MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 05 September 2018 11:13
Jean, Siswi SMAN 2 Banjarmasin Menang Lomba Monolog di Aceh
INGIN KULIAH SENI: Jeanchristy Humaniora Abdi, 16 tahun, dipotret kemarin sore sepulang sekolah. Dia baru saja memenangi lomba seni monolog level nasional di Aceh, akhir Agustus tadi.

PROKAL.CO, Kamera dokumentasi sudah dimatikan. Sebagian penonton juga telah beranjak pulang. Juri pun tampak capek. Mengabaikan semua itu, Jeanchristy Humaniora Abdi naik ke panggung.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

SEPERTI biasa, tepat jam empat sore, Kompleks Pelajar Mulawarman mendadak ramai. Ratusan pelajar menghambur keluar kelas. Sepanjang jalan di luar sekolah dipenuhi para penjemput. Entah orang tua, ojek online, atau sang pacar.

Jean, siswi Kelas XII Jurusan IPA SMAN 2 Banjarmasin, keluar mengenakan jaket jins. Jaket biru pudar itu ditutup rapat-rapat. Jean kena flu, suaranya serak. Kami kemudian memilih kursi di koridor kelas. Di lapangan, masih ada yang bermain basket.

"Sejak SD saya suka membaca puisi. Baru-baru ini saja mulai menggeluti monolog," ujarnya, kemarin (4/9). Sesuai namanya, seni teater ini hanya dimainkan oleh satu orang.

Untuk ukuran seorang pendatang baru, prestasi Jean luar biasa. Dia menyabet Juara II kategori monolog pada Festival Lomba Seni Siswa Nasional 2018. Ajang itu digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, akhir Agustus tadi di Aceh.

Gadis berkulit putih ini lahir di Banjarmasin pada Januari 2002 silam. Dia kini tinggal di Jalan Gatot Subroto, Banjarmasin Timur. Sejak kecil, Jean memang akrab dengan sastra dan teater. Ayahnya, Abdi Rahmat, bergiat di Sanggar Budaya Kalsel. Sekarang, Jean aktif di sanggar sekolah, Teater Pijar Dua.

"Bermain monolog berarti melawan rasa malas dan malu," imbuhnya. Malas karena semua menu latihan, dari vokal, fisik dan pendalaman naskah dilahap seorang diri. Tak ada teman disamping untuk menghibur dan menyemangati.

Malu karena salah sedikit bakal disorot penonton dan kru. Berbeda dengan teater, kesalahan satu-dua aktor bisa saja terlewati atau tertutupi oleh penampilan aktor yang lain. Sedangkan dalam monolog, tak ada ruang untuk sebuah kesalahan. Sekecil apapun.

"Makanya kata orang, kalau ibarat kuliah, monolog baru boleh diajarkan pada semester akhir. Saya meloncat terlalu dini," tukasnya seraya tergelak.

Untuk menuju Aceh, Jean harus menang dulu di level kota. Setelah juara, giliran mewakili kota di level provinsi. Menang lagi dan akhirnya maju ke level nasional. Jean mengaku sangat banyak dibantu sang ayah.

"Pada tingkat kota dan provinsi, bapak cuma kasih saran dan koreksi saja. Setelah maju ke tingkat nasional, baru bapak langsung yang turun tangan melatih," kisahnya.

Tak melulu pendalaman cerita, Jean juga diwajibkan mengikuti latihan fisik. Salah satunya adalah olahraga lari. Kekuatan fisik diperlukan untuk mengurangi risiko cedera selama berada di atas panggung.

Di Gedung PMI Sultan Salim II Banda Aceh, Jean membawakan naskah karya Iswadi Pratama. Judulnya "Dari Tiga Kamar". Monolog ini menceritakan tiga babak kehidupan seorang seniman. Pada babak awal, usia belasan tahun, ia jatuh cinta kepada puisi dan novel.

Memasuki babak pertengahan, usia 30-an, dia menghadapi masalah keuangan yang hebat. Seni ternyata tak banyak mendatangkan rupiah. Ditambah bulian dari keluarga dan teman akibat pilihan hidupnya. Sang tokoh, marah kepada diri sendiri. Berharap semasa muda dulu ia mengambil keputusan yang berbeda.

Pada babak akhir, usia 50-an, dia akhirnya menikmati kesuksesan sebagai penulis. Penyesalan lama telah berlalu. "Monolog ini sulit karena saya harus bolak-balik dari peran remaja, dewasa dan paruh baya," ujarnya.

Dewan juri diisi seniman kawakan Iman Sholeh dan Wawan Sofwan asal Bandung, plus Jose Rizal dari Jakarta. Juara I kemudian disabet pelajar asal Bandung. Jean pada nomor kedua. Apa yang masih kurang pada penampilannya? Pertanyaan itu iseng dia lemparkan kepada juri.

Juri menganggap penampilan Bandung sebagai paket komplet. Properti panggung dan tata musiknya disebut ciamik. Sedangkan penampilan Jean dinilai begitu sederhana. Walaupun, jika ditilik dari segi keaktoran, skor Jean sebenarnya menang telak.

"Saya kalah karena properti panggung yang terlalu sederhana. Juga tanpa musik. Apa boleh buat, kembali lagi pada soal finansial," ujarnya lirih.

Namun, penyesalan terbesarnya bukanlah itu. Melainkan ketiadaan foto atau video yang mendokumentasikan penampilannya. Saat dia tampil, kamera dokumentasi panitia rupanya sudah keburu dimatikan. "Saya adalah penampilan terakhir. Selesai manggung, sudah azan maghrib," tambahnya.

Tampil pada nomor urut terakhir memang yang paling dihindari. Sebab, sebagian kursi penonton sudah mulai kosong. Juri juga mulai lelah setelah seharian penuh menilai peserta lomba. Aktor pun sudah jemu menunggu dipanggil. "Iya, tampil terakhir memang yang paling naas. Tapi syukurnya saya menang," tukas Jean semringah.

Yang pasti, berkompetisi di kancah nasional adalah pengalaman istimewa. Jean mengaku takjub sekaligus minder. Ketika berkumpul bersama seniman muda dari seantero Indonesia. "Apalagi kita tahu, lingkungan berkesenian di Banjarmasin belum sekuat milik kota-kota besar di luar," sebutnya.

Ditanya ambisi kedepan, Jean tersenyum. Dia rupanya tidak ingin terjebak dalam dilema "Dari Tiga Kamar". Jean telah memetik pelajaran bagus dari tokoh yang diperankannya. "Kalau boleh, saya ingin pikir pendek saja. Pengen kuliah di jurusan seni pertunjukan. Itu dulu," tukarnya.

Sembari menunggu ujian akhir sekolah, Jean disibukkan dengan banyak hal. Seperti melukis dan bermain gitar. "Enggak mau memikirkan masa depan sampai terlalu jauh," pungkasnya. (fud/at/nur)


BACA JUGA

Sabtu, 08 September 2018 12:51

Menengok Festival Anggrek 2018 di Taman Kamboja

Apa yang dicari-cari dunia jika melancong ke Kalsel? Jawabannya; anggrek. Bukan tanpa alasan, tanaman…

Sabtu, 08 September 2018 12:48

Memanen Kelapa Sawit, Pekebun Malah Menjerit

Memanen kelapa sawit tidak terlalu menggembirakan bagi pekebun di Kotabaru. Bekerja di bawah terik mentari,…

Rabu, 29 Agustus 2018 10:23

Bosan Tidur di Pengungsian, Pengungsi Lombok Mulai Datangi Kalsel

Pengungsi gempa Lombok mulai berdatangan ke Kalimantan Selatan melalui bandar udara Syamsuddin Noor…

Selasa, 28 Agustus 2018 10:18

Malam terakhir Konser Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Lombok

Konser amal bertajuk Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Penggalangan Dana Gempa Lombok,…

Senin, 27 Agustus 2018 11:20

Melihat Eksistensi Komunitas MGR Pasca Ganti Presiden

Meski telah ditinggalkan presiden sekaligus pendirinya Fitri Zamzam, yang telah berpulang pada November…

Sabtu, 25 Agustus 2018 12:40

Serba-Serbi Festival Budaya Pasar Terapung 2018

Rakyat Indonesia menamainya Serabi. Orang Banjar menyebutnya Apam Batil. Namanya mungkin terdengar tidak…

Jumat, 24 Agustus 2018 14:24

BAKAL CANTIK..!! Bantaran Sungai Martapura akan Ditata

MARTAPURA – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjar membangun Talud di Sisi kiri dan kanan Jembatan…

Jumat, 24 Agustus 2018 11:08

Disodori Buku Berbahasa Inggris, Incar Generasi milenial

Indonesia punya Najwa Shihab. Kalsel punya Eka Chandra Dewi. Dua-duanya punya kesamaan: dinobatkan menjadi…

Selasa, 21 Agustus 2018 08:55

Kisah Subur, Raja Pengamen di Pasar Lama

Jangan pandang remeh pengamen jalanan. Di balik penampilan dekil dan lusuh, tidak sedikit yang menyimpan…

Senin, 20 Agustus 2018 12:10

Serunya Lomba Bakisah Bahasa Banjar di Siring Pierre Tendean

Lomba Bakisah Bahasa Banjar dari Ombudsman Kalsel mengundang gelak tawa sekaligus ironi. Memperlihatkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .