MANAGED BY:
SABTU
16 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Minggu, 25 November 2018 10:16
Lulu Ratna Ajak Pegiat Film Pendek Mengintip Dapur Distributor Film Hollywood
Lulu Ratna

PROKAL.CO, TAK berlebihan untuk menyebutnya sebagai masterclass. Lulu Ratna mengajak pegiat film pendek Banua untuk menengok isi dapur produsen film sekelas DC dan Marvel. Terutama pada racikan promosi dan distribusi film.

Kelas itu dibuka di Gedung Balairungsari Taman Budaya Kalsel, kemarin (24/11) siang. Program masterclass ini merupakan bagian dari Aruh Film Kalimantan 2018 yang digelar Forum Sineas Banua.

Lulu adalah sarjana antropologi dari FISIP Universitas Indonesia, Jakarta. Aktif di organisasi Boemboe, dia telah terlibat dalam banyak festival film level nasional dan bahkan internasional.

Film pendek dengan mutu paling wahid sekalipun, takkan menemui penonton jika tak dibarengi dengan strategi promosi dan distribusi yang jempolan.

"Distribusi bukan sekadar mencari ruang dan memasang proyektor. Sia-sia menggarap film bagus jika penontonnya cuma pacar dan beberapa teman Anda sendiri," cecarnya.

Mengenakan celana panjang ketat berwarna merah, Lulu dengan lincah memaparkan materinya. Kepada pegiat dan peminat film pendek dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Tips pertama dari Lulu begitu sederhana. Hargailah karya Anda dengan serius. Tanpa itu, jangan berharap penonton akan memberi tanggapan balik yang tulus.

"Jika Anda tak sabar dan langsung mengunggahnya ke YouTube, ya sudah, panitia festival takkan mau memutar karya Anda," tegasnya.

Promosi memang harus jor-joran, tapi distribusi justru harus ketat. Semakin terbatas distribusi sebuah film pendek, semakin besar pula peluangnya untuk diputar dalam sebuah festival.

Ketiga, menetapkan sasaran. Ada beberapa pertanyaan kunci. Apakah Anda ingin meraup penonton sebanyak-banyaknya? Atau penonton yang lebih sedikit dan apresiatif? Apakah Anda mengincar gelar nominator festival? Atau mengincar produsen film besar?

Keempat, rajin-rajinlah mendatangi event film pendek. Jangan lupa membawa preview copy karya untuk ditunjukkan kepada sineas-sineas lainnya. Bersikap pendiam dan pemalu amat dilarang.

"Generasi milineal sering lupa. Bahwa tak ada komunikasi yang sebagus interaksi nyata. Akun Instagram film Anda mungkin punya ribuan pengikut, tapi tak ada yang bisa mengalahkan tatap muka," pesannya.

Terakhir, jangan malas meriset. Lulu mengingatkan, ada ratusan film pendek di dunia. Googling saja. Cari festival yang misinya cocok dengan karya kita dan kirimkan.

Jika ditanya ganjalan, maka Lulu memastikan ada banyak. Di Indonesia, celakanya belum ada survei untuk pangsa pasar film pendek. Semua masih meraba-raba.

Produsen juga masih merangkap distributor. Belum dipisahkan secara profesional. Maklum, pegiatnya kebanyakan pelajar dan mahasiswa.

"Pendanaan juga lemah. Bikin film pendek dengan dana patungan kawan-kawan. Atau dibantu donatur yang ternyata orang tua kita sendiri," ujarnya tergelak.

Oh ya, satu lagi. Lulu menekankan tentang pentingnya sebuah poster film. "Film-film yang bagus punya poster-poster yang selalu dikenang oleh penontonnya," pungkasnya. (fud/at/nur)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*