MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 30 Juli 2018 18:11
Buku Djadoel, Melawan Arus Lewat Jual-Beli Buku Murah

Resah Melihat Minat Baca Menurun

BERBURU BUKU: Seorang bocah mencari bahan bacaan di Buku Djadoel. Rata-rata pelajar dan mahasiswa memang kerap mengunjungi tempat ini. | Foto: Donny Muslim/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Kios "Buku Djadoel" mencoba melawan arus. Lewat usaha jual beli buku dan majalah bekas dengan harga murah. Gempuran e-book serta monopoli toko-toko buku skala besar tak jadi halangan untuk menyemai virus membaca kepada masyarakat.

Donny Muslim, Banjarmasin

Ide jual beli buku dan majalan bekas dicetus oleh Johansyah. Ia menata teras rumah menjadi kios. Lokasi tempat tinggalnya dihimpit bengkel servis sepeda motor di Jalan Tembus Mantuil, Kelurahan Kelayan Selatan, Banjarmasin Selatan.

Dengan nama Buku Djadoel, lelaki 48 tahun itu sudah menjalani usahanya selama empat tahun terakhir. "Awalnya tidak sengaja juga memakai nama ini. Ada pelanggan yang kasih saya saran. Jadilah dipakai nama Buku Djadoel," cerita Johansyah.

Buku dan majalah bekas dagangannya bermacam-macam. Dari keluaran lawas sampai paling teranyar. Sebagian kondisi fisiknya sudah lapuk. Ada juga yang masih oke.

"Jenis buku paling laris novel dan komik. Sisanya buku-buku ilmu pengetahuan dari SD hingga bangku perkuliahan," ujarnya.

Satu buku bisa dihargai dengan nominal kelewat murah. Sekelas komik dan majalah, Johanysah rata-rata melepas dagangannya seharga Rp5.000. Kalau novel dan buku ilmu pengetahuan dibandrol Rp10 ribu sampai  Rp100 ribu. "Tergantung kondisi. Saya pernah jual ensiklopedia dengan harga Rp100 ribu," tuturnya.

Mematok harga murah bukan tanpa alasan. Ia ingin ada alternatif untuk mengakses bahan bacaan. Lantaran semakin sulit karena buku terlampau mahal. 

Cara Johasyah mendapatkan buku-buku bacaan bukanlah perkara ruwet. Biasanya, ada saja yang menjual buku dan majalah bekas ke kiosnya.

"Biasanya ada orang-orang pindah rumah. Mereka menjual buku ke saya. Ada juga sebagian saya beli di toko-toko buku bekas," bebernya.

Lantaran harus menjual murah, Johansyah jelas tak nekat menawar buku bekas dengan harga tinggi. Itu sama dengan merugikan diri sendiri.  Rata-rata ia membelinya kisaran Rp5.000 sampai Rp20 ribu.

Ditanya omzet, Johansyah tak bisa memastikan. "Yang penting jalan saja usaha saya," timpalnya. Meski demikian, ia mengaku pelanggannya sudah lumayan banyak. "Orang luar kota Banjarmasin sering ke sini juga. Rata-rata pelajar dan mahasiswa," tambahnya.

Tapi menjual buku dan majalah jelas bukan pilihan tepat menjadi kaya. Untuk menambah pundi-pundi uang ia juga berdagang beras dan tanaman hias. Tumpang tindih dengan kios buku. "Ini usaha sambilan saja. Saya juga membuka kelas pembelajaran Bahasa Arab," ceritanya.

Johanstah adalah penggemar HB Jassin dan Goenawan Muhammad, penggagas Majalah Tempo.

Karya-karya HB Jassin seperti Darah Laut, Angkatan 66' hingga kerja dokumentasinya merawat kesusastraan Indonesia terus diikutinya.

Begitu pula dengan karya-karya Goenawan Muhammad. Ini terbukti dengan tumpukan majalah dwi mingguan Tempo yang menumpuk di kiosnya.

"Memang suka majalah ini. Catatan Pinggir Goenawan Muhammad apalagi. Keempat serinya saya lahap habis," katanya.

Dari kecintaannya membaca buku, ia ingin menyemai virus membaca lewat "Buku Djadoel". Johansyah merasa resah. Ia juga prihatin dengan minat baca masyarakat yang kian merosot.

"Makanya juga dijual murah. Akses bahan bacaan itu yang penting di tengah era digital seperti sekarang," terang Johansyah.

Biar tahu saja, sebelum memulai usaha Buku Djadoel, Johansyah hanyalah pedagang nasi goreng selama bertahun-tahun. Beralih profesi, ia mencoba peruntungan lewat bengkel. Namun, tak kunjung sreg.

"Terakhir coba lewat usaha jual beli buku bekas ini. Sejalan dengan kecintaan saya membaca buku-buku bacaan," tuntasnya. (dom/at/nur)


BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 07:05

Memahami Selera Fashion Leluhur dari Busana Pengantin Banjar Abad 15-19

BANJARMASIN -Mengusung suara dari masa lampau, bukan berarti Kawang Yoedha anti perubahan. Kreasi modern…

Jumat, 19 Oktober 2018 11:17

Mega Proyek Siring Laut, Jaksa Minta Jangan Curang

KOTABARU - Kepala Kejaksaan Negeri Kotabaru, Indah Laila, meminta jangan ada yang curang terkait pekerjaan…

Jumat, 19 Oktober 2018 10:35

Berkenalan dengan Muhammad Fikri, Pemenang Jamang Award 2018

Di ruang tunggu Bandara Syamsuddin Noor, menemani penumpang menanti panggilan keberangkatan, diputar…

Jumat, 19 Oktober 2018 10:01

Berikan Materi Cara Senam Otak dan Bahaya Merokok

PT Arutmin Indonesia Rabu (17/10) tadi berkesempatan mengisi Kelas Inspirasi di SMPN 3 Banjarbaru. Diwakili…

Jumat, 12 Oktober 2018 09:39

Sembilan Pengungsi Palu "Terdampar" di Banjarmasin, Begini Nasibnya

Empat hari bertahan hidup tanpa bantuan. Melihat penjarahan di mana-mana. Sembilan pengungsi berlayar…

Kamis, 11 Oktober 2018 10:43

Hasan Senso, Tokoh Kenamaan Karang Intan Berpulang

Hasan Senso meninggal dalam usia 56 tahun siang kemarin di Desa Mandiangin Barat, Kabupaten Banjar.…

Senin, 08 Oktober 2018 13:51

Kisah Maidian yang Mencari Kabar Istri dan Anak di Sulteng

Palu dan Banjarmasin jaraknya jauh sekali. Getaran gempa di Sulawesi Tengah, tak sampai ke kota ini.…

Jumat, 05 Oktober 2018 10:38

Slamet Ingatkan Hak Kaum Difabel Lewat Puisi

Ini pengalaman pertama Slamet Riyadi dalam menulis puisi. Nilai sastranya memang tidak wow. Tapi, puisi…

Senin, 01 Oktober 2018 11:17

Nobar Film G30S/PKI, Memahami Sejarah Lewat Film

BANJARMASIN - Mengenang dan memahami sejarah. Itulah misi dari nonton bareng film G30S/PKI yang digelar…

Minggu, 30 September 2018 11:18

Perkantoran Pemprov Kalsel Dijadikan Wisata Edukasi

Menjelang Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38, kawasan Perkantoran Setdaprov Kalsel di Banjarbaru, disulap…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .