MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Minggu, 30 September 2018 11:10
Sosok Ummi Maktum Abad Ini (Bagian 2)
BERSAMA SAHABAT: Imam Muttaqin mengangkat Hanafi ke atas sepeda motornya. Keduanya sudah berteman selama tiga bulan terakhir.

PROKAL.CO, Jika tak merasa ditampar oleh cerita ini, artinya iman sedang memerlukan reparasi. Tanpa kedua kaki dan tangan kanan, Hanafi rajin salat berjemaah di masjid.

--------------------------------------

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

---------------------------------------

HANAFI lahir di Kabupaten Kapuas, Kalteng, 35 tahun silam. Dia bungsu dari tujuh bersaudara. Semua kakaknya memiliki tubuh normal. Sementara Hanafi terlahir separuh. Tanpa kedua kaki dan tangan kanan.

"Saya ingin pergi sekolah, tapi mama tidak mau," ujarnya saat mengenang masa kecil. Kami bertemu seusai salat Jumat (28/9) di Masjid Al Muttaqin di Jalan Sultan Adam, Banjarmasin Utara.

Siang itu, dia mengenakan peci putih, baju koko hijau lumut, dan sarung cokelat gelap. Pakaian itu telah dimodifikasi sesuai kebutuhannya. Sarung dipangkas pendek hingga selangkangan. Lengan bajunya dipotong dan dikelim.

Hanafi kemudian belajar membaca, menulis, dan berhitung dengan bantuan seorang bibi. "Beliau rutin datang ke rumah mengajari saya. Sering dibawakan buku-buku bacaan," imbuhnya.

Beranjak dewasa, Hanafi mencari uang di rental Playstation milik seorang teman. Tak puas dengan pekerjaan itu, tahun 2013 ia merantau ke Banjarmasin. Sekarang Hanafi tinggal di Gang Rambutan Jalan Keramat Raya, Banjarmasin Timur.

Di rumah kontrakan tersebut, Hanafi tinggal bersama istri dan dua anak. Untuk menghidupi keluarganya, dia berjualan ponsel bekas via lapak online. "Saya berdoa semoga suatu hari bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik," harapnya.

Sempat tergoda menjadi atlet paralympic (ajang olahraga untuk penyandang disabilitas), Hanafi gentar. "Saya disuruh berenang, ngeri juga," ujarnya seraya tertawa.

Lalu, apa istimewanya Hanafi? Ada ribuan penyandang disabilitas di Banjarmasin. Jawabannya ada dua. Pertama, dia pantang mengemis. Mendulang rupiah atas belas kasihan orang lain. "Saya tidak akan merendahkan diri," tegasnya.

Kedua, selama setahun terakhir, Hanafi rutin salat berjemaah di masjid. Dengan memesan ojol (ojek online) untuk mengantarnya ke masjid. Terutama pada waktu zuhur sampai isya. "Kalau subuh terpaksa salat di rumah. Tak ada ojol yang bisa diorder pada jam segitu," ujarnya.

Tak selalu mudah. Lantaran beberapa ojol buru-buru membatalkan orderan setiba di teras rumahnya. "Saya tak marah. Melihat kondisi begini, mereka bakal repot karena harus menggotong saya ke jok motor," jelasnya.

Bukan hanya salat lima waktu, Hanafi juga rajin mengejar pengajian. Dari musala ke masjid, dari satu majelis taklim ke majelis taklim lainnya.

Ditanya adakah cerita spesial terkait "titik balik" yang membuat Hanafi rajin ke masjid, dia menggelengkan kepala. Jawabannya tidak mengandung pesan dakwah yang menggebu-gebu. Tanpa drama yang berlebihan. Apalagi kisah supranatural yang masih menjadi favorit masyarakat Banjar.

Motivasi Hanafi sungguh sangat sederhana. "Saya kesepian di rumah. Saya ingin memiliki banyak teman. Jadi saya ingin ke masjid," jawabnya polos.

Tuhan toh tidak tidur. Beban Hanafi kini lebih ringan. Tiga bulan yang lewat, dia berkenalan dengan Imam Muttaqin, 36 tahun, warga Jalan Sultan Adam. Imam bukan sekadar teman. Dia lah yang mengantarkan Hanafi pulang ke rumah seusai pengajian dengan sepeda motor bebeknya.

Imam adalah lelaki berkulit putih, berjenggot lebat dengan mata sayu. "Kami janjian via WhatsApp. Malam ini masjid mana? Jam berapa? Jadi Hanafi datang dengan ojol, pulangnya saya antarkan," ujarnya.

Bagaimana keduanya bisa bertemu? Imam sering salat di Masjid Ar Rahmah, Sungai Andai. Kebetulan, Hanafi juga senang salat di situ. Beberapa kali melihat Hanafi, Imam tertarik dengan penampilannya yang tidak biasa.

"Suatu hari, alhamdulillah, saya berhasil salat satu shaf dengan Hanafi. Saya ajak berkenalan. Mendengar kisahnya, saya tergerak pengin membantu," kisahnya.

Kini, Hanafi dan Imam telah menyusun jadwal yang rapi. Pada Kamis malam pengajian di Masjid Ar Rahmah, Sungai Andai. Jumat malam di Masjid An Nur, Kampung Arab. Sabtu malam di Masjid Hasanuddin Majedie, Kayu Tangi. Sedangkan pada Minggu malam di Masjid Ar Rahim, Jalan Sultan Adam. Dan terakhir Senin malam di Masjid Muttaqin.

Sejak bertemu Hanafi, Imam mengaku kian bersemangat. "Kalau muncul rasa malas, teringat Hanafi, semangat saya timbul lagi," ujarnya.

Selama wawancara berlangsung, Hanafi tampak sebagai sosok yang rendah hati. Suaranya pelan, jawabannya irit, diam menunggu ditanya, tanpa ada niatan untuk menggurui. Ketika dipotret, dia juga tampak kaku dan agak malu-malu.

Kembali kepada Hanafi, dia ingin memberikan sebuah pesan singkat kepada sidang pembaca. "Jangan tinggalkan salat lima waktu. Itu saja," pungkasnya. (fud/at/nur)

 


BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 07:05

Memahami Selera Fashion Leluhur dari Busana Pengantin Banjar Abad 15-19

BANJARMASIN -Mengusung suara dari masa lampau, bukan berarti Kawang Yoedha anti perubahan. Kreasi modern…

Jumat, 19 Oktober 2018 11:17

Mega Proyek Siring Laut, Jaksa Minta Jangan Curang

KOTABARU - Kepala Kejaksaan Negeri Kotabaru, Indah Laila, meminta jangan ada yang curang terkait pekerjaan…

Jumat, 12 Oktober 2018 09:39

Sembilan Pengungsi Palu "Terdampar" di Banjarmasin, Begini Nasibnya

Empat hari bertahan hidup tanpa bantuan. Melihat penjarahan di mana-mana. Sembilan pengungsi berlayar…

Senin, 01 Oktober 2018 11:17

Nobar Film G30S/PKI, Memahami Sejarah Lewat Film

BANJARMASIN - Mengenang dan memahami sejarah. Itulah misi dari nonton bareng film G30S/PKI yang digelar…

Minggu, 30 September 2018 11:18

Perkantoran Pemprov Kalsel Dijadikan Wisata Edukasi

Menjelang Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38, kawasan Perkantoran Setdaprov Kalsel di Banjarbaru, disulap…

Sabtu, 22 September 2018 13:31

Menjenguk Rumah Berbasis Lingkungan Milik Perkumpulan Pusaka Tabalong

Mungkin ini bisa menjadi contoh bagi yang ingin membangun rumah atau kantor. Ternyata barang bekas bisa…

Jumat, 21 September 2018 09:15

Kisah Mengharukan Perjuangan Para Honorer di Desa-Desa Terpencil

Benar kata mereka: Tak habis kisah jika menceritakan para guru honorer. Dengan perjuangan itu, layak…

Kamis, 20 September 2018 09:47

Sebelum Kuliah, Para Tersangka Perusakan Gedung Dewan Lapor Kantor Polisi Dulu

Empat dari tujuh mahasiswa yang menyandang status tersangka mencerutakan pengalaman mereka selepas unjuk…

Kamis, 13 September 2018 12:05

YS Agus Suseno, Penyair Banjar Yang Berani Menohok Rezim

Meminjam istilah sastrawan Seno Gumira Ajidarma: ketika jurnalisme dibungkam, maka mestinya sastra harus…

Rabu, 12 September 2018 15:23

Kisah Perajin Miniatur Kapal Pinisi dari Sungai Alalak

Salman tak bisa jauh-jauh dari perahu dan sungai. Semasa bujangan, dia menjadi perajin perahu di Pulau…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .