MANAGED BY:
RABU
24 JULI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 27 Juli 2018 15:28
Suka Duka Petugas Kebersihan Pasar Sungai Andai

Kerja Gantikan Suami, Bersihkan Sisa Ikan Berbelatung

SAPU: Titin mengumpulkan sampah yang berserakan di Pasar Sungai Andai Banjarmasin. | Foto: Tia Lalita Novitri/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Titin (49) membersihkan sendirian Pasar Tradisional Sungai Andai, Banjarmasin Utara. Tumpukan kresek diraup, sisa sayuran hingga kotoran ikan berbelatung. 

TIA LALITA NOVITRI, Banjarmasin

Petang tiba. Di saat yang lain mulai pulang selepas kerja, Titin beranjak dari rumahnya yang tak jauh dari Pasar Tradisional Sungai Andai. Membawa sapu lidi, dan beberapa kresek jumbo hitam. Titin terlebih dahulu menuju ke bagian dalam pasar. Memang tak seberapa luas dibanding pasar-pasar induk di kota ini. Namun, itu cukup membuatnya menitikkan peluh. Terlebih membersihkannya sendirian. 

Titin menjadi tukang bersih-bersih pasar sejak lima tahun belakangan. Menggantikan suaminya, Misra yang telah kembali ke Sang Kuasa. Meninggalkan 2 orang putra dan seorang putri.

Tak ada pilihan bagi Titin, hidup terus berjalan. Terlebih kala itu anak kedua dan si bungsu sedang menempuh pendidikan. "Asal anak makan dan lanjut sekolah, pekerjaan almarhum ayahnya saya ambil," ucapnya. 

Rutinitas itu dimulai pukul 17.00 Wita. Di saat pasar tak ada lagi aktivitas jual beli. Betul-betul dalam keadaan sepi. Dengan begitu, Titin leluasa bekerja. Membersihkan hingga ke sudut pasar. 

Pekerjaan itu tidak bisa cepat. Setidaknya butuh waktu hampir dua jam. Hingga bilik los pasar betul-betul tak menyisakan sampah. Jika tidak, omongan miring pedagang bisa saja menyerangnya. 

Menjelang azan Magrib, ia kembali ke rumah. Melepas penat dengan beristirahat. Terlelap hingga pukul 01.00 Wita dini hari, perempuan asal Cilacap ini kembali terjaga. Tugas memanggilnya. Membersihkan bagian luar pasar hingga tepian jalan. 

Di saat yang lain sibuk merangkai mimpi, Titin bekerja menuntaskan tanggung jawabnya. Mengenakan pakaian rumahan, ia menyapu tepian jalan. Kotor dan bau setiap hari dijumpai. 

Titin juga harus membersihkan selokan. Terisi penuh dengan air pembuangan. Sisa kotoran ikan yang sudah terendap. Bau busuk menyengat. Bahkan hingga berbelatung. Ia mengaku harus kuat. Sebab tak punya pilihan. 

Kurang lebih dua jam, pekerjaan itu rampung. Terkumpullah dua kantong besar sampah. Dibantu putranya, sampah itu kemudian diangkut ke TPS Sungai Andai. 

Dengan sedikit bergurau, Titin menyayangkan dirinya tak pernah mendapat durian runtuh. Seperti tiba-tiba mendapat barang berharga di tumpukan sampah. "Kalau di tv kan ada yang sampai dapat duit berkabat," ucapnya. 

Untuk tanggung jawab itu, Titin menarik iuran harian sebesar Rp2.000 hingga Rp3.000. Tak hanya untuk kebersihan, melainkan untuk keamanan area pasar. Sebab, sang putra juga dipercayakan berjaga malam. 

Patokan harga itu tak dipermasalahkan oleh para pedagang. Yang dikeluhkan justru iuran retribusi pasar swasta. Yang diberlakukan oleh Dinas Pengelolaan Pasar Pemko Banjarmasin. "Katanya sih buat biaya angkut truk dari TPS ke TPA," ujar Titin. 

Ia menyayangkan perlengkapan kebersihan pasar yang tak mumpuni. Seperti ketersediaan bak sampah yang minim. Dan penataan pasar itu sendiri. 

Kesadaran diri para pedagang juga jadi tantangan terberatnya. Ada yang merapikan terlebih dahulu, ada pula yang semena-mena. "Ya sudahlah, mereka merasa sudah bayar sih," ucapnya. 

Belakangan pasar ini ramai kedatangan pedagang baru. Bukannya melapak di los, melainkan di tepian jalan. Pekerjaannya bertambah luas, los makin ditinggalkan pedagang. Ia takut sewaktu-waktu pasar itu betul-betul ditinggalkan. 

Dalam sehari, Titin mengumpulkan pundi-pundi senilai Rp70 ribu. Syukur tak henti-henti diucapkan. Meski dibalik itu banyak cerita menggetirkan. Seperti tiba-tiba diganggu oleh orang pengidap stres hingga kejadian-kejadian mistis. 

Orang setempat menyebut pasar itu sedikit horor. Banyak yang bersaksi pada Titin bahwa mereka pernah melihat penampakan hantu. "Saya hanya sebatas suara aneh hingga bunyi musik dari lantai kosong di atas," ucapnya. 

Terlepas dari itu semua, Titin hanyalah seorang ibu. Yang mengharapkan keturunannya tak bernasib serupa. Motivasinya adalah pendidikan anak-anaknya. Setidaknya bisa mengenyam pendidikan hingga SMA. "Cukup saya saja yang tidak sekolah dan mendapat pekerjaan seperti ini. Anak-anak saya jangan," tuntasnya.(at/dye)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*