MANAGED BY:
SELASA
20 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 26 Oktober 2018 15:28
Menanti Hujan Turun di Pulau Laut, PDAM Andalkan Empang...Eh Waduk
HARAPAN SAAT KEKERINGAN: Waduk atau Embung Tirawan jadi harapan terakhir pasokan air ke pusat kota jika Waduk Gunung Ulin mengering.

PROKAL.CO, Doa PDAM minta hujan rupanya masih tertahan di langit. Pulau Laut panas, walau siang kemarin sempat ada awan mendung sebentar. Di Gunung Ulin, di dalam hutan dekat pipa air warga, suara mendesis seperti lidah ular raksasa terdengar.

==================================

Zalyan Shodiqin Abdi, Pulau Laut

===================================

Itu bukan waduk, tapi empang. Keluh warga Gunung Ulin kepada penulis, Kamis (25/10) kemarin. Pernyataan itu dia sampaikan mengkritisi kapasitas waduk andalan pemerintah, Waduk Gunung Ulin.

Waduk utama itu hampir lumpuh. Lebih separuh airnya mengering. Di hulu waduk air masih mengalir dari sungai pegunungan Sebatung. Tapi tidak mampu mengisi waduk.

Waduk lumpuh, warga pusat kota akan sengsara. Lima ribuan rumah yang mendapat pasokan dari Waduk Gunung Ulin, sekitar 9 kilometer dari pusat kota.

Tapi bagi warga Gunung Ulin sendiri mereka masih tenang. Warga di sana mengelola sendiri persediaan air. Memasang pipa ratusan meter ke dalam hutan, air di sungai punggung Sebatung mengalir lancar ke rumah-rumah.

Penasaran dengan kondisi air di Sebatung, penulis masuk hutan di belakang waduk. Di dalam hutan ada pipa besi besar. Itu milik pemerintah. Pipa itu mengalirkan air ke pengolahan di Gunung Ulin. Selain pipa besi, ada banyak pipa plastik, silang-menyilang.

Di dalam hutan, jalannya setapak. Rimbun pepohonan. Air kali mengalir. Tidak sederas saat musim hujan. Batu-batu di kali masih ditumbuhi lumut. Di salah satu tikungan terdengar desisan keras, seperti bunyi ular raksasa. Ternyata itu bunyi air yang muncrat dari salah satu pipa warga. Lubangnya kecil, sehingga air keluar dalam interval tertentu, menandakan tekanan air dalam pipa tinggi.

Lebih jauh ke dalam, pipa-pipa bocor banyak ditemukan. Kali ini bocornya agak besar. Air ke luar terus menerus. Ada yang memancur sekitar tiga meter ke atas. Airnya memercik ke ranting-ranting yang rapat, sinar matahari terhalang. Pemandangan itu mirip seperti hutan hujan tropis yang masih perawan.

Di dalam hutan, pipa-pipa warga itu seolah mencari jalannya masing-masing. Ada yang ujung pipanya di salah satu cekungan kali, sekitar tiga ratus meter di dalam hutan. Ada yang ujungnya masuk ke semacam penampungan air olahan di atasnya. Ada juga yang masuk jauh ke atas, lima ratus meter masuk hutan penulis belum menemukan ujung pipanya.

Air sungai di punggung Sebatung itu yang jadi andalan warga di sana. Mereka sudah sejak lama percaya dengan kebaikan alam Sebatung. Jadi tidak perlu memasang kilometer PDAM di rumahnya.

Asmari pegawai BPN yang membuat tempat wisata kuliner di belakang waduk mengatakan, air sungai di gunung akan bertahan sampai akhir tahun. Di tahun 2015, saat kemarau panjang selama 9 bulan katanya, air di gunung masih mengalir, meski sangat pelan, berjam-jam menunggu baru penuh penampungan air di dapur.

Fakta-fakta itu sedikit membantah, anggapan kekeringan waduk tiap tahun di Pulau Laut karena hutan sudah kurang. Sekitar tiga setengah kilometer dari pusat kota, di Gunung Mandar, kaki Sebatung sungainya juga masih mengalir. Masih banyak lekukan-lekukan sungai yang dalam. Di sini juga warganya mengelola sendiri air mereka.

Beberapa warga Gunung Ulin menolak anggapan keringnya waduk karena hutan yang kurang. Mereka menilai, kondisi waduk itu sendiri yang tidak mampu menampung air dalam jumlah banyak. Bahkan warga mengatakan itu bukan waduk tapi empang.

Ditemui di kantornya, Dirut PDAM Noor Ipansyah membenarkan, Waduk Gunung Ulin tidak terlalu dalam. Jika ingin diperdalam, maka bendungannya harus diubah. "Kajiannya sudah ada. Kalau dikasih dalam lagi, runtuh bendungannya itu. Diperlebar bisa jadi pilihan," ujarnya. Jika merubah bendungan memerlukan anggaran yang besar.

Waduk Gunung Ulin kata Ipansyah, selama pengalamannya hanya mampu bertahan selama sebulan dihantam kemarau. Di atas sebulan terpaksa dilakukan kebijakan penggiliran air. Sekarang sebutnya waduk hampir lumpuh. Pasokan air ke pengolahan Gunung Ulin sudah mengandalkan pipa besi besar yang ada di dalam hutan.

Solusi jangka pendek bagi warga yang terdesak, bisa meminta ke PDAM. "Harus ada koordinatornya, misalnya RT mana mau air, di mana tempatnya, nanti kita bawakan mobil tangki ke sana," ujar Ipan.

Ada empat mobil tangki yang siaga. Dua milik PDAM kapasitas 4.000 liter. Dua milik BPBD kapasitas 5.000 liter. Juga sebutnya warga bisa mengambil air di rumah dinas PDAM. Di sana sudah disediakan pancuran gratis. Menunggu selesai koneksi pipa dari waduk atau Embung Tirawan ke pipa langganan PDAM di daerah selatan kota.

Dari pantauan penulis, pekerja sudah mulai memasang pipa. Untuk menghubungkan aliran Tirawan ke kota. Embung Tirawan ketinggian airnya masih kisaran empat meter. "Kalau kita maksimalkan masih tahan itu dua bulan," ujar Ipansyah.

Tirawan dibangun tahun 2016, mulai selesai tahun 2017. Pasokan airnya dialirkan ke perkotaan bagian utara. Jadi kantor bupati, sampai rumah bupati di Desa Hilir Muara hingga kini masih aman pasokan airnya. Tahun ini jadi ujian Embung Tirawan hadapi kemarau. Jika ada perubahan dibanding kemarau tahun-tahun lalu, artinya Ipansyah benar, harus diperbanyak waduk atau embung di Pulau Laut.

Ipansyah mengatakan, Pulau Laut hanya mengandalkan air resapan. Sangat bergantung kualitas hutan. Untuk jangka panjang katanya, pemulihan kawasan hutan harus digalakkan agar kondisi air di Pulau Laut bisa lebih baik lagi.

Ipansyah juga berharap, pihak-pihak terkait yang punya peranan terhadap ketersediaan air, bisa memberikan program-program itu. Pembuatan embung, waduk dan sarana lainnya mesti dimaksimalkan.

Senin (22/10) tadi, puluhan pegawai PDAM termasuk Ipansyah menggelar salat Istisqa di Gunung Ulin. Mereka berdoa agar hujan turun. Belum lama tadi, hujan memang sempat turun hampir setengah hari di Pulau Laut, tapi intensitasnya masih sangat rendah.(ay/ran)


BACA JUGA

Sabtu, 17 November 2018 13:52

Bawa Dua Penumpang Misterius (3)

BANJARMASIN - Sebelum Pesawat DC-8 Loftleider Icelandic yang membawa 249…

Sabtu, 17 November 2018 13:46

Mimpi Salat di Antara Mayat Dalam Masjid Nabawi (2)

BANJARMASIN - Sementara itu, KH Taberani Basri masih ingat kejadian…

Sabtu, 17 November 2018 13:35
Mengenang Tragedi Kolombo 15 November 1978

Ingat Pesawat Kusam dan Kepulangan Yang Tertunda (1)

BANJARMASIN - Tragedi jelang tengah malam di pertengahan November 1978…

Kamis, 15 November 2018 12:03

Jalan Untuk Kaum Difabel di DPRD Jatim

Hak penyandang disabilitas sekarang ini masih kurang, baik sarana maupun…

Selasa, 13 November 2018 15:04

Event Gowes Untukmu Pahlawanku Meriah dan Banyak Hadiah

WALAU Sempat diguyur hujan, Fun Gowes Untukmu Pahlawanku "Semangat Pahlawan…

Selasa, 13 November 2018 14:47

Unik, Samsat Bergerak Sapu Jagad

BANJARMASIN - Untuk meningkatkan pendapatan di sektor pajak, Badan Keuangan…

Senin, 12 November 2018 12:52
Berita Tenaga Kerja Indonesia

Hongkong Paling Banyak, Baru Arab Saudi

September tadi, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banjarmasin bersama BP3TKI…

Sabtu, 10 November 2018 11:34

Mengenang Gugurnya Sembilan Syuhada 9 November 1945 di Banua

Abdul Majid, lahir sepuluh tahun setelah penyerangan 9 November 1945.…

Jumat, 09 November 2018 08:35

Kisah Pengrajin Arang Asal Banjarbaru Ciptakan Alat Musik dari Arang

Lima tahun bergelut sebagai pengrajin dan wirausaha arang, Narwanto berpikir…

Kamis, 08 November 2018 13:07

Kala Dua Penyandang Tunanetra Raih Juara Literasi Tingkat Nasional

Memiliki keterbatasan, tak menghentikan dua penyandang tunanetra: Ikhsanul Sodikin, 17,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .