MANAGED BY:
RABU
16 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 13 September 2018 12:05
YS Agus Suseno, Penyair Banjar Yang Berani Menohok Rezim
DIKENAL NEKAT: YS Agus Suseno sudah menulis puisi sejak usia 17 tahun. Mengutamakan Bahasa Banjar, ia kerap mengikuti lomba baca puisi di eranya dulu.

PROKAL.CO, Meminjam istilah sastrawan Seno Gumira Ajidarma: ketika jurnalisme dibungkam, maka mestinya sastra harus bicara. Masalahnya, Banjarmasin kekeringan penyair nekat. Nah, YS Agus Suseno menjadi antitesa. Lewat puisi-puisinya yang berani, dikemas secara apik dengan Bahasa Banjar.

Sastrawan satu ini dikenal dengan penyair 'kompor'. Menulis puisi-puisi bahasa Banjar, Agus sering kali menohok para pembaca. Belakangan waktu, lelaki gondrong berkacamata itu aktif menyebarluaskan karya-karyanya lewat media sosial, utamanya saluran Facebook.

Ambil contoh, puisinya berjudul "Warga Bumi Bertakwa, Lawan!". Karya ini mengkritisi senyapnya sikap masyarakat Hulu Sungai Utara (HSU). Yang belakangan terancam dengan izin kebun sawit. Agus memantik masyarakat untuk ambil sikap perlawanan.

"Warga Bumi Bertakwa jangan beranai haja!
Jangan kada tatahu muha!
Lawan sabisa-bisanya!
Jangan mamikirkan andih saurang haja!
Jangan baruh urang dikaruni
Baruh saurang tawung!" tulis Agus dalam penggalan puisinya.

Coretan lain, berjudul "Puisi Kemanakan Gasan Paman". Dilihat dari judulnya, alamat puisi ini untuk Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor. Ketimbang memuja-muji, puisi yang dibacakan Agus ini bernada kritis. Mengomentari kurangnya perhatian Pemprov Kalsel karena tak adanya sekolah seni di Banua.

"Tak ada masalah dengan puisi-puisi berbahasa Banjar yang saya tulis. Kalau pun nantinya muncul ancaman, hidup saya sudah selesai," tukas Agus.

Agus lahir di Banjarmasin, 23 Agustus 1964 silam. Sejak kecil sudah ditinggal sang ayah dan hanya hidup bersama ibunya. Lantaran kesepian tanpa ayah, inilah yang mendorongnya untuk menghabiskan waktu 6 hingga 8 jam sehari dengan membaca buku.

Bermacam buku dilahapnya. Dari sastra hingga buku filsafat. Paling dikenangnya, tulisan-tulisan dari Sutan Takdir Alisjahbana yang populer lewat buku "Layar Terkembang". Dan novel Atheis karangan Achdiat Karta Mihardja.

Diberi pilihan membaca sastra atau filsafat, Agus kecil awalnya lebih memilih yang pertama. Umur 17 tahun, ia sudah mulai menulis puisi-puisi berbahasa Indonesia dan berbahasa Banjar. Sampai-sampai, ikut lomba cipta puisi berbahasa daerah yang digelar oleh Pemko Banjarmasin saat era Wali Kota Effendi Ritonga.

Tahun 1990-an, baru Agus kecantol ajaran filsafat barat. Ia keluyuran rumah-rumah ibadah lintas keagamaan. Bukan dikata untuk sekadar gaya-gayaan. Tetapi, untuk memahami keberagaman. Beragam bacaan filsafat pun dibabatnya.

Dua bekal ini (sastra dan filsafat) tambah memberanikan Agus menuangkan tulisan-tulisannya yang berani. Serta nyaman dibaca dan mengalir.

Lantas, apa yang mendorongnya menulis puisi-puisi berbahasa Banjar? Rupanya, ia tak kepengin bahasa lokal ini punah begitu saja. Menuliskan karya-karya sastra lewat istilah-istilah masyarakat Banjar, berarti upaya melestarikan bahasa daerah.

"Kebanyakan para penyair menerika kutukan Chairil Anwar. Menulis puisi melulu berbahasa Indonesia," ujarnya terkekeh.

Terbukti, ia penyair yang punya pendirian. Sampai sekarang ia sudah menulis puisi berbahasa Banjar setiap hari lewat akun media sosial Facebook-nya. Plus sesekali menulis puisi berbahasa Indonesia.

Harapan Agus tak muluk-muluk. Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, Bahasa Banjar harusnya bisa dilestarikan secara getol oleh pemerintah. "Belakangan, lomba-lomba bahasa cipta puisi Banjar saja sudah tak ada lagi dilaksanakan," kata dia. (dom/at/nur)


BACA JUGA

Selasa, 15 Januari 2019 12:33

Buana Mistik, Komunitas Penguak Mitos dan Hal Gaib di Banjarbaru

Kalau kebanyakan orang takut ditemui makhluk gaib. Orang-orang di komunitas…

Sabtu, 12 Januari 2019 12:50

Linda Wahyuni, Siswi SMAN 1 Pelaihari Berhasil Lolos ke LIDA 2019

Linda Wahyuni (16), gadis asal Kota Pelaihari ini, berhasil meraih…

Sabtu, 05 Januari 2019 11:31

Lappenka, Grup Band yang Beranggotakan Penghuni Lapas Banjarbaru

Lappenka selalu tampil enerjik. Lagu-lagu all genre dibabat habis. Namun…

Rabu, 02 Januari 2019 14:01

Maskot Legenda Rakyat

Kotabaru memang sudah lama menjadikan ikan todak sebagai maskot. Todak…

Rabu, 02 Januari 2019 10:35

Menelusuri Jejak Monumen Perang Banjar

Jika Anda rajin mengulik arsip foto Banjarmasin tempo dulu di…

Senin, 31 Desember 2018 09:28

Sepi Pengunjung, Pengelola Danau Seran Tiadakan Acara Malam Tahun Baru

BANJARBARU - Masyarakat Kota Banjarbaru kali ini tidak bisa lagi…

Minggu, 30 Desember 2018 10:55

Ibnu Pre Order 300 Keping Album Kedua JEF (2)

PELUNCURAN album Gawi Manuntung dihadiri tamu spesial. Wali Kota Banjarmasin,…

Minggu, 30 Desember 2018 10:50

Album Kedua JEF Lebih Dewasa dan Kritis (1)

JEF Band meluncurkan album baru, Gawi Manuntung. Seratus persen keuntungan…

Rabu, 26 Desember 2018 13:22

Sejarah Kerukunan Beragama Dibalik Berdirinya GKE di Banjarmasin

Sebagai gereja tua di Kalimantan, Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) menyimpan…

Senin, 24 Desember 2018 10:32

Pebiola Cilik Fellycia Sita Perhatian Pengunjung Siring Pierre Tendean

Ada yang tak biasa Siring Pierre Tendean, kemarin (23/12) sore.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*