MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 20 September 2018 09:47
Sebelum Kuliah, Para Tersangka Perusakan Gedung Dewan Lapor Kantor Polisi Dulu

Wawancara dengan Para Tersangka Perusakan Gedung Dewan (2-habis)

SANTAI DI SEKRETARIAT: Habib Bintang Nur Karim, Iqbal Hambali, Fahriannor dan Muhammad Al Ikhwan asik main catur di sekretariat. Foto: Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Empat dari tujuh mahasiswa yang menyandang status tersangka mencerutakan pengalaman mereka selepas unjuk rasa di DPRD Kalsel, Jumat (14/9) siang.

Ada 38 mahasiswa yang diangkut polisi setelah insiden Gedung Dewan. Setelah diperiksa, 31 mahasiswa dilepas, sisanya menjadi tersangka. Mereka adalah Fahriannor, Muhammad Al Ikhwan, Iqbal Hambali, Habib Bintang Nur Karim, Muhammad Khairunnajmi, Andi Budi Pratama, dan Abdul Hakim.

Semua adalah mahasiswa UIN Antasari. Mereka diperiksa satu per satu, terpisah dari sesama kawan. Cecaran pertanyaan interogasi serupa, berkisar pada kronologi perusakan. Setelah lebih dari 24 jam, Sabtu (15/9) malam, para mahasiswa dibebaskan dengan status tahanan kota. Ditetapkan sebagai tersangka atas perusakan di gedung dewan.

Tujuh mahasiswa ini kemudian dipanggil kampus. Wakil Rektor III menawarkan bantuan untuk mendekati Komisi I. Membujuk anggota dewan untuk mencabut berkas laporan. Terdengar kabar, mahasiswa menolak bantuan rektorat. Salah seorang tersangka, Iqbal membantahnya. "Kami hanya tak ingin rektorat memohon-mohon kepada dewan. Marwah UIN harus dijaga. Jangan sampai gara-gara kami, kampus kemudian merendahkan diri," pungkasnya.

Saat diwawancarai Radar Banjarmasin, Selasa (18/9) tadi, mereka bercerita banyak tentang 24 jam penahanan. Sebagian besar telah diceritakan Radar Banjarmasin di bagian pertama tulisan ini kemarin. Setelah melalui masa-masa sulit, para mahasiswa ini akhirnya kembali ke rutinitas harian mereka. Fahri dan Iqbal bersiap pergi kuliah. Sementara Ikhwan dan Habib mengambil papan catur. Beberapa kawan mereka baru pulang dari pasar. Membeli bendera baru untuk menggantikan atribut aksi yang telah disita untuk barang bukti. "Jadi apa yang berubah? Tak ada. Bedanya sekarang kami dikenai wajib lapor. Sebelum kuliah, ke kantor polisi dulu," pungkas Iqbal.

Mereka adalah mahasiswa yang tergabung dalam Lingkar Study Ilmu Sosial Kerakyatan (LSISK). Selama beberapa tahun terakhir, LSISK telah menjadi "momok". Entah bagi sasaran demonstran maupun bagi aparat keamanan. Aksi mereka lebih greget dan cenderung nekat.

Dengan nama tak sebesar HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) atau BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), dari mana LSISK muncul?

Anggota senior LSISK, Ahmad Nur Zakki menceritakan, pencetusan organisasi ini berawal dari pemilihan presiden mahasiswa UIN Antasari (kala itu masih IAIN) pada tahun 2002.

Beberapa mahasiswa sepakat menyokong salah seorang kandidat. "Pemilu selesai, sayang kalau timses ini ikut-ikutan bubar. Sebab, mereka sudah terlanjur solid," kata pemuda 25 tahun tersebut.

Dari sebuah rumah kos di belakang kampus, tepatnya di Gang Delapan, mereka mendeklarasikan Lingkar Studi Ilmu Sosial dan Keagamaan.

Sekre pertama dijuluki Kos Sandal Jepit. Lantaran sandal jepit mahasiswa tak pernah berumur panjang jika parkir di teras kos itu. Sandal atau sepatu, sering raib digondol maling.

Beranjak ke tahun 2005, namanya berubah menjadi Lingkar Studi Ilmu Sosial dan Kerakyatan. Ketua pertama adalah Wawan Irawan. Yang baru saja meninggal dunia karena sakit pada akhir pekan tadi.

"Anggotanya sedikit sekali. Karena promosinya hanya dari mulut ke mulut. Perekrutan juga masih pendekatan satu-satu," kata mahasiswa semester 13 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam tersebut.

Kegiatan LSISK mulanya hanya sebatas diskusi-diskusi ilmiah di taman kampus. Sembari mengajak anggotanya untuk rajin membaca buku. Pada tahun 2010, struktur organisasi dirapikan. Pelatihan angkatan pertama juga digelar. Aroma pergerakan mahasiswa kian mengental.

Setahun kemudian, sekre pertama ditinggalkan. LSISK kini menempati sebuah rumah sederhana di Jalan Mandastana. Perpindahan ini menandai fase baru.

"Ketika media sosial muncul, kami tersadar, kenapa cuma terjebak di UIN? Kami kemudian melebarkan jaringan ke kampus lain. Itu dimulai tahun 2012," jelasnya.

Kini ada seratus anggota aktif. Dari UIN, Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Universitas Islam Kalimantan (Uniska), dan Universitas Achmad Yani (Uvaya).

Dalam penilaian publik, LSISK kerap dituding biang unjuk rasa. Zakki menampiknya. Sebab, LSISK juga punya sistem kaderisasi. "Karena yang terlihat cuma demonya saja. Padahal di dalam ada diskusi dan dialog. Anggota dididik untuk berwawasan ilmiah, berempati sosial, dan punya nyali," pungkasnya. (fud/ay/ran)


BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 07:05

Memahami Selera Fashion Leluhur dari Busana Pengantin Banjar Abad 15-19

BANJARMASIN -Mengusung suara dari masa lampau, bukan berarti Kawang Yoedha anti perubahan. Kreasi modern…

Jumat, 19 Oktober 2018 11:17

Mega Proyek Siring Laut, Jaksa Minta Jangan Curang

KOTABARU - Kepala Kejaksaan Negeri Kotabaru, Indah Laila, meminta jangan ada yang curang terkait pekerjaan…

Jumat, 19 Oktober 2018 10:35

Berkenalan dengan Muhammad Fikri, Pemenang Jamang Award 2018

Di ruang tunggu Bandara Syamsuddin Noor, menemani penumpang menanti panggilan keberangkatan, diputar…

Jumat, 19 Oktober 2018 10:01

Berikan Materi Cara Senam Otak dan Bahaya Merokok

PT Arutmin Indonesia Rabu (17/10) tadi berkesempatan mengisi Kelas Inspirasi di SMPN 3 Banjarbaru. Diwakili…

Jumat, 12 Oktober 2018 09:39

Sembilan Pengungsi Palu "Terdampar" di Banjarmasin, Begini Nasibnya

Empat hari bertahan hidup tanpa bantuan. Melihat penjarahan di mana-mana. Sembilan pengungsi berlayar…

Kamis, 11 Oktober 2018 10:43

Hasan Senso, Tokoh Kenamaan Karang Intan Berpulang

Hasan Senso meninggal dalam usia 56 tahun siang kemarin di Desa Mandiangin Barat, Kabupaten Banjar.…

Senin, 08 Oktober 2018 13:51

Kisah Maidian yang Mencari Kabar Istri dan Anak di Sulteng

Palu dan Banjarmasin jaraknya jauh sekali. Getaran gempa di Sulawesi Tengah, tak sampai ke kota ini.…

Jumat, 05 Oktober 2018 10:38

Slamet Ingatkan Hak Kaum Difabel Lewat Puisi

Ini pengalaman pertama Slamet Riyadi dalam menulis puisi. Nilai sastranya memang tidak wow. Tapi, puisi…

Senin, 01 Oktober 2018 11:17

Nobar Film G30S/PKI, Memahami Sejarah Lewat Film

BANJARMASIN - Mengenang dan memahami sejarah. Itulah misi dari nonton bareng film G30S/PKI yang digelar…

Minggu, 30 September 2018 11:18

Perkantoran Pemprov Kalsel Dijadikan Wisata Edukasi

Menjelang Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38, kawasan Perkantoran Setdaprov Kalsel di Banjarbaru, disulap…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .