MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 13 September 2018 12:05
YS Agus Suseno, Penyair Banjar Yang Berani Menohok Rezim
DIKENAL NEKAT: YS Agus Suseno sudah menulis puisi sejak usia 17 tahun. Mengutamakan Bahasa Banjar, ia kerap mengikuti lomba baca puisi di eranya dulu.

PROKAL.CO, Meminjam istilah sastrawan Seno Gumira Ajidarma: ketika jurnalisme dibungkam, maka mestinya sastra harus bicara. Masalahnya, Banjarmasin kekeringan penyair nekat. Nah, YS Agus Suseno menjadi antitesa. Lewat puisi-puisinya yang berani, dikemas secara apik dengan Bahasa Banjar.

Sastrawan satu ini dikenal dengan penyair 'kompor'. Menulis puisi-puisi bahasa Banjar, Agus sering kali menohok para pembaca. Belakangan waktu, lelaki gondrong berkacamata itu aktif menyebarluaskan karya-karyanya lewat media sosial, utamanya saluran Facebook.

Ambil contoh, puisinya berjudul "Warga Bumi Bertakwa, Lawan!". Karya ini mengkritisi senyapnya sikap masyarakat Hulu Sungai Utara (HSU). Yang belakangan terancam dengan izin kebun sawit. Agus memantik masyarakat untuk ambil sikap perlawanan.

"Warga Bumi Bertakwa jangan beranai haja!
Jangan kada tatahu muha!
Lawan sabisa-bisanya!
Jangan mamikirkan andih saurang haja!
Jangan baruh urang dikaruni
Baruh saurang tawung!" tulis Agus dalam penggalan puisinya.

Coretan lain, berjudul "Puisi Kemanakan Gasan Paman". Dilihat dari judulnya, alamat puisi ini untuk Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor. Ketimbang memuja-muji, puisi yang dibacakan Agus ini bernada kritis. Mengomentari kurangnya perhatian Pemprov Kalsel karena tak adanya sekolah seni di Banua.

"Tak ada masalah dengan puisi-puisi berbahasa Banjar yang saya tulis. Kalau pun nantinya muncul ancaman, hidup saya sudah selesai," tukas Agus.

Agus lahir di Banjarmasin, 23 Agustus 1964 silam. Sejak kecil sudah ditinggal sang ayah dan hanya hidup bersama ibunya. Lantaran kesepian tanpa ayah, inilah yang mendorongnya untuk menghabiskan waktu 6 hingga 8 jam sehari dengan membaca buku.

Bermacam buku dilahapnya. Dari sastra hingga buku filsafat. Paling dikenangnya, tulisan-tulisan dari Sutan Takdir Alisjahbana yang populer lewat buku "Layar Terkembang". Dan novel Atheis karangan Achdiat Karta Mihardja.

Diberi pilihan membaca sastra atau filsafat, Agus kecil awalnya lebih memilih yang pertama. Umur 17 tahun, ia sudah mulai menulis puisi-puisi berbahasa Indonesia dan berbahasa Banjar. Sampai-sampai, ikut lomba cipta puisi berbahasa daerah yang digelar oleh Pemko Banjarmasin saat era Wali Kota Effendi Ritonga.

Tahun 1990-an, baru Agus kecantol ajaran filsafat barat. Ia keluyuran rumah-rumah ibadah lintas keagamaan. Bukan dikata untuk sekadar gaya-gayaan. Tetapi, untuk memahami keberagaman. Beragam bacaan filsafat pun dibabatnya.

Dua bekal ini (sastra dan filsafat) tambah memberanikan Agus menuangkan tulisan-tulisannya yang berani. Serta nyaman dibaca dan mengalir.

Lantas, apa yang mendorongnya menulis puisi-puisi berbahasa Banjar? Rupanya, ia tak kepengin bahasa lokal ini punah begitu saja. Menuliskan karya-karya sastra lewat istilah-istilah masyarakat Banjar, berarti upaya melestarikan bahasa daerah.

"Kebanyakan para penyair menerika kutukan Chairil Anwar. Menulis puisi melulu berbahasa Indonesia," ujarnya terkekeh.

Terbukti, ia penyair yang punya pendirian. Sampai sekarang ia sudah menulis puisi berbahasa Banjar setiap hari lewat akun media sosial Facebook-nya. Plus sesekali menulis puisi berbahasa Indonesia.

Harapan Agus tak muluk-muluk. Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, Bahasa Banjar harusnya bisa dilestarikan secara getol oleh pemerintah. "Belakangan, lomba-lomba bahasa cipta puisi Banjar saja sudah tak ada lagi dilaksanakan," kata dia. (dom/at/nur)


BACA JUGA

Rabu, 12 September 2018 15:23

Kisah Perajin Miniatur Kapal Pinisi dari Sungai Alalak

Salman tak bisa jauh-jauh dari perahu dan sungai. Semasa bujangan, dia menjadi perajin perahu di Pulau…

Sabtu, 08 September 2018 12:51

Menengok Festival Anggrek 2018 di Taman Kamboja

Apa yang dicari-cari dunia jika melancong ke Kalsel? Jawabannya; anggrek. Bukan tanpa alasan, tanaman…

Sabtu, 08 September 2018 12:48

Memanen Kelapa Sawit, Pekebun Malah Menjerit

Memanen kelapa sawit tidak terlalu menggembirakan bagi pekebun di Kotabaru. Bekerja di bawah terik mentari,…

Rabu, 05 September 2018 11:13

Jean, Siswi SMAN 2 Banjarmasin Menang Lomba Monolog di Aceh

Kamera dokumentasi sudah dimatikan. Sebagian penonton juga telah beranjak pulang. Juri pun tampak capek.…

Selasa, 04 September 2018 13:18

Jasa Datu, Perguruan Kuntau yang Sudah Eksis 32 Tahun Lamanya

Pencak silat sedang naik daun di Asian Games 2018. Di Banua, para pendekar silat ternyata sudah lama…

Kamis, 30 Agustus 2018 10:36

"First Love Never Die"

Hermansyah memutuskan tinggal di panti jompo atas pilihannya sendiri. Sebaliknya, Yulia terpaksa minggat…

Kamis, 30 Agustus 2018 10:33

Yulia Minggat karena Merepotkan

Hermansyah boleh dibilang beruntung. Masih bisa berkumpul keluarga. Masuk panti pun juga atas pilihan…

Rabu, 29 Agustus 2018 10:23

Bosan Tidur di Pengungsian, Pengungsi Lombok Mulai Datangi Kalsel

Pengungsi gempa Lombok mulai berdatangan ke Kalimantan Selatan melalui bandar udara Syamsuddin Noor…

Selasa, 28 Agustus 2018 10:18

Malam terakhir Konser Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Lombok

Konser amal bertajuk Wartawan & Musisi Banua Untuk Palestina dan Penggalangan Dana Gempa Lombok,…

Senin, 27 Agustus 2018 11:20

Melihat Eksistensi Komunitas MGR Pasca Ganti Presiden

Meski telah ditinggalkan presiden sekaligus pendirinya Fitri Zamzam, yang telah berpulang pada November…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .