MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 08 September 2018 12:48
Memanen Kelapa Sawit, Pekebun Malah Menjerit

Ringkas Jual ke Tengkulak, Harga Ditentukan Pabrik

LEMPAR: Slamet memanen sendiri kebun kelapa sawitnya.

PROKAL.CO, Memanen kelapa sawit tidak terlalu menggembirakan bagi pekebun di Kotabaru. Bekerja di bawah terik mentari, dompet Slamet megap-megap karena harga sawit terjun bebas.

Zalyan Shodiqin Abdi, Kelumpang Hilir

Keringat sebesar biji jagung menitik deras dari badan Slamet. Pria berusia 61 tahun itu memakai topi bundar. Berbaju batik ungu, celana olahraga hitam. Grasak-grusuk di tengan rimbun dedaunan sawit, Jumat (7/9) siang. Di perbatasan Desa Serongga dan Desa Mandala Kecamatan Kelumpang Hilir.

Slamet asyik sendiri memanen kelapa sawit. Buah-buah berwarna kuning kecokelatan itu dipotong tandannya. Diangkut memakai gerobak dorong ban tiga. Kemudian dinaikkan ke atas bak belakang pikap warna putih.

Slamet hanya tinggal bersama istrinya tidak jauh dari sana. Anak semata wayangnya sudah berkeluarga, tidak tinggal bersamanya lagi.

Menanam sawit adalah pilihan realistis bertahun-tahun lalu. Semua warga di desa berbondong-bondong menanam buah penghasil minyak itu.

Bukan tanpa alasan. Jutaan rupiah bisa diraup kala itu hanya dari satu hektare sawit. Dengan perawatan yang tidak sesulit tanaman sayur, warga pun berlomba menanamnya. Pekarangan yang dulu penuh sayur sekarang penuh sawit.

Waktu itu harga buah sawit bisa tembus Rp2.000 per kilogram. Kalau satu hektare sekali panen satu ton, maka pekebun meraup Rp2 juta. Sebulan rata-rata dua kali panen.

Itu dulu, beberapa tahun yang lalu. Sekarang? Slamet menjerit. Harga sekarang sekitar Rp700 per kilogram. "Rugi sekali kalau begini terus," keluhnya.

Mengapa demikian murah? Kata Slamet, begitulah harga yang dipatok pengepul. Pekebun tidak bisa negosiasi. Lambat sedikit masuk pabrik, harganya jatuh lagi. Sawit tak bisa disimpan lama, kandungan minyaknya akan berkurang. Harus cepat diolah.

Kenapa tidak jual ke pabrik saja langsung? Slamet tidak tahu caranya. Dia ambil cara paling ringkas saja. Jual ke tengkulak terdekat. Panen, langsung dibeli.

Namun pria yang terlihat kuat di usia senjanya itu berharap ada perubahan. Bagaimana caranya, dia tidak tahu. Yang penting harga bisa normal, wajar, seperti tingginya permintaan ekspor minyak sawit mentah.

Pengusaha perkebunan kelapa sawit, Imam mengatakan harga rendah bukan salah pengepul. Tapi, pabrik kelapa sawit yang mematok harga di bawah Rp1.000 per kilogram. "Tidak tahu juga. Makanya pengepul juga beli murah. Pabrik murah soalnya membeli," ujarnya.

Dia sepakat ada peran pemerintah agar sawit di tingkat pekebun lokal bisa kembali normal. Harga dolar sedang naik. Mestinya komoditas juga sawit naik. Minyak sawit banyak yang diekspor ke luar negeri.

Kondisi ini membuat pekebun sawit pemula kebat-kebit. "Tidak ada cara lain. Kita harus mandiri. Bikin pabrik sendiri. Susah kalau seperti ini terus," ujar Edy, pengusaha sawit.(az/dye)


BACA JUGA

Kamis, 13 September 2018 12:05

YS Agus Suseno, Penyair Banjar Yang Berani Menohok Rezim

Meminjam istilah sastrawan Seno Gumira Ajidarma: ketika jurnalisme dibungkam, maka mestinya sastra harus…

Rabu, 12 September 2018 15:23

Kisah Perajin Miniatur Kapal Pinisi dari Sungai Alalak

Salman tak bisa jauh-jauh dari perahu dan sungai. Semasa bujangan, dia menjadi perajin perahu di Pulau…

Sabtu, 08 September 2018 12:51

Menengok Festival Anggrek 2018 di Taman Kamboja

Apa yang dicari-cari dunia jika melancong ke Kalsel? Jawabannya; anggrek. Bukan tanpa alasan, tanaman…

Rabu, 05 September 2018 11:13

Jean, Siswi SMAN 2 Banjarmasin Menang Lomba Monolog di Aceh

Kamera dokumentasi sudah dimatikan. Sebagian penonton juga telah beranjak pulang. Juri pun tampak capek.…

Selasa, 04 September 2018 13:18

Jasa Datu, Perguruan Kuntau yang Sudah Eksis 32 Tahun Lamanya

Pencak silat sedang naik daun di Asian Games 2018. Di Banua, para pendekar silat ternyata sudah lama…

Kamis, 30 Agustus 2018 10:36

"First Love Never Die"

Hermansyah memutuskan tinggal di panti jompo atas pilihannya sendiri. Sebaliknya, Yulia terpaksa minggat…

Kamis, 30 Agustus 2018 10:33

Yulia Minggat karena Merepotkan

Hermansyah boleh dibilang beruntung. Masih bisa berkumpul keluarga. Masuk panti pun juga atas pilihan…

Rabu, 29 Agustus 2018 10:23

Bosan Tidur di Pengungsian, Pengungsi Lombok Mulai Datangi Kalsel

Pengungsi gempa Lombok mulai berdatangan ke Kalimantan Selatan melalui bandar udara Syamsuddin Noor…

Selasa, 28 Agustus 2018 10:18

Malam terakhir Konser Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Lombok

Konser amal bertajuk Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Penggalangan Dana Gempa Lombok,…

Senin, 27 Agustus 2018 11:20

Melihat Eksistensi Komunitas MGR Pasca Ganti Presiden

Meski telah ditinggalkan presiden sekaligus pendirinya Fitri Zamzam, yang telah berpulang pada November…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .