MANAGED BY:
SELASA
26 MARET
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 06 November 2018 14:50
Sungai Baru Larut dalam Nostalgia Layar Tancap
SERIUS: Sejumlah anak tengah asik serius menonton pemutaran film layar tancap.

PROKAL.CO, Layar tancap adalah hiburan rakyat. Orang juga menyebutnya dengan misbar alias gerimis bubar. Di Banjarmasin, layar tancap sudah lama menghilang. Forum Sineas Banua kembali menghidupkannya dalam nama Layar Tajak.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

SETELAH kerusuhan Jumat Kelabu pada tahun 1997 pecah, bisnis bioskop di Banjarmasin runtuh. Satu demi satu bioskop lokal tutup. Sebut saja Bioskop Cempaka, Ria, President dan Bioskop Merdeka.

Sejak itu pula, Jauhar tak pernah lagi pergi ke bioskop. "Setelah Cempaka dan Merdeka tutup, enggak pernah lagi nonton," ujar lelaki 50 tahun itu.

Benar, di Banjarmasin dan Banjarbaru kini berdatangan bioskop besar. Seperti XXI, The Premiere, dan Cinemaxx. Tapi baginya, tiket nonton di sana terlampau mahal.

Maka lelaki gondrong itu pun sungguh girang. Ketika pada Minggu (4/11) malam di Sungai Baru, digelar pemutaran Layar Tajak (layar tancap dalam Bahasa Indonesia).

Ada enam film pendek yang diputar. Favorit Jauhar berjudul Miniatur, film pendek karya Sanggar Titian Barantai, Uniska. "Saya suka bagian dramanya. Jadi ikut-ikutan sedih," ujarnya.

Sementara Tal'at, 46 tahun, sedikit lebih beruntung. Dia beberapa kali diajak menonton ke Duta Mall oleh anak-anaknya. "Terakhir nonton The Avengers. Enggak ngerti juga alur ceritanya bagaimana," akunya.

Saat masih bujangan, dia kerap nongkrong di President. Bioskop yang berdekatan dengan Kampung Ketupat, julukan Sungai Baru. "Dulu masih bujangan, sekarang sudah punya dua anak. Jadi ikut nonton di Layar Tajak sini ibarat bernostalgia," imbuhnya.

Ada enam film yang diputar. Yakni Pusara Kasih karya Rizwan Azhar. Lalu Ijum Balogo karya Husin Claymation. Dan Miniatur karya STB Uniska. Adapula film animasi berjudul Figment, karya sineas lokal yang bekerjasama dengan ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta. Kemudian Kuriding karya PCC (Photography, Conceptual dan Cinematography) Banjarmasin. Dan ditutup dengan Kontras karya Bias Film.

Layar Tajak dimulai setelah isya. Warga pun tumpah-ruah. Dari bocah sampai kakek dan nenek duduk lesehan. Di atas terpal yang digelar di halaman siring.

Ini merupakan pemutaran ketiga. Pemutaran perdana di halaman SDN Sungai Miai 5 pada Jumat (2/11) malam. Dilanjutkan ke halaman kantor Pembakal Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar, pada Sabtu (3/11) malam.

Masih ada dua pemutaran lagi di Kuin Selatan dan di Banua Anyar hingga akhir pekan nanti. "Ini sebenarnya pemanasan. Sebelum kami menggelar Aruh Film Kalimantan," kata Ketua FSB, Zainal Muttaqin.

Misi Layar Tajak adalah mempromosikan film-film karya sineas lokal. "Dari segi cerita, lokasi, dan bahasa, sangat dekat dengan mereka. Tapi banyak warga yang belum tahu karya-karya ini. Oh, ternyata orang Banjar juga bisa bikin film ya," jelasnya.

Tujuan lain, memberi pengalaman nonton kepada masyarakat. Terutama bagi para orang tua yang sudah lama tak ke bioskop. "Pengalaman sosial menonton seperti ini jelas sangat berbeda dengan menonton di televisi atau layar smartphone," tukasnya.

Yang menarik, sedari awal panitia tak menetapkan daftar film. Panitia membiarkan masyarakat berdatangan. Jika lebih banyak anak-anak yang datang, film berlabel 17+ takkan diputar.

"Kami belajar dari pengalaman pemutaran perdana. Daftar film sudah disiapkan. Ternyata kebanyakan anak-anak. Kami tak enak hati memutar film eksyen yang banyak menampilkan adegan kekerasan," jelas ketua panitia, Sarwani.

Sejauh ini, yang paling berkesan di benaknya adalah pemutaran di Lok Baintan. "Kebetulan, masyarakat di sana sedang menggelar lomba balogo. Begitu kami putar film Ijum Balogo. Sorak penonton pecah banget," pungkasnya. (fud)


BACA JUGA

Jumat, 22 Maret 2019 14:50

Kala Jeruji Besi Tak Menyurutkan Niat untuk Belajar

Pendidikan adalah hak semua warga negara.  Tak terkecuali mereka yang…

Rabu, 20 Maret 2019 14:22

Kesempatan untuk Belajar Jadi Minoritas

Sulit menjawab pertanyaan siapa sebenarnya orang asli Singapura. Negara itu…

Selasa, 19 Maret 2019 15:20

Jalan 17 Ribu Langkah Sehari, Makan Nasi Lemak Tiap Hari

Selama perjalanan di Singapura bersama Chairman Kaltim Post Group (KPG)…

Senin, 18 Maret 2019 10:37

Menikmati Air Minum ‘Termahal’

Meskipun sudah berulang kali ke Singapura, jalan-jalan kali ini cukup…

Minggu, 17 Maret 2019 10:18
Aulia Aziza

Meneliti Seks dalam Bahasa Tutur Masyarakat Banjar

BANJARMASIN -- Di bawah atap rumah orang Banjar, seks adalah…

Sabtu, 16 Maret 2019 11:45

Cincin Talipuk Acil Rida di Pasar Induk Amuntai, Sering DIbawa Sampai Makkah

Cinta atau kue cincin talipuk, kue unik yang terbuat dari…

Jumat, 15 Maret 2019 10:59

Padi Raksasa Milik Aliansyah di HST

Petani Indonesia Menggugat (PIM), bukanlah nama sebuah organisasi aktivis. Ini…

Selasa, 12 Maret 2019 11:57

Ke Bukit Mangkun HST, Medan Berat Terbayar Indah Pemandangan dan Anggrek Liar

Radar Banjarmasin mengikuti para pegiat alam ke Bukit Mangkun. Inilah…

Senin, 11 Maret 2019 09:56

Masih Jomblo, Si Cantik Ini Malah Berasa Sudah Punya Anak

Priskila Dwi Utami, paling senang dipanggil Kila. Usianya 25 tahun.…

Senin, 11 Maret 2019 09:03

Ziarah Sekumpul, Ziarah Cinta

Haul Guru Sekumpul tidak mungkin pernah ada jika tak pernah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*