MANAGED BY:
KAMIS
17 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Jumat, 10 Agustus 2018 15:07
Lagi-Lagi, Napi Edarkan Sabu, Tapi Kali ini di Luar Lapas
JANGGAL: Lembaga Pemasyarakatan Kotabaru tempat Marsudi ditahan. Marsudi bisa keluar lapas untuk menjual sabu. | Foto: Zalyan Shodiqin Abdi/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, KOTABARU - Banyak yang menyebut narkotika di Indonesia dikendalikan dari balik penjara. Hal ini ada benarnya. Kamis kemarin Marsudi Rahmat, seorang napi di Lembaga Pemasyarakatan (lapas) Kotabaru ditangkap polisi karena menjual sabu. Hebatnya, dia bisa leluasa keluar lapas untuk menemui pembeli!

Tertangkapnya bandar dalam lapas ini berawal dari pengembangan kasus yang dilakukan Polsek Pulau Laut Utara.

Rabu (8/9) siang, Kapolsek Pulau Laut Utara Inspektur Satu Iksan Prananto memimpin tiga personelnya dengan satu buah mobil ke pusat kota. Tepatnya di Pasar Limbur Raya.

Iksan dapat laporan dari warga ada juru parkir pasar yang akan menjual sabu kepada pelanggannya. Sekitar pukul 12.00, Syahruddin, juru parkir yang pernah ditahan kasus kriminal umum itu terlihat melenggang di tengah pasar.

Berbekal data yang valid, setelah sebelumnya melakukan pengintaian, Iksan langsung membuka pintu mobil, anak buahnya ikut turun. Mereka menyergap Syahruddin.

Satu melawan empat polisi muda, Syahruddin kelahiran Kotabaru tahun 1986 itu tidak berkutik. Di sakunya ditemukan satu paket sabu seberat 0,22 gram.

Aksi Iksan itu ramai ditonton warga di pasar. “Astaga menjual sabu kah dia itu? Bahaya benar. Dijual ke mana itu ya?,” tanya seorang warga yang melihat kejadian.

Polisi kemudian menanyakan Syahruddin. “Di mana beli, sama siapa, di jual ke mana, siapa-siapa terlibat? Dengan bujuk rayu dan iming-iming ini dan itu, Syahruddin membeberkan semua yang diketahuinya.

Pemuda yang tinggal di Titian Beringin Kelurahan Kotabaru Tengah itu mengaku, beli sabu dari sindikat lama. Namanya Marsudi Rahmat, sekarang status narapidana di tahanan Lapas II B Kotabaru.

Siapa Marsudi Rahmat? Dia adalah salah satu sindikat pengedar zenith Higa Gunung Kotabaru. Sindikat ini membuat heboh Kotabaru pada Mei 2016 silam. Polres Kotabaru saat itu berhasil mengungkap pengedar raksasa zenith dan dextro di Kabupaten Kotabaru. Puluhan ribu pil jadi barang bukti.

Mendengar nama tenar, polisi yang memainkan peran baik membujuk Syahruddin menelepon Marsudi. “Kamu bilang, beli lagi tiga paket,” suruh polisi.

Syahruddin mengambil hape Nokia warna hitamnya. Marsudi mengangkat panggilan itu. Transaksi dilakukan. Deal nya: pesan tiga paket sabu, ketemu di Gang Karya Utama.

Sekitar pukul 14.30, Iksan dan tiga personilnya mengintai di dalam mobil dekat Gang Karya Utama. Gang itu sekitar puluhan meter saja dari Lapas Kotabaru.

Tidak lama datang Masrudi memakai sepeda motor roda dua. Dia mengenakan jeans, dan baju kaos oblong. Tidak terkesan kalau narapidana.

Belum masuk gang, brak....! Iksan cepat buka mobil memburu Marsudi. Tiga personel cepat mengepung. Terjadi perlawanan singkat. Tapi empat lawan satu, pria asal Ngawi kelahiran 1981 itu menyerah.

Ditemukan tiga paket sabu masing-masing seberat 0,97 gram di saku kanannya. Juga sebuah hape Nokia hitam persis milik Syahruddin. Hape biasa, tanpa layanan internet.

Iksan kepada Radar Banjarmasin, Kamis (9/8) kemarin mengatakan. Operasi mereka tersebut salah satu rangkaian Antik Intan 2018.

Kasus ini sudah dilimpahkan dari Polsek ke Polres Kotabaru. Kepala Satuan Narkoba Ajun Komisaris Polisi Margono membenarkan, Marsudi adalah salah satu jaringan sindikat Higa Gunung. Kasus kata dia masih didalami.

Mengapa bisa Marsudi bebas keliaran sementara masa tahanannya belum habis? Kalapas Kotabaru Hartomo, kemarin sore mengaku tidak tahu persis. “Saya waktu itu ke Tanah Bumbu meninjau proyek pengerjaan Lapas di sana. Sore baru tahu,” ujarnya.

Kata dia Marsudi adalah satu dari lima orang tahanan pendamping (Tanping). Tanping memang bisa ke luar tahanan. “Tapi biasanya dekat saja ke depan itu. Ke tempat laundry baju,” aku Hartomo.

Marsudi sudah dua tahunan mendekam di Lapas. Desember 2018 masa bebas dia. Dijadikan Tanping kata Hartomo berangkat dari usulan tim pengawasan dan pengendalian, terdiri dari orangorang internal Lapas.

Syarat jadi Tanping kata Hartomo minimal sudah menjalani masa tahanan setengah dari total masa tahanan. Berkelakuan baik. Belum pernah melanggar kode etik atau pelanggaran berat lainnya. Sebelum jadi Tanping juga harus ada jaminan keluarga.

Tanping tidak harus ada kata Hartomo. Tapi di Lapas Kotabaru jumlah petugas terbatas. Tahanan sekarang berisi total 1.119 orang. Normalnya kapasitas Lapas hanya mampu menampung 180 orang. Maka diberlakukan kebijakan Tanping.

Tugas Tanping lima orang di Lapas, umumnya membantu petugas. Ada yang bersihkan halaman depan di luar tembok penjara, ada yang ke tempat tukang cuci baju. Kadang jika tenaga mereka diperlukan bisa bantu-bantu acara pemerintah, seperti bantu kegiatan benah-benah alat panggung. Jika bantu kegiatan pemerintah begitu, mereka kata Hartomo diupah.

Lanjutnya, para Tanping selama ini baik-baik saja. “Saya tidak tahu apa yang terjadi. Kami juga belum bisa menanyai dia, karena masih ditahan,” ucapnya. Untuk internal katanya, sudah digelar sidang.

Ditanya soal baju kaos yang dikenakan Tanping Marsudi, Hartomo mengatakan, aturannya dia memakai baju khusus. Bertulisan warga binaan Lapas Kotabaru. Lima Tanping tambahnya diawasi satu petugas Lapas. “Harusnya dua. Tapi petugas kita terbatas.”

Apakah tidak ada orang dalam terlibat, Hartomo menyerahkan kepada polisi. “Silakan polisi menyelidik. Kami terbuka. Kalau ada yang terbukti, kami akan jalankan sikap sesuai prosedur,” pungkasnya seraya menambahkan belum ada polisi menyelidik ke Lapas. (zal/by/ran)

Marsudi Rahmat


BACA JUGA

Kamis, 17 Januari 2019 18:33

Bagi Bupati ini, Radar Banjarmasin Penyemangat Pengelolaan Lingkungan  

TANJUNG -- Bupati Tabalong H Anang Syakhfiani tersenyum ketika melihat…

Kamis, 17 Januari 2019 13:16

Spanduk dan Baliho Dimana-Mana, Pemandangan Kota Makin Semrawut

BANJARMASIN - Musim kampanye tiba, pemandangan kota pun semrawut. Spanduk…

Kamis, 17 Januari 2019 13:08

DBD Capai Dua Ribu Kasus di Tahun 2018

BANJARMASIN - Wabah Demam Berdarah benar-benar meneror masyarakat Banua. Jumlah…

Kamis, 17 Januari 2019 12:59

Berita Duka, Mukhtar Sarman Tutup Usia

BANJARBARU - Dunia pendidikan Banua sedang berduka. Dosen Fakultas Ilmu…

Kamis, 17 Januari 2019 12:55

Pergantian Komandan Korem 101/Antasari

Komandan Korem 101/Antasari kini dijabat Kolonel Inf Mohammad Syech Ismed.…

Kamis, 17 Januari 2019 11:25

Penyandang Disabilitas Daftarkan Diri Sebagai Relawan Demokrasi KPU

BANJARBARU - Sejak dibuka dari tanggal 11 Januari lalu. Pendaftaran…

Kamis, 17 Januari 2019 11:20

Hati-Hati!! DLH Akan Mulai Terapkan Sanksi Perda Sampah

BANJARBARU - Sukses meraih Penghargaan Adipura tahun 2018. Pemko Banjarbaru…

Kamis, 17 Januari 2019 11:14

Pihak Ketiga Tidak Lagi Dilibatkan

BANJARBARU - Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pengelolaan Perparkiran yang…

Kamis, 17 Januari 2019 10:25

Polemik Pajak Tempat Hiburan Malam

Pada sidak ke THM beberapa waktu lalu, Komisi II DPRD…

Kamis, 17 Januari 2019 10:15

Lonjakan Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan Sepanjang Tahun 2018

BANJARMASIN - Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*