MANAGED BY:
RABU
24 JULI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 01 Agustus 2018 15:12
Cerita Adittya Regas, Penulis Muda Asal Banjarmasin

Gagal Move On Lahirkan Buku

PENULIS MUDA: Adittya Regas bersama bukunya Elegi di sebuah kafe di Jalan Ahmad Yani kilometer 3, Senin malam. | Foto: Tia Lalita Novitri/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Patah hati tak lantas melarutkan Adittya Regas (23) dalam kesedihan. Sajak-sajak pilu yang tadi berkecamuk di kepala berubah menjadi karya. Lewat lembar-lembar buku Elegi, kegalauan itu mendatangkan royalti.

TIA LALITA NOVITRI, Banjarmasin

Senin (30/7) malam, kami berjumpa di sebuah kafe di Jalan Ahmad Yani kilometer tiga. Sengaja membuat janji, hanya untuk berbincang-bincang. Topiknya, jelas soal buku terbaru yang ia tulis.

Belakangan, buku ini ramai diperbincangkan. Oleh sebuah akun humor di Instagram dengan follower lebih dari setengah juta.

Pemuda itu berpakaian kasual. Dengan tatanan rambut rapi, khas lelaki masa kini. Dia berjalan santai menuju meja kami. Tangan kanannya memegang secangkir kopi. Sementara yang kiri, menggenggam tas kecil berwarna putih.

Pembicaraan pun mengalir. Adittya kemudian memamerkan karyanya. Buku seukuran komik, dengan ketebalan sedang, keluar dari tas mini tadi. Hanya 146 halaman. Ringan dan yang jelas sampulnya eye catching.

Adittya lebih suka menyebut bukunya sebagai upaya penebus dosa. Setelah setahun lamanya ia vakum menelurkan karya. Lantaran jenuh dengan capaian target di blog miliknya. "Bertahun-tahun aku bikin tulisan sampah. Hanya untuk mengejar iklan dan visitor," ucapnya.

Elegi pun tercetus. Digarap sejak November 2017. Buku itu ditulis dengan menarik benang merah: pertemuan adalah perpisahan yang menunggu waktu. Adittya memang dikenal melankolis. Ia mencap dirinya sebagai penulis yang gagal move on.

Menggaet tiga penulis muda asal Banjarmasin: Sajaklama, Dha'il dan Lily Diana, penulisan dikerjakan dalam waktu empat bulan. Masuk tahap editing. Dengan mengandalkan penerbit asal Yogyakarta, Raditeens Publisher. Buku itu rampung pertengahan Juni tadi.

Buku indie ini dipasarkan dari mulut ke mulut. Tak lupa mengandalkan media sosial. Keempat penulis itu memang sudah mengantongi follower ribuan. Adittya sengaja tak memakai penerbit mayor. Yang memasarkan bukunya lewat outlet-outlet ternama. Selain ribet, pembagian royaltinya juga sedikit.

Belum tiba di Banjarmasin, Elegi sudah habis dipesan. Awalnya hanya 80 eksemplar. Sebulan berjalan, setidaknya 200 buku sudah diproduksi.

Buku ini bahkan terjual hingga ke luar pulau. Riau, Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta. "Dari Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura pun ramai membeli," ucapnya.

Buku ontologi puisi itu dijual dengan harga Rp35 ribu. Royalti penjualan sepenuhnya diserahkan untuk amal. Sebab, tujuan utama Adittya dan kawan-kawan bukanlah laba. Melainkan melahirkan karya fisik. "Per satu buku royaltinya Rp15 ribu. Sepenuhnya disumbangkan untuk Rumah Singgah Anak Kanker," ujarnya.

Terbagi menjadi empat bab, buku ini berisi fase-fase peristiwa. Yang tentu saja lumrah dialami anak muda. Bab pertama berisi sajak tentang pertemuan. Ditulis oleh Sajaklama. Kemudian tentang patah hati pada bab kedua. Penulisnya jelas Adittya. Yang lebih meresapi soal tersakiti. "Apa yang dialami, itu yang paling enak ditulis," ujarnya.

Sedangkan bab ketiga berisi kerinduan. Tentang rasa yang tiba-tiba muncul setelah merasa kehilangan. Ditulis oleh Dha'il. Dan bab terakhir ditulis oleh Lily Diana. Isinya tentang mengikhlaskan dengan cara paling hebat.

"Yang jelas, lewat buku ini aku berharap bisa memantik semangat penulis Banua untuk berkarya," ucapnya.

Menulis bukan hobi kemarin sore bagi Adit. Delapan tahun lalu, lelaki bernama asli Adittya Imansyah itu mulai menulis. Puncaknya ketika ia jenuh dengan suasana magang. Sewaktu masih duduk di bangku SMK Muhammadiyah 3 Banjarmasin dulu.

Blog bernama adittyaregas.com tadinya dibuat untuk kebutuhan tugas. Tiba-tiba berubah fungsi menjadi semacam diari. Tulisan berbau penderitaan anak magang dituangkan. Mulai dari perlakuan buruk oleh waria, diberi tugas semena-mena, bahkan melenceng jauh dari ilmu yang dipelajari. "Disuruh jadi baby sitter, bayar listrik dan macam-macam lagi," kenangnya.

Adittya lantas tergugah untuk membukukan curhatannya. Jadilah buku pertama. Berjudul Diary Anak Magang.

Dia juga aktif di dunia sosial. Bersama kerabatnya, ia membentuk Komunitas Blogger Banua. Wadah bagi penulis blog Banjarmasin untuk berinteraksi. Saling bertukar pikiran.

Lelaki kelahiran Banjarmasin, 23 Desember 1994 itu kemudian membentuk Pena Blogger Banua. Yakni perkumpulan blogger yang ingin mendalami dunia tulisan. Baginya, forum seperti ini penting. Untuk mewadahi penulis berbakat asal Banjarmasin.

"Harapannya pikiran mereka semakin terbuka. Bahwa bikin tulisan menjadi buku itu tidak sulit. Sehingga semakin banyak penulis asal banua yang punya karya fisik," ujarnya. (mr-150/at/nur)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*