MANAGED BY:
MINGGU
16 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Rabu, 21 November 2018 10:43
Ibnu: Ninabobokan Anak Dengan Salawat Jangan Dengan Dangdut

PROKAL.CO, BANJARMASIN - Seusai Baayun Maulid, ternyata ada prosesi tambahan. Bayi yang baru berusia hitungan pekan atau bulan, boleh mengikuti ritual Batapung Tawar dari Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina.

Antrean panjang di teras masjid menjadi tak terelakkan. Ibu-ibu muda itu berebut agar anaknya kebagian Batapung Tawar dari tangan wali kota langsung.

"Ini budaya lokal yang tidak bertentangan dengan syariat agama. Lewat baayun, sejak usia dini, para orang tua mencoba menanamkan kecintaan kepada rasul," kata Ibnu.

Batapung Tawar sebenarnya bukan cuma tradisi milik masyarakat Banjar. Masyarakat Melayu secara luas menyebutnya Tapung Tawar. Dalam prosesi ini air dipercikkan ke badan.

Air itu sebelumnya telah diberi minyak wangi yang khas. Alat pemercik dibuat dari daun kelapa, pisang, atau pandan. Tujuannya, mengusir penyakit dan memanggil kesehatan. Menjauhkan bala dan mendekatkan keselamatan.

Kemarin (20/11) pagi di Masjid Jami, Sungai Jingah, ratusan warga mengikuti tradisi tahunan tersebut. Panitia hanya menyediakan 492 ayunan. Namun, selama pendaftaran, peminatnya sudah tembus 800.

Dia berpesan kepada panitia agar jumlah ayunan tak harus disamakan dengan usia kota ini. Mengingat tanggapan balik masyarakat yang antusias, panitia boleh-boleh saja membuka pendaftaran untuk sebanyak-banyaknya peserta.

Tentu saja dengan tetap memperhatikan daya tampung halaman masjid. "Apakah tahun depan jumlah ayunannya harus 493 buah? Saya kira tidak harus," tambahnya.

Secara pribadi, bagi Ibnu, baayun telah membangkitkan kenangannya akan masa kecil. "Saya khawatir. Anak-anak kita bakal lebih mengenal gadget. Ketimbang tradisi ayunan seperti ini," akunya.

Ibnu meminta para orang tua tidak mengubah kebiasaan lama. Membacakan salawat atau syair untuk meninabobokan putra dan putrinya. "Jangan malah diganti dengan lagu-lagu dangdut yang enggak jelas," ujarnya dengan nada setengah berguyon.

Sebab, ada doa-doa yang disisipkan dalam pembacaan salawat selama pengayunan berlangsung. "Mendoakan anak untuk menjadi baiman (beriman), bauntung (murah rejeki), dan batuah (bermanfaat bagi sesama)," pungkas Ibnu.

Dari catatan panitia, peserta termuda adalah bayi berusia 13 hari. Namanya Muhammad Naufal. Sedangkan yang tertua adalah seorang nenek berusia 87 tahun atas nama Masnah. Saking tuanya, selagi proses baayun berlangsung, nenek ini sempat limbung karena kepanasan.

Sayang, warga Antasan Kecil Timur itu sulit untuk diajak berbincang. Karena daya pendengarannya sudah jauh berkurang. "Ibu pengen ikut baayun karena alasan kesehatan. Mencari berkah dari sini," kata Jamilah, putri Masnah. (fud/at/nur)


BACA JUGA

Kamis, 24 September 2015 23:03

Ada Presiden, Pengamanan Ketat, Antre Panjang, Ratusan Jemaah Tak Bisa Salat

<p><strong>LANTARAN</strong> dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia pengamanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .