MANAGED BY:
SENIN
25 MARET
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 09 November 2018 08:35
Kisah Pengrajin Arang Asal Banjarbaru Ciptakan Alat Musik dari Arang
KREASI: Narwanto menunjukkan hasil kreativitasnya dari arang yang disulapnya menjadi alat musik mirip gamelan saat ditemui di kediamannya di Jalan Sidomulyo Raya Landasan Ulin Banjarbaru pada Rabu (7/11) sore.

PROKAL.CO, Lima tahun bergelut sebagai pengrajin dan wirausaha arang, Narwanto berpikir harus ada yang baru dan unik dalam profesinya itu. Lahirlah alat musik dari arang yang unik mirip gamelan.

============================

MUHAMMAD RIFANI, Banjarbaru

============================

Pertama menginjakkan kaki di rumahnya di Jalan Sidomulyo Raya Landasan Ulin Banjarbaru, hawa seni kreasi langsung terasa. Dia menyulap arang menjadi hiasan. Kayu-kayu juga disulap menjadi barang antik dan menarik.

Narwanto sendiri sehari-hari memang berjualan arang merk Najune Binchotan. Arang aktif ini dijual sachetan untuk khasiat kesehatan, pembersih, dan lain-lain. Rumahnya di Landasan Ulin dipasanginya plang: Rumah Pengarang. Sekilas, tulisan itu kerap mengecoh. Tapi Narwanto sendiri memang hobi menulis selain mengarang. Dia menulis untuk mendalami profesinya sebagai pedagang arang.

Sejak 2012 belajar mengolah arang menjadi barang bernilai ekonomis, Narwanto terus mengembangkan karyanya. Terbaru, pemuda asal Bojonegoro ini mendapat ilham untuk lebih mengeksplorasi benda hitam hasil pembakaran dari kayu ini. Yakni membuatnya menjadi sebuah alat musik.

"Jadi arang itu ada dua jenis, arang hitam sama putih, nah yang putih ini dia teksturnya keras serta kalau dibenturkan mengeluarkan suara dentingan seperti baja," mulai Narwanto bercerita.

Meski ia menyebut arang putih, tapi tetap saja penampakan warnanya hitam. Narwanto menyebutnya sebagai arang putih karena kualitas dan harga jualnya yang lebih mahal.

Dari bunyi itu, Narwanto mulai terpikir memaksimalkannya. Awalnya bukan berbentuk atau dikonsep alat musik seperti sekarang. Melainkan hanya untuk menarik perhatian kala dirinya membuka lapak di acara expo dan semacamnya.

"Kalau expo karena jualan utamanya arang putih, nah agar memancing pengunjung, saya pukul-pukul arang tadi dengan ritme tertentu, ternyata berhasil, banyak orang penasaran," katanya.

Melihat temuannya ini berguna. Makin ke sini, Narwanto terus mencoba-coba mencari nada dari arang yang dibentuk stik itu.

"Berapa kali coba, sering gagal, gagalnya kebanyakan bunyi yang dihasilkan sama," tambahnya.

Karena latarbelakangnya bukan seniman musik. Narwanto mengaku sangat kesusahan soal mencari nada di setiap arangnya.

"Makanya ini hanya prototipe, nadanya juga hanya lima saja sementara, karena buta nada tadi," jujurnya.

Sadar akan kekurangannya dalam hal membaca nada, Narwanto lewat koran ini sangat berharap ada seniman terutama wilayah Banjarbaru yang mau berkolaborasi dengannya dalam pengembangan alat musik yang belum diberinya nama ini.

"Saya menaruh harapan pada alat musik dari arang ini, punya potensi, bisa saja nanti dikombinasikan dengan alat musik lain," harapnya.

Ditanya soal proses pembuatan lebih detil, Narwanto mengungkapkan pada dasarnya sama saja dengan arang putih lainnya. Yakni dibakar dengan suhu diatas 1000 derajat celcius.

Lantas bagaimana untuk bahan baku kayunya apakah berbeda? Narwanto menjawab simpel. "Malah kita pakai bahan kayu yang dianggap warga tidak begitu berguna di sini lantaran katanya mengganggu," tegasnya.

Kayu Palawan. Itulah kayu yang lebih sering digunakan Narwanto untuk mengolah arang putihnya. Alasannya karena selain lebih kuat dan solid. Nilai daur ulang dan asas pemanfaatan juga jadi alasannya memilihnya. "Daripada tidak dimanfaatkan, mending coba diolah lebih bernilai kan," ucapnya.  (ema)


BACA JUGA

Jumat, 22 Maret 2019 14:50

Kala Jeruji Besi Tak Menyurutkan Niat untuk Belajar

Pendidikan adalah hak semua warga negara.  Tak terkecuali mereka yang…

Rabu, 20 Maret 2019 14:22

Kesempatan untuk Belajar Jadi Minoritas

Sulit menjawab pertanyaan siapa sebenarnya orang asli Singapura. Negara itu…

Selasa, 19 Maret 2019 15:20

Jalan 17 Ribu Langkah Sehari, Makan Nasi Lemak Tiap Hari

Selama perjalanan di Singapura bersama Chairman Kaltim Post Group (KPG)…

Senin, 18 Maret 2019 10:37

Menikmati Air Minum ‘Termahal’

Meskipun sudah berulang kali ke Singapura, jalan-jalan kali ini cukup…

Minggu, 17 Maret 2019 10:18
Aulia Aziza

Meneliti Seks dalam Bahasa Tutur Masyarakat Banjar

BANJARMASIN -- Di bawah atap rumah orang Banjar, seks adalah…

Sabtu, 16 Maret 2019 11:45

Cincin Talipuk Acil Rida di Pasar Induk Amuntai, Sering DIbawa Sampai Makkah

Cinta atau kue cincin talipuk, kue unik yang terbuat dari…

Jumat, 15 Maret 2019 10:59

Padi Raksasa Milik Aliansyah di HST

Petani Indonesia Menggugat (PIM), bukanlah nama sebuah organisasi aktivis. Ini…

Selasa, 12 Maret 2019 11:57

Ke Bukit Mangkun HST, Medan Berat Terbayar Indah Pemandangan dan Anggrek Liar

Radar Banjarmasin mengikuti para pegiat alam ke Bukit Mangkun. Inilah…

Senin, 11 Maret 2019 09:56

Masih Jomblo, Si Cantik Ini Malah Berasa Sudah Punya Anak

Priskila Dwi Utami, paling senang dipanggil Kila. Usianya 25 tahun.…

Senin, 11 Maret 2019 09:03

Ziarah Sekumpul, Ziarah Cinta

Haul Guru Sekumpul tidak mungkin pernah ada jika tak pernah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*