MANAGED BY:
SENIN
21 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 31 Juli 2018 15:03
Mengenang Jasa Transportasi Getek, Berawal dari Lima Puluh Perak
MASIH BERTAHAN: Hasan melawan zaman dengan bertahan menjadi pengayuh jukung getek. Sejak tahun 1975, ia sudah mem bantu warga menyeberang Sungai Martapura. | Foto: Donny Muslim/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Jasa transportasi jukung getek dilindas zaman. Hasan memilih jalan sunyi. Bertahan dengan sampan tua, menyeberangkan penumpang sejak tahun 1975.

DONNY MUSLIM, Radar Banjarmasin

Antara gelombang sungai dan bisingnya suara mesin kelotok. Di Sungai Martapura, Hasan (60) tampak masih bisa nyengir mengayuh jukung. Membawa penumpang dari Pasar Lima, menuju dermaga penyeberangan Gang Ketawa, Kelayan Luar, Banjarmasin Tengah.

Lelaki tua ini membuka jasa penyeberangan getek sejak 1975. 30 tahun setelah Indonesia merdeka. Dari tarif Rp50 per sekali penyeberangan, hingga sekarang mencapai Rp2.000.

"Awalnya dulu banyak yang buat jasa seperti ini. Sekarang, tinggal saya sendiri," cerita Hasan sambil menunjuk jukung tua miliknya. Sebelum era 2000-an, jasa jukung getek bahkan bisa beroperasi sampai malam hari.

Umur sampan milik Hasan yang saat ini dia pakai sudah lebih 4 tahun. Warna fisiknya mulai redup. Penuh tambalan seng.

Itu bukan sampan pertama Hasan. Dia sudah sering menggantinya. Jumlahnya tak terhitung.

Sampan ini dibelinya seharga Rp1,25 juta. Itu pun bekas. Membeli perahu baru jelas sudah kelewat mahal. Harganya bisa mencapai Rp5 juta.

Penghasilan Hasan sehari-hari jelas tidaklah banyak. Rata-rata cuma ada 10-15 penumpang. Kalah saing dengan transportasi darat. Juga perahu kelotok yang harganya serupa.

"Tapi, syukurnya masih ada saja yang memakai jasa saya," ujarnya. Biasanya, buruh-buruh angkut Pasar Pagi yang menjadi langganan tetap Hasan. Penghasilannya bertambah lantaran sekaligus diminta mengangkut barang lewat jukung.

Pelanggan lainnya datang dari warga Muara Kelayan. Yang kepengin menyeberang menuju Pasar Lima. "Tapi, karena ada penggusuran Muara Kelayan, penumpang jelas berkurang," ujarnya.

Mengapa Hasan bertahan dengan usahanya? Jawabnya miris: itulah pilihan satu-satunya. Alias ia tak kuat lagi jika melakoni pekerjaan berat lainnya.

Sekarang, di daerah Muara Kelayan cuma Hasan yang masih bertahan dengan profesinya. Mangkal di dermaga kayu reot Gang Ketawa, pukul 09.00 pagi hingga 16.00 Wita. Menjelang petang, ia mesti mengayuh sampannya lagi menuju kawasan Kelayan B, menuju rumah. Waktu tempuhnya sekitar satu jam.

"Ya beginilah. Kawan-kawan satu per satu pergi. Meninggal dunia serta banting setir usaha. Saya saja yang masih tinggal di sini," ucapnya.

Tuntas ngobrol, gerimis datang. Hasan juga mesti mengangkut penumpang lagi. "Ini mengangkut kecap menuju Pasar Lima sama ada penumpang juga," katanya.

Hasan melepas ikatan sampan. Dia perlahan mengayuh meninggalkan dermaga. Menyeberang menuju kawasan Pasar Lima bersama boks botol kecap. Gerimis makin menjadi-jadi. Di tengah Sungai Martapura, Hasan masih saja bisa nyengir. (dom/at/nur)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*