MANAGED BY:
RABU
19 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

LIFESTYLE

Kamis, 15 November 2018 09:14
KOK BISA YA...? Lahan Dibakar tapi Tak Pernah Kebakaran Lahan

Tradisi Manugal di Masyarakat Dayak Piani

PROKAL.CO, Rintik hujan tidak mengganggu suara khas musik tradisional kurung-kurung yang mengiringi tradisi Manugal di Desa Pipitak Jaya Kecamatan Piani Kabupaten Tapin, kemarin.

Harmoni mungkin kata yang sangat pas saat menggambarkan ratusan warga Dayak Meratus menanam benih di tanah seluas setengah hektare.

Bagaimana tidak, mereka yang melaksanan tradisi manugal benih pataungan (benih yang dimiliki bersama) memiliki peran masing-masing.

Seperti pemain musik kurung-kurung yang identik dengan pria dengan Mandau di pinggang, lalu ada yang maasak (membuat lubang untuk padi) dengan menggunakan tongkat kayu yang sudah dibuat runcing ujungnya, juga diperankan oleh pria.

Lalu tidak kalah penting maumang (menaburkan benih ke lubang yang tersedia) semuanya dilakukan oleh perempuan dengan membawa lanjung yang berisi benih di pinggang atau di belakang. Sebagian perempuan lainnya asik memasak, untuk menyediakan makanan.

Mereka semua berjalan beriringan dari ujung ke ujung, agar laham yang sudah dibakar untuk ditanam isa di taburkan oleh macam-macam jenis benih yang tersedia.

Yang menambah semangat saat Manugal, terdengar musik berirama saat kurung-kurung terus dihentakkan ke tanah, sehingga terjalin irama yang bersahutan, yang menemani sampai selesai.

"Tahun ini sangat banyak orangnya yaitu sekitar 150 orang," ucap Ahmad Jayadi yang juga sebagai Ketua Rt 04 Desa Pipitak Jaya, Rabu (14/11).

Mereka yang datang tidak hanya membantu saat Manugal saja, tetapi saat pemeliharaan padi dan panen mereka juga ikut membantu. "Ini dilakukan secara bergotong royong dan sukarela " bebernya.

Manugal dengan diikuti musik kurung-kurung memang sudah menjadi tradisi masyarakat Dayak di sini. "Kalau diiringi dengan musik kurung-kurung, itu berarti pertanda musim tanam sudah tiba," jelasnya.

Jadi, musik kurung-kurung wajib dibunyikan saat manugal karena ini merupakan prosesi sakral. Agar benih yang ditanam, saat panen nanti hasilnya bagus," ucapnya.

Sebelum memulai manugal, ada ritual yang harus dilalui yaitu, ritual buang pidara, yang mana ini untuk membuang kesialan. "Agar hasil panen nanti melimpah," katanya.

Sementara benih yang digunakan ada beberapa jenis yaitu benih keramat, benih duyung, benih cihung, benih uluran dan benih banjar. "Di mana nantinya semua itu akan kita makan saat prosesi aruh adat berlangsung," ucapnya.

Benih yang ditanam sebanyak 120 liter dan hasilnya selain untuk aruh adat juga bisa dibagi kepada masyarakat dan ditaruh di jalan (basasuruk)."Ini menurut kepercayaan masyarakat, untuk memberi kepada roh-roh nenek moyang," ucapnya.

Kenapa sebelumnya dilakukan manugal tanah tersebut harus dibakar?

Ahmad Jayadi mengatakan hal itu memang sudah tradisi. Tapi tidak pernah terjadi kebakaran lahan karena pembersihan lahan ini. Karena sebelum dibakar terlebih dahulu lahan dibacakan sejenis mantra.

"Dikasih mantra agar yang dibakar tidak merembet ke mana-mana, makanya terlebih dahulu dilakukan ritual," ucap.

Sementara Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Tapin Karliansyah mengungkapkan tradisi manugal dengan musik kurung-kurung memang sudah menjadi tradisi masyarakat Dayak Piani. Musik juga membuat orang yang lagi bertanam bisa terhibur.

"Selain itu, kurung-kurung juga digunakan untuk menyambut tamu kehormatan, serta juga digunakan untuk membuka acara-acara besar," ucapnya. (ay/ran)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 18 September 2015 09:32

Dua Kapal Perang TNI Singgah di Banjarmasin

<p style="text-align: justify;"><strong>BANJARMASIN</strong> &ndash;…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .