MANAGED BY:
JUMAT
17 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 20 Juli 2018 10:21
Kisah Kehidupan Tak Layak di Kolong Jembatan Antasari

Perabot Campur Aduk, Mengemis untuk Makan

KEHIDUPAN KERAS: Penghuni kolong Jembatan Antasari. Berkali-kali ditertibkan pemko, tetap saja kolong itu kembali ramai. Lengkap dengan perabot kehidupan sehari-hari. | Foto: Donny Muslim/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Di bawah kolong Jembatan Antasari, tinggal menetap enam janda dengan keseharian sebagai pengemis. Memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), tak praktis membuat mereka memiliki kehidupan yang layak.

Donny Muslim, Banjarmasin

Tak susah mencari pintu masuk kehidupan di bawah bangunan Jembatan Antasari. Ambil bagian kiri jembatan. Tepatnya di samping Swiss-Belhotel Borneo Banjarmasin. Ada jalur setapak menuju hunian serba gratis milik para janda. 

Dari pantauan, para penghuni kolong jembatan menciptakan bilik-bilik. Terdapat enam buah untuk tempat tidur. Dibagi dua sisi; kiri dan kanan. Ada yang beralaskan kasur kapuk, ada pula cuma sekadar memakai tikar lampit rotan.

Digunakan untuk wadah tidur sehari-hari, bilik bercampur dengan pakaian-pakaian lusuh yang bergantungan. Plus perabotan masak seperti kompor dan penanak nasi. Semua perabot campur aduk.

Urusan mandi, cuci, kakus (MCK), penghuni kolong jembatan simpel saja. Berada di bantaran Sungai Martapura, stok air jelas tak perlu dirisaukan. Mereka bisa menggunakannya secara bebas.

Namanya berada di bawah jembatan, sudah pasti gelap gulita. Mereka menyiasatinya penerangan dengan menyambung listrik ke hotel. Alhasil, mereka sedikit terbantu penerangan, meski dengan daya yang minim. "Itu kami mendapat sambungan gratis," cerita Patimah (48), salah satu penghuni kolong jembatan.

Sudah empat bulan terakhir Patimah memilih tinggal di kolong jembatan. Dulu tinggal di kawasan Pelambuan, Banjarmasin Barat bersama pasangan. Suaminya meninggal dunia, ia dibuat tak berdaya. "Dulu saya pemulung, suami saya tukang becak. Selepas meninggal, saya tak kuat kalau bekerja sendirian. Makanya ikut teman-teman tinggal di kolong jembatan, dan jadi pengemis," ceritanya.

Apakah memiliki anak, ia mengangguk. Namun, Patimah enggan berbicara lebih jauh mengenai masalah pribadinya. Ia lebih suka membicarakan pemerintah yang tak kunjung mendengar keluh kesahnya. "Saya punya Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), tapi sampai sekarang tak dapat bantuan sama sekali. Sudah diurus ke kelurahan dan kecamatan, tetap mentok tidak ada kabar bantuan," keluhnya.

Dengan penghasilan mengemis sehari rata-rata Rp20 ribu, ia berharap penghuni kolong jembatan dapat tertolong dengan bantuan pemerintah. Lebih-lebih mereka mempunyai Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi. "Kalau ada bantuan, setidaknya membuat usaha. Kalau dengan hasil begini, cukup buat makan saja," tuntasnya.

Selain Patimah, ada lima janda lainnya. Semuanya berprofesi pengemis. Hidup tanpa kepala keluarga, mereka melawan kerasnya Kota Banjarmasin dengan kehidupan kota yang keras, serta hunian tidak layak.

Maulana buruh angkut kelapa sehari-hari beraktivitas di sekitar kolong jembatan. Dia juga mengharapkan pemerintah kota bisa melihat sejenak kehidupan penghuni bawah jembatan. Lalu diberi bantuan hunian yang layak. "Lambat laun, kawasan ini juga akan tergusur. Soalnya, akan dibuat jadi lanjutan siring Sungai Baru," ucapnya.

Kepala Dinas Sosial Kota Banjarmasin, Esya Zain berjanji bakal segera melakukan pengecekan ke lapangan bersama timnya untuk melakukan verifikasi apakah enam orang janda tersebut memang membutuhkan bantuan sosial. "Bagi yang mengantongi KKS, harus dipastikan dulu apa saja bantuan yang diterimanya. Itu yang menentukan dari Kementerian Sosial. Bisa saja cuma Rastra dan bantuan kesehatan. Tergantung hasil hasil verifikasi juga," kata dia.

Terkait tempat tinggal, Esya mengatakan tak mungkin Dinsos membantu mendirikan hunian bagi para penghuni kolong jembatan. Itu bukan tupoksi dari pihaknya lagi. "Rumah Singgah milik kami juga tidak bisa menampung lama-lama. Kami yang melabrak aturan nantinya. Batas maksimal cuma 14 hari," terangnya.

Apabila para penghuni benar-benar tidak memiliki hunian, Esya bakal berkoordinasi dengan Panti Sosial Bina Wanita (PSBW) Melati Banjarbaru milik Dinas Sosial Provinsi Kalsel agar bisa menetap di sana. "Mudah-mudahan masih ada slot. Kita cek dulu. Persoalan kolong jembatan ini memang sudah lama berlangsung," tuntasnya.(dom/at/nur)


BACA JUGA

Kamis, 16 Agustus 2018 13:00

Ditunjuk Menjadi Pembawa Bendera Merah Putih, Sonia dan Annisa Terharu

SONIA Shaleha dan Annisa Fitria Azmi tak berani berharap. Bakal ditunjuk menjadi pembawa bendera merah…

Selasa, 14 Agustus 2018 12:49

Mahathir Muhammad, Siswa asal Tanah Laut yang Berhasil Juara Rubik Pakai Kaki

Prestasi siswa Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia Tanah Laut (MAN ICT) ini tergolong luar biasa.…

Senin, 13 Agustus 2018 14:15

Berbincang dengan Komunitas Cosplay Kandangan, Pamerkan Cosplay sambil Silaturrahmi

Tidak semua hobi yang disalurkan berakhir negatif, ada juga yang berakhir dengan kegiatan positif. Seperti…

Sabtu, 11 Agustus 2018 12:52

Kehidupan Veteran di Ujung Banua, Ketua LVRI Masih Harus Jualan Minyak Tanah

Irman Ahmad pernah merasakan desingan peluru penjajah. Di usia tua nya kini, dia berjualan minyak tanah,…

Jumat, 10 Agustus 2018 15:22

Ini Dia, Letkol Pnb Supriyanto, Pilot Pesawat Tempur asal Tanah Laut

Boleh juga yang dilakukan Letkol Pnb Supriyanto, pilot pesawat tempur asal Tanah Laut untuk memotivasi…

Jumat, 10 Agustus 2018 11:01

Jefri 'Jef' Albari Tribowo, Rilis Lagu Cover Sanja Kuning

Setelah sukses dengan album Lagu Banjar, Jefri 'Jef' Albari Tribowo sibuk bersiap untuk album keduanya.…

Rabu, 08 Agustus 2018 12:52

Dari Salat Hajat Sambut HUT Kemerdekaan Bersama Guru Zuhdi

Pembacaan Surah Yasin dan Selawat Nabi Muhammad SAW, terdengar teduh di ruang utama Mahligai Pancasila,…

Rabu, 08 Agustus 2018 12:07

Mengintip Persiapan Paskibraka Banjarmasin Jelang 17 Agustus

Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) Banjarmasin 2018 tampak sibuk. Kemarin (7/8), 28 pelajar pilihan…

Senin, 06 Agustus 2018 13:14

Pameran Seni Rupa Metamorfosis: Hargai Proses, Jangan Minta Murah

Pameran Metamorfosis menyentil pelaku dan penikmat seni rupa. Membuktikan bahwa proses kerja karya seni…

Sabtu, 04 Agustus 2018 15:11

Berkenalan dengan BPK dan Tim Emergency Landu, Banjarbaru

Memadamkan api, menolong orang kecelakaan, mengevakuasi korban, itulah yang sering dilakukan BPK dan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .