MANAGED BY:
SABTU
16 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Selasa, 20 November 2018 09:50
Kabar Ikan Asin Berformalin, Ikan Asin di Kotabaru Berasal Dari Ikan Segar
MASIH SEGAR: Ikan segar dibongkar di pasar ikan Kotabaru. Nelayan dan pengolah ikan di Kotabaru mengatakan ikan yang dikeringkan di pasar ikan adalah ikan segar dan tidak bercampur formalin. (ZALYAH SHODIQIN ABDI/RADAR BANJARMASIN)

PROKAL.CO, KOTABARU - Kabar adanya ikan asin berformalin di Hulu Sungai ternyata bukan cerita baru. Para pedagang ikan asin di Kotabaru mengaku mendengar hal itu sejak lama. Tapi mereka memastikan ulah itu bukan dari pedagang dan nelayan di Kotabaru.

Senin (19/11) sore kemarin, sehabis hujan lebat, Radar Banjarmasin mengunjungi sentra terbesar pembuatan ikan asin di Kotabaru.

Lokasinya persis di pasar ikan harian, pusat kota. Para pedagang di sana, mengolah dan menjual ikan asin sejak dahulu. Usaha mereka dijalankan secara turun temurun.

Rusli, salah satu pedagang tegas mengatakan. Mereka tidak pernah pakai formalin. Jangankan memakai, melihat barangnya pun tidak pernah. Namun informasi ada ikan asin berformalin di daerah Hulu Sungai sering mereka dengar.

Haji Halle, pedagang lainnya mengatakan. Ikan asin di Kotabaru berasal dari ikan segar. Nelayan melaut hitungan hari. Ikan segar diangkat ke darat. Dikasih garam dan dikeringkan.

Halle pedagang ikan asin senior, yang selalu memakai peci haji itu, memaparkan dugaannya. Ikan formalin di daerah lain, kemungkinan berasal dari kapal nelayan Pulau Jawa. Kapal nelayan Pulau Jawa, besar, pakai cantrang, di laut hitungan bulan.

"Mereka bisa dua bulan di laut. Jadi dengar-dengar, mereka pakai formalin supaya ikan di kapal awet. Kalau nelayan kita di sini, tidak lama di laut," ujarnya.

Para pedagang itu, selain jual di lokal juga melayani pesanan pasar ke luar daerah. Salah satu pemesan adalah pasar-pasar di Hulu Sungai. "Tapi bisa saya jamin, asal ikannya dari sini itu pasti tidak pakai formalin," kata Halle.

Tidak jauh dari los dagangan para pedagang itu. Agak ke ujung, bongkar muat ikan dari kapal ke atas. Nelayan di kapal mengaku empat hari di laut. Banyak ikan mereka dapat. Ada ikan tongkol.

Ikan tongkol itu langsung dicuci dan dibersihkan beberapa orang pria. "Nah ini. Lihat sendiri. Kami ikan segar langsung dibersihkan dan dikasih garam," kata Juanda, salah satu juragan ikan kering di sana.

Juanda pakai celana pendek. Baju dalaman warna putih. Lagaknya seperti mandor. Dia mengatakan, mereka dari dulu tidak pernah pakai formalin. Ikan dari laut langsung diolah. Gak pakai lama.

"Coba pakai Facebook. Video kan kami siaran langsung. Jadi semua lihat," ujarnya.

Memang benar apa yang dikatakan Juanda. Ikan segar baru dari kapal langsung mereka olah. Karung-karung garam menumpuk di sana. Biasanya di sana penuh jejeran ikan yang dijemur, waktu itu tidak ada, hujan deras baru berhenti berganti gerimis.

Juanda adalah pengusaha ikan yang berada di bawah naungan Organisasi Pedagang Ikan dan Nelayan (OPIN) Kotabaru.

Anak buah Juanda, mengatakan kalau pun ada formalin mereka tidak akan pakai. Logikanya rugi. Karena ikan masih segar, kalau pakai formalin hanya akan menurunkan kualitas rasa ikan.

"Ciri-cirinya itu ikannya keras. Rugi kami kalau pakai formalin," ujarnya.

Sambil bekerja cerita mengalir. Pengusaha ikan di Kotabaru itu menduga kuat, aktivitas pemberian formalin bukan saat ikan diolah. Tapi sudah diberi pengawet sejak dalam kapal.

Ikan berbulan-bulan di kapal perlu es yang banyak, jika tidak ada semacam pengatur suhu di dalam kapal, maka es cepat mencair, ikan akan busuk.

Logika itu yang membuat mereka menyimpulkan tidak ada nelayan Kotabaru pakai formalin. Karena melaut hanya hitungan hari. Ikan segar yang dijual di pasar pun habis hitungan hari.

"Kalau rezeki biasa satu hari habis. Paling lama itu ya tiga harian lah. Gak pakai pengawet. Es saja," kata Daeng Toto, pedagang ikan basah berbaju merah dengan tulisan SavePulauLaut.

Apakah kasus ikan formalin di Amuntai mempengaruhi pasar? Para pedagang mengaku tidak. Mereka yakin, pelanggan sudah percaya, kalau ikan dari Kotabaru tanpa bahan pengawet berbahaya.

Namun mereka meminta aparat mencari pelakunya. Sehingga tidak seenak udelnya lagi melakukan praktik kotor. "Bisa saja ikan itu sudah diawetkan sejak di kapal.Bisa juga pas mau dikeringkan.

Setahu kami ikan dari kapal Pulau jawa itu dikirim ke Banjarmasin, bisa diperiksa di sana," kata salah satu pedagang.

Untuk Kotabaru nelayan lain memberi bocoran. Petugas bisa melakukan pemeriksaan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI), sekitar 7 kilometer dari pusat kota.

Di sana informasinya, biasa kapal-kapal nelayan Pulau Jawa melakukan bongkar muat. Tapi ikan mereka langsung dibawa pakai mobil ke Banjarmasin.

Sebelumnya, Balai POM Provinsi Kalimantan Selatan menemukan senyawa kimia yang biasa digunakan untuk mengawetkan mayat itu dalam olahan ikan asin atau 'Iwak Karing' dan cumi asin di Pasar Induk Amuntai, (15/11).

Rivai Endra Dwi Yulianto Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Pertama BPOM Kalsel menyampaikan, inspeksi mendadak ini dilaksanakan untuk menguji cumi kering dan ikan asin dan teri medan yang beredar di tiga Kabupaten yakni Balangan, Tabalong dan HSU. Yang mencengangkan, hasil hasil uji sampel dari tiga titik lokasi tersebut positif mengandung formalin.(zal/ay/ran)


BACA JUGA

Jumat, 15 Februari 2019 15:17

Sudah 29 Kotak Suara Ditemukan Rusak Dalam Proses Perakitan

MARABAHAN - Dijaga pihak kepolisian, Proses perakitan kotak suara terus…

Jumat, 15 Februari 2019 15:13

Salut!! Tradisi Bahalarat Masih Eksis di Ulu Benteng

MARABAHAN - Memasuki musim tanam, Warga Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan…

Jumat, 15 Februari 2019 14:32

Tak Main-main, Pengkot PTMSI Tunjuk Pelatih dari Binpres

BANJARMASIN – Pengurus Kota Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (Pengkot…

Jumat, 15 Februari 2019 11:48

TAK DIBAYAR..! Ini Ternyata Motivasi Petugas Haul Abah Guru Sekumpul

MARTAPURA – Haul Ke-14 Abah Guru Sekumpul digelar 9-10 Maret…

Jumat, 15 Februari 2019 11:46

BANUA PEDIA: Kambang Sarai, Kerajinan Spesialis Acil Kampung Kembang

MARTAPURA – Ada istilah kambang barenteng dan kambang sarai. Keduanya…

Jumat, 15 Februari 2019 11:44

BANUA PEDIA: Legenda Nini Randa, Nenek Moyang Parentengan Kampung Bunga Bincau

MARTAPURA – Sebagian besar bunga yang dijajakan di pasar, sekitar…

Jumat, 15 Februari 2019 11:41

Kapolda Kalsel Terjun ke Lapangan Pantau Logistk Pemilu 2019

BANJARMASIN - Kiriman surat suara pertama tiba di Pelabuhan Trisakti,…

Jumat, 15 Februari 2019 11:39

Berikut Desa Pengasil Kembang di Kabupaten Banjar

MARTAPURA – Sentra kembang Kabupaten Banjar sering disebut kampung kembang.…

Jumat, 15 Februari 2019 11:33

Kecewa Berat, Caleg Sebut Bawaslu Tebang Pilih Dalam Menindak

Baliho milik Partai Nasdem diturunkan di Amuntai. Semua pihak bersuara,…

Jumat, 15 Februari 2019 11:12

BANUA PEDIA: Mengenal Istilah Kambang Barenteng Khas Martapura

MARTAPURA – Kabupaten Banjar punya Kampung Kembang. Dari situ mengemuka…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*