MANAGED BY:
MINGGU
16 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Sabtu, 25 Agustus 2018 13:29
Bangkitnya Tambang Intan Modern di Banjarbaru, Daerah Tetangga Bakal Kecipratan
BERKARAT: Puluhan Mobil Alat Berat jenis ADT (Articulated Dump Truck) milik PT Galuh Cempaka terparkir di Workshop perusahaan di sekitaran Danau Seran Palam Kecamatan Cempaka Banjarbaru setelah beberapa tahun tidak digunakan.

PROKAL.CO, Lama tak terdengar, nama PT Galuh Cempaka dalam beberapa bulan terakhir kembali mencuat. Kabarnya, perusahaan tambang intan ini bakal kembali beroperasi usai mayoritas sahamnya diambilalih PT Pribumi Citra Megah Utama pada 2017.

Sejarah tambang intan modern di Kota Banjarbaru sebenarnya cukup panjang. Dimulai sejak tahun 1970-an ketika PT Aneka Tambang, badan usaha milik negara (BUMN) yang berdiri pada 1968 melakukan survei di Kecamatan Cempaka, waktu itu masih termasuk wilayah Kabupaten Banjar.

Proyek tambang intan ini mulai diseriusi tahun 1985 dengan dibentuknya perusahaan patungan oleh investor Acorn, Keymeda dan Antam. Selanjutnya pada 1991 sempat dilakukan penambangan terbuka oleh PT Palmabin Mining selama dua tahun, setelah itu proyek kembali diserahkan kepada Antam.

Tahun 1995, kembali terjadi pergantian kepemilikan, Ashton mengambil alih mayoritas saham Acorn JV. Pada 1998 muncul nama PT Galuh Cempaka yang mendapat Kontrak Karya seluas 7.470 hektare, berlokasi di Kota Banjarbaru dan Kabupaten Tanah Laut.

Belum ada operasi tambang, saham PT GC beralih lagi dari Ashton ke Rio Tinto pada Agustus 2000. Setahun kemudian, berpindah tangan lagi ke perusahaan asal Malaysia; BDI yang sempat melaksanakan penelitian selama lima tahun. Lagi-lagi, PT GC berpindah kepemilikan, kali ini ke perusahaan asal Inggris: Gem Diamond.

Di bawah kekuasaan Gem Diamond inilah PT Galuh Cempaka sempat berada di masa kejayaan. Saat itu, perusahaan yang berkantor di Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka ini mendapatkan izin eksploitasi.

Ada tiga lokasi yang sempat ditambang ketika itu, menyisakan tiga danau besar. Yaitu, Danau Caramin, Danau Seran dan Danau Galuh Cempaka.

Kepala Humas PT Galuh Cempaka, Joko Hardiono mengatakan, saat beroperasi PT Galuh Cempaka mengerahkan enam excavator, serta puluhan articulated dump truck (ADT) untuk mengeruk dan mengangkut gravel atau kerikil yang mengandung intan. "Total ada 750 tenaga kerja yang kami serap saat itu," katanya.

Selain itu, dia mengungkapkan, PT Galuh Cempaka juga memiliki tiga unit alat pemilah gravel (batu kerikil); berupa besi berbentuk kawah besar berdiameter 2,5 meter yang didatangkan dari Afrika Selatan. Anggap saja lenggangan raksasa. Karena prinsip kerjanya mirip seperti lenggangan yang biasa digunakan penambang intan tradisional untuk memisahkan intan dengan kerikil dan pasir.

"Dari alat itu, gravel akan dipilah oleh infrared untuk menjadi tiga bagian. Yaitu, intan, emas dan platinum," ungkapnya.

Setelah terpilah, bahan mentah kemudian dikirim ke Jakarta, intan diolah, emas dan platinum dibuat batangan. Joko menuturkan, setiap tahunnya PT Galuh Cempaka mampu memproduksi 3 ribu karat intan, 4 kilogram emas dan 1 kilogram platinum. "Galian utama sebenarnya intan, sementara emas dan platinum merupakan mineral pengikutnya," ujarnya.

Walaupun hasil produksi tak mengecewakan, namun pada 2010 Gem Diamond memilih untuk menghentikan operasi. "Mungkin saat itu, karena harga intan jatuh. Sementara, biaya operasional tinggi," ungkap Joko yang mengaku lupa berapa harga intan ketika itu.

Pria yang bekerja di PT Galuh Cempaka sejak 2007 ini menambahkan, berhenti menambang pada 2010 aktivitas hanya diisi dengan perawatan alat. Sehingga, perusahaan tak lagi menerima pemasukan. "Lantaran tak ada pemasukan, perusahaan memutuskan untuk mem-PHK sebagian karyawan," ucapnya.

Dua tahun berselang, PT Galuh Cempaka kemudian diambilalih oleh Bos Sanex Steel; Tan Harry Tantono. "Tapi, sampai 2017 PT Galuh Cempaka belum juga beroperasi. Setelah itu, diambilalih oleh PT Pribumi Citra Megah Utama," ucapnya.

Di tangan PT Pribumi Citra Megah Utama, PT Galuh Cempaka langsung tancap gas untuk kembali beroperasi. Salah satunya dengan mengurus izin lingkungan. Izin ternyata berhasil mereka dapatkan, setelah Dinas Lingkungan Hidup (LH) Banjarbaru menerbitkan pada tahun ini.

Joko Hardiono mengaku sudah menerima SK izin lingkungan tersebut. Dengan begitu, lengkap sudah perizinan yang mereka kantongi. "Sebelumnya, kami juga sudah menerima izin operasional dan RAB dari Kementrian ESDM. Jadi, kami tidak ada halangan lagi untuk beroperasi," ucapnya.

Dia menyampaikan, saat ini mereka telah mempersiapkan peralatan dan lokasi untuk memulai operasional pada tahun ini. "Lokasi sudah siap, sedangkan untuk peralatannya kami masih menunggu alat x-ray yang berfungsi memilah intan dan pasir. Belum pasti kapan datangnya," ujarnya.

Tahun ini, perusahaan yang kini mereka berencana menggarap 50 hektare lahan di wilayah Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka. "Sebelum menggarap 50 hektare, kami melakukan percobaan lima hektare dulu," ujarnya.

Ke depannya penambangan bakal dilaksanakan di dua daerah yang berada di wilayah Kota Banjarbaru dan Tanah Laut. "Total luas seluruhnya 7.440 hektare. Untuk Kota Banjarbaru 4.440 hektare. Meliputi Kelurahan Palam, Kelurahan Guntung Manggis, serta Kelurahan Bangkal. Kalau Tanah Laut, masih proses panjang," tuturnya.

Apa yang meyakinkan mereka untuk kembali menambang? Meski belum tahu potensi intan yang ada di wilayah PT Galuh Cempaka, Joko yakin masih ada banyak sumber daya di dalamnya. "Daerah sini 'kan dilintasi sungai purba. Nah, dalam ilmu geologi banyak pasir yang mengendap di cekungan sungai purba. Yang kemudian mengandung intan," jelasnya.

Mengenai sistem penambangan, dia menyebut kali ini dilakukan dengan cara pemboran tanpa menggali lapisan tanah. Sehingga, lebih ramah lingkungan. "Kita hanya mengambil lapisan pasir dengan cara boring. Setelah itu dibawa ke tempat pengolahan untuk dipilah, mana yang intan dan mana yang tidak," ungkapnya.

Jika PT Galuh Cempaka beroperasi, apa yang didapatkan daerah dan masyarakat sekitar? Joko menyampaikan, mereka bakal memberikan royalti kepada Pemko Banjarbaru, Pemprov Kalsel dan dua kabupaten terdekat: Kabupaten Banjar dan Tanah Laut. "Royaltinya 10 persen dari penghasilan perusahaan. Jadi, 10 persen akan dibagi; 20 persen untuk pemerintah pusat, 16 persen pemprov, 32 persen Pemko Banjarbaru dan sisanya dibagi dua untuk Banjar dan Tala," ucapnya.

Sedangkan untuk masyarakat sekitar, dia berjanji PT Galuh Cempaka bakal menyisakan 30 persen tempat untuk tenaga lokal. "Kami sesuai aturan, 30 persen tenaga kerja dari warga sekitar. Sementara sisanya dari luar," janjinya.

Sementara itu, Kasi Pemantauan, Pengawasan dan Kajian Dampak Lingkungan Dinas LH Banjarbaru Mila mengatakan, izin lingkungan hidup untuk PT Galuh Cempaka telah mereka terbitkan 25 Juli 2018 tadi. Karena, berdasarkan hasil sidang Komisi AMDAL yang diwakili tim teknis, instansi terkait, perwakilan masyarakat dan LSM. "Dalam sidang itu semua setuju diterbitkannya AMDAL dan SK kelayakan lingkungannya," ungkapnya.

Secara terpisah, Ketua RW 02, Kelurahan Palam Abdul Hadi berharap, dengan kembali beroperasinya PT Galuh Cempaka warga sekitar bisa semakin sejahtera. "Kami minta banyak warga lokal yang dipekerjakan di sana, seperti dulu yang hampir 50 persen," harapnya.

Bukan hanya itu, dia juga ingin gaji yang diberikan juga sesuai UMP. Untuk menunjang kesejahteraan masyarakat sekitar. "Dulu juga sesuai UMP, perbulannya warga lokal digaji Rp1,5 juta," pungkasnya. (ris/by/bin)

loading...

BACA JUGA

Minggu, 16 Desember 2018 12:18

Kampus Tertua Kalsel, ULM Banjarmasin Targetkan Akreditasi A

BANJARMASIN – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin terus meningkatkan akreditasi…

Minggu, 16 Desember 2018 12:12

Smart City Bukan Sekedar Aplikasi Tapi Juga Menyangkut Gaya Hidup

BANJARMASIN – Kota Banjarmasin dan Banjarbaru adalah dua dari 100…

Minggu, 16 Desember 2018 11:46

Antusias, Ratusan Masyarakat Datang Untuk Saksikan Peringatan Hari Juang ke-73

BANJARBARU - Lapangan Murjani, Sabtu (15/12) kemarin tampak meriah. Ratusan…

Minggu, 16 Desember 2018 11:17

Ternyata, Kecamatan Martapura Kota Kasus Tertinggi HIV/AIDS

MARTAPURA - Menjadi daerah berjuluk Serambi Makkah, ternyata tak membuat…

Minggu, 16 Desember 2018 11:03

AIMI Tekankan Pentingnya ASI

BANJARMASIN-Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Wilayah Kalimantan Selatan kembali menggelar…

Minggu, 16 Desember 2018 10:54

Ilung Warnai Festival Jukung, Warga : Jukungnya malah balap-balapan dengan ilung

BANJARMASIN - Festival Jukung 2018 dirundung pampangan enceng gondok. Meski…

Minggu, 16 Desember 2018 10:33

Jengah Dengan Pampangan, Ibnu Buka Sayembara

BANJARMASIN - Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina jengah melihat sampah…

Sabtu, 15 Desember 2018 14:17

Beruntung, Ambruknya Ruang Kelas SMKN 1 Daha Selatan Tidak Makan Korban

KANDANGAN – Satu ruang kelas belajar SMKN 1 Daha Selatan…

Sabtu, 15 Desember 2018 14:09

Tantangan Sebenarnya Larangan Kantong Plastik Ada di Pasar Tradisional

BANJARMASIN - Pemko Banjarmasin mulai melarang penyediaan kantong plastik di…

Sabtu, 15 Desember 2018 14:00

Pembeli Bingung, Habis Belanja Bawanya Gimana!!

Pemko Banjarbaru dalam beberapa pekan terakhir mulai menjalankan kebijakan pengurangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .