MANAGED BY:
MINGGU
26 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 05 Oktober 2018 10:38
Slamet Ingatkan Hak Kaum Difabel Lewat Puisi

Diketik dengan Braille, Ditulis dengan Hati

SETOP DISKRIMINASI: Berkarya dalam keterbatasan,Slamet Riyadi menulis puisi dengan huruf Braille. Puisi itu berjudul Setara dan Dihargai.

PROKAL.CO, Ini pengalaman pertama Slamet Riyadi dalam menulis puisi. Nilai sastranya memang tidak wow. Tapi, puisi itu ditulis dengan huruf Braille. Didedikasikan untuk semua penyandang disabilitas di Banjarmasin.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

MENGGUNAKAN tongkat penuntun dan kacamata hitam, Slamet menaiki panggung Aula Kayuh Baimbai, Balai Kota, kemarin (4/10) pagi. Di depan wali kota dan tamu undangan, dia memperoleh kesempatan membacakan sebuah puisi.

Judulnya Setara dan Dihargai. Puisi ini menceritakan pengalaman pribadinya sebagai penyandang disabilitas. "Kami yang disingkirkan dari tempat kerja," tulisnya.

Antar baris muncul jeda. Maklum, Slamet tidak membaca dengan kedua mata, melainkan dengan sepuluh jemari. Huruf demi huruf diraba. Puisi itu ditulis dengan huruf Braille pada kertas putih keras.

Seusai pembacaan, lembaran itu dia masukkan dengan sangat hati-hati ke dalam tas selempangnya. Terkesan sekali Slamet amat menyayangi buah karyanya tersebut. Takut kumal atau terlipat. "Saya sebenarnya tidak terlahir buta. Cerita orang tua, pada umur dua tahun saya menderita demam hebat berkepanjangan. Demam mereda, ternyata mata saya sudah tidak berfungsi lagi," kisah lelaki 40 tahun tersebut.

Semakin spesial lantaran puisinya diterjemahkan ke dalam gerakan pantomim oleh tiga remaja tuli. Lalu, bagaimana antar mereka bisa berkoordinasi?

Kuncinya adalah latihan. Ditambah seorang penerjemah bahasa isyarat yang membimbing dari pinggir panggung. Pertunjukan kesenian itu memperoleh tepuk tangan hebat dari seisi aula. Peserta acara peluncuran Road Map Kota Inklusi Banjarmasin.

Ditanya tentang proses penulisan, Slamet mengaku hanya perlu duduk merenung selama setengah jam. Semuanya beranjak dari pengalaman pribadi penulis. "Kita sama-sama warga Indonesia, sama-sama ciptaan tuhan. Hanya karena kami penyandang disabilitas, bukan berarti perlakuan atau perkataan bernada diskriminatif itu patut dilontarkan," tegasnya.

Untuk memperjuangkan hak kaumnya, Slamet kini aktif dalam Perhimpunan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Cabang Banjarmasin.

Tinggal bersama seorang istri dan dua anak, bagaimana Slamet menilai Banjarmasin? "Belum semuanya ramah disabilitas. Contoh, dulu pas saya mengurus KTP, sangat-sangat tidak mengenakkan," jawabnya.

Dia berharap, Banjarmasin dalam satu dekade ke depan akan banyak berubah. Memberikan akses yang lebih baik bagi penyandang disabilitas. Terutama akses pada pendidikan, kesehatan, dan layanan publik lainnya.

Ditanya apakah dia akan kembali menulis puisi atau bahkan berniat menjadi penyair, Slamet tergelak. "Hahahaha. Ini puisi perdana. Saya belum menentukan apakah akan menulis yang kedua dan seterusnya," ujarnya.(at/dye)


BACA JUGA

Jumat, 24 Mei 2019 09:11
Ustad Arifin Ilham, Ulama Kondang Asal Kalsel Berpulang

Ingin Dimakamkan di Gunung Sindur, Minta Dikubur Malam Jumat

Ustad Arifin Ilham berpulang semalam. Setelah sempat kritis selama satu…

Kamis, 23 Mei 2019 15:01
Mengikuti Peringatan Nuzulul Quran di Masjid Lapas Banjarbaru

Berderai Air Mata, Ratusan Napi Teringat Keluarga

Ratusan napi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Banjarbaru berkumpul.…

Kamis, 23 Mei 2019 09:48

Kisah Kerusuhan 23 Mei: Telepon Guru Sekumpul Bikin Karno Tenang

Peristiwa itu masih melekat kuat di ingatan H Karno. Pria…

Rabu, 22 Mei 2019 12:54
Berkunjung ke Eks Bangunan Rumah Sakit Paru dr H Andi Abdurrahman Noor di Batulicin

Tak Terawat, Mulai Jadi Sumber Cerita Angker

Eks bangunan rumah sakit Andi Abdurrahman Noor ini sudah tidak…

Senin, 20 Mei 2019 11:38
Tradisi Bapapai, Mandi di Malam Pertama bagi Trah Ulu Benteng

Yang Menghindari Tradisi ini Bisa Gila

Mau jadi penganten di Ulu Benteng, Batola harus siap mental.…

Minggu, 19 Mei 2019 10:22

Berbincang dengan Guru Haji Abul Hasan Desa Gadung Keramat Bakarangan

Desa Gadung Keramat Kecamatan Bakarangan dari dulu terkenal akan banyaknya…

Sabtu, 18 Mei 2019 10:54
Melihat Tradisi “Tempur Meriam” di Hulu Sungai Tengah

Rayakan dengan Dentuman untuk Pupuk Kebersamaan

Setiap Ramadan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah selalu menjadi ajang pertempuran…

Jumat, 17 Mei 2019 11:38
Berbincang dengan Nelayan Tanjung Selayar di Musim Tenggara

Jangankan Baju Baru, Buat Makan Saja Susah

Angin tenggara berembus kencang. Pondok Ahmad di tepi pantai bergetar…

Kamis, 16 Mei 2019 12:21
Ustaz Muhammad Kasim, Pengajar Alquran di Pegunungan Meratus HST

Ajarkan Alquran Sambil Memasak, Jadikan Santri Sebagai Keluarga

Tak rela menyaksikan sebuah surau di atas pegunungan terbengkalai, Muhammad…

Rabu, 15 Mei 2019 15:41
Pengasuh Ponpes Tarbiyatul Furqan, Cetak Para Pendakwah Tangguh

Ratusan Ustaz Dikirim ke Desa Terpencil sampai Perkotaan

Tinggal sedikit pesantren yang memiliki misi untuk mencetak para dai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*