MANAGED BY:
SABTU
16 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 17 November 2018 13:46
Mimpi Salat di Antara Mayat Dalam Masjid Nabawi (2)

Mengenang Tragedi Kolombo 15 November 1978

KH Taberani bersama istri

PROKAL.CO, BANJARMASIN - Sementara itu, KH Taberani Basri masih ingat kejadian 40 tahun silam. Ketika pesawat DC-8 63 CF Loftleider Icelandic yang akan membawanya pulang ke Indonesia mengalami kecelakaan hebat di Bandara Katunayake, Colombo, Sri Lanka, yang menewaskan sebanyak 174 penumpang, pada 15 November 1978.

Diceritakannya, sebelum kejadian malam nahas itu, dia yang kelelahan karena penerbangan sempat tertunda, langsung tidur begitu masuk ke dalam pesawat.

Dalam tidurnya, mantan dosen Universitas Lambung Mangkurat (ULM) itu bermimpi aneh. Dalam mimpinya, dia sembahyang di Masjid Nabawi yang dikelilingi mayat hingga potongan badan manusia.

“Dalam mimpi itu, saya dilihatkan banyak mayat berada di dalam masjid. Setelah terjaga, saya langsung mengajak istri Salat,” ungkap KH Taberani kemarin, di rumahnya yang berada di Jalan Mangga I, Nomor 23 Banjarmasin.

Baca Juga : Ingat Pesawat Kusam dan Kepulangan Yang Tertunda (1)

Dia sendiri berencana ingin melaksanakan Salat Magrib dan Isya di Bandara Katunayake. Pesawat yang membawa rombongan jemaah haji asal Indonesia Embarkasi Surabaya kloter II ini, akan singgah disana untuk mengisi bahan bakar.

Namun, belum sampai mendarat, pesawat mengalami kecelakaan sekitar 4 Km dari bandara.

“Saya ingat, cuaca di luar sangat tak bersahabat, hujan deras dan petir. Bahkan, kabarnya pesawat sebelum kami tidak diperbolehkan mendarat,” kenang pria kelahiran Amuntai 1938 silam itu.

Taberani berangkat haji bersama istrinya, Hj Rasidah dan adik bungsunya Masnunah. Dia bersama sang istri selamat dari kecelakaan itu, sayang sang adik harus meninggal dunia.

“Kejadian begitu cepat, pesawat langsung mendarat dan sayapnya nyangkut di pohon kelapa. Tak begitu lama api mulai membesar setelah muncul ledakan pertama,” terangnya.

Baca Juga : Bawa Dua Penumpang Misterius (3)

Begitu kecelakaan, Penumpang semua panik, suasana kabin gelap gulita, pertama api muncul dekat sayap, ledakan terang Taberani terjadi dua kali.

Kursi dan barang di atas bagasi terlempar ke depan. Dia tak ingat lagi dengan sang istri dan adik. Hanya menyelamatkan diri sendiri. Untungnya, pas tepat di sampingnya, dinding pesawat berlubang yang bisa membuatnya terjun dari ketinggian 4-5 meter.

“Saya langsung terjun. Tak ingat lagi istri dan adik. Namun setelah di bawah. Baru ingat. Untungnya istri saya juga terjun. Saya langsung berpelukan,” tuturnya.

Dia bersyukur ketika itu, tak mengalami luka yang parah. Hanya bagian jas nya yang mengalami sobek. Begitu pula sang istri, tak mengalami luka yang parah.

Dia sendiri mengaku sempat menolong salah seorang korban yang tersangkut di pohon. “Di dalam pesawat masih banyak yang terkurung tak bisa bergerak. Apalagi asap membumbung tinggi,” tuturnya yang ketika itu berusia 38 tahun.

Meski dia berdua selamat. Sang adik dinyatakan meninggal dunia pada kecelakaan itu. “Suasana begitu kacau. Api terus berkobar, padahal di dalam pesawat masih banyak jemaah haji,” imbuhnya.

Masih dalam ingatannya, pesawat coba untuk naik kembali sebelum kecelakaan itu. Namun, karena hujan turun sangat deras membuat pesawat tak mampu naik. “Saya ketika pesawat jatuh sempat berucap Alhamdulillah,” tukasnya.

Usai menyelamatkan diri, dia melihat bagian pesawat seperti mesin-mesinnya berantakan. Pemandangan terangnya sangat mengerikan. Mayat berserakan tertindih puing pesawat.

Melihat langsung banyaknya korban yang mengalami luka-luka hingga yang dinyatakan meninggal dunia membuatnya tak bisa melupakan kejadian ini. Bahkan, salah satu kru pesawat ketika berada di rumah sakit terangnya, seperti orang kerasukan yang terus berteriak. “Di tubuhnya banyak terpasang infus. Dia terus meronta-ronta,” terangnya.

Jika dia mengalami mimpi buruk ketika tidur di pesawat. Firasat sang istri pun sama. Sebelum pulang dan masih berada di Madinah, dia bermimpi tak membawa apa-apa ketika mau pulang haji.

Hanya membawa pakaian selembar di badan. “Begitu naik pesawat pun saya sempat ngomong ke bapak, pesawatnya sudah kusam. Ngapain naik,” cerita Hj Rasidah.

Saat tragedi itu sebutnya, keadaan seperti barang yang berada di dalam kaleng dan digoncang beberapa kali. “Teriakan dan jeritan minta tolong begitu riuh,” ujarnya.


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*