MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 12 September 2018 15:23
Kisah Perajin Miniatur Kapal Pinisi dari Sungai Alalak

Bermodal Memori Kuat dan Tangan Runcam

EKONOMI KREATIF: Muhammad Yusuf Salman, 53 tahun, saat mengerjakan bagian akhir dari kapal pinisinya. Potongan bambu kecil yang akan menjadi bendera merah putih di puncak layar. | Foto: Syarafuddin/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Salman tak bisa jauh-jauh dari perahu dan sungai. Semasa bujangan, dia menjadi perajin perahu di Pulau Sewangi. Setelah punya cucu, dia beralih menjadi perajin miniatur kapal pinisi di Banua Anyar.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

MUHAMMAD Yusuf Salman sudah kenyang makan asam garam. Boleh diartikan sebagai peribahasa, bisa juga secara harfiah.

Lelaki kelahiran Banjarmasin 12 April 1965 itu memang pernah menjadi nelayan. Paling jauh, dia melaut untuk mencari ikan sampai ke perbatasan Indonesia dan Malaysia.

"Setelah bisnis pembuatan perahu di Sewangi sepi, saya putuskan untuk pergi melaut," ujarnya, kemarin (11/9) pagi.

Tahun 1987, Salman bujangan menjadi perajin jukung dan kelotok di Pulau Sewangi, Kabupaten Barito Kuala. Delta di Sungai Alalak itu merupakan pusat pembuatan kapal tradisional yang legendaris.

Seiring waktu, era keemasan Pulau Sewangi berlalu. Lesunya pesanan perahu itu tak hanya dirasakan satu atau dua bengkel, tapi menimpa semua bengkel di Sewangi.

Agar asap dapur tetap mengepul, banyak perajinnya yang beralih profesi. Tak terkecuali Salman. Dia memutuskan menjadi nelayan.

Meski tak lama, kenangan di laut rupanya sangat membekas. Berkali-kali dia berpapasan dengan kapal pinisi. Kemampuannya mengolah jukung kemudian dia alihkan untuk membuat miniatur kapal.

"Saya tak berpatokan pada foto atau miniatur milik orang lain. Saya diberkahi ingatan yang kuat," kata Salman sembari menunjuk batok kepalanya.

Kini Salman tinggal di Kampung Kenanga, Banjarmasin Utara. Rumah kayu itu berada di pinggiran Sungai Martapura. Bisa dicapai dengan berjalan kaki di atas titian Museum Wasaka. Rumah ini bisa dikenali lewat pohon mangga besar yang tumbuh di pekarangannya.

Salman punya lima anak dan dua cucu. Disebut kakek sekalipun, rasanya kurang pantas. Badannya masih tegap. Perutnya ramping. Kumisnya juga tebal dan hitam, belum beruban.

Lengannya berotot dengan telapak tangan yang runcam. Istilah orang Banjar untuk menyebut bekas luka kecil dalam jumlah banyak. Jika bicara, suaranya berat dan nyaring.

Saat pertama kali membuat miniatur kapal, Salman menggunakan daun rumbia. Uji coba itu berhasil. Dia kemudian mencari bahan yang lebih kuat. Pilihan jatuh pada bambu.

Alasannya, ringan, mudah diperoleh dan sudah pasti murah. "Saya sering mengambil limbah bambu. Sisa-sisa dari tiang umbul-umbul," ujarnya. Soal jenis bambu, pilihannya tak cerewet. Yang penting tebal, orang Banjar menyebutnya bambu haur.

Pada awalnya pula, miniatur diberi cat aneka warna. Dia sudah bertobat dari teknik itu. Alasannya, cat menutupi urat-urat khas bambu. "Aura bambunya jadi hilang. Enggak klasik lagi. Jadi sekarang dipernis saja," tukasnya.

Karya pertamanya adalah miniatur kapal Nagara. Merujuk pada suatu daerah di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Mirip kelotok, tapi fungsinya lebih kepada pengangkutan barang. Kapal pertama itu masih disimpan. Tidak untuk dijual.

Mendengar pujian teman dan tetangga, Salman kemudian membuat 10 buah. Dijajakan ke siring pada Minggu pagi. "Ternyata laku. Habis terjual. Saya dapat Rp300 ribu," imbuhnya girang.

Namun, Salman sadar, uang segitu tidaklah seberapa untuk membiayai hidup. Dia kemudian bertekad membuat miniatur yang lebih besar dan rumit. Sehingga bisa dihargai lebih.

Pilihannya kemudian jatuh pada kapal pinisi. Yang sudah rampung punya panjang 80 sentimeter. Yang sedang dia kerjakan sepanjang 1,3 meter. "Sudah 20 hari, belum juga kelar. Kalau yang kecil-kecil, tiga hari juga beres," ujarnya.

Untuk yang kecil dihargai Rp700 ribu. Sedangkan yang besar diberi bandrol Rp3 juta. Dia sedang menyiapkan sejumlah karya untuk dipamerkan. Menyusul ajakan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Puas wawancara, Salman bersedia menunjukkan proses pekerjaannya untuk dipotret. Bengkelnya adalah ruang tamu rumahnya. Yang memiliki perabot rak sepatu dan televisi tabung.

Peralatannya sederhana sekali. Berupa belati kecil, penggirik, dan ampelas. Yang agak besar seperti kapak dan gergaji. Ditambah lem dan pernis.

Ditanya mana yang lebih susah, antara membuat perahu sungguhan dan miniatur, dia dengan tegas menyatakan yang kedua. Karena kecil, detilnya lebih rumit. Perahu juga dibuat dari kayu yang tidak seringkih bambu.

Karyanya memang detail. Pada bagian dek kapal, di dalamnya ada tangga untuk awak kapal. Pada buritannya, terjuntai jangkar yang siap disauhkan.

"Saya membayangkan, tangga itulah yang dipakai pelaut Portugis untuk menurunkan hasil rampasan rempah-rempahnya," ujarnya dengan sorot mata mengawang.

Menggeluti kerajinan ini selama setahun terakhir, bisnis ini jelas baru dirintis. Salman masih memiliki segudang mimpi.

Dia ingin mempekerjakan warga sekitar. Punya bengkel dan toko sendiri. Dan tentu memiliki merek yang bisa dibanggakan. "Saya baru merintis. Modalnya belum cukup. Penjualan juga sedang lesu," keluhnya.

Jika itu mimpi jangka panjang, adapula mimpi jangka pendek. Dia ingin membuat miniatur jukung tambangan. Perahu asli Banjarmasin yang sudah punah.

Di bagian ujung perahu, terukir kepala naga menganga. Sementara pada buritan perahu terjuntai ekornya. Di tengah badan perahu, disediakan tempat penumpang berteduh. Dengan atap khas rumah adat Banjar.

Salman lantas mengeluarkan ukiran kepala naga tersebut. Terasa halus di tangan. "Saya memang penggemar naga," pungkasnya tersenyum. (fud/at/nur)


BACA JUGA

Sabtu, 08 September 2018 12:51

Menengok Festival Anggrek 2018 di Taman Kamboja

Apa yang dicari-cari dunia jika melancong ke Kalsel? Jawabannya; anggrek. Bukan tanpa alasan, tanaman…

Sabtu, 08 September 2018 12:48

Memanen Kelapa Sawit, Pekebun Malah Menjerit

Memanen kelapa sawit tidak terlalu menggembirakan bagi pekebun di Kotabaru. Bekerja di bawah terik mentari,…

Rabu, 29 Agustus 2018 10:23

Bosan Tidur di Pengungsian, Pengungsi Lombok Mulai Datangi Kalsel

Pengungsi gempa Lombok mulai berdatangan ke Kalimantan Selatan melalui bandar udara Syamsuddin Noor…

Selasa, 28 Agustus 2018 10:18

Malam terakhir Konser Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Lombok

Konser amal bertajuk Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Penggalangan Dana Gempa Lombok,…

Senin, 27 Agustus 2018 11:20

Melihat Eksistensi Komunitas MGR Pasca Ganti Presiden

Meski telah ditinggalkan presiden sekaligus pendirinya Fitri Zamzam, yang telah berpulang pada November…

Sabtu, 25 Agustus 2018 12:40

Serba-Serbi Festival Budaya Pasar Terapung 2018

Rakyat Indonesia menamainya Serabi. Orang Banjar menyebutnya Apam Batil. Namanya mungkin terdengar tidak…

Jumat, 24 Agustus 2018 14:24

BAKAL CANTIK..!! Bantaran Sungai Martapura akan Ditata

MARTAPURA – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjar membangun Talud di Sisi kiri dan kanan Jembatan…

Jumat, 24 Agustus 2018 11:08

Disodori Buku Berbahasa Inggris, Incar Generasi milenial

Indonesia punya Najwa Shihab. Kalsel punya Eka Chandra Dewi. Dua-duanya punya kesamaan: dinobatkan menjadi…

Selasa, 21 Agustus 2018 08:55

Kisah Subur, Raja Pengamen di Pasar Lama

Jangan pandang remeh pengamen jalanan. Di balik penampilan dekil dan lusuh, tidak sedikit yang menyimpan…

Senin, 20 Agustus 2018 12:10

Serunya Lomba Bakisah Bahasa Banjar di Siring Pierre Tendean

Lomba Bakisah Bahasa Banjar dari Ombudsman Kalsel mengundang gelak tawa sekaligus ironi. Memperlihatkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .