MANAGED BY:
SENIN
21 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Jumat, 17 Agustus 2018 16:05
Minim Museum, Peninggalan-Peninggalan Sejarah Berdebu di Banua
TAK TERURUS: Meriam yang ditemukan di Jalan Sudirman diletakkan di halaman kantor dekat balaikota. (kanan) Meriam saat ditemukan di Jalan Sudirman, 8 Agustus 2016 silam. | Foto: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Memiliki sejarah yang kaya, Kalimantan Selatan tak punya museum untuk menyimpannya. Bahkan jika punya, tak ada yang mau membuatnya. Inilah ironi kemerdekaan.

Matahari beranjak ke barat saat gancu Suparno menghantam benda keras. Pekerja proyek di Jalan Sudirman Banjarmasin itu mendesah. Dia mengira baru saja menghantam pipa ledeng PDAM pada 8 Agustus 2016 itu

Saat terus menggali, dia dan dua temannya terpekik. Benda keras yang disangka pipa itu ternyata sebuah meriam. Terbuat dari besi solid sepanjang hampir tiga meter. Pekerjaan dihentikan sementara, tetapi para pekerja tak kuasa mencoba mengangkat benda.

Publik Banua pun heboh. Esoknya, sebuah eksavator akhirnya mengevakuasi benda bersejarah itu ke balaikota Banjarmasin. Walikota Banjarmasin Ibnu Sina mengatakan pihaknya menunggu penelitian dari Badan Arkeologi tentang statusnya. "Tapi kalau tak ada nilai historisnya, mending jadi pajangan saja di Balai Kota,” katanya kala itu.


Kini dua tahun berlalu, dan meriam kuno itu masih tergeletak di halaman kantor BPBD Kota Banjarmasin di samping Balai Kota. Benda bersejarah itu terlihat menyedihkan terhimpit parkir roda dua serta mobil. " Harusnya sudah diangkut. Jangan dibiarkan tergeletak begini," kata Nafi, petugas Damkar Banjarmasin kepada wartawan.

Peneliti sejarah dari Lembaga Kajian Sejarah, Sosial, dan Budaya (LKS2B) menyayangkan sikap Pemko Banjarmasin mengenai perlakuan pejabat mengelola benda bersejarah.

"Sebelumnya, kami sudah melayangkan surat hasil kajian independen dari kami. Serta sudah memberikan rekomendasi. Tapi sampai sekarang tak ada tindak lanjut," ujar Ketua LKS2B, Mansyur.

Dosen sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ULM ini memberi rekomendasi meriam itu mestinya ditaruh saja di museum yang ada di Kota Banjarmasin. Atau diperlakukan secara semestinya dengan menaruhnya sebagai landmark di depan balai kota. "Harus sesuai nilai-nilai arkeologis. Agar nilai historisnya tidak hilang," cetusnya.

Dari riset independen yang dilakukan oleh LKS2B, meriam itu dipastikan meriam milik penjajah Belanda yang terletak di Benteng Tatas. Bukan dibuat langsung oleh masyarakat lokal atau meriam nusantara.

"Tipe khas meriam kolonial dengan panjang 100-300 cm. Bisa ditemukan di abad ke-18 di situs-situs kolonial Belanda lainnya," kata Mansyur.

Meriam ini masuk dalam tipe stronghold cannon. Atau tipikal meriam pertahanan yang digunakan penjajah untuk bikin repot musuh yang bakal menyerang ke Benteng Tatas.

"Jadi, harusnya diabadikan untuk membuktikan masyarakat kita pernah melawan meriam-meriam sebesar ini," tandasnya.

Sementara itu, Kabid Kebudayaan Disbudpar Kota Banjarmasin, Zulfaisal mengaku meriam itu belum menjadi bagian dari tugas pihaknya. Sejak ditemukan di sela-sela proyek Siring Sudirman, meriam memang diletakkan di halaman Kantor BPBD Kota Banjarmasin dan tak dipindahkan. "Bagian umum Pemko belum menyerahkan langsung kepada kami," tuntas Zulfaisal.

Jauh sebelum meriam di Sudirman ditemukan, beberapa meriam ditemukan di tahun 1980. Saat itu pemerintah sedang membangun situs Masjid Sabilal Muhtadin. Muhammad Mugni, 72 tahun yang diwawancarai Radar Banjarmasin 2016 silam mengatakan, dia melihat sendiri meriam-meriam itu. "Jumlahnya empat atau lima buah. Bentuknya persis seperti meriam ini. Lokasinya di halaman masjid," ucap mantan Kepala Dinas Kebudayaan Kesenian dan Pariwisata Banjarmasin itu.

Banjarmasin memang kerepotan. Berusia hampir lima abad, sampai sekarang ibukota tua Kalsel itu belum memiliki museum kota. Berkali-kali Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina mengungkapkan tekadnya untuk mewariskan sebuah museum kota. "Kita butuh museum untuk menjelaskan sejarah kota ini," pungkasnya.


Lokasi incaran sudah ada. Yakni rumah bergaya tua yang terkena pembebasan lahan di Jalan Teluk Kelayan. Awalnya, rumah berukuran 8x15 meter itu hendak dibongkar untuk lanjutan proyek siring. Belakangan, Ibnu meminta rumah itu diselamatkan. Kepastian museum pun kembali mengambang.

Sebenarnya, tak sepenuhnya benar jika disebut Banjarmasin tak ada museum. Meski tak populer, ada Museum Waja Sampai Kaputing (Wasaka) di Kelurahan Sungai Jingah, Banjarmasin Utara. Sayangnya, museum ini seperti tak diperhatikan. Berdebu dalam sejarah.

Tidak ada ornamen merah putih atau perayaan khusus bahkan pada momen-momen tujubelasan. Padahal, museum ini menampilkan perjuangan rakyat Kalsel pada masa revolusi fisik 1945, pergulatan sebenar-benarnya masyarakat Banua merebut kemerdekaan NKRI.

Muksin, Pengelola Museum Wasaka mengaku kegiatan yang paling mentok dilakukan hanyalah perayaan 17-an dari kalangan pelajar. "Kalau dari pihak pemerintah, tidak ada perayaan. Dari sekolah-sekolah saja," bebernya. Ditanya kenapa, ia merasa tak punya wewenang menjawab.

Ia berharap bangunan museum yang bergaya arsitektur Bubungan Tinggi ini diperluas. Lantaran masih ada koleksi yang masih belum bisa ditampilkan oleh pihak museum.

"Nggak ada ruang lagi. Harusnya ditambah luasan bangunannya. Untuk diketahui, total koleksinya yang berhasil kami dapatkan ada 1000 benda dari masa perjuangan revolusi fisik. Tapi yang tertampung cuma sekitar 500 benda," ungkapnya.

Belum lagi benda-benda peninggalan masa perjuangan revolusi fisik yang belum diserahkan oleh ahli waris kepada pihak museum. "Ahli waris benda-benda bersejarah itu kebanyakan di Kandangan, Hulu Sungai Selatan. Kalau diambil semua, bisa nggak muat. Ya kebijakan memperluas bangunan ini tergantung atasan kami saja," tukasnya.

Muksin juga berharap Museum Wasaka bisa lebih luwes dengan fitur-fitur digital plus interaktif. "Kalau bisa, ada virtual museum dan tombol pencet penjelasan koleksi. Jadi pihak pengelola tak lagi repot menjelaskan. Apalagi kalau sudah berhadapan dengan turis asing. Saya nggak bisa bahasa Inggris," tuntasnya.

Museum yang berada di pinggiran Sungai Martapura ini dibagi dibagi menjadi tiga sekat. Bagian luarnya dicat warna hijau tua, bagian dalam ruangan diberi sentuhan warna coklat tua.

Sampai sekarang total koleksinya ada 1000 benda bersejarah. Menampilkan peta pertempuran, senjata tradisional dan modern, peralatan markas Divisi IV ALRI, dokumen perlawanan terhadap penjajah, bengkel senjata, serta perlengkapan dapur para pejuang.

S Kabid Kebudayaan Disdikbud Pemprov Kalsel, Ahmad Subakti mengakui memang rehab Museum Wasaka memang jarang dilakukan. "Namun, dari sekarang, kami mulai menginisiasi renovasi secara bertahap. Tahun ini atap dan cat ruangan dulu," kata Subakti.

Bukti pengabaian dari pemerintah bisa dilihat dari hampir jarangnya museum di banua. Kabupaten Banjar, daerah yang pernah mencatatkan nilai historis tinggi, juga tak punya museum.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjar Haris Rifani mengakui hal itu. Dia mengatakan ada aturan ketat untuk membuat museum. Seperti tersedianya sumber daya manusia dan artefak, serta ongkos besar merawat peninggalan sejarah tersebut.
“Banjar tahun ini baru mengirim 7 orang masuk pendidikan peneliti budaya, mereka dari unsur arkeolog, pamong budaya, sejarah, dan teknik arsitektur. Mereka ini cikal bakal menyiapkan sebuah museum, awalnya siapkan sumber daya,” kata Haris Rifani, kemarin (16/8) siang.

Kabupaten tetangga, Tapin juga bernasib sama. Padahal, seperti kabupaten Banjar, banyak peninggalan bersejarah di sana.
" Tidak adanya museum di Tapin, karena masih belum skala kebutuhan untuk masyarakat," ucap K abid Kesenian Disbudpar Tapin Ibnu Mas'ud, Kamis (16/8).

Dia mengatakan masyarakat yang ingin mengetahui sejarah peninggalan di Kabupaten Tapin, bisa datang ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Tapin.

Di Balangan, museum juga jadi situs langka. Sebagai daerah yang masuk dalam jalur lintasan Kolonial Belanda pada masa penjajahan, di Kabupaten Balangan terdapat beberapa bukti sejarah yang masih ada hingga sekarang. Benda yang ditemui beberapa tahun terakhir seperti meriam tangan milik tentara Belanda, sejumlah koin yang digunakan Belanda dalam berdagang dan lainnya masih ada.

Namun sayang, sampai saat ini belum ada museum yang didirikan oleh pemerintah setempat sebagai sarana untuk menyimpan bukti sejarah tersebut. Kasi Cagar Budaya Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan Kabupaten Balangan, Helda mengakui memang pembangunan museum masih dalam tahap wacana dan belum pernah diajukan secara resmi dalam APBD.

Begitu juga di Kotabaru tidak ada museum untuk menyimpan peninggalan sejarah. Kalau pun ada benda sejarah, rata-rata masih ada di lapangan. Seperti meriam peninggalan penjah Belanda yang ditaruh di depan kantor bupati

Dari penelusuran Radar Banjarmasin berkas jejak sejarah beberapa disimpan di Perpustakaan dan Arsip Daerah. Kabid Pembinaan Arsip Umar Dani mengatakan, di tempatnya hanya ada reproduksi foto-foto masa lalu, salah satunya foto rel kereta api tambang batubara zaman belanda.

"Kalau bekas bangunan masa lalu masih ada di lapangan. Seperti makam belanda. Kalau benda lainnya sepertinya ada museum Banjarmasin atau Banjarbaru," ujarnya.

Ditanya mengapa tidak ada museum di Kotabaru, pejabat senior ini mengaku tidak tahu. Tapi katanya, memang sejak zaman pemerintahan yang lama tidak ada terdengar rencana membuat museum.

Kabupaten Tanah Laut tak kalah suram. Mereka juga tak punya museum. Bupati Tanah Laut (Tala) Terpilih Sukamta mengatakan baru akan memikirkan hal itu. "Kami memikirkan itu, agar generasi mendatang mengenal sejarah Kota Pelaihari," jelasnya. (dom/fud/mam/dly/why/zal/ard/ay/ran)


BACA JUGA

Minggu, 20 Januari 2019 14:22

Warga Amaco Tagih PLN Perbaikan Elektronik yang Rusak

BANJARBARU - Hampir dua pekan sudah kejadian rusaknya peralatan elektronik…

Minggu, 20 Januari 2019 14:05

Sudah Masuk DPT, Tapi Bagaimana Napi Kenali Para Caleg?

BANJARMASIN - Kampanye di dalam lapas dan rutan jelas dilarang.…

Minggu, 20 Januari 2019 13:57

Balai Jalan Khawatirkan Kondisi Jalan Pulau Pinang

BANJARMASIN - Jalan Ahmad Yani menjadi rute vital yang bakal…

Minggu, 20 Januari 2019 13:11

50 Hari Jelang Haul Guru Sekumpul, Beberapa Jalan Perlu di Tambal dan Penerangan

MARTAPURA - Menghadapi Haul ke-14 Abah Guru Sekumpul, sangat banyak…

Minggu, 20 Januari 2019 12:52

Menengok Kawasan Rumah Disabilitas Milik Pemko

Diresmikan pada April 2018, kini tempat tinggal di kawasan Rumah…

Minggu, 20 Januari 2019 12:38

Paman Birin di Anugerahi Alumni Berprestasi

Keluarga Besar SMAN 5 (Smali) Banjarmasin menganugerahkan alumni berprestasi kepada…

Minggu, 20 Januari 2019 11:40

Sungai Kemuning Bakal Diservis Penuh

BANJARBARU - Pembangunan siring di sepanjang Sungai Kemuning terus berjalan.…

Minggu, 20 Januari 2019 11:33

Pengelola Indekos Mulai Terapkan Jam Malam

BANJARBARU – Pernah mendapati pasangan belum menikah di indekos yang…

Minggu, 20 Januari 2019 11:17

Belum Genap Sebulan Bupati Banjar Kembali Rombak Kabinetnya

MARTAPURA - Tak sampai satu bulan, Bupati Banjar H Khalilurrahman…

Minggu, 20 Januari 2019 10:52

PJN Kalsel Siapkan Jalur Alternatif Untuk Warga Alalak

BANJARMASIN - Proses pembangunan Jembatan Alalak kian terlihat. Sebagian dinding…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*