MANAGED BY:
JUMAT
16 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Rabu, 20 Juni 2018 15:16
Sekali Melapak, Bisnis Kerajinan Tangan ini Bisa Untung Jutaan Rupiah
UNIK: Miniatur jukung pasar terapung berjejer di lapak jualan Badariah. Ia berdagang di Siring Menara Pandang, Jalan Piere Tendean setiap Minggu pagi. | Foto: Tia Lalita Novitri/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Duduk bersimpuh di tepian Siring Piere Tendean. Sesekali Badariah (40) beranjak, membetulkan jualannya agar tersusun rapi. Bukan kuliner ataupun perhiasan, ia menjual kerajinan miniatur jukung. Sebagai buah tangan bagi mereka yang singgah ke Kota Banjarmasin.

TIA LALITA NOVITRI, Banjarmasin

Setiap Minggu pagi, Badariah menggelar lapaknya. Membawa lebih dari 50 kerajinan, hasil karyanya dalam sepekan.

Yang melintas akan melirik karyanya. Karena bentuknya tak biasa. Dari beragam jenis, miniatur jukunglah yang paling mencolok. Dengan panjang kurang lebih 15 centimeter, komplet dengan bak jualan dan orang-orangan yang sedang mendayung.

Miniatur itu sebagai potret budaya Banjarmasin. Mengilustrasikan seorang pedagang pasar terapung. Membawa jualan di atas sampan, dengan mengenakan penutup kepala khas; tanggui.

Jukung itu berwarna-warni. Sisi kiri dan kanannya dipoles cat dengan pola bergelombang tajam. Sekilas mirip iris pudak, salah satu motif kain Sasirangan. "Tanggui dan badan orang-orangannya juga diwarnai. Setelah itu dikasih vernis," jelas Badariah.

Bak jualan tersusun di depan orang-orangan. Diambil dari tutup botol, Badariah mengisinya dengan styrofoam ataupun kacang hijau.

Jukung itu dijual dengan harga Rp30 ribu per buah. Badariah juga menjual jukung beratap. Persis menyerupai jukung penjual kue di Pasar Terapung Kuin. Yang satu ini dijual Rp50 ribu.

Ia juga menjual miniatur peralatan rumah tangga. Seperti ranjang, lemari baju, bufet, meja rias, lemari makanan, kursi tamu hingga ayunan anak-anak. "Bentuknya terinspirasi dari benda sehari-hari yang sering dilihat," ujar ibu dua orang anak ini.

Warga Alalak Tengah, RT 2, Banjarmasin Utara itu menggeluti kerajinan miniatur sejak 2014 silam. Tepatnya ketika almarhum suaminya, Surdi mengalami penurunan penghasilan. "Bekerja di sebuah pabrik mebel, orderannya menurun. Sehingga suami dan saya mesti mencari sumber penghasilan ekstra," ucap Badariah.

Kala itu ide terbersit di pikiran sang suami. Memanfaatkan limbah kayu di pabriknya bekerja. Iseng saja, potongan kayu meranti di bawa kerumah. Dipotong membentuk sudur, yakni bentuk dasar sampan. Kemudian sisi-sisi sudur itu dikatam hingga melengkung. Bagian tengahnya dipahat agar cekung. Sudut depan dan belakang diberi sampung. Bentuknya mencuat, penanda haluan dan buritan sampan. Ditambah dengan ornamen lainnya, sebuah percobaan miniatur selesai dibuat.

Ide itu semakin jadi ketika Badariah mendengar siaran radio. Menyebutkan bahwa Banjarmasin perlu souvenir khas, diluar kain Sasirangan dan boneka bekantan. "Kenapa enggak miniatur jukung ini saja yang dijadikan souvenir. Ini kan mewakili Kota Banjarmasin juga," ujarnya.

Badariah pun mencoba menjualnya ke pasar Minggu pagi di Siring Pierre Tendean, Menara Pandang. Tak banyak, seketika saja ludes terjual. Usaha itu pun dia teruskan. Badariah bersama suami dan anak-anaknya bahu membahu membuat kerajinan. Hingga semakin banyak yang ia jual.

Satu setengah tahun yang lalu, Surdi meninggal dunia. Tersisa Badariah dan kedua anaknya. Peninggalan ide sang suami jadi modal melanjutkan hidup. Beruntung Badariah sudah mahir memakai peralatan tukang. Ia memotong, memahat bahkan menjalankan katam listrik sendiri. Bagian pengecatan dan finishing dilakukan oleh putri sulungnya.

Balok berukuran 7x8 cm dan papan tipis ia beli dari tetangganya. Kebetulan Kecamatan Alalak Tengah memang sentranya penjualan kayu.

