MANAGED BY:
MINGGU
16 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 27 November 2018 11:08
Semangat Kerja Penyandang Disabilitas Yang Mengispirasi
SEMANGAT: Hardani dan Zhaya, penyandang disabilitas yang bekerja sebagai karyawan di tempat cuci sepeda motor milik Yuda.

PROKAL.CO, Sekilas, tempat pencucian motor milik Sayid Muhammad Yuda sama saja dengan lainnya. Tapi, jangan kaget jika Anda ketemu sesatu yang berbeda. Apakah itu? Berikut ceritanya.

WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Pencucian motor ini berada di Jalan Veteran, RT 07, Nomor 19 A, Kelurahan Kuripan, Banjarmasin Timur. Letaknya tak jauh dari Pos Polisi Kuripan.

Kemarin (26/11), seorang pelanggan sekonyong-konyong datang membawa motor matic ke sana. Tak ada komunikasi intens, salah satu karyawan kemudian mempersilakan pemiliknya turun dari motor dan duduk untuk mengantre.

Tak lama kemudian, dengan cekatan, seorang pria menaikan motor tersebut te tempat mencuci. Dialah Yuda, sang pemilik pencucian itu.

Setelah letak motor dirasa pas, tangannya lantas bergerak-gerak ke arah karyawan layaknya mengisyaratkan sesuatu. Usaha pencucian ini ternyata mempekerjakan penyandang disabilitas. Lebih spesifik, yakni mereka yang menderita gangguan pendengaran dan bicara alias Tunarungu-Wicara.

Dalam bisnisnya ini, Yuda menampung empat karyawan. Mereka adalah Hardani (19), Ihya (28), Zhaya (27) dan Yuni (46). Semuanya adalah tunarungu dan tunawicara. Termasuk dia sendiri.

Bagi Yuda, keterbatasan bukan persoalan bagi siapapun yang ingin berkembang jadi lebih baik. Justru sebaliknya, ada semangat membara untuk berusaha tetap hidup mandiri.

Dipimpin oleh Yuda, keempat karyawan itu bergantian mencuci satu persatu sepeda motor yang masuk. Gaji mereka dihitung berdasarkan jumlah motor yang mampu dicuci perharinya.

Awalnya, penulis sempat kesulitan untuk berkomunikasi dengan Yuda dan tiga dari empat karyawannya itu. Selain kesulitan berbicara dan mendengar, sebagian di antara juga kesulitan dalam hal baca tulis. Hanya Yuda dan Hardani yang cukup lumayan mengerti.

Bagaimana ketika mereka melayani pelanggan? Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pelanggan yang datang untuk mencuci motor cukup meletakkan, atau menunjuk motor yang terpampang mengkilap saja. Cara itu sudah lebih dari cukup.

Keperluan penulis datang ke tempat itu jelas berbeda. Tidak ada kode atau isyarat khusus. Mesti sabar. Sesabar menunggu tiba tanggal gajian.

Lalu bagaimana cara mewawancarai mereka? Bermodal telepon genggam, penulis mencatat satu persatu pertanyaan seputar usaha yang digeluti. Kemudian menyodorkannya kepada para pekerja disabilitas itu.

Meski terkesan sangat lambat, karena harus menunggu narasumber menuliskan jawabannya, wawancara tetap mengalir nyaman. 

Meskipun ada momentum yang memaksa harus saling mengerutkan kening. Kemudian tertawa lantaran tak mampu memahami. Beruntung, dengan diselingi sedikit isyarat tangan, jawaban pun akhirnya didapatkan.

Pencucian motor ini sudah lebih 10 tahun dirintis oleh Yuda. Sebelumnya, dia sempat ikut bekerja sebagai tukang cuci motor di Samarinda.

Ketika pulang ke Banjarmasin 2008 silam, ia pun membuka usaha sendiri. Berbekal mesin pompa air pemberian orang tua, hingga akhirnya mampu mempekerjakan empat orang karyawan.

Jiwa kemandirian Yuda ternyata tak hanya sebatas menjadi pencuci motor saja. Tapi, juga merambah ke dunia olahraga. Sembari mengumpulkan uang untuk menambah modal usaha, dia berhasil menjadi atlet yang cukup berprestasi pada cabang olahraga paralimpik. Ia membuktikannya dengan perolehan emas pada ajang Peparnas 2012 di Riau.

“Sekarang sudah tidak bisa lari lagi. Perut saya sudah cukup membesar. Maklum, sudah beristri,” ungkap Yuda, seraya mengatakan bahwa istrinya, juga merupakan atlet paralimpik untuk cabor renang.

Pada awal merintis pencucian ini, di tempat tersebut ia juga membuka usaha jual beli sepeda motor bekas. Namun, tak mampu bertahan lama lantaran kekurangan modal.

Keinginan keras untuk berbagi rezeki, dan hidup mandiri tanpa menggantungkan diri dengan orang lain, serta membuka lapangan pekerjaan untuk para penyandang disabilitas, ternyata membuahkan hasil. Usaha pencuciannya itu berkembang. Dalam sehari mereka bisa menerima hingga 40 puluh pelanggan.

“Pencucian buka dari pukul delapan pagi. Dan tutup pada pukul setengah enam sore,” ujar Yuda. Dia mengisyaratkannya dengan mengarahkan lima jari tangan kiri. Lalu berganti dengan tiga jari, disusul angka nol yang dibuatnya dengan menyatukan jempol dan ibu jari membentuk lingkaran.

Salah satu karyawan, Hardani mengaku cukup beruntung. Sebab bisa mendapatkan penghasilan dari pekerjaan mencuci sepeda motor ini. Lelaki murah senyum itu menyebut bahwa ia direkrut karena sebelumnya memang berteman dengan Yuda. Dirinya sudah bekerja dalam setahun terakhir.

“Kami sama-sama pernah belajar di Sekolah Luar Biasa (SLB). Pas diajak bertemu, saya ditawari bekerja di pencucian motor ini,” ujarnya sambil menggerakkan tangannya sebagai isyarat kepada penulis.

Jika Hardani direkrut karena sama-sama pernah di SLB, berbeda dengan Zhaya dan Ihya. Kedua pemuda ini, dipekerjakan murni tanpa kesenghajaan. Saat itu, keduanya asyik bersepeda motor di sekitaran Jalan Kuripan. Melihat sepeda motor yang ditunggangi kotor, mereka memutuskan untuk mencucinya di tempat Yuda.

“Ternyata, baik pencuci maupun pelanggan (kami, red) sama-sama memakai bahasa isyarat. Alhasil, jadilah kami ditawari bekerja di sini. Kebetulan, kami juga sudah lama menganggur,” ujar Ihya, yang disambut suara heboh Yuda serta Hardani. Dan tentu saja lagi-lagi mereka berbincang dengan memakai bahasa isyarat.

Baik Yuda, Hardani, Ihya, maupun Zhaya, masing-masing dari mereka umumnya hanya mampu berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Penulis, benar-benar kewalahan untuk mengerti apa yang mereka sampaikan. Meskipun, sudah melakukan berbagai cara termasuk menuliskannya apa yang dibicarakan dengan menggunkan telepon genggam.

“Di pencucian ini, hanya saya, dan Hardani yang sedikit cukup lancar membaca dan menulis. Zhaya dan Ihya, masih kesulitan,” tuntas Yuda.

Selain menjadi tempat cuci sepeda motor, di tempat ini ternyata juga menjadi tempat nongkrong favorit para penyandang disabilitas. Khairullah salah satunya. Lelaki berumur 50 tahun ini mengaku kerap nongkrong di tempat tersebut. Selain merasa nyaman, Khairullah merasa pencucian Yuda sudah seperti rumah keduanya.

“Kami sama-sama penyandang disabilitas dan mengalami kesulitan yang sama. Khususnya dalam hal berkomunikasi. Jadi kalau bertemu, rasanya sudah seperti keluarga sendiri,” ujarnya, kemudian terkekeh.

Seperti halnya Yuda, tiga karyawannya pun memiliki cita-cita yang sama. Membuka lapangan pekerjaan, serta bebagi rezeki terhadap para penyandang disabilitas lainnya.

Dari hasil bekerja para karyawan mengaku mendapatkan uang yang cukup untuk membantu meringankan pekerjaan orang tua di rumah. Bahkan, ada pula yang menabung penghasilannya untuk bisa membangun kehidupan yang lebih baik lagi. “Paling tidak, masing-masing dari kami di sini ingin punya rumah sendiri,” pungkas Zhaya.

Tak terasa, matahari semakin beranjak naik. Teriknya pun kian menyengat. Satu persatu motor selesai dicuci, pelanggan pun datang silih berganti.

Meski begitu, semangat karyawan untuk mencuci sepeda motor, tampak tak kenal lelah. Bahkan, pelanggan pun kerap melempar senyum lebar ketika melihat hasil cucian di tempat tersebut.

“Saya senang mencuci di sini. Hasilnya selalu memuaskan. Tak heran kalau pelanggannya selalu banyak,” ujar Mansyah, salah seorang pelanggan. Dia normal.

Deru kendaraan bermotor yang melintas di jalanan seakan tak pernah berhenti. Bahkan sesekali terdengar nyaring memekakkan telinga. Namun sampai akhir wawancara kami, tetap saja terkesan sunyi. Meski begitu, penulis yakin bahwa tempat pencucian ini tak akan pernah sunyi. (war/at/nur)


BACA JUGA

Sabtu, 15 Desember 2018 12:50

Sisi Lain Pelatih Tinju kalsel, Arbain

Menjadi pelatih tinju rupanya bukan satu-satunya pekerjaan yang digeluti oleh…

Sabtu, 15 Desember 2018 09:55

Berawal Ketiadaan Toilet Buat Kencing, Berdirilah Galeri Unik Ini

Apa yang dilakukan oleh warga RT 05 RW 02 Kelurahan…

Jumat, 14 Desember 2018 14:46

Moses Sulap Puing Kayu Menjadi Seni Bernilai Tinggi

Beri Moses Foresto puing-puing kayu, dia bisa menjadikannya apa saja.…

Kamis, 13 Desember 2018 13:20

Bekali Santri Keterampilan Untuk Hadapi Tantangan Zaman

Nyantri bukan melulu tentang ngaji. Di Pondok Pesantren Nurul Muhibbin,…

Sabtu, 08 Desember 2018 11:45

Tidak Mudah, Honorer Ini Pantau CCTV di Menara Pandang Hingga Larut Malam

Di depan layar monitor yang lebarnya tak lebih lebar dari…

Sabtu, 08 Desember 2018 09:03
Kisah Bocah-bocah Penjual Buku Mewarnai di Banjarmasin

Demi Sesuap Nasi Mereka Sampai Dikejar-Kejar Satpol PP

Mobil partoli Satpol PP Kota Banjarmasin melintas di perempatan Jalan…

Jumat, 07 Desember 2018 11:31

Jejak Laskar Pelangi di Banua (2)

Belajar di gudang kecil kadang membuat siswa SD Dusun Munggu…

Kamis, 06 Desember 2018 13:02

Jejak Laskar Pelangi di Banua

Hanya 12 siswa dan satu gedung kecil. Tapi mereka semangat…

Rabu, 05 Desember 2018 12:25

Gol A Gong Berbagi Motivasi ke Penulis Muda Balangan

Yang mengalami masa remaja di era 80’ dan 90’ an,…

Rabu, 05 Desember 2018 10:10

Wahh!! Rabiul Awal Jadi Bulan Rezeki Pengrajin Mahar Pernikahan

Rabiul Awal atau bulannya Maulid Nabi pada penanggalan Hijriah, menjadi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .