MANAGED BY:
JUMAT
22 MARET
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 19 Oktober 2018 10:35
Berkenalan dengan Muhammad Fikri, Pemenang Jamang Award 2018

Videografi Cuma Hobi, Passion Tetap Bisnis

MUDA BERPRESTASI: Muhammad Fikri Ashshiddiqi, 19 tahun, setelah menerima Jamang Award 2018 di Gedung Balairungsari Taman Budaya Kalsel, akhir September tadi.

PROKAL.CO, Di ruang tunggu Bandara Syamsuddin Noor, menemani penumpang menanti panggilan keberangkatan, diputar video yang menceritakan budaya dan objek wisata di Kalsel. Siapa yang menyangka pembuatnya baru berumur 19 tahun. Namanya Muhammad Fikri Ashshiddiqi.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

VIDEO berdurasi 2 menit 34 detik itu dibuka dengan pemandangan matahari terbit di Sungai Martapura. Pagi itu, seorang pemuda berbadan tegap sedang bersemedi di bawah pohon. Hari beranjak terang, dia telah menuntaskan latihan olah napas tersebut.

Di tengah padang rumput yang lapang, dia melanjutkan latihan. Mengasah jurus-jurusnya dalam Kuntaw Banjar. Tekadnya tampak dalam kain Sasirangan warna merah darah yang dia ikatkan ke kepala.

Pemuda ini rupanya seorang pendulang intan. Setelah lelah bekerja seharian, pulang ke rumah, anak dan ibunya telah menunggu. Sang nenek mengayun cucu dalam kain warna kuning. Kain yang sakral bagi adat orang Banjar.

Setelah itu, video diisi kolase. Dari lanskap Pasar Terapung, duel silat di atas jembatan gantung Lokbaintan, dan anak-anak yang belajar mengaji Alquran setelah salat Magrib.

Musik latarnya terdengar lirih dan mistis. Yang tak lain suara si nenek itu sendiri. Dia melantunkan syair-syair lama Banjar yang biasa dipakai untuk meninabobokan anak-anak zaman dulu. "Adegan maayun (mengayun, Red) itu diambil di Sungai Jingah. Kami beruntung bertemu nenek itu. Dia memang penyair betulan. Dia masih menguasai syair-syair lama untuk mengayun anak," ungkap Fikri.

Sungai Jingah di Banjarmasin Utara telah ditetapkan sebagai bagian dari Kota Pusaka. Di sini, masih mudah menemui rumah-rumah tua dengan arsitektur campuran ala Banjar, Belanda, dan Tionghoa.

Kami bertemu pada Rabu (17/10) malam. Wawancara ditemani kopi es dari sebuah halaman ritel di Jalan Hasan Basry. Fikri tampak santai. Mengenakan hoodie, celana pensil, dan sandal jepit.

Dari balik kacamatanya yang besar, Fikri masih tampak mengantuk. Dia rupanya sempat ketiduran. Kecapekan setelah seharian di kampus. Kami mengobrol banyak tentang pembuatan video tersebut. "Konsep awalnya memang mengenalkan budaya lama yang sudah jarang diketahui anak muda. Seperti tradisi maayun dan kuntaw. Jadi ini bukan sekadar video promosi pariwisata," jelasnya.

Karya itu kemudian diganjar Jamang Award 2018 untuk Kategori Halilipan. Event ini milik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel. Umurnya masih muda, ini tahun kedua Jamang digelar. "Tapi pesertanya sudah seram-seram. Dalam artian, karya-karya mereka sangat bagus. Persaingannya ketat," bandingnya. Wajar, karena para pemenang memperoleh hak istimewa. Karya-karya mereka akan diputar selama setahun di videotron Mahligai Pancasila, Bandara Syamsuddin Noor, dan acara-acara pemprov.

Fikri awalnya sangsi karyanya bakal menang. Penggarapan video itu diburu waktu. Dia cuma punya waktu sepekan untuk mengejar tenggat waktu pengumpulan karya. "Lima hari untuk syuting, dua hari untuk editing. Kerja kilat untuk kejar tayang," ujarnya lantas tertawa.

Untuk lokasi syuting, kebanyakan diambil di Banjarmasin, Banjarbaru dan Kabupaten Banjar. Selain menggunakan DSLR standar, juga dioperasikan drone. "Untuk menekan budget, saya mengajak beberapa kawan bergabung. Kerja sukarela," ungkapnya.

Fikri merangkap sebagai pimpinan proyek, kameramen, sekaligus editor. Dibantu oleh Rasyidi, Adli, dan Fahri. "Semuanya kebetulan masih adik kelas. Khusus si Fahri, dialah yang jadi pemeran pemain kuntaw itu. Dia lebih dikenal sebagai Nanang Banjar," kisahnya.

Untuk kendala di lapangan, yang paling terasa adalah akses. Beberapa lokasi pengambilan gambar tak mudah untuk dimasuki kru. Fikri juga dituntut memasukkan konten budaya, keindahan alam Kalsel, promosi wisata, dan nilai religius dalam satu video pendek. "Semakin pendek semakin susah. Bagaimana caranya agar penonton menangkap pesan yang ingin kita sampaikan? Sementara kita tidak punya banyak waktu untuk bercerita," ulasnya. 

Ini bukan pertama kalinya Fikri memenangi kompetisi videografi. Tahun 2016, dia mewakili Kalsel dalam kompetisi film pendek yang digelar BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) RI. Judul filmnya Sepatu. "Pada tahun yang sama, saya menang di kategori best full videos. Yang bikin Telkomsel. Pesaingnya se-Indonesia. Hampir seratus ribu. Luar biasa," ujarnya.

Yang mengejutkan adalah latar belakang Fikri. Dia alumni SMAN 1 Banjarmasin. Bukan dari Jurusan Multimedia SMK manapun. Saat kuliah, dia juga lebih memilih Jurusan Manajemen di STIE Kayu Tangi.

Fikri mempelajari videografi secara otodidak. Kebanyakan dari YouTube dan komunitas sineas lokal. Untuk menambah uang saku, dia juga rajin menerima orderan untuk memotret resepsi perkawinan. "Serius di videografi baru dua tahun terakhir. Kalau fotografi, saya lebih senang nge-street," jelasnya.

Lantas, mengapa dia tak kuliah di jurusan perfilman? Fikri dengan mantap menjawab tidak. "Videografi sebatas hobi. Paling jauh kerja sampingan. Saya lebih tertarik menjadi pebisnis atau wirausahawan," tegasnya.

Saking kukuhnya dengan jawaban di atas, sejumlah tawaran bergabung dari production house dia tampik. Tentu sayang jika mengingat bakatnya dalam videografi. "Mungkin karena saya belum nge-klik saja. Hati saya belum terbuka untuk videografi. Passion saya masih bisnis," tuntasnya.(at/dye)


BACA JUGA

Rabu, 20 Maret 2019 14:22

Kesempatan untuk Belajar Jadi Minoritas

Sulit menjawab pertanyaan siapa sebenarnya orang asli Singapura. Negara itu…

Selasa, 19 Maret 2019 15:20

Jalan 17 Ribu Langkah Sehari, Makan Nasi Lemak Tiap Hari

Selama perjalanan di Singapura bersama Chairman Kaltim Post Group (KPG)…

Senin, 18 Maret 2019 10:37

Menikmati Air Minum ‘Termahal’

Meskipun sudah berulang kali ke Singapura, jalan-jalan kali ini cukup…

Minggu, 17 Maret 2019 10:18
Aulia Aziza

Meneliti Seks dalam Bahasa Tutur Masyarakat Banjar

BANJARMASIN -- Di bawah atap rumah orang Banjar, seks adalah…

Sabtu, 16 Maret 2019 11:45

Cincin Talipuk Acil Rida di Pasar Induk Amuntai, Sering DIbawa Sampai Makkah

Cinta atau kue cincin talipuk, kue unik yang terbuat dari…

Jumat, 15 Maret 2019 10:59

Padi Raksasa Milik Aliansyah di HST

Petani Indonesia Menggugat (PIM), bukanlah nama sebuah organisasi aktivis. Ini…

Selasa, 12 Maret 2019 11:57

Ke Bukit Mangkun HST, Medan Berat Terbayar Indah Pemandangan dan Anggrek Liar

Radar Banjarmasin mengikuti para pegiat alam ke Bukit Mangkun. Inilah…

Senin, 11 Maret 2019 09:56

Masih Jomblo, Si Cantik Ini Malah Berasa Sudah Punya Anak

Priskila Dwi Utami, paling senang dipanggil Kila. Usianya 25 tahun.…

Senin, 11 Maret 2019 09:03

Ziarah Sekumpul, Ziarah Cinta

Haul Guru Sekumpul tidak mungkin pernah ada jika tak pernah…

Jumat, 08 Maret 2019 10:32

Masih Bocah, Tiga Bersaudara Ini Keliling Jualan Kerupuk

Masih bocah, tiga bersaudara ini malah ikut memikirkan kebutuhan hidup…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*