MANAGED BY:
JUMAT
14 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Minggu, 30 September 2018 11:10
Sosok Ummi Maktum Abad Ini (Bagian 2)
BERSAMA SAHABAT: Imam Muttaqin mengangkat Hanafi ke atas sepeda motornya. Keduanya sudah berteman selama tiga bulan terakhir.

PROKAL.CO, Jika tak merasa ditampar oleh cerita ini, artinya iman sedang memerlukan reparasi. Tanpa kedua kaki dan tangan kanan, Hanafi rajin salat berjemaah di masjid.

--------------------------------------

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

---------------------------------------

HANAFI lahir di Kabupaten Kapuas, Kalteng, 35 tahun silam. Dia bungsu dari tujuh bersaudara. Semua kakaknya memiliki tubuh normal. Sementara Hanafi terlahir separuh. Tanpa kedua kaki dan tangan kanan.

"Saya ingin pergi sekolah, tapi mama tidak mau," ujarnya saat mengenang masa kecil. Kami bertemu seusai salat Jumat (28/9) di Masjid Al Muttaqin di Jalan Sultan Adam, Banjarmasin Utara.

Siang itu, dia mengenakan peci putih, baju koko hijau lumut, dan sarung cokelat gelap. Pakaian itu telah dimodifikasi sesuai kebutuhannya. Sarung dipangkas pendek hingga selangkangan. Lengan bajunya dipotong dan dikelim.

Hanafi kemudian belajar membaca, menulis, dan berhitung dengan bantuan seorang bibi. "Beliau rutin datang ke rumah mengajari saya. Sering dibawakan buku-buku bacaan," imbuhnya.

Beranjak dewasa, Hanafi mencari uang di rental Playstation milik seorang teman. Tak puas dengan pekerjaan itu, tahun 2013 ia merantau ke Banjarmasin. Sekarang Hanafi tinggal di Gang Rambutan Jalan Keramat Raya, Banjarmasin Timur.

Di rumah kontrakan tersebut, Hanafi tinggal bersama istri dan dua anak. Untuk menghidupi keluarganya, dia berjualan ponsel bekas via lapak online. "Saya berdoa semoga suatu hari bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik," harapnya.

Sempat tergoda menjadi atlet paralympic (ajang olahraga untuk penyandang disabilitas), Hanafi gentar. "Saya disuruh berenang, ngeri juga," ujarnya seraya tertawa.

Lalu, apa istimewanya Hanafi? Ada ribuan penyandang disabilitas di Banjarmasin. Jawabannya ada dua. Pertama, dia pantang mengemis. Mendulang rupiah atas belas kasihan orang lain. "Saya tidak akan merendahkan diri," tegasnya.

Kedua, selama setahun terakhir, Hanafi rutin salat berjemaah di masjid. Dengan memesan ojol (ojek online) untuk mengantarnya ke masjid. Terutama pada waktu zuhur sampai isya. "Kalau subuh terpaksa salat di rumah. Tak ada ojol yang bisa diorder pada jam segitu," ujarnya.

Tak selalu mudah. Lantaran beberapa ojol buru-buru membatalkan orderan setiba di teras rumahnya. "Saya tak marah. Melihat kondisi begini, mereka bakal repot karena harus menggotong saya ke jok motor," jelasnya.

Bukan hanya salat lima waktu, Hanafi juga rajin mengejar pengajian. Dari musala ke masjid, dari satu majelis taklim ke majelis taklim lainnya.

Ditanya adakah cerita spesial terkait "titik balik" yang membuat Hanafi rajin ke masjid, dia menggelengkan kepala. Jawabannya tidak mengandung pesan dakwah yang menggebu-gebu. Tanpa drama yang berlebihan. Apalagi kisah supranatural yang masih menjadi favorit masyarakat Banjar.

Motivasi Hanafi sungguh sangat sederhana. "Saya kesepian di rumah. Saya ingin memiliki banyak teman. Jadi saya ingin ke masjid," jawabnya polos.

Tuhan toh tidak tidur. Beban Hanafi kini lebih ringan. Tiga bulan yang lewat, dia berkenalan dengan Imam Muttaqin, 36 tahun, warga Jalan Sultan Adam. Imam bukan sekadar teman. Dia lah yang mengantarkan Hanafi pulang ke rumah seusai pengajian dengan sepeda motor bebeknya.

Imam adalah lelaki berkulit putih, berjenggot lebat dengan mata sayu. "Kami janjian via WhatsApp. Malam ini masjid mana? Jam berapa? Jadi Hanafi datang dengan ojol, pulangnya saya antarkan," ujarnya.

Bagaimana keduanya bisa bertemu? Imam sering salat di Masjid Ar Rahmah, Sungai Andai. Kebetulan, Hanafi juga senang salat di situ. Beberapa kali melihat Hanafi, Imam tertarik dengan penampilannya yang tidak biasa.

"Suatu hari, alhamdulillah, saya berhasil salat satu shaf dengan Hanafi. Saya ajak berkenalan. Mendengar kisahnya, saya tergerak pengin membantu," kisahnya.

Kini, Hanafi dan Imam telah menyusun jadwal yang rapi. Pada Kamis malam pengajian di Masjid Ar Rahmah, Sungai Andai. Jumat malam di Masjid An Nur, Kampung Arab. Sabtu malam di Masjid Hasanuddin Majedie, Kayu Tangi. Sedangkan pada Minggu malam di Masjid Ar Rahim, Jalan Sultan Adam. Dan terakhir Senin malam di Masjid Muttaqin.

Sejak bertemu Hanafi, Imam mengaku kian bersemangat. "Kalau muncul rasa malas, teringat Hanafi, semangat saya timbul lagi," ujarnya.

Selama wawancara berlangsung, Hanafi tampak sebagai sosok yang rendah hati. Suaranya pelan, jawabannya irit, diam menunggu ditanya, tanpa ada niatan untuk menggurui. Ketika dipotret, dia juga tampak kaku dan agak malu-malu.

Kembali kepada Hanafi, dia ingin memberikan sebuah pesan singkat kepada sidang pembaca. "Jangan tinggalkan salat lima waktu. Itu saja," pungkasnya. (fud/at/nur)

 


BACA JUGA

Kamis, 13 Desember 2018 13:20

Bekali Santri Keterampilan Untuk Hadapi Tantangan Zaman

Nyantri bukan melulu tentang ngaji. Di Pondok Pesantren Nurul Muhibbin,…

Sabtu, 08 Desember 2018 11:45

Tidak Mudah, Honorer Ini Pantau CCTV di Menara Pandang Hingga Larut Malam

Di depan layar monitor yang lebarnya tak lebih lebar dari…

Sabtu, 08 Desember 2018 09:03
Kisah Bocah-bocah Penjual Buku Mewarnai di Banjarmasin

Demi Sesuap Nasi Mereka Sampai Dikejar-Kejar Satpol PP

Mobil partoli Satpol PP Kota Banjarmasin melintas di perempatan Jalan…

Jumat, 07 Desember 2018 11:31

Jejak Laskar Pelangi di Banua (2)

Belajar di gudang kecil kadang membuat siswa SD Dusun Munggu…

Kamis, 06 Desember 2018 13:02

Jejak Laskar Pelangi di Banua

Hanya 12 siswa dan satu gedung kecil. Tapi mereka semangat…

Rabu, 05 Desember 2018 12:25

Gol A Gong Berbagi Motivasi ke Penulis Muda Balangan

Yang mengalami masa remaja di era 80’ dan 90’ an,…

Rabu, 05 Desember 2018 10:10

Wahh!! Rabiul Awal Jadi Bulan Rezeki Pengrajin Mahar Pernikahan

Rabiul Awal atau bulannya Maulid Nabi pada penanggalan Hijriah, menjadi…

Senin, 03 Desember 2018 12:33

Dianggap Terlalu Cepat, DE Walhi Khawatirkan Muncul Masalah Baru

BANJARMASIN – Pegunungan Meratus sudah resmi menjadi Geopark Nasional. Pemerintah…

Minggu, 02 Desember 2018 12:43

Kamu Harus Tahu!! Sejarah Mess L Yang di Anggap Angker

Dulu, Mes L seperti rumah hantu yang berada di tengah-tengah…

Sabtu, 01 Desember 2018 13:11

Perjuangan Ibu Dua Anak yang Hidup Bersama HIV/AIDS

Fenomena diskriminasi para Orang Dengan HIV/AIDS sering terjadi. Kurangnya pemahaman…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .