MANAGED BY:
MINGGU
16 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 10 November 2018 11:34
Mengenang Gugurnya Sembilan Syuhada 9 November 1945 di Banua
SUDAH LEBIH BAIK: Tugu 9 November kian membaik. Dahulu tugu sejarah banua ini dibiarkan tak terawat, kini sudah diberi pagar dan relief.

PROKAL.CO, Abdul Majid, lahir sepuluh tahun setelah penyerangan 9 November 1945. Tiga pamannya gugur dalam penyerangan tersebut. Dia kerap mendengar kisah heroik itu dari kedua orang tuanya.
------------------------
“Ibu saya, Masniah, bersaudara dengan mereka. Kata ibu, kampung ini dulunya sepi. Masih hutan. Mereka berangkat pada hari Jumat. Ditunggu-tunggu, tak pernah lagi pulang ke rumah,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin.

Dibandingkan rekan-rekannya, Majid lebih bugar. Ahli waris lain, ada yang tubuhnya lumpuh separo. Tak bisa digerakkan karena diserang stroke.

"Banyak cerita dari para ahli waris. Ada yang ayahnya gugur padahal anaknya baru berusia 40 hari," imbuhnya.

Kemarin (9/11) pagi, Majid datang bersama sepuluh ahli waris pejuang lainnya. Mengikuti apel di Tugu 9 November, Banua Anyar. Seusai apel, mereka menerima bantuan sembako dari wali kota.

Kondisi tugu itu kini lebih baik. Dulu, tugu itu sering menjadi tempat warga menjemur pakaian. Terkadang ikan asin. Halamannya juga kerap menjadi tempat parkir kendaraan bermotor.

Kini tugu itu sudah dipagar beton. Lengkap dengan relief-relief perjuangan berwarna emas. Di atas marmer hitam, dengan huruf berwarna perak, terukir sembilan nama pejuang yang gugur.
Tiga nama teratas itulah paman Majid. Yakni Badran, Utuh dan Badrun.

“Ketiganya gugur saat berusia remaja. Masih sangat-sangat muda,” ujarnya.

Pada peringatan 9 November, mereka rutin menerima bantuan dari pemko. Berupa sembako, kain sarung, dan sedikit uang. Kondisi mereka jauh mendingan. Bandingkan misalnya dengan kakek dan nenek mereka.

"Bayangkan, anak-anak mereka tewas secara bersamaan. Bagaimana para orang tua ini menjalani hidup setelahnya? Jelas tidak gampang. Dan mereka tak pernah menerima bantuan. Padahal sudah berkali-kali diusulkan," sesalnya.

Terlepas dari itu, lelaki 63 tahun itu mengaku bangga. Lahir dari keluarga pejuang dan tumbuh besar di kampung perjuangan. Kini, Majid tinggal di Sungai Bakung, Kabupaten Banjar. Dia memiliki kehidupan yang baik. Bersama tiga anak dan lima cucu.

Tugu peringatan itu dibangun untuk mengingatkan masyarakat. Bahwa disitulah dulunya para pejuang berunding menyiapkan strategi penyerangan. Menyerbu Pulau Tatas yang menjadi markas kolonial.

Pada lokasi penyerangan, juga dibangun tugu serupa. Tepatnya di Jalan DI Panjaitan, seberang markas Polda Kalsel. Kondisinya memprihatinkan karena tertutupi oleh parkiran mobil dan sepeda motor.
Tak jauh dari tugu pertama, dimakamkan HM Aini.

Pada tahun 1945, Aini adalah pembakal (kepala desa) Pangambangan. Meski tidak mengikuti penyerangan, dia ikut membantu pengumpulan pasukan. Aini meninggal dunia tahun 1983. Dimakamkan berdampingan dengan istrinya, Gusti Masmulia yang wafat pada tahun 1974.

Keponakannya masih hidup dan tinggal di Banua Anyar sampai sekarang. Namanya Safrudin Perwira Negara, 64 tahun. “Paman Aini sempat ditahan Belanda selama dua tahun,” ujarnya.

Di depan makam itu, dulu berdiri rumah bergaya tua yang dihuni Aini. Rumah itu belakangan hangus terbakar dan kembali dibangun.

“Rumah itu ikut menjadi saksi sejarah persiapan penyerangan 9 November,” tambah Safrudin.

Dia berharap, sejarah 9 November takkan dilupakan generasi muda Banjar. Bahwa tak lama setelah proklamasi, pemuda-pemuda Banjarmasin rela mengorbankan nyawanya untuk mengusir penjajah.

 

Karena Larangan Pawai Merah Putih

Sejarah mencatat, pada Jumat 9 November 1945 silam, terjadi peristiwa heroik di Banjarmasin. Kala itu para pemuda yang tergabung dalam Barisan Pemberontakan Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK) bersama masyarakat Banjar, menyerang markas Tangsi Militer NICA Belanda yang bermarkas di Benteng Tatas, sekarang menjadi Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

Pertempuran sengit yang tak seimbang selama satu hari tersebut dalam upaya melemahkan kekuatan NICA yang datang ke Kalimantan. Sekaligus mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Sejarawan ULM, Yuslinnor menceritakan, puncak terjadinya perlawanan kepada NICA tersebut didasari atas larangan dari tentara Belanda saat para puluhan ribu rakyat Kalimantan ingin melakukan pawai keliling kota dengan mengibarkan bendera merah putih.

“Ketika itu pada 10 Oktober 1945, rakyat Kalimantan yang sudah mengetahui Indonesia merdeka ingin merayakan, namun ditentang oleh pasukan tentara Belanda,” ujar Yusliannor kemarin.

Setelah itu, para pemuda yang tergabug dalam BPRIK pun bereaksi ingin melakukan perlawanan terhadap penjajah demi mempertahankan kemerdekaan. Dipimpin oleh M Amin Effendy, kala itu disusun rencana penyerangan malam hari yang disusun di kawasan Jalan Banua Anyar.

Pada rencana penyerangan itu, dibagi tujuan tempat penyerangan terhadap tempat-tempat pasukan tentara Belanda, seperti di Kawasan Kelayan Banjarmasin, di kawasan Rumah Sakit Ulin Banjarmasin, dan Benteng Tatas di kawasan Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

“Rencana awal terjadi kegagalan, dan setelah itu pasukan pejuang kembali berkumpul untuk melakukan siasat penyerangan kembali pada 9 November 1945,” terang Dosen FKIP ULM itu.

Nah, pada 9 November itu dilakukan penyerangan penuh terhadap tangsi militer yang ada di Banjarmasin. Sebelum melakukan penyerangan ke Benteng Tatas, para pejuang berkumpul terlebih dahulu untuk mengatur strategi di rumah Amin Effendy.

Usai merapatkan barisan, sekitar pukul 15.00 Wita para pejuang pun menyerbu Benteng Tatas dengan gagah berani. Pertempuran yang sangat heroik dilakukan oleh pemuda dan rakyat Kalimantan.

Meski menggunakan senjata yang belum modern, para pejuang tetap memberikan perlawanan sengit terhadap pasukan Belanda yang sudah memakai persenjataan modern. Hingga akhirnya dalam pertempuran itu gugur lah 9 orang kusuma bangsa.

“Peristiwa ini mendahului pertempuran 10 November di Surabaya. Rakyat Kalimantan seperti mempelopori perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraih,” tutur Yusliannor.

Yusliannor mengungkapkan, meletusnya pertempuran 9 November itu tak hanya terjadi di Banjarmasin. Namun, terjadi pula perlawanan terhadap tentara Belanda di Kabupaten Tapin, Rantau. Ketika itu sebutnya terjadi penghadangan dan perlawanan membabi buta terhadap tentara Belanda yang melintas.

“Ada dua orang pemuda yang gugur kala itu, hingga namanya dipakai sebagai nama jalan disana untung mengenang, yakni jalan Tasan Panyi,” tandasnya.

Tak Gelar Haul di Rumah Perjuangan

Tahun-tahun sebelumnya, keluarga pejuang 9 November 1945 selalu berkumpul di rumah perjuangan. untuk menggelar haulan. Namun tahun ini agak berbeda, haul dilaksanakan di warung Alimun Hakim, di Jalan Sutoyo S Banjarmasin, usai Jumatan kemarin.

"Sengaja tidak digelar di rumah, agar semakin banyak masyarakat yang mengetahui dan ikut mengenang peristiwa ini,” ujar Alimun.

Tak sekedar haul, keluarga juga mengundang aktivis sejarah dan mahasiswa untuk berdialog dengan mengangkat tema Syuhada Pahlawan 9 November 1945.

“Kami ingin perjuangan para laskar BPRIK tidak hilang ditelan zaman, makanya kami gelar dialog ini,” tandasnya. (fud/mof/bin/ema)

 


BACA JUGA

Sabtu, 15 Desember 2018 12:50

Sisi Lain Pelatih Tinju kalsel, Arbain

Menjadi pelatih tinju rupanya bukan satu-satunya pekerjaan yang digeluti oleh…

Sabtu, 15 Desember 2018 09:55

Berawal Ketiadaan Toilet Buat Kencing, Berdirilah Galeri Unik Ini

Apa yang dilakukan oleh warga RT 05 RW 02 Kelurahan…

Jumat, 14 Desember 2018 14:46

Moses Sulap Puing Kayu Menjadi Seni Bernilai Tinggi

Beri Moses Foresto puing-puing kayu, dia bisa menjadikannya apa saja.…

Kamis, 13 Desember 2018 13:20

Bekali Santri Keterampilan Untuk Hadapi Tantangan Zaman

Nyantri bukan melulu tentang ngaji. Di Pondok Pesantren Nurul Muhibbin,…

Sabtu, 08 Desember 2018 11:45

Tidak Mudah, Honorer Ini Pantau CCTV di Menara Pandang Hingga Larut Malam

Di depan layar monitor yang lebarnya tak lebih lebar dari…

Sabtu, 08 Desember 2018 09:03
Kisah Bocah-bocah Penjual Buku Mewarnai di Banjarmasin

Demi Sesuap Nasi Mereka Sampai Dikejar-Kejar Satpol PP

Mobil partoli Satpol PP Kota Banjarmasin melintas di perempatan Jalan…

Jumat, 07 Desember 2018 11:31

Jejak Laskar Pelangi di Banua (2)

Belajar di gudang kecil kadang membuat siswa SD Dusun Munggu…

Kamis, 06 Desember 2018 13:02

Jejak Laskar Pelangi di Banua

Hanya 12 siswa dan satu gedung kecil. Tapi mereka semangat…

Rabu, 05 Desember 2018 12:25

Gol A Gong Berbagi Motivasi ke Penulis Muda Balangan

Yang mengalami masa remaja di era 80’ dan 90’ an,…

Rabu, 05 Desember 2018 10:10

Wahh!! Rabiul Awal Jadi Bulan Rezeki Pengrajin Mahar Pernikahan

Rabiul Awal atau bulannya Maulid Nabi pada penanggalan Hijriah, menjadi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .