MANAGED BY:
MINGGU
17 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 28 Juli 2018 15:25
Belajar Mengaji Kilat dengan Metode Nursyifa Temuan Muslim Aridho

Kenalkan Huruf Hijaiah dengan Nama Benda

MENGAJAR: Ustaz Muslim Aridho, penemu metode Nursyifa 57 menit saat mengajar mengaji di Masjid Al Munawarah, kemarin. | Foto: Sutrisno/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Bertekad ingin sebanyak-banyaknya mengentaskan umat Muslim dari buta huruf arab, Ustaz Muslim Aridho menciptakan metode belajar mengaji secara cepat yang diberinya nama Nursyifa 57 menit. Bagaimanakah proses belajarnya?

SUTRISNO, Banjarbaru

Memiliki metode kilat belajar mengaji, ustaz berusia 61 tahun itu membuka kelas belajar Alquran di beberapa tempat. Salah satunya, di Masjid Agung Al Munawarah Banjarbaru yang dilaksanakan Jumat (27/7) kemarin.

Menggunakan tempat di sudut sebelah kanan ruangan masjid, ada sekitar 20 orang yang ikut belajar mengaji kilat dengan metode Nursyifa 57 menit, rata-rata pesertanya sudah dewasa.

Ustaz Muslim Aridho terlihat santai menjelaskan satu-persatu huruf hijaiah di spanduk yang dibentang di depan para peserta. Sesekali, warga Sekumpul, Martapura itu melontarkan guyonan agar proses belajar tidak terlalu tegang.

Seperti halnya ketika dirinya mengenalkan huruf "?" kepada peserta yang baru pertama kali mengikuti kelas belajar mengaji kilat. "Coba tebak, alat apa yang berfungsi menerangi rumah? Lampu 'kan? Nah, ini huruf 'lam'," jelasnya.

Kepada wartawan dia mengungkapkan, belajar menggunakan proses Nursyifa 57 menit memang mengaitkan huruf arab dengan nama-nama familiar dalam kehidupan sehari-hari. Supaya, mudah diingat oleh peserta. "Misal huruf ?, dikaitkan dengan baju. Jadi, peserta akan ingat," ungkapnya.

Metode itu, menurutnya lebih ampuh daripada harus menghafal seluruh huruf hijaiah terlebih dahulu, sebelum membaca Alquran per kalimat. "Kalau menghafal, biasanya banyak yang lupa. Jadi, kita harus mengulang. Itu yang membuat belajar mengaji perlu proses yang lama," ujarnya.

Setelah peserta memahami semua huruf arab, dengan dikaitkan dengan nama-nama yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Peserta selanjutnya, belajar cara membaca huruf yang menyambung. "Untuk mengenalkan huruf arab ke peserta biasanya hanya memerlukan waktu sekitar lima sampai delapan menit. Setelah itu, langsung membaca huruf yang menyambung," kata pensiunan Dinas Sosial Kalteng ini.

Dia mengungkapkan, kemampuan peserta berbeda-beda dalam menyerap metode temuannya tersebut. Ada yang cepat fasih, ada pula yang agak lambat. "Paling cepat, satu kali pertemuan langsung bisa membaca Alquran. Ada juga yang sampai tiga, empat pertemuan," ungkapnya.

Metode Nursyifa sendiri dia temukan pada tahun 1985, ketika merantau di Kalteng. Saat itu, dirinya diminta oleh gurunya untuk mengajari anak-anak mengaji.

"Guru saya namanya M Abbas, dia qari terbaik di Kalteng. Setelah beberapa tahun saya belajar mengaji dengan beliau, kemudian saya lagi yang diminta mengajar," ceritanya.

Ketika itu, dia merasa metode belajar yang diterapkan terlalu ruwet. Sehingga, anak-anak perlu waktu hingga empat tahun baru bisa fasih membaca Alquran. "Dari situ saya berfikir untuk membuat metode belajar membaca Alquran dengan cepat," ungkap ayah dua anak ini.

Dia mengaku hanya memerlukan waktu sekitar 20 hari untuk merumuskan metode belajar mengaji secara kilat. "Setiap rumus saya temukan ketika usai salat tahajud," ucapnya.

Lalu kenapa diberi nama Nursyifa? Dia menjelaskan, nama itu diambil dari bahasa arab yang artinya cahaya penyembuh. "Alquran 'kan cahaya penyembuh, jadi metode ini saya namai Nursyifa," kata Muslim.

Melalui metode itu, dia mengaku sudah banyak membuat orang bisa mengaji. Mulai dari pejabat, pengusaha hingga para mualaf. "Cita-cita besar saya memang ingin sebanyak-banyaknya mengurangi angka buta huruf arab," ujarnya.

Karena cita-citanya itu, dia mengajar mengaji secara sukarela tanpa minta imbalan. "Tapi, ada juga yang ngasih saya uang. Mungkin ucapan terimakasih. Bahkan ada yang ngasih Rp1 juta," ujar Muslim.

Di Banjarbaru sendiri, dirinya mengajar di beberapa tempat. Yaitu, di musala yang ada di Kelurahan Guntung Paikat dan Guntung Manggis. Serta, di Masjid Al Munawarah. Ada juga yang datang belajar mengaji di rumahnya.

"Alhamdulillah, metode saya ini mendapatkan dukungan dari Walikota Banjarbaru. Beliau meminta saya rutin mengajar di Al Munawarah," pungkasnya. (by/bin)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*