MANAGED BY:
KAMIS
18 JULI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 20 Juli 2018 10:21
Kisah Kehidupan Tak Layak di Kolong Jembatan Antasari

Perabot Campur Aduk, Mengemis untuk Makan

KEHIDUPAN KERAS: Penghuni kolong Jembatan Antasari. Berkali-kali ditertibkan pemko, tetap saja kolong itu kembali ramai. Lengkap dengan perabot kehidupan sehari-hari. | Foto: Donny Muslim/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Di bawah kolong Jembatan Antasari, tinggal menetap enam janda dengan keseharian sebagai pengemis. Memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), tak praktis membuat mereka memiliki kehidupan yang layak.

Donny Muslim, Banjarmasin

Tak susah mencari pintu masuk kehidupan di bawah bangunan Jembatan Antasari. Ambil bagian kiri jembatan. Tepatnya di samping Swiss-Belhotel Borneo Banjarmasin. Ada jalur setapak menuju hunian serba gratis milik para janda. 

Dari pantauan, para penghuni kolong jembatan menciptakan bilik-bilik. Terdapat enam buah untuk tempat tidur. Dibagi dua sisi; kiri dan kanan. Ada yang beralaskan kasur kapuk, ada pula cuma sekadar memakai tikar lampit rotan.

Digunakan untuk wadah tidur sehari-hari, bilik bercampur dengan pakaian-pakaian lusuh yang bergantungan. Plus perabotan masak seperti kompor dan penanak nasi. Semua perabot campur aduk.

Urusan mandi, cuci, kakus (MCK), penghuni kolong jembatan simpel saja. Berada di bantaran Sungai Martapura, stok air jelas tak perlu dirisaukan. Mereka bisa menggunakannya secara bebas.

Namanya berada di bawah jembatan, sudah pasti gelap gulita. Mereka menyiasatinya penerangan dengan menyambung listrik ke hotel. Alhasil, mereka sedikit terbantu penerangan, meski dengan daya yang minim. "Itu kami mendapat sambungan gratis," cerita Patimah (48), salah satu penghuni kolong jembatan.

Sudah empat bulan terakhir Patimah memilih tinggal di kolong jembatan. Dulu tinggal di kawasan Pelambuan, Banjarmasin Barat bersama pasangan. Suaminya meninggal dunia, ia dibuat tak berdaya. "Dulu saya pemulung, suami saya tukang becak. Selepas meninggal, saya tak kuat kalau bekerja sendirian. Makanya ikut teman-teman tinggal di kolong jembatan, dan jadi pengemis," ceritanya.

Apakah memiliki anak, ia mengangguk. Namun, Patimah enggan berbicara lebih jauh mengenai masalah pribadinya. Ia lebih suka membicarakan pemerintah yang tak kunjung mendengar keluh kesahnya. "Saya punya Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), tapi sampai sekarang tak dapat bantuan sama sekali. Sudah diurus ke kelurahan dan kecamatan, tetap mentok tidak ada kabar bantuan," keluhnya.

Dengan penghasilan mengemis sehari rata-rata Rp20 ribu, ia berharap penghuni kolong jembatan dapat tertolong dengan bantuan pemerintah. Lebih-lebih mereka mempunyai Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi. "Kalau ada bantuan, setidaknya membuat usaha. Kalau dengan hasil begini, cukup buat makan saja," tuntasnya.

Selain Patimah, ada lima janda lainnya. Semuanya berprofesi pengemis. Hidup tanpa kepala keluarga, mereka melawan kerasnya Kota Banjarmasin dengan kehidupan kota yang keras, serta hunian tidak layak.

Maulana buruh angkut kelapa sehari-hari beraktivitas di sekitar kolong jembatan. Dia juga mengharapkan pemerintah kota bisa melihat sejenak kehidupan penghuni bawah jembatan. Lalu diberi bantuan hunian yang layak. "Lambat laun, kawasan ini juga akan tergusur. Soalnya, akan dibuat jadi lanjutan siring Sungai Baru," ucapnya.

Kepala Dinas Sosial Kota Banjarmasin, Esya Zain berjanji bakal segera melakukan pengecekan ke lapangan bersama timnya untuk melakukan verifikasi apakah enam orang janda tersebut memang membutuhkan bantuan sosial. "Bagi yang mengantongi KKS, harus dipastikan dulu apa saja bantuan yang diterimanya. Itu yang menentukan dari Kementerian Sosial. Bisa saja cuma Rastra dan bantuan kesehatan. Tergantung hasil hasil verifikasi juga," kata dia.

Terkait tempat tinggal, Esya mengatakan tak mungkin Dinsos membantu mendirikan hunian bagi para penghuni kolong jembatan. Itu bukan tupoksi dari pihaknya lagi. "Rumah Singgah milik kami juga tidak bisa menampung lama-lama. Kami yang melabrak aturan nantinya. Batas maksimal cuma 14 hari," terangnya.

Apabila para penghuni benar-benar tidak memiliki hunian, Esya bakal berkoordinasi dengan Panti Sosial Bina Wanita (PSBW) Melati Banjarbaru milik Dinas Sosial Provinsi Kalsel agar bisa menetap di sana. "Mudah-mudahan masih ada slot. Kita cek dulu. Persoalan kolong jembatan ini memang sudah lama berlangsung," tuntasnya.(dom/at/nur)


BACA JUGA

Selasa, 16 Juli 2019 15:17

Eko Subiyantoro, Bersepeda 1.300 KM untuk Rumah Singgah Kanker Anak

EKO Subiyantoro, Founder/Direktur Eksekutif Tangan Tangan Relawan mulai hari ini…

Selasa, 16 Juli 2019 11:50

Istri Sempat Keberatan, Penyelamat Buah Langka ini Akhirnya Dapat Kalpataru

Dedikasi Mohamad Hanif Wicaksono dalam menyelamatkan buah lokal dan langka…

Senin, 15 Juli 2019 11:07

Mohamad Hanif Wicaksono, Pahlawan Buah-Buahan Lokal dari Balangan

Namanya Mohamad Hanif Wicaksono. Usianya masih relatif muda, 36 tahun.…

Senin, 15 Juli 2019 10:31

Laporan dari Panggung Terbuka Bachtiar Sanderta

Sembilan grup tari asal Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, Hulu Sungai Selatan,…

Minggu, 14 Juli 2019 10:29

Normanto, Kades Karya Maju dan Mimpi Agrowisata Anggurnya

Hidup sebagai warga transmigrasi di desa, membuat Kades Normanto harus…

Sabtu, 13 Juli 2019 12:24

Bawa Kuyang, SMKN 2 Barabai Tembus ke Pentas Nasional

Kuyang, adalah folklor. Tapi cerita tentangnya mampu mengantarkan Miftahul Jannah,…

Jumat, 12 Juli 2019 11:12

Orang Tua Tak Punya Biaya, Tubuh Sudah Ditumbuhi Jamur

Jika anak remaja lainnya bermain dengan teman sebayanya, Siti Sarah…

Kamis, 11 Juli 2019 13:58

Kisah Pasangan Tunanetra di Banjarbaru Perjuangkan Anak Bersekolah Negeri

Ini kisah pilu pasangan tunanetra di Banjarbaru, Fahmi, 41, dan…

Kamis, 11 Juli 2019 10:40

Cerita Pilu dari Kuin Kecil: Penantian Panjang Penderita Atresia Ani

Di Kuin Kecil ada cerita pilu. Seorang bocah empat tahun…

Rabu, 10 Juli 2019 11:15

Banua Local Pride, Geliat Anak Muda Kalsel mengenalkan Brand Lokal

Berbisnis di industri yang sama. Sekumpulan anak muda Banua membentuk…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*