MANAGED BY:
SABTU
16 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 05 Oktober 2018 10:38
Slamet Ingatkan Hak Kaum Difabel Lewat Puisi

Diketik dengan Braille, Ditulis dengan Hati

SETOP DISKRIMINASI: Berkarya dalam keterbatasan,Slamet Riyadi menulis puisi dengan huruf Braille. Puisi itu berjudul Setara dan Dihargai.

PROKAL.CO, Ini pengalaman pertama Slamet Riyadi dalam menulis puisi. Nilai sastranya memang tidak wow. Tapi, puisi itu ditulis dengan huruf Braille. Didedikasikan untuk semua penyandang disabilitas di Banjarmasin.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

MENGGUNAKAN tongkat penuntun dan kacamata hitam, Slamet menaiki panggung Aula Kayuh Baimbai, Balai Kota, kemarin (4/10) pagi. Di depan wali kota dan tamu undangan, dia memperoleh kesempatan membacakan sebuah puisi.

Judulnya Setara dan Dihargai. Puisi ini menceritakan pengalaman pribadinya sebagai penyandang disabilitas. "Kami yang disingkirkan dari tempat kerja," tulisnya.

Antar baris muncul jeda. Maklum, Slamet tidak membaca dengan kedua mata, melainkan dengan sepuluh jemari. Huruf demi huruf diraba. Puisi itu ditulis dengan huruf Braille pada kertas putih keras.

Seusai pembacaan, lembaran itu dia masukkan dengan sangat hati-hati ke dalam tas selempangnya. Terkesan sekali Slamet amat menyayangi buah karyanya tersebut. Takut kumal atau terlipat. "Saya sebenarnya tidak terlahir buta. Cerita orang tua, pada umur dua tahun saya menderita demam hebat berkepanjangan. Demam mereda, ternyata mata saya sudah tidak berfungsi lagi," kisah lelaki 40 tahun tersebut.

Semakin spesial lantaran puisinya diterjemahkan ke dalam gerakan pantomim oleh tiga remaja tuli. Lalu, bagaimana antar mereka bisa berkoordinasi?

Kuncinya adalah latihan. Ditambah seorang penerjemah bahasa isyarat yang membimbing dari pinggir panggung. Pertunjukan kesenian itu memperoleh tepuk tangan hebat dari seisi aula. Peserta acara peluncuran Road Map Kota Inklusi Banjarmasin.

Ditanya tentang proses penulisan, Slamet mengaku hanya perlu duduk merenung selama setengah jam. Semuanya beranjak dari pengalaman pribadi penulis. "Kita sama-sama warga Indonesia, sama-sama ciptaan tuhan. Hanya karena kami penyandang disabilitas, bukan berarti perlakuan atau perkataan bernada diskriminatif itu patut dilontarkan," tegasnya.

Untuk memperjuangkan hak kaumnya, Slamet kini aktif dalam Perhimpunan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Cabang Banjarmasin.

Tinggal bersama seorang istri dan dua anak, bagaimana Slamet menilai Banjarmasin? "Belum semuanya ramah disabilitas. Contoh, dulu pas saya mengurus KTP, sangat-sangat tidak mengenakkan," jawabnya.

Dia berharap, Banjarmasin dalam satu dekade ke depan akan banyak berubah. Memberikan akses yang lebih baik bagi penyandang disabilitas. Terutama akses pada pendidikan, kesehatan, dan layanan publik lainnya.

Ditanya apakah dia akan kembali menulis puisi atau bahkan berniat menjadi penyair, Slamet tergelak. "Hahahaha. Ini puisi perdana. Saya belum menentukan apakah akan menulis yang kedua dan seterusnya," ujarnya.(at/dye)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*