MANAGED BY:
SELASA
16 JULI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Minggu, 25 November 2018 10:02
Kearifan Sarakap dan Si Hantu Kuku

Puncak Aruh Film Kalimantan 2018

MASTERCLASS : Lulu Ratna, salah satu juri Aruh Film Kalimantan 2018 memaparkan strategi distribusi film pendek, kemarin. Setelah itu, 15 film nominator diputar secara maraton, Penghargaan Mandau Emas dan Mandau Perak telah menunggu peserta.

PROKAL.CO, Aruh Film Kalimantan 2018 mencapai puncaknya. Nominator yang berisi 15 film pendek diputar maraton di Gedung Pertunjukan Balairungsari Taman Budaya Kalsel, kemarin (24/11) sore. 

"ADA 42 film pendek yang kami terima. Ada 12 karya untuk kategori mahasiswa dan umum yang lolos. Ditambah tiga karya untuk kategori pelajar," kata Ketua Forum Sineas Banua, Zainal Muttaqin.

Kebanyakan didominasi karya sineas asal Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura. Adapula karya dari sineas tetangga. Seperti Tiara dari Tenggarong, Kaltim. Lalu Statis dari Palangkaraya, Kalteng. Dan Bagian Tengah Masih Terang asal Pontianak, Kalbar.

Untuk karya lokal, rata-rata mengambil inspirasi dari kearifan lokal. Apakah itu genre drama, komedi, ataupun horor. Sebut saja Pengantin Bini garapan Bias Film. Yang menceritakan tentang Kuyang. Manusia jadi-jadian yang amat populer bagi masyarakat Banjar.

Kuyang bisa mencopot dan menyambung kepalanya dengan sesuka hati. Kepala itu kemudian terbang dan keluyuran untuk mengisap darah. Vampir asal Eropa belum ada apa-apanya.

Jika ada yang terbilang menonjol, sebut saja Sarakap karya Sanggar Titian Barantai dari Universitas Islam Kalimantan. Sarakap adalah nama alat penangkap ikan air tawar. Bentuknya mirip sangkar burung yang terbuat dari bambu. Bedanya, bagian bawahnya dibiarkan bolong.

Sarakap menceritakan perseteruan antara kaum petani dan nelayan. Bermula dari lahan sawah yang rusak. Tudingan kepada kaum nelayan berawal dari temuan sarakap yang tergeletak di tengah sawah.

Pembakal (kepala desa) kemudian mengumumkan larangan. Nelayan cuma boleh mencari ikan di sungai, bukan di rawa apalagi sawah. Ini membuat mereka menderita. Sebab, dalam kondisi sungai pasang, ikan-ikan turun ke sawah.

Ternyata, itu cuma akal-akalan para penyetrum. Membunuh ikan dengan listrik jelas dilarang. Karena bisa merusak sarang telur dan mematikan ikan-ikan yang belum dewasa. Ceritanya mungkin serius, tapi digarap dengan dosis humor yang pas.

"Para penyetrum ini ternyata suruhan pembakal. Dia menerima duit setoran untuk membuat larangan tersebut. Anda tahu sendiri lah mental pejabat Indonesia bagaimana. Itulah kritik sosial film ini," kata Wahyudi Baslau, penulis naskah.

Film ini digarap selama 10 hari. Syuting berlokasi di Desa Tanipah Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala. "Lucunya, kami lupa ini kemarau. Desa yang kami datangi sedang kering-keringnya," timpal Ipin Barikin, sutradara.

Kru kemudian berkeliling. Dari satu desa ke desa, menyeberangi kecamatan demi kecamatan. Semua demi mencari desa yang sawah dan sungainya masih berair.

Dibandingkan film lain, Sarakap juga yang paling panjang. Durasinya 20 menit. Sesuai batas maksimal yang ditetapkan panitia. "Pesannya, sarakap melambangkan kearifan lokal yang peduli lingkungan. Dan setrum menyimbolkan hal modern yang merusak," tegas Baslau.

Sementara dari genre horor, layak disebut Kuku karya Teropong Community dari Universitas Islam Negeri Antasari.

Kuku menceritakan kepercayaan lama orang Banjar. Menyebut pamali (tabu) kegiatan menggunting kuku pada malam hari. Jika dilanggar, kuku itu bakal berubah menjadi hantu.

Syuting berlokasi di Kampung Kuin, Banjarmasin Utara. Seusai salat maghrib yang super kilat, remaja ini menyalakan televisi untuk menonton pertandingan Barito Putera.

Sembari menonton dia asyik menggunting kuku. Sebelum pergi ke musala, sang ibu telah coba menegur, tapi dicueki. Sendirian di rumah, listrik malah padam. "Bayarnya larang tapi mati tarus (bayar listrik mahal tapi masih byarpet)," ujarnya.

Celetukan cerdas yang mengundang gelak tawa penonton. "Sejujurnya kami ingin menggarap film horor betulan. Tapi gaya bicara si aktor malah membuat kocak," kata Muhamad Risky Arshaq, sutradara.

Risky menceritakan, proses penggarapan terbilang panjang. "Beberapa kawan baru pulang dari pelatihan film di Depok. Sepulang ke Banjarmasin, mereka ingin langsung menerapkan ilmunya. Saya jawab ayo," ujarnya.

Dia sempat kaget. Selama riset, ternyata mitos kuku itu bukan cuma milik orang Banjar. "Kami juga menemukan mitos serupa dari Malaysia dan bahkan Jepang. Mitos kuku rupanya sudah meng-internasional," tambahnya geli. (fud/at/nur)


BACA JUGA

Kamis, 24 September 2015 23:03

Ada Presiden, Pengamanan Ketat, Antre Panjang, Ratusan Jemaah Tak Bisa Salat

<p><strong>LANTARAN</strong> dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia pengamanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*