MANAGED BY:
MINGGU
16 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 01 Agustus 2018 15:12
Cerita Adittya Regas, Penulis Muda Asal Banjarmasin

Gagal Move On Lahirkan Buku

PENULIS MUDA: Adittya Regas bersama bukunya Elegi di sebuah kafe di Jalan Ahmad Yani kilometer 3, Senin malam. | Foto: Tia Lalita Novitri/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Patah hati tak lantas melarutkan Adittya Regas (23) dalam kesedihan. Sajak-sajak pilu yang tadi berkecamuk di kepala berubah menjadi karya. Lewat lembar-lembar buku Elegi, kegalauan itu mendatangkan royalti.

TIA LALITA NOVITRI, Banjarmasin

Senin (30/7) malam, kami berjumpa di sebuah kafe di Jalan Ahmad Yani kilometer tiga. Sengaja membuat janji, hanya untuk berbincang-bincang. Topiknya, jelas soal buku terbaru yang ia tulis.

Belakangan, buku ini ramai diperbincangkan. Oleh sebuah akun humor di Instagram dengan follower lebih dari setengah juta.

Pemuda itu berpakaian kasual. Dengan tatanan rambut rapi, khas lelaki masa kini. Dia berjalan santai menuju meja kami. Tangan kanannya memegang secangkir kopi. Sementara yang kiri, menggenggam tas kecil berwarna putih.

Pembicaraan pun mengalir. Adittya kemudian memamerkan karyanya. Buku seukuran komik, dengan ketebalan sedang, keluar dari tas mini tadi. Hanya 146 halaman. Ringan dan yang jelas sampulnya eye catching.

Adittya lebih suka menyebut bukunya sebagai upaya penebus dosa. Setelah setahun lamanya ia vakum menelurkan karya. Lantaran jenuh dengan capaian target di blog miliknya. "Bertahun-tahun aku bikin tulisan sampah. Hanya untuk mengejar iklan dan visitor," ucapnya.

Elegi pun tercetus. Digarap sejak November 2017. Buku itu ditulis dengan menarik benang merah: pertemuan adalah perpisahan yang menunggu waktu. Adittya memang dikenal melankolis. Ia mencap dirinya sebagai penulis yang gagal move on.

Menggaet tiga penulis muda asal Banjarmasin: Sajaklama, Dha'il dan Lily Diana, penulisan dikerjakan dalam waktu empat bulan. Masuk tahap editing. Dengan mengandalkan penerbit asal Yogyakarta, Raditeens Publisher. Buku itu rampung pertengahan Juni tadi.

Buku indie ini dipasarkan dari mulut ke mulut. Tak lupa mengandalkan media sosial. Keempat penulis itu memang sudah mengantongi follower ribuan. Adittya sengaja tak memakai penerbit mayor. Yang memasarkan bukunya lewat outlet-outlet ternama. Selain ribet, pembagian royaltinya juga sedikit.

Belum tiba di Banjarmasin, Elegi sudah habis dipesan. Awalnya hanya 80 eksemplar. Sebulan berjalan, setidaknya 200 buku sudah diproduksi.

Buku ini bahkan terjual hingga ke luar pulau. Riau, Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta. "Dari Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura pun ramai membeli," ucapnya.

Buku ontologi puisi itu dijual dengan harga Rp35 ribu. Royalti penjualan sepenuhnya diserahkan untuk amal. Sebab, tujuan utama Adittya dan kawan-kawan bukanlah laba. Melainkan melahirkan karya fisik. "Per satu buku royaltinya Rp15 ribu. Sepenuhnya disumbangkan untuk Rumah Singgah Anak Kanker," ujarnya.

Terbagi menjadi empat bab, buku ini berisi fase-fase peristiwa. Yang tentu saja lumrah dialami anak muda. Bab pertama berisi sajak tentang pertemuan. Ditulis oleh Sajaklama. Kemudian tentang patah hati pada bab kedua. Penulisnya jelas Adittya. Yang lebih meresapi soal tersakiti. "Apa yang dialami, itu yang paling enak ditulis," ujarnya.

Sedangkan bab ketiga berisi kerinduan. Tentang rasa yang tiba-tiba muncul setelah merasa kehilangan. Ditulis oleh Dha'il. Dan bab terakhir ditulis oleh Lily Diana. Isinya tentang mengikhlaskan dengan cara paling hebat.

"Yang jelas, lewat buku ini aku berharap bisa memantik semangat penulis Banua untuk berkarya," ucapnya.

Menulis bukan hobi kemarin sore bagi Adit. Delapan tahun lalu, lelaki bernama asli Adittya Imansyah itu mulai menulis. Puncaknya ketika ia jenuh dengan suasana magang. Sewaktu masih duduk di bangku SMK Muhammadiyah 3 Banjarmasin dulu.

Blog bernama adittyaregas.com tadinya dibuat untuk kebutuhan tugas. Tiba-tiba berubah fungsi menjadi semacam diari. Tulisan berbau penderitaan anak magang dituangkan. Mulai dari perlakuan buruk oleh waria, diberi tugas semena-mena, bahkan melenceng jauh dari ilmu yang dipelajari. "Disuruh jadi baby sitter, bayar listrik dan macam-macam lagi," kenangnya.

Adittya lantas tergugah untuk membukukan curhatannya. Jadilah buku pertama. Berjudul Diary Anak Magang.

Dia juga aktif di dunia sosial. Bersama kerabatnya, ia membentuk Komunitas Blogger Banua. Wadah bagi penulis blog Banjarmasin untuk berinteraksi. Saling bertukar pikiran.

Lelaki kelahiran Banjarmasin, 23 Desember 1994 itu kemudian membentuk Pena Blogger Banua. Yakni perkumpulan blogger yang ingin mendalami dunia tulisan. Baginya, forum seperti ini penting. Untuk mewadahi penulis berbakat asal Banjarmasin.

"Harapannya pikiran mereka semakin terbuka. Bahwa bikin tulisan menjadi buku itu tidak sulit. Sehingga semakin banyak penulis asal banua yang punya karya fisik," ujarnya. (mr-150/at/nur)


BACA JUGA

Sabtu, 15 Desember 2018 12:50

Sisi Lain Pelatih Tinju kalsel, Arbain

Menjadi pelatih tinju rupanya bukan satu-satunya pekerjaan yang digeluti oleh…

Sabtu, 15 Desember 2018 09:55

Berawal Ketiadaan Toilet Buat Kencing, Berdirilah Galeri Unik Ini

Apa yang dilakukan oleh warga RT 05 RW 02 Kelurahan…

Jumat, 14 Desember 2018 14:46

Moses Sulap Puing Kayu Menjadi Seni Bernilai Tinggi

Beri Moses Foresto puing-puing kayu, dia bisa menjadikannya apa saja.…

Kamis, 13 Desember 2018 13:20

Bekali Santri Keterampilan Untuk Hadapi Tantangan Zaman

Nyantri bukan melulu tentang ngaji. Di Pondok Pesantren Nurul Muhibbin,…

Sabtu, 08 Desember 2018 11:45

Tidak Mudah, Honorer Ini Pantau CCTV di Menara Pandang Hingga Larut Malam

Di depan layar monitor yang lebarnya tak lebih lebar dari…

Sabtu, 08 Desember 2018 09:03
Kisah Bocah-bocah Penjual Buku Mewarnai di Banjarmasin

Demi Sesuap Nasi Mereka Sampai Dikejar-Kejar Satpol PP

Mobil partoli Satpol PP Kota Banjarmasin melintas di perempatan Jalan…

Jumat, 07 Desember 2018 11:31

Jejak Laskar Pelangi di Banua (2)

Belajar di gudang kecil kadang membuat siswa SD Dusun Munggu…

Kamis, 06 Desember 2018 13:02

Jejak Laskar Pelangi di Banua

Hanya 12 siswa dan satu gedung kecil. Tapi mereka semangat…

Rabu, 05 Desember 2018 12:25

Gol A Gong Berbagi Motivasi ke Penulis Muda Balangan

Yang mengalami masa remaja di era 80’ dan 90’ an,…

Rabu, 05 Desember 2018 10:10

Wahh!! Rabiul Awal Jadi Bulan Rezeki Pengrajin Mahar Pernikahan

Rabiul Awal atau bulannya Maulid Nabi pada penanggalan Hijriah, menjadi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .