MANAGED BY:
JUMAT
22 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 01 Agustus 2018 15:12
Cerita Adittya Regas, Penulis Muda Asal Banjarmasin

Gagal Move On Lahirkan Buku

PENULIS MUDA: Adittya Regas bersama bukunya Elegi di sebuah kafe di Jalan Ahmad Yani kilometer 3, Senin malam. | Foto: Tia Lalita Novitri/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Patah hati tak lantas melarutkan Adittya Regas (23) dalam kesedihan. Sajak-sajak pilu yang tadi berkecamuk di kepala berubah menjadi karya. Lewat lembar-lembar buku Elegi, kegalauan itu mendatangkan royalti.

TIA LALITA NOVITRI, Banjarmasin

Senin (30/7) malam, kami berjumpa di sebuah kafe di Jalan Ahmad Yani kilometer tiga. Sengaja membuat janji, hanya untuk berbincang-bincang. Topiknya, jelas soal buku terbaru yang ia tulis.

Belakangan, buku ini ramai diperbincangkan. Oleh sebuah akun humor di Instagram dengan follower lebih dari setengah juta.

Pemuda itu berpakaian kasual. Dengan tatanan rambut rapi, khas lelaki masa kini. Dia berjalan santai menuju meja kami. Tangan kanannya memegang secangkir kopi. Sementara yang kiri, menggenggam tas kecil berwarna putih.

Pembicaraan pun mengalir. Adittya kemudian memamerkan karyanya. Buku seukuran komik, dengan ketebalan sedang, keluar dari tas mini tadi. Hanya 146 halaman. Ringan dan yang jelas sampulnya eye catching.

Adittya lebih suka menyebut bukunya sebagai upaya penebus dosa. Setelah setahun lamanya ia vakum menelurkan karya. Lantaran jenuh dengan capaian target di blog miliknya. "Bertahun-tahun aku bikin tulisan sampah. Hanya untuk mengejar iklan dan visitor," ucapnya.

Elegi pun tercetus. Digarap sejak November 2017. Buku itu ditulis dengan menarik benang merah: pertemuan adalah perpisahan yang menunggu waktu. Adittya memang dikenal melankolis. Ia mencap dirinya sebagai penulis yang gagal move on.

Menggaet tiga penulis muda asal Banjarmasin: Sajaklama, Dha'il dan Lily Diana, penulisan dikerjakan dalam waktu empat bulan. Masuk tahap editing. Dengan mengandalkan penerbit asal Yogyakarta, Raditeens Publisher. Buku itu rampung pertengahan Juni tadi.

Buku indie ini dipasarkan dari mulut ke mulut. Tak lupa mengandalkan media sosial. Keempat penulis itu memang sudah mengantongi follower ribuan. Adittya sengaja tak memakai penerbit mayor. Yang memasarkan bukunya lewat outlet-outlet ternama. Selain ribet, pembagian royaltinya juga sedikit.

Belum tiba di Banjarmasin, Elegi sudah habis dipesan. Awalnya hanya 80 eksemplar. Sebulan berjalan, setidaknya 200 buku sudah diproduksi.

Buku ini bahkan terjual hingga ke luar pulau. Riau, Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta. "Dari Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura pun ramai membeli," ucapnya.

Buku ontologi puisi itu dijual dengan harga Rp35 ribu. Royalti penjualan sepenuhnya diserahkan untuk amal. Sebab, tujuan utama Adittya dan kawan-kawan bukanlah laba. Melainkan melahirkan karya fisik. "Per satu buku royaltinya Rp15 ribu. Sepenuhnya disumbangkan untuk Rumah Singgah Anak Kanker," ujarnya.

Terbagi menjadi empat bab, buku ini berisi fase-fase peristiwa. Yang tentu saja lumrah dialami anak muda. Bab pertama berisi sajak tentang pertemuan. Ditulis oleh Sajaklama. Kemudian tentang patah hati pada bab kedua. Penulisnya jelas Adittya. Yang lebih meresapi soal tersakiti. "Apa yang dialami, itu yang paling enak ditulis," ujarnya.