Dalam sehari, Badariah mampu menghasilkan 20 buah miniatur jukung. Tak perlu lama, sebuah jukung dikerjakan dalam waktu 30 menit. Begitu pula dengan miniatur mebel.

Kerajinan itu laku keras. Tak jarang 50 kerajinan yang ia bawa habis terjual. "Sering kehabisan kalau harinya cerah. Nah kalau mendung biasanya paling banter separuh saja," ujarnya.

Wajar saja, sebab tak ada pedagang serupa di siring sepanjang 1,2 km itu. Badariah bahkan mengklaim dirinya satu-satunya pengrajin miniatur jukung pasar terapung. "Masih nyaman punya usaha ini. Belum ada saingan, di Banjarmasin kayaknya baru saya saja," ujarnya.

Nominal yang dihasilkan pun lumayan. Jika ludes terjual, Badariah pulang dengan mengantongi Rp2 juta. Bahkan lebih, jika ia membawa stok banyak dari biasanya.

Peralatan rumah tangga dijual per satu set. Berisi ranjang, lemari dan bufet. Harganya Rp70 ribu. Paket itu bisa ditukar dengan miniatur lainnya. Sementara ayunan dijual Rp30 ribu.

Kerajinan ini digemari anak-anak. Bentuknya mungil, sehingga anak-anak perempuan akan merengek minta dibelikan. Orang berumur pun sering membeli. Terlebih mereka yang memang penyuka pajangan miniatur.

"Guru-guru TK atau SD pun sering membeli. Bahkan sampai datang ke rumah saya untuk membuat pesanan. Katanya buat media belajar murid," beber Badariah.

Usaha ini akan terus ia geluti. Hingga ia tak mampu dan anak-anaknya berhasil. Lewat kerajinan ini pula, Badariah berharap perannya dapat membantu pemerintah, mengenalkan budaya Banjarmasin kepada wisatawan.

Salah satu pembeli, Reny Audini (25) datang dari Jakarta. Ia membeli jukung dan satu set peralatan rumah tangga. Bentuknya unik dan murni handmade, membuat perempuan yang pernah tinggal di Banjarmasin itu tertarik untuk membeli.

"Crafting kayu begini bagus buat pajangan di ruang tamu. Lagi pula bentuknya unik dan Banjarmasin banget," ujarnya. (mr-150/at/nur)


BACA JUGA

Sabtu, 10 November 2018 10:50

Terpaut 34 Tahun, Wawan Nikahi Acil Mantili

Jodoh dan nasib seseorang memang tidak ada yang menyangka. Seperti yang dialami sepasang warga Desa…

Kamis, 08 November 2018 13:13

Seniman Mancanegara Bakal Kumpul di Kiram

BANJARMASIN - Seniman dari sejumlah negara dipastikan hadir pada gelaran South Borneo Art Festival di…

Rabu, 07 November 2018 11:04

Kisah Muazin Masjid Annur Meninggal di Atas Sajadah: Sempat Ucapkan Kalimat Tauhid

Namanya sama dengan kakek Nabi Muhammad, Abdul Muthalib. Muazin di Masjid Annur Kotabaru Senin (5/11)…

Rabu, 24 Oktober 2018 12:36

Sampai Kapan? Ijazah Pesantren Masih Belum Diakui

BANJARMASIN - Meski disambut dengan gegap-gempita, ada yang mengganjal setiap Peringatan Hari Santri…

Selasa, 16 Oktober 2018 02:02
Opini

Mengurai Kemacetan Kendaraan di Kota Banjarmasin

Oleh : Muhammad Reza Hikmatullah* Kota Banjarmasi saat ini di tahun 2018 sudah memasuki tahun Ke-492…

Sabtu, 06 Oktober 2018 08:53

Tingkatkan Kompetensi Wartawan Zaman Now

BANJARMASIN – PWI Kalsel terus berupaya meningkatkan kompetensi wartawan di Banua. Supaya memiliki…

Rabu, 03 Oktober 2018 10:20

Belum Berencana Anggarkan Bonus

BANJARMASIN – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) keluar sebagai juara Kompetisi Olahraga Daerah…

Minggu, 30 September 2018 11:24

Pelukis Banjarbaru Raih Penghargaan Internasional

BANJARBARU - Berkarya dengan tulus dan penuh keseriusan sebagai seniman di Banjarbaru. Sulistyono Hilda…

Minggu, 16 September 2018 13:37

19 Burung Langka dari Alam Liar di Pamerkan Pegiat Fotografi

BANJARMASIN - Mendengar istilah fotografi alam liar, yang terbayang di benak adalah karya-karya pewarta…

Sabtu, 15 September 2018 09:27

Seruu..!! Lomba Balap Jukung Tradisional di Jafri Zam-Zam

JUKUNG yang dikayuh Jumiati melaju dengan mulus. Meninggalkan lawan jauh di belakang, hampir separuh…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .