MANAGED BY:
RABU
16 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 05 September 2018 11:13
Jean, Siswi SMAN 2 Banjarmasin Menang Lomba Monolog di Aceh
INGIN KULIAH SENI: Jeanchristy Humaniora Abdi, 16 tahun, dipotret kemarin sore sepulang sekolah. Dia baru saja memenangi lomba seni monolog level nasional di Aceh, akhir Agustus tadi.

PROKAL.CO, Kamera dokumentasi sudah dimatikan. Sebagian penonton juga telah beranjak pulang. Juri pun tampak capek. Mengabaikan semua itu, Jeanchristy Humaniora Abdi naik ke panggung.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

SEPERTI biasa, tepat jam empat sore, Kompleks Pelajar Mulawarman mendadak ramai. Ratusan pelajar menghambur keluar kelas. Sepanjang jalan di luar sekolah dipenuhi para penjemput. Entah orang tua, ojek online, atau sang pacar.

Jean, siswi Kelas XII Jurusan IPA SMAN 2 Banjarmasin, keluar mengenakan jaket jins. Jaket biru pudar itu ditutup rapat-rapat. Jean kena flu, suaranya serak. Kami kemudian memilih kursi di koridor kelas. Di lapangan, masih ada yang bermain basket.

"Sejak SD saya suka membaca puisi. Baru-baru ini saja mulai menggeluti monolog," ujarnya, kemarin (4/9). Sesuai namanya, seni teater ini hanya dimainkan oleh satu orang.

Untuk ukuran seorang pendatang baru, prestasi Jean luar biasa. Dia menyabet Juara II kategori monolog pada Festival Lomba Seni Siswa Nasional 2018. Ajang itu digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, akhir Agustus tadi di Aceh.

Gadis berkulit putih ini lahir di Banjarmasin pada Januari 2002 silam. Dia kini tinggal di Jalan Gatot Subroto, Banjarmasin Timur. Sejak kecil, Jean memang akrab dengan sastra dan teater. Ayahnya, Abdi Rahmat, bergiat di Sanggar Budaya Kalsel. Sekarang, Jean aktif di sanggar sekolah, Teater Pijar Dua.

"Bermain monolog berarti melawan rasa malas dan malu," imbuhnya. Malas karena semua menu latihan, dari vokal, fisik dan pendalaman naskah dilahap seorang diri. Tak ada teman disamping untuk menghibur dan menyemangati.

Malu karena salah sedikit bakal disorot penonton dan kru. Berbeda dengan teater, kesalahan satu-dua aktor bisa saja terlewati atau tertutupi oleh penampilan aktor yang lain. Sedangkan dalam monolog, tak ada ruang untuk sebuah kesalahan. Sekecil apapun.

"Makanya kata orang, kalau ibarat kuliah, monolog baru boleh diajarkan pada semester akhir. Saya meloncat terlalu dini," tukasnya seraya tergelak.

Untuk menuju Aceh, Jean harus menang dulu di level kota. Setelah juara, giliran mewakili kota di level provinsi. Menang lagi dan akhirnya maju ke level nasional. Jean mengaku sangat banyak dibantu sang ayah.

"Pada tingkat kota dan provinsi, bapak cuma kasih saran dan koreksi saja. Setelah maju ke tingkat nasional, baru bapak langsung yang turun tangan melatih," kisahnya.

Tak melulu pendalaman cerita, Jean juga diwajibkan mengikuti latihan fisik. Salah satunya adalah olahraga lari. Kekuatan fisik diperlukan untuk mengurangi risiko cedera selama berada di atas panggung.

Di Gedung PMI Sultan Salim II Banda Aceh, Jean membawakan naskah karya Iswadi Pratama. Judulnya "Dari Tiga Kamar". Monolog ini menceritakan tiga babak kehidupan seorang seniman. Pada babak awal, usia belasan tahun, ia jatuh cinta kepada puisi dan novel.

Memasuki babak pertengahan, usia 30-an, dia menghadapi masalah keuangan yang hebat. Seni ternyata tak banyak mendatangkan rupiah. Ditambah bulian dari keluarga dan teman akibat pilihan hidupnya. Sang tokoh, marah kepada diri sendiri. Berharap semasa muda dulu ia mengambil keputusan yang berbeda.

Pada babak akhir, usia 50-an, dia akhirnya menikmati kesuksesan sebagai penulis. Penyesalan lama telah berlalu. "Monolog ini sulit karena saya harus bolak-balik dari peran remaja, dewasa dan paruh baya," ujarnya.

Dewan juri diisi seniman kawakan Iman Sholeh dan Wawan Sofwan asal Bandung, plus Jose Rizal dari Jakarta. Juara I kemudian disabet pelajar asal Bandung. Jean pada nomor kedua. Apa yang masih kurang pada penampilannya? Pertanyaan itu iseng dia lemparkan kepada juri.

Juri menganggap penampilan Bandung sebagai paket komplet. Properti panggung dan tata musiknya disebut ciamik. Sedangkan penampilan Jean dinilai begitu sederhana. Walaupun, jika ditilik dari segi keaktoran, skor Jean sebenarnya menang telak.

"Saya kalah karena properti panggung yang terlalu sederhana. Juga tanpa musik. Apa boleh buat, kembali lagi pada soal finansial," ujarnya lirih.

Namun, penyesalan terbesarnya bukanlah itu. Melainkan ketiadaan foto atau video yang mendokumentasikan penampilannya. Saat dia tampil, kamera dokumentasi panitia rupanya sudah keburu dimatikan. "Saya adalah penampilan terakhir. Selesai manggung, sudah azan maghrib," tambahnya.

Tampil pada nomor urut terakhir memang yang paling dihindari. Sebab, sebagian kursi penonton sudah mulai kosong. Juri juga mulai lelah setelah seharian penuh menilai peserta lomba. Aktor pun sudah jemu menunggu dipanggil. "Iya, tampil terakhir memang yang paling naas. Tapi syukurnya saya menang," tukas Jean semringah.

Yang pasti, berkompetisi di kancah nasional adalah pengalaman istimewa. Jean mengaku takjub sekaligus minder. Ketika berkumpul bersama seniman muda dari seantero Indonesia. "Apalagi kita tahu, lingkungan berkesenian di Banjarmasin belum sekuat milik kota-kota besar di luar," sebutnya.

Ditanya ambisi kedepan, Jean tersenyum. Dia rupanya tidak ingin terjebak dalam dilema "Dari Tiga Kamar". Jean telah memetik pelajaran bagus dari tokoh yang diperankannya. "Kalau boleh, saya ingin pikir pendek saja. Pengen kuliah di jurusan seni pertunjukan. Itu dulu," tukarnya.

Sembari menunggu ujian akhir sekolah, Jean disibukkan dengan banyak hal. Seperti melukis dan bermain gitar. "Enggak mau memikirkan masa depan sampai terlalu jauh," pungkasnya. (fud/at/nur)


BACA JUGA

Sabtu, 12 Januari 2019 12:50

Linda Wahyuni, Siswi SMAN 1 Pelaihari Berhasil Lolos ke LIDA 2019

Linda Wahyuni (16), gadis asal Kota Pelaihari ini, berhasil meraih…

Sabtu, 05 Januari 2019 11:31

Lappenka, Grup Band yang Beranggotakan Penghuni Lapas Banjarbaru

Lappenka selalu tampil enerjik. Lagu-lagu all genre dibabat habis. Namun…

Rabu, 02 Januari 2019 14:01

Maskot Legenda Rakyat

Kotabaru memang sudah lama menjadikan ikan todak sebagai maskot. Todak…

Rabu, 02 Januari 2019 10:35

Menelusuri Jejak Monumen Perang Banjar

Jika Anda rajin mengulik arsip foto Banjarmasin tempo dulu di…

Senin, 31 Desember 2018 09:28

Sepi Pengunjung, Pengelola Danau Seran Tiadakan Acara Malam Tahun Baru

BANJARBARU - Masyarakat Kota Banjarbaru kali ini tidak bisa lagi…

Minggu, 30 Desember 2018 10:55

Ibnu Pre Order 300 Keping Album Kedua JEF (2)

PELUNCURAN album Gawi Manuntung dihadiri tamu spesial. Wali Kota Banjarmasin,…

Minggu, 30 Desember 2018 10:50

Album Kedua JEF Lebih Dewasa dan Kritis (1)

JEF Band meluncurkan album baru, Gawi Manuntung. Seratus persen keuntungan…

Rabu, 26 Desember 2018 13:22

Sejarah Kerukunan Beragama Dibalik Berdirinya GKE di Banjarmasin

Sebagai gereja tua di Kalimantan, Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) menyimpan…

Senin, 24 Desember 2018 10:32

Pebiola Cilik Fellycia Sita Perhatian Pengunjung Siring Pierre Tendean

Ada yang tak biasa Siring Pierre Tendean, kemarin (23/12) sore.…

Sabtu, 22 Desember 2018 10:18

Kisah Optimis Pengerajin Terompet di Banjarmasin, Kusnandar

Ini kisah optimis dari seorang penjual terompet. Yang meyakini bahwa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*