MANAGED BY:
SELASA
13 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 11 Agustus 2018 12:52
Kehidupan Veteran di Ujung Banua, Ketua LVRI Masih Harus Jualan Minyak Tanah
MASIH BERJUANG: Ketua LVRI Kotabaru Imran Ahmad menjual minyak tanah dan tabung gas 3 kilogram untuk menutupi biaya hidup. | Foto: Zalyan S Abdi/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Irman Ahmad pernah merasakan desingan peluru penjajah. Di usia tua nya kini, dia berjualan minyak tanah, menutupi biaya keluarga sehari-hari. Tidak ada perayaan hari veteran di Pulau Laut.

ZALYAN SHODIQIN ABDI, Pulau Laut

USIANYA sudah 90 tahun. Tua tapi terlihat sehat. Masih gesit menuang minyak gas ke dalam jeriken isi lima liter, saat melayani pembeli.

Irman Ahmad adalah Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Cabang Kabupaten Kotabaru. Ditemui di kediamannya, di Wiramartas sekitar 1,5 kilometer dari pusat kota, dia mengaku tidak acara bagi pejuang veteran Kotabaru.

"Kami dengar di daerah lain ada. Tapi di sini tidak ada," tuturnya dengan suara yang jelas.

Padahal kata Irman sudah banyak veteran yang meninggal. Sekarang tinggal sisasisanya. Ada yang terdaftar sebagai veteran resmi, tapi ada juga yang belum diakui karena masalah administrasi.

"Sekitar 30 orang yang terdaftar. Tapi banyak juga yang tidak. Mau urus itu tahun dulu bayar, satu jutaan. Banyak yang tidak mampu bayar," kenangnya.

Mereka yang tidak terdaftar itu katanya juga para pejuang. Seperti dirinya di masa muda. Di bawah komando Hasan Basri. Berjuang dengan banyak saksi mata, meski hanya gerilya dengan mandau atau bambu runcing.

Empat tahun Irman Ahmad berjuang. Dimulai saat dia berusia 18 tahun. Tepatnya di tahun 1945. Yang dia ingat pernah menyerang tentara Jepang dari belakang. Tapi tidak mampu berhadapan langsung, dalam pertempuran terbuka, karena kalah senjata.Caranya serang dari belakang, mundur. Ada peluang serang lagi, diberondong peluru mundur lagi ke hutan.

Ketika Pulau Laut sudah bebas ancaman, kehidupan pemuda pulau kembali normal. Masingmasing mencari pekerjaan untuk makan. Imran muda kerja apa saja yang penting halal.

Tahun 1960 menikah dia dengan gadis lokal. Salaiyah namanya. Waktu berputar cepat tidak terasa. Di usia paruh bayanya, dikaruniai lima orang anak, biaya hidup Imran semakin besar. Dia kerja semampunya, bawa belta (gerobak, red) jualan kayu bakar dan pekerjaan halal lainnya.

Fisiknya kuat waktu itu. Masih tergambar di usia senjanya. Tahun 1960-an Imran sudah terdaftar sebagai veteran pejuang. Entah tahun berapa dia lupa persisnya, pemerintah memberikan honor, besarnya Rp450 ribu se bulan. Terus naik hingga terakhir zaman Presiden SBY Rp2,25 juta.

Honor itu yang membantu biaya hidup keluarganya. Sekarang uang sebegitu kata dia tidak cukup untuk biaya hidup per bulan. Zaman sekarang semua serba bayar, kebutuhan pokok melambung tinggi.

Beruntung salah satu anaknya sukses jadi pengusaha. Tahun 2015 dia berangkat haji, hasil bantuan anaknya.

Jelang hari kemerdekaan, dia berpesan, supaya pemerintah memperhatikan nasib para pejuang. Yang terdaftar atau yang tidak. "Semua sudah tua. Semoga ada perhatian pemerintah," ujarnya. Dia mengaku sedih melihat beberapa mantan pejuang yang belum terdaftar, beberapa kesulitan masalah ekonominya.

Apa yang disampaikan Irman itu ada benarnya. Belum lama tadi penulis sempat bertemu tokoh tua di Desa Tanjung Tengah Kecamatan Pulau Laut Tanjung Selayar. Di sana tinggal mantan pejuang bernama Pua Kuma, nama aslinya Abdul Latif.

Sayangnya Pua Kuma belum terdaftar sebagai veteran resmi. Masalahnya, di waktu musim pendaftaran, yang mengurus berkas adalah anaknya. Si anak entah bagaimana, ketika berangkat ke kota kehilangan kartu pejuang ayahnya.

Pua Kuma yang kata keluarga diperkirakan lahir 1932, sekarang sudah tidak mampu mendengar dan melihat dengan baik. Waktu itu penulis berbincang dengannya dibantu oleh anaknya Fatmawati. Caranya, Fatmawati menyampaikan pertanyaan penulis dengan cara berbicara keras persis di depan telinga bapaknya.

Sekarang Pua Kuma banyak habiskan waktu sendiri di pondok samping rumah utama. Dia rajin salat. Jika hari cerah, dia ke kebun menebas gulma. (by/in)


BACA JUGA

Senin, 12 November 2018 12:52
Berita Tenaga Kerja Indonesia

Hongkong Paling Banyak, Baru Arab Saudi

September tadi, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banjarmasin bersama BP3TKI…

Sabtu, 10 November 2018 11:34

Mengenang Gugurnya Sembilan Syuhada 9 November 1945 di Banua

Abdul Majid, lahir sepuluh tahun setelah penyerangan 9 November 1945.…

Jumat, 09 November 2018 08:35

Kisah Pengrajin Arang Asal Banjarbaru Ciptakan Alat Musik dari Arang

Lima tahun bergelut sebagai pengrajin dan wirausaha arang, Narwanto berpikir…

Kamis, 08 November 2018 13:07

Kala Dua Penyandang Tunanetra Raih Juara Literasi Tingkat Nasional

Memiliki keterbatasan, tak menghentikan dua penyandang tunanetra: Ikhsanul Sodikin, 17,…

Selasa, 06 November 2018 14:50

Sungai Baru Larut dalam Nostalgia Layar Tancap

Layar tancap adalah hiburan rakyat. Orang juga menyebutnya dengan misbar…

Jumat, 02 November 2018 10:50

Ada yang Jadi Mata Pilot, Ada yang Penjaga Cuaca

BANJARBARU - Bandara adalah sebuah dunia sendiri. Dengan ribuan orang yang…

Jumat, 26 Oktober 2018 15:28

Menanti Hujan Turun di Pulau Laut, PDAM Andalkan Empang...Eh Waduk

Doa PDAM minta hujan rupanya masih tertahan di langit. Pulau…

Rabu, 24 Oktober 2018 12:32

Lagu "Insya Allah" Fadly Padi Sejukkan Ribuan Napi

Lapangan besar Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Banjarbaru memutih. Ribuan…

Minggu, 21 Oktober 2018 07:05

Memahami Selera Fashion Leluhur dari Busana Pengantin Banjar Abad 15-19

BANJARMASIN -Mengusung suara dari masa lampau, bukan berarti Kawang Yoedha…

Jumat, 19 Oktober 2018 11:17

Mega Proyek Siring Laut, Jaksa Minta Jangan Curang

KOTABARU - Kepala Kejaksaan Negeri Kotabaru, Indah Laila, meminta jangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .