MANAGED BY:
SENIN
22 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 08 September 2018 12:48
Memanen Kelapa Sawit, Pekebun Malah Menjerit

Ringkas Jual ke Tengkulak, Harga Ditentukan Pabrik

LEMPAR: Slamet memanen sendiri kebun kelapa sawitnya.

PROKAL.CO, Memanen kelapa sawit tidak terlalu menggembirakan bagi pekebun di Kotabaru. Bekerja di bawah terik mentari, dompet Slamet megap-megap karena harga sawit terjun bebas.

Zalyan Shodiqin Abdi, Kelumpang Hilir

Keringat sebesar biji jagung menitik deras dari badan Slamet. Pria berusia 61 tahun itu memakai topi bundar. Berbaju batik ungu, celana olahraga hitam. Grasak-grusuk di tengan rimbun dedaunan sawit, Jumat (7/9) siang. Di perbatasan Desa Serongga dan Desa Mandala Kecamatan Kelumpang Hilir.

Slamet asyik sendiri memanen kelapa sawit. Buah-buah berwarna kuning kecokelatan itu dipotong tandannya. Diangkut memakai gerobak dorong ban tiga. Kemudian dinaikkan ke atas bak belakang pikap warna putih.

Slamet hanya tinggal bersama istrinya tidak jauh dari sana. Anak semata wayangnya sudah berkeluarga, tidak tinggal bersamanya lagi.

Menanam sawit adalah pilihan realistis bertahun-tahun lalu. Semua warga di desa berbondong-bondong menanam buah penghasil minyak itu.

Bukan tanpa alasan. Jutaan rupiah bisa diraup kala itu hanya dari satu hektare sawit. Dengan perawatan yang tidak sesulit tanaman sayur, warga pun berlomba menanamnya. Pekarangan yang dulu penuh sayur sekarang penuh sawit.

Waktu itu harga buah sawit bisa tembus Rp2.000 per kilogram. Kalau satu hektare sekali panen satu ton, maka pekebun meraup Rp2 juta. Sebulan rata-rata dua kali panen.

Itu dulu, beberapa tahun yang lalu. Sekarang? Slamet menjerit. Harga sekarang sekitar Rp700 per kilogram. "Rugi sekali kalau begini terus," keluhnya.

Mengapa demikian murah? Kata Slamet, begitulah harga yang dipatok pengepul. Pekebun tidak bisa negosiasi. Lambat sedikit masuk pabrik, harganya jatuh lagi. Sawit tak bisa disimpan lama, kandungan minyaknya akan berkurang. Harus cepat diolah.

Kenapa tidak jual ke pabrik saja langsung? Slamet tidak tahu caranya. Dia ambil cara paling ringkas saja. Jual ke tengkulak terdekat. Panen, langsung dibeli.

Namun pria yang terlihat kuat di usia senjanya itu berharap ada perubahan. Bagaimana caranya, dia tidak tahu. Yang penting harga bisa normal, wajar, seperti tingginya permintaan ekspor minyak sawit mentah.

Pengusaha perkebunan kelapa sawit, Imam mengatakan harga rendah bukan salah pengepul. Tapi, pabrik kelapa sawit yang mematok harga di bawah Rp1.000 per kilogram. "Tidak tahu juga. Makanya pengepul juga beli murah. Pabrik murah soalnya membeli," ujarnya.

Dia sepakat ada peran pemerintah agar sawit di tingkat pekebun lokal bisa kembali normal. Harga dolar sedang naik. Mestinya komoditas juga sawit naik. Minyak sawit banyak yang diekspor ke luar negeri.

Kondisi ini membuat pekebun sawit pemula kebat-kebit. "Tidak ada cara lain. Kita harus mandiri. Bikin pabrik sendiri. Susah kalau seperti ini terus," ujar Edy, pengusaha sawit.(az/dye)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*