MANAGED BY:
SELASA
11 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 20 September 2018 09:47
Sebelum Kuliah, Para Tersangka Perusakan Gedung Dewan Lapor Kantor Polisi Dulu

Wawancara dengan Para Tersangka Perusakan Gedung Dewan (2-habis)

SANTAI DI SEKRETARIAT: Habib Bintang Nur Karim, Iqbal Hambali, Fahriannor dan Muhammad Al Ikhwan asik main catur di sekretariat. Foto: Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Empat dari tujuh mahasiswa yang menyandang status tersangka mencerutakan pengalaman mereka selepas unjuk rasa di DPRD Kalsel, Jumat (14/9) siang.

Ada 38 mahasiswa yang diangkut polisi setelah insiden Gedung Dewan. Setelah diperiksa, 31 mahasiswa dilepas, sisanya menjadi tersangka. Mereka adalah Fahriannor, Muhammad Al Ikhwan, Iqbal Hambali, Habib Bintang Nur Karim, Muhammad Khairunnajmi, Andi Budi Pratama, dan Abdul Hakim.

Semua adalah mahasiswa UIN Antasari. Mereka diperiksa satu per satu, terpisah dari sesama kawan. Cecaran pertanyaan interogasi serupa, berkisar pada kronologi perusakan. Setelah lebih dari 24 jam, Sabtu (15/9) malam, para mahasiswa dibebaskan dengan status tahanan kota. Ditetapkan sebagai tersangka atas perusakan di gedung dewan.

Tujuh mahasiswa ini kemudian dipanggil kampus. Wakil Rektor III menawarkan bantuan untuk mendekati Komisi I. Membujuk anggota dewan untuk mencabut berkas laporan. Terdengar kabar, mahasiswa menolak bantuan rektorat. Salah seorang tersangka, Iqbal membantahnya. "Kami hanya tak ingin rektorat memohon-mohon kepada dewan. Marwah UIN harus dijaga. Jangan sampai gara-gara kami, kampus kemudian merendahkan diri," pungkasnya.

Saat diwawancarai Radar Banjarmasin, Selasa (18/9) tadi, mereka bercerita banyak tentang 24 jam penahanan. Sebagian besar telah diceritakan Radar Banjarmasin di bagian pertama tulisan ini kemarin. Setelah melalui masa-masa sulit, para mahasiswa ini akhirnya kembali ke rutinitas harian mereka. Fahri dan Iqbal bersiap pergi kuliah. Sementara Ikhwan dan Habib mengambil papan catur. Beberapa kawan mereka baru pulang dari pasar. Membeli bendera baru untuk menggantikan atribut aksi yang telah disita untuk barang bukti. "Jadi apa yang berubah? Tak ada. Bedanya sekarang kami dikenai wajib lapor. Sebelum kuliah, ke kantor polisi dulu," pungkas Iqbal.

Mereka adalah mahasiswa yang tergabung dalam Lingkar Study Ilmu Sosial Kerakyatan (LSISK). Selama beberapa tahun terakhir, LSISK telah menjadi "momok". Entah bagi sasaran demonstran maupun bagi aparat keamanan. Aksi mereka lebih greget dan cenderung nekat.

Dengan nama tak sebesar HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) atau BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), dari mana LSISK muncul?

Anggota senior LSISK, Ahmad Nur Zakki menceritakan, pencetusan organisasi ini berawal dari pemilihan presiden mahasiswa UIN Antasari (kala itu masih IAIN) pada tahun 2002.

Beberapa mahasiswa sepakat menyokong salah seorang kandidat. "Pemilu selesai, sayang kalau timses ini ikut-ikutan bubar. Sebab, mereka sudah terlanjur solid," kata pemuda 25 tahun tersebut.

Dari sebuah rumah kos di belakang kampus, tepatnya di Gang Delapan, mereka mendeklarasikan Lingkar Studi Ilmu Sosial dan Keagamaan.

Sekre pertama dijuluki Kos Sandal Jepit. Lantaran sandal jepit mahasiswa tak pernah berumur panjang jika parkir di teras kos itu. Sandal atau sepatu, sering raib digondol maling.

Beranjak ke tahun 2005, namanya berubah menjadi Lingkar Studi Ilmu Sosial dan Kerakyatan. Ketua pertama adalah Wawan Irawan. Yang baru saja meninggal dunia karena sakit pada akhir pekan tadi.

"Anggotanya sedikit sekali. Karena promosinya hanya dari mulut ke mulut. Perekrutan juga masih pendekatan satu-satu," kata mahasiswa semester 13 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam tersebut.

Kegiatan LSISK mulanya hanya sebatas diskusi-diskusi ilmiah di taman kampus. Sembari mengajak anggotanya untuk rajin membaca buku. Pada tahun 2010, struktur organisasi dirapikan. Pelatihan angkatan pertama juga digelar. Aroma pergerakan mahasiswa kian mengental.

Setahun kemudian, sekre pertama ditinggalkan. LSISK kini menempati sebuah rumah sederhana di Jalan Mandastana. Perpindahan ini menandai fase baru.

"Ketika media sosial muncul, kami tersadar, kenapa cuma terjebak di UIN? Kami kemudian melebarkan jaringan ke kampus lain. Itu dimulai tahun 2012," jelasnya.

Kini ada seratus anggota aktif. Dari UIN, Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Universitas Islam Kalimantan (Uniska), dan Universitas Achmad Yani (Uvaya).

Dalam penilaian publik, LSISK kerap dituding biang unjuk rasa. Zakki menampiknya. Sebab, LSISK juga punya sistem kaderisasi. "Karena yang terlihat cuma demonya saja. Padahal di dalam ada diskusi dan dialog. Anggota dididik untuk berwawasan ilmiah, berempati sosial, dan punya nyali," pungkasnya. (fud/ay/ran)


BACA JUGA

Sabtu, 08 Desember 2018 11:45

Tidak Mudah, Honorer Ini Pantau CCTV di Menara Pandang Hingga Larut Malam

Di depan layar monitor yang lebarnya tak lebih lebar dari…

Sabtu, 08 Desember 2018 09:03
Kisah Bocah-bocah Penjual Buku Mewarnai di Banjarmasin

Demi Sesuap Nasi Mereka Sampai Dikejar-Kejar Satpol PP

Mobil partoli Satpol PP Kota Banjarmasin melintas di perempatan Jalan…

Jumat, 07 Desember 2018 11:31

Jejak Laskar Pelangi di Banua (2)

Belajar di gudang kecil kadang membuat siswa SD Dusun Munggu…

Kamis, 06 Desember 2018 13:02

Jejak Laskar Pelangi di Banua

Hanya 12 siswa dan satu gedung kecil. Tapi mereka semangat…

Rabu, 05 Desember 2018 12:25

Gol A Gong Berbagi Motivasi ke Penulis Muda Balangan

Yang mengalami masa remaja di era 80’ dan 90’ an,…

Rabu, 05 Desember 2018 10:10

Wahh!! Rabiul Awal Jadi Bulan Rezeki Pengrajin Mahar Pernikahan

Rabiul Awal atau bulannya Maulid Nabi pada penanggalan Hijriah, menjadi…

Senin, 03 Desember 2018 12:33

Dianggap Terlalu Cepat, DE Walhi Khawatirkan Muncul Masalah Baru

BANJARMASIN – Pegunungan Meratus sudah resmi menjadi Geopark Nasional. Pemerintah…

Minggu, 02 Desember 2018 12:43

Kamu Harus Tahu!! Sejarah Mess L Yang di Anggap Angker

Dulu, Mes L seperti rumah hantu yang berada di tengah-tengah…

Sabtu, 01 Desember 2018 13:11

Perjuangan Ibu Dua Anak yang Hidup Bersama HIV/AIDS

Fenomena diskriminasi para Orang Dengan HIV/AIDS sering terjadi. Kurangnya pemahaman…

Kamis, 29 November 2018 08:58

Inspirasi, Amat Pemuda Yang Tidak Pernah Menyerah Dengan Pendidikan

Namanya singkat: Ahmad. Panggilannya lebih sederhana lagi: Amat. Namun kegigihannya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .