MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Minggu, 19 Agustus 2018 18:24
Di Belakang Layar Seorang Dalang: Hidupnya Tak Sekocak Wayangnya
DALANG: Dalang Saidi tampak terharu. Ketika banyak mahasiswa, wartawan dan penikmat seni mengerumuninya.

PROKAL.CO, Orang Kalimantan hanya mengenal satu Wayang Kulit. Namanya Wayang Kulit Banjar. Di pedesaan Hulu Sungai, kesenian ini masih mengakar kuat. Sementara pegiatnya hidup dengan sederhana.

=========================

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

=========================

FESTIVAL Karasminan Banua Seribu Sungai ditutup dengan pertunjukan Wayang Kulit Banjar semalam suntuk. Dimulai sejak Jumat (17/8) malam setelah isya. Dan baru berakhir menjelang Sabtu (18/8) subuh.

Tamunya adalah Sanggar Kumajaya dari Hulu Sungai Selatan. Para penonton duduk lesehan di halaman belakang Taman Budaya Kalsel, Jalan Hasan Basry. Di luar dugaan, penontonnya kebanyakan anak muda.

Dalang Saidi Rahman tak bisa menutupi kegembiraannya. "Sudah lama kami menantikannya. Ini penampilan perdana kami di Taman Budaya Kalsel. Biasanya manggung di depan warga desa saja," ujarnya.

Kumajaya biasanya tampil untuk meramaikan acara perkawinan. Dia sadar, di pedesaan, kesenian ini memang masih punya banyak penggemar. Tapi di kota yang punya bioskop, wayang kerap dituding kuno.

Karena itulah, Dalang Saidi tampak terharu. Ketika banyak mahasiswa, wartawan dan penikmat seni mengerumuninya. "Senang saja. Banyak juga ternyata yang mau datang," ujar lelaki gondrong tersebut.

Pria 42 tahun itu belajar mendalang sejak tamat SMP. Berguru pada Dalang Muni di Desa Tabihi, Kandangan. "Selama 20 tahun saya berguru kepada beliau," kenangnya.

Ditanya apa bedanya Wayang Kulit Banjar dengan Wayang Kulit Jawa, Dalang Saidi merunutnya satu demi satu. Pertama, ukuran wayang di sini lebih kecil. "Milik kita separuhnya saja dari milik Jawa," ujarnya.

Kedua, komponen nada. Wayang Kulit Jawa mengenal dua jenis musik, Salindro dan Belok. Sedangkan Wayang Kulit Banjar hanya memainkan Salindro.

Ketiga, isi cerita. Wayang Kulit Jawa saklek pada pakem Mahabrata dan Ramayana. "Kami juga mengambil tokoh-tokoh dari cerita Mahabrata dan Ramayana. Tapi sudah digubah dalam carangan (karangan sendiri)," jelasnya.

Dan keempat, ini yang paling mudah dikenali, menggunakan Bahasa Banjar. Meski begitu, tak mudah untuk mencerna tuturan dalang. Seolah-olah, mereka menggunakan versi Bahasa Banjar yang lebih tua.

Beberapa kosa kata sudah jarang terdengar di Banjarmasin. Lantaran bahasa percakapan sehari-hari kita telah campur aduk dengan Bahasa Indonesia.

Wajar Kulit Banjar juga punya dua peruntukan. Untuk karasminan atau hiburan semata. Atau tatamba, alias penyembuhan penyakit dan ritual pengusiran roh jahat.

Selagi wawancara berlangsung, kami ditemani Aidil Akbar. Dia adalah Sekretaris Persatuan Pedalangan Indonesia Cabang Kalsel. Aidil mengatakan, nasib grup wayang di Kalsel semakin membaik.

"Bandingkan dengan era tahun 90-an, kondisinya jauh mendingan. Dulu dalam setahun bisa dihitung dengan jari. Sekarang dalam sebulan mereka bisa tampil empat kali," ujarnya.

Penyebabnya, pemerintah mulai melirik dan memberi perhatian. Setelah budayawan dan seniman rajin memperingatkan. Bahwa ada sejumlah kesenian tradisional yang terancam punah.

"Yang hebat, di Pulau Kalimantan hanya ada satu wayang. Miliknya orang Banjar. Orang Kalteng, Kalbar dan Kaltim enggak punya. Makanya pas festival wayang nasional, Kalsel sudah diakui," tukasnya.

Sayang, fakta itu tak berbanding lurus dengan taraf kesejahteraan dalang dan sanggarnya. "Ya, meski rajin tampil, secara ekonomi masih berat. Tak mudah untuk bertahan hidup dengan wayang," imbuh.

Pernyataan Aidil tak mengada-ada. Penulis melihat, alat-alat musik yang digunakan sanggar ini sudah uzur. Beberapa juga sudah layak diganti.

Faktor lain, mungkin karena sanggar wayang di sini belum memahami seluk-beluk bisnis pertunjukan. Ambil contoh tentang cara mematut diri di depan penonton. Dalang dan pemain musiknya lebih mirip peronda malam. Yang datang ke panggung dengan muka kurang tidur.

Mana dalang dan mana pemusik juga sulit dibedakan. Mereka mengenakan kaus, jaket parasut, topi baseball dan jins. Bahkan, ada yang mengenakan celana pendek futsal. Bandingkan misalnya dengan tetangga di Jawa. Dalang tampil bak pesolek. Kemasan menjadi perkara krusial.

Soal lain, Aidil juga menilai Wayang Kulit Banjar lebih tertutup dari perubahan. "Di Jawa, dalang sudah menerima sorot lampu listrik. Di Banjar, mereka masih kukuh bertahan dengan lampu blincung (teplok)," tukasnya.

Maka jangan heran jika wayang-wayang kulit yang dibawa Dalang Saidi menghitam karena jelaga. Namun, penolakan itu masuk akal. Kobaran api dari blincung membuat wayang terasa lebih hidup. Bayangan wayang memanjang dan memendek. Mengabur dan menjelas. Bergoyang-goyang ditiup angin.

Panitia kemudian menggelar tikar. Tanda pertunjukan bakal dimulai. Malam ini, Sanggar Kumajaya memainkan carangan berjudul Pembabatan Padang Tuna Tiris. Mengisahkan titah Prabu Darma Kesuma kepada keluarga Semar.

Instruksinya adalah membersihkan hutan rimba Tuna Tiris. Demi memperluas wilayah Negara Amarta. Untuk menunaikan tugas tersebut, Semar dibantu ketiga anaknya; Petruk, Gareng dan Bagong. Dalam perjalanan, mereka harus bertarung dengan jin penunggu hutan.

Dengan suara cempreng, Dalang Saidi mengajak penonton untuk tertawa hingga terpingkal-pingkal. Melihat laku Semar dan kawan-kawan yang kocak. Sesekali penonton diajak diam dan merenung. Menyimak petuah Prabu Darma yang bersumber dari ajaran agama.

Dari balik layar, Dalang Saidi dan delapan pemusiknya tampil bak kesurupan. Pertunjukan dibuka dengan pukulan gong, gendang dan sarun yang bertenaga. Penolong mereka sampai subuh nanti hanyalah kopi dan kretek.

"Itulah mengapa saya mencintai pertunjukan ini. Para senimannya hidup sederhana, mungkin sedikit melarat. Tapi mereka setia. Puluhan tahun bergiat menghidupi Wayang Kulit Banjar," kata Wahyu, salah seorang penonton. (fud/nur/ema


BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2018 11:17

Mega Proyek Siring Laut, Jaksa Minta Jangan Curang

KOTABARU - Kepala Kejaksaan Negeri Kotabaru, Indah Laila, meminta jangan ada yang curang terkait pekerjaan…

Jumat, 19 Oktober 2018 10:35

Berkenalan dengan Muhammad Fikri, Pemenang Jamang Award 2018

Di ruang tunggu Bandara Syamsuddin Noor, menemani penumpang menanti panggilan keberangkatan, diputar…

Jumat, 19 Oktober 2018 10:01

Berikan Materi Cara Senam Otak dan Bahaya Merokok

PT Arutmin Indonesia Rabu (17/10) tadi berkesempatan mengisi Kelas Inspirasi di SMPN 3 Banjarbaru. Diwakili…

Jumat, 12 Oktober 2018 09:39

Sembilan Pengungsi Palu "Terdampar" di Banjarmasin, Begini Nasibnya

Empat hari bertahan hidup tanpa bantuan. Melihat penjarahan di mana-mana. Sembilan pengungsi berlayar…

Kamis, 11 Oktober 2018 10:43

Hasan Senso, Tokoh Kenamaan Karang Intan Berpulang

Hasan Senso meninggal dalam usia 56 tahun siang kemarin di Desa Mandiangin Barat, Kabupaten Banjar.…

Senin, 08 Oktober 2018 13:51

Kisah Maidian yang Mencari Kabar Istri dan Anak di Sulteng

Palu dan Banjarmasin jaraknya jauh sekali. Getaran gempa di Sulawesi Tengah, tak sampai ke kota ini.…

Jumat, 05 Oktober 2018 10:38

Slamet Ingatkan Hak Kaum Difabel Lewat Puisi

Ini pengalaman pertama Slamet Riyadi dalam menulis puisi. Nilai sastranya memang tidak wow. Tapi, puisi…

Senin, 01 Oktober 2018 11:17

Nobar Film G30S/PKI, Memahami Sejarah Lewat Film

BANJARMASIN - Mengenang dan memahami sejarah. Itulah misi dari nonton bareng film G30S/PKI yang digelar…

Minggu, 30 September 2018 11:18

Perkantoran Pemprov Kalsel Dijadikan Wisata Edukasi

Menjelang Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38, kawasan Perkantoran Setdaprov Kalsel di Banjarbaru, disulap…

Minggu, 30 September 2018 11:10

Sosok Ummi Maktum Abad Ini (Bagian 2)

Jika tak merasa ditampar oleh cerita ini, artinya iman sedang memerlukan reparasi. Tanpa kedua kaki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .