MANAGED BY:
RABU
24 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 17 November 2018 13:35
Mengenang Tragedi Kolombo 15 November 1978
Ingat Pesawat Kusam dan Kepulangan Yang Tertunda (1)
Sjahril

PROKAL.CO, BANJARMASIN - Tragedi jelang tengah malam di pertengahan November 1978 silam masih membekas diingatan H Muhammad Sjahril, Ketua Ikatan Haji Colombo 78. Juga HM Taberani Baseri dan Hj Rasidah. Ketiganya masih mengingat peristiwa tragis yang mengakibatkan 174 jemaah gugur sebagai syuhada haji.

Malam itu ketika berada di atas wilayah Colombo Sri Lanka, tiba-tiba lampu dalam pesawat padam.

“Seorang pramugari bergegas menuju ke belakang sambil mematikan lampu sepanjang kabin. Hanya tersisa lampu kecil di atas kepala yang benyala,” tutur Sjahril membuka cerita kemarin, di rumahnya Jalan Mandastana 1, Komplek Gatot Subroto Banjarmasin.

Pesawat DC-8 63 CF Loftleider Icelandic sudah diketahuinya akan mendarat di bandara Katunayake, Kolombo untuk mengisi bahan bakar dan penggantian awak pesawat selama 45 menit.

Baca Juga : Mimpi Salat di Antara Mayat Dalam Masjid Nabawi

 

Tak lama setelah pengumuman itu, pesawat tiba-tiba terbang merendah dan terdengar bunyi hentakan keras berulang-ulang. “Saya kira pesawat sudah mendarat di bandara. Ternyata mendarat di kebun kelapa dan karet,” ceritanya.

Dia menyebut, jelang tengah malam itu, cuaca di luar benar-benar tidak bersahabat. Hujan lebat menggelayut diiringi petir. “Ketika mendarat darurat itu, tampak bagian atas kabin pesawat mulai terbakar hingga ke bagian bawah.

Penumpang bagian depan berhamburan menjauh karena api mulai menjalar. Sementara yang di belakang saling dorong untuk menuju ke pintu darurat. Saya pun terjepit kala itu,” sebutnya.

Untuk keluar dari pesawat nahas ini. Dia pun berusaha memecahkan kaca jendela dengan tamparan. Tak bisa, dia pun menggunakan kamera. Namun tak bisa juga.

“Saya hanya berserah diri ketika itu sambil berdoa. Untungnya pesawat yang terbelah ditindih batang pohon kelapa bisa membuatnya saya keluar,” ucapnya.

Baca Juga : Bawa Dua Penumpang Misterius 

Ketika dapat keluar bersama istri, alm Hj Masyitah yang meninggal belum lama tadi, dia langsung sujud syukur sambil membantu jemaah yang mengalami luka.

Sjahril sendiri mengaku tak mengalami luka sedikit pun, hanya istri yang lecet di kening. “Ketika saya berhasil menyelamatkan diri, pesawat meledak sebanyak 2 kali. Ketika itu suasana langsung hening,” ungkapnya.

Memang tak ada firasat sebelumnya bagi Sjahril atas tragedi ini. Namun dia mulai tak enak hati ketika kepulangan ke tanah air tertunda. Di mana jadwal kepulangan yang mulanya hari Selasa malam, menjadi Rabu sore. “Saya tak tahu kenapa jadi ditunda kala itu,” ucapnya.

Yang membuatnya semakin was-was. Pesawat yang membawa dirinya bersama jemaah lain, terlihat kusam yang berbeda dengan pesawat lain.

“Yang membuat aneh. Para penumpang tak menghiraukan lagi nomor kursi. Karena jemaah sudah bosan menunggu. Saling rebutan begitu disuruh naik ke pesawat,” sebutnya.

Dikatakannya, usai pintu di tutup, kru pesawat tak memberikan pengarahan keselamatan pesawat seperti pemasangan sabuk keselamatan. Bahkan, tidak ada yang mengajak berdoa sebelum berangkat.

“Berbeda ketika berangkat yang dimulai dengan doa hingga seruan Salat di pesawat. Tapi ketika pulang. Suasana tegang mulai terasa,” tandasnya.

Selain cuaca buruk, Sjahril juga memperkirakan kelebihan muatan pesawat. Dia mengungkapkan, jemaah yang punya duit lebih banyak membawa buah tangan.

Tak hanya peralatan dapur, karpet pun di bawa ke Tanah Air. “Ketika itu yang punya duit bebas dan mudah membayar kelebihan muatan. Mungkin beban kelebihan ini salah satu faktor juga selain cuaca buruk,” pungkasnya.


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*