung jalak miliknya. Yang dibawa hari itu ada 9 ekor. Nanang juga membawa seekor burung rajawali. Warnanya putih abu-abu, dengan mata merah tua. Kaki burung itu diikat di atas sangkar jalak. Sesekali ia mengepak sayap, mencoba kabur. "Rajawali ini satu-satunya yang saya dapat. Sengaja ditaruh di atas biar orang tahu saya berjaja burung," ujarnya. 

Rajawali itu juga ditawarkan kepada orang yang hendak membeli. Dipatok dengan harga Rp200 ribu. Untuk menutupi biaya perawatannya selama 3 bulan ini. "Begini saja mencari rejeki. Sampai saya betul-betul tidak kuat lagi," ungkapnya.(at/dye)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*