Sedangkan bab ketiga berisi kerinduan. Tentang rasa yang tiba-tiba muncul setelah merasa kehilangan. Ditulis oleh Dha'il. Dan bab terakhir ditulis oleh Lily Diana. Isinya tentang mengikhlaskan dengan cara paling hebat.

"Yang jelas, lewat buku ini aku berharap bisa memantik semangat penulis Banua untuk berkarya," ucapnya.

Menulis bukan hobi kemarin sore bagi Adit. Delapan tahun lalu, lelaki bernama asli Adittya Imansyah itu mulai menulis. Puncaknya ketika ia jenuh dengan suasana magang. Sewaktu masih duduk di bangku SMK Muhammadiyah 3 Banjarmasin dulu.

Blog bernama adittyaregas.com tadinya dibuat untuk kebutuhan tugas. Tiba-tiba berubah fungsi menjadi semacam diari. Tulisan berbau penderitaan anak magang dituangkan. Mulai dari perlakuan buruk oleh waria, diberi tugas semena-mena, bahkan melenceng jauh dari ilmu yang dipelajari. "Disuruh jadi baby sitter, bayar listrik dan macam-macam lagi," kenangnya.

Adittya lantas tergugah untuk membukukan curhatannya. Jadilah buku pertama. Berjudul Diary Anak Magang.

Dia juga aktif di dunia sosial. Bersama kerabatnya, ia membentuk Komunitas Blogger Banua. Wadah bagi penulis blog Banjarmasin untuk berinteraksi. Saling bertukar pikiran.

Lelaki kelahiran Banjarmasin, 23 Desember 1994 itu kemudian membentuk Pena Blogger Banua. Yakni perkumpulan blogger yang ingin mendalami dunia tulisan. Baginya, forum seperti ini penting. Untuk mewadahi penulis berbakat asal Banjarmasin.

"Harapannya pikiran mereka semakin terbuka. Bahwa bikin tulisan menjadi buku itu tidak sulit. Sehingga semakin banyak penulis asal banua yang punya karya fisik," ujarnya. (mr-150/at/nur)


BACA JUGA

Kamis, 21 Februari 2019 11:28

Kasuari Mobil Listrik Jajal Hutan Kalimantan

Kasuari adalah mobil listrik karya anak negeri. Sedang menjelajahi Indonesia,…

Kamis, 21 Februari 2019 09:11

Fatmathalia Ranti Wakili Kalsel di Ajang Puteri Indonesia

BANJARMASIN - Fatmathalia Ranti tak setenar model-model ternama di Banjarmasin.…

Senin, 18 Februari 2019 09:34

Amira Amelia, Cewek Banjarmasin yang Menaklukkan Ibukota

Jika Anda penggemar FTV, maka familiar dengan wajah cantik ini.…

Kamis, 14 Februari 2019 11:20

Menilik Pembuatan Wayang Kulit Banjar di Kabupaten HST

Taufik Rahman Hidayat tak hanya piawai memainkan Wayang Kulit Banjar.…

Senin, 11 Februari 2019 10:11

Mengenal Nadia Asfaq, Atlet Senam & Dance Calon Guru BK

Namanya Nadia Asfaq. Berusia 22 tahun. Dia berdarah Pakistan yang…

Senin, 11 Februari 2019 10:04

Dakwah Sang Sultan di Tanah Banjar

Sultan Suriansyah. Begitula judul yang tertera pada cover buku ini.…

Kamis, 07 Februari 2019 10:47

Pasang Surut Bisnis Jual Beli Sepeda Bekas di Banjarbaru

Di tengah gaya & gengsi yang kian menjadi-jadi. Ternyata peminat…

Senin, 04 Februari 2019 12:07

Petani Buat Kipas Pendingin Menggunakan Barang Bekas

Ahmad Rifani (29) punya inovasi supaya jumlah hewan ternak yang…

Senin, 04 Februari 2019 10:00

Konflik Perebutan Takhta Negara Daha

Penonton berteriak histeris, sembari bertepuk tangan. Pangeran Samudera akhirnya memenangkan…

Sabtu, 02 Februari 2019 10:45

Smart Mikroskop SMK Telkom Banjarbaru

Kecanggihan elektronik yang ada saat ini tak disia-siakan SMK Telkom…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*