MANAGED BY:
SENIN
18 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 08 Oktober 2018 13:51
Kisah Maidian yang Mencari Kabar Istri dan Anak di Sulteng
TURUT BERBAGI: Maidian (jaket kuning) tak tinggal diam. Dia juga turut menyumbangkan pakaian dan makanan untuk korban bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. | Foto: Endang Syarifuddin/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Palu dan Banjarmasin jaraknya jauh sekali. Getaran gempa di Sulawesi Tengah, tak sampai ke kota ini. Tapi siapa sangka, ada seseorang yang turut merasakan kegetirannya. Dia adalah Maidian. Berikut curahan hatinya.

ENDANG SYARIFUDDIN, Banjarmasin

Maidian tinggal di Jalan Simpang Anim, RT 15, Banjarmasin Barat. Pria Jawa berusia 52 tahun itu sudah tinggal di kota ini sejak tahun 1985.

Lalu apa hubungannya Maidian dengan gempa dan tsunami di Sulteng? Istri dan anaknya ternyata berada di sana. Keduanya tinggal di Desa Euopolo, Kecamatan Siniu, Kabupaten Parigi Moutong. Tepat berada di sebelah timur Kota Palu.

Cerita Maidian terungkap saat bertemu dengan Radar Banjarmasin di Pelabuhan Trisakti Bandarmasih. Dia datang menumpang becak motor (bentor) sambil membawa sejumlah kardus. Isinya pakaian perempuan dan anak-anak serta makanan. Barang-barang itu akan disumbangkan untuk korban gempa di Sulteng.

“Pakaian dan makanan ini mungkin tidak seberapa. Tapi saya sudah berniat untuk menyumbang. Harapannya didoakan mudahan istri dan anak saya yang berada di Palu masih selamat dari gempa,” ucapnya lirih. Maidian menikahi istrinya pada 2004 dan baru dikaruniai seorang putri.

Istri Maidian adalah Asnan. Sementara putrinya bernama Nazila Nur Fitria alias Ila (10). Keduanya sudah berada di Sulteng dalam dua tahun terakhir. Mereka harus mengurus kerabatnya di sana.

“Karena diminta oleh kakak-kakaknya untuk menjaga keponakan. Ya, istri saya menetap di sana bersama dengan anak saya. Sementara saya tetap di Banjarmasin bekerja,” ujarnya.

Selama ini Maidian menjalani hubungan jarak jauh dengan istri dan anaknya. Tapi mereka tetap intens berkomunikasi. Dalam sepekan sedikitnya tiga sampai empat kali berbincang melalui ponsel atau video call Whatsapp. “Terakhir kali telepon tiga hari sebelum kejadian (gempa,Red). Setelah itu tidak bisa lagi,” ungkapnya dengan raut cemas.

Pasca bencana, Jumat (28/9), Midian mengaku berkali-kali mencoba menghubungi ponsel istrinya. Tapi tak kunjung tersambung. Dia ingin sekali segera mendapat kabar keadaan kedua orang yang sangat disayanginya itu. Saking bingungnya, membuat pikiran kacau. Pekerjaannya sebagai tukang las di sebuah perusahaan kayu lapis pun terganggu.

“Kerjaan juga terganggu, dan sering ditegur sama teman. Tapi tidak saya beritahu penyebabnya. Setelah gajian baru ngomong sama bos minta izin untuk ke Palu mencari anak dan istri, dan alhamdulillah diizinkan,” katanya.

Meski sudah mendapat izin, Midian masih bingung bagaimana berangkat ke sana. Karena uang gaji mingguan yang didapatnya masih belum cukup untuk biaya transportasi. Dia berusaha meminjam kepada teman.

“Untung saja saya diizinkan menumpang KRI Surabaya. Semoga saja bisa bertemu dengan istri dan anak saya,” ucapnya meminta doakan kepada seluruh masyarakat di Banjarmasin.

Kontak terakhir dengan Radar Banjarmasin, Minggu (7/10) siang, kapal yang ditumpangi Midian baru saja berangkat dari Pelabuhan Semayang Balikpapan. Kapal tersebut mengangkut logistik di wilayah Balikpapan. Diperkirakan akan tiba di Palu hari ini. (gmp/at/nur)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*