MANAGED BY:
KAMIS
15 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 13 September 2018 12:05
YS Agus Suseno, Penyair Banjar Yang Berani Menohok Rezim
DIKENAL NEKAT: YS Agus Suseno sudah menulis puisi sejak usia 17 tahun. Mengutamakan Bahasa Banjar, ia kerap mengikuti lomba baca puisi di eranya dulu.

PROKAL.CO, Meminjam istilah sastrawan Seno Gumira Ajidarma: ketika jurnalisme dibungkam, maka mestinya sastra harus bicara. Masalahnya, Banjarmasin kekeringan penyair nekat. Nah, YS Agus Suseno menjadi antitesa. Lewat puisi-puisinya yang berani, dikemas secara apik dengan Bahasa Banjar.

Sastrawan satu ini dikenal dengan penyair 'kompor'. Menulis puisi-puisi bahasa Banjar, Agus sering kali menohok para pembaca. Belakangan waktu, lelaki gondrong berkacamata itu aktif menyebarluaskan karya-karyanya lewat media sosial, utamanya saluran Facebook.

Ambil contoh, puisinya berjudul "Warga Bumi Bertakwa, Lawan!". Karya ini mengkritisi senyapnya sikap masyarakat Hulu Sungai Utara (HSU). Yang belakangan terancam dengan izin kebun sawit. Agus memantik masyarakat untuk ambil sikap perlawanan.

"Warga Bumi Bertakwa jangan beranai haja!
Jangan kada tatahu muha!
Lawan sabisa-bisanya!
Jangan mamikirkan andih saurang haja!
Jangan baruh urang dikaruni
Baruh saurang tawung!" tulis Agus dalam penggalan puisinya.

Coretan lain, berjudul "Puisi Kemanakan Gasan Paman". Dilihat dari judulnya, alamat puisi ini untuk Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor. Ketimbang memuja-muji, puisi yang dibacakan Agus ini bernada kritis. Mengomentari kurangnya perhatian Pemprov Kalsel karena tak adanya sekolah seni di Banua.

"Tak ada masalah dengan puisi-puisi berbahasa Banjar yang saya tulis. Kalau pun nantinya muncul ancaman, hidup saya sudah selesai," tukas Agus.

Agus lahir di Banjarmasin, 23 Agustus 1964 silam. Sejak kecil sudah ditinggal sang ayah dan hanya hidup bersama ibunya. Lantaran kesepian tanpa ayah, inilah yang mendorongnya untuk menghabiskan waktu 6 hingga 8 jam sehari dengan membaca buku.

Bermacam buku dilahapnya. Dari sastra hingga buku filsafat. Paling dikenangnya, tulisan-tulisan dari Sutan Takdir Alisjahbana yang populer lewat buku "Layar Terkembang". Dan novel Atheis karangan Achdiat Karta Mihardja.

Diberi pilihan membaca sastra atau filsafat, Agus kecil awalnya lebih memilih yang pertama. Umur 17 tahun, ia sudah mulai menulis puisi-puisi berbahasa Indonesia dan berbahasa Banjar. Sampai-sampai, ikut lomba cipta puisi berbahasa daerah yang digelar oleh Pemko Banjarmasin saat era Wali Kota Effendi Ritonga.

Tahun 1990-an, baru Agus kecantol ajaran filsafat barat. Ia keluyuran rumah-rumah ibadah lintas keagamaan. Bukan dikata untuk sekadar gaya-gayaan. Tetapi, untuk memahami keberagaman. Beragam bacaan filsafat pun dibabatnya.

Dua bekal ini (sastra dan filsafat) tambah memberanikan Agus menuangkan tulisan-tulisannya yang berani. Serta nyaman dibaca dan mengalir.

Lantas, apa yang mendorongnya menulis puisi-puisi berbahasa Banjar? Rupanya, ia tak kepengin bahasa lokal ini punah begitu saja. Menuliskan karya-karya sastra lewat istilah-istilah masyarakat Banjar, berarti upaya melestarikan bahasa daerah.

"Kebanyakan para penyair menerika kutukan Chairil Anwar. Menulis puisi melulu berbahasa Indonesia," ujarnya terkekeh.

Terbukti, ia penyair yang punya pendirian. Sampai sekarang ia sudah menulis puisi berbahasa Banjar setiap hari lewat akun media sosial Facebook-nya. Plus sesekali menulis puisi berbahasa Indonesia.

Harapan Agus tak muluk-muluk. Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, Bahasa Banjar harusnya bisa dilestarikan secara getol oleh pemerintah. "Belakangan, lomba-lomba bahasa cipta puisi Banjar saja sudah tak ada lagi dilaksanakan," kata dia. (dom/at/nur)


BACA JUGA

Kamis, 15 November 2018 12:03

Jalan Untuk Kaum Difabel di DPRD Jatim

Hak penyandang disabilitas sekarang ini masih kurang, baik sarana maupun prasarana publik maupun pekerjaan.…

Selasa, 13 November 2018 15:04

Event Gowes Untukmu Pahlawanku Meriah dan Banyak Hadiah

WALAU Sempat diguyur hujan, Fun Gowes Untukmu Pahlawanku "Semangat Pahlawan di Dadaku" gelaran Dewan…

Selasa, 13 November 2018 14:47

Unik, Samsat Bergerak Sapu Jagad

BANJARMASIN - Untuk meningkatkan pendapatan di sektor pajak, Badan Keuangan Daerah (Bakeuda) Kalsel…

Senin, 12 November 2018 12:52
Berita Tenaga Kerja Indonesia

Hongkong Paling Banyak, Baru Arab Saudi

September tadi, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banjarmasin bersama BP3TKI Banjarbaru mencegat keberangkatan…

Sabtu, 10 November 2018 11:34

Mengenang Gugurnya Sembilan Syuhada 9 November 1945 di Banua

Abdul Majid, lahir sepuluh tahun setelah penyerangan 9 November 1945. Tiga pamannya gugur dalam penyerangan…

Kamis, 08 November 2018 13:07

Kala Dua Penyandang Tunanetra Raih Juara Literasi Tingkat Nasional

Memiliki keterbatasan, tak menghentikan dua penyandang tunanetra: Ikhsanul Sodikin, 17, dan Muhammad,…

Selasa, 06 November 2018 14:50

Sungai Baru Larut dalam Nostalgia Layar Tancap

Layar tancap adalah hiburan rakyat. Orang juga menyebutnya dengan misbar alias gerimis bubar. Di Banjarmasin,…

Jumat, 02 November 2018 10:50

Ada yang Jadi Mata Pilot, Ada yang Penjaga Cuaca

BANJARBARU - Bandara adalah sebuah dunia sendiri. Dengan ribuan orang yang bergegas, jadwal yang…

Jumat, 26 Oktober 2018 15:28

Menanti Hujan Turun di Pulau Laut, PDAM Andalkan Empang...Eh Waduk

Doa PDAM minta hujan rupanya masih tertahan di langit. Pulau Laut panas, walau siang kemarin sempat…

Rabu, 24 Oktober 2018 12:32

Lagu "Insya Allah" Fadly Padi Sejukkan Ribuan Napi

Lapangan besar Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Banjarbaru memutih. Ribuan Warga Binaan Pemasyarakatan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